NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Pagi itu, jam digital di atas nakas baru menunjukkan pukul 04.15 WIB. Cahaya fajar bahkan belum sempat menyentuh cakrawala Jakarta yang biasanya tertutup polusi. Di dalam kamar utama Mansion Dirgantara yang kedap suara, Rangga masih terlelap dengan posisi protektif—satu lengannya melingkar di perut Alya, sementara telinganya tetap tajam menangkap suara napas halus Aira dan Aisya dari boks bayi di sudut ruangan.

​Tiba-tiba, ponsel satelit di atas meja bergetar hebat. Getaran itu terasa seperti gempa kecil di tengah kesunyian. Rangga langsung terjaga, matanya terbuka lebar, tajam, dan waspada. Ia menyambar ponsel itu sebelum suaranya sempat membangunkan Alya.

​Rangga menggeser layar dengan kasar. "Kau tahu jam berapa ini, Yudha?! Jika alasanmu menelpon tidak lebih penting dari nyawamu, aku akan memastikan kau tidak melihat matahari terbit pagi ini!" desis Rangga dengan suara rendah namun penuh ancaman yang mematikan.

​Di seberang telepon, Yudha menarik napas panjang. Ia sudah terbiasa dengan makian dan temperamen buruk bosnya. Ia tahu betul bahwa Rangga Dirgantara hanya memiliki satu sisi lembut di dunia ini, dan itu hanya untuk Alya, Arkan, serta si kembar. Bagi dunia luar, Rangga tetaplah monster yang sama.

​"Mohon maaf, Tuan Rangga. Saya tidak akan mengganggu istirahat Nyonya Alya jika ini bukan keadaan darurat tingkat satu," ucap Yudha dengan suara tenang namun tegas. "Kita diserang. Seseorang sedang mencoba menjatuhkan Anda dari dalam. Pagi ini, tepat saat pasar saham luar negeri dibuka, saham Dirgantara Group anjlok 15% dalam waktu tiga puluh menit."

​Mendengar kata "saham anjlok", aura di sekitar Rangga langsung mendingin. Ia perlahan melepaskan pelukannya dari Alya, bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang sangat halus agar istrinya tidak terbangun. Ia melangkah menuju ruang kerja pribadinya yang terhubung langsung dengan kamar utama.

​"Jelaskan," perintah Rangga singkat sambil menyalakan deretan monitor di mejanya.

​"Ada rumor yang disebarkan secara masif di pasar gelap dan media ekonomi internasional, Tuan. Seseorang membocorkan data palsu tentang kegagalan proyek satelit kita di Eropa. Investor panik. Tapi yang lebih buruk, ada aksi jual besar-besaran dari salah satu pemegang saham internal kita," lapor Yudha.

​Rangga menatap grafik merah yang terjun bebas di layarnya. Giginya bergemeretak. "Siapa pengkhianatnya?"

​"Data menunjukkan akun-akun itu terafiliasi dengan sisa-sisa kelompok ayahmu dulu yang berhasil mencuci uang mereka di luar negeri. Mereka menyerang jantung finansial kita saat Anda sedang fokus pada kelahiran si kembar, Tuan."

​Rangga memukul meja jati miliknya. BRAK! "Bodoh! Mereka pikir dengan menyerang saham, mereka bisa membuatku berlutut? Yudha, siapkan tim IT dan legal. Aku ingin kau melacak setiap sen yang keluar masuk pagi ini. Jika mereka ingin bermain kotor, aku akan menunjukkan pada mereka apa artinya kehancuran yang sesungguhnya."

​Tepat saat Rangga sedang mengeluarkan instruksi kejam untuk menghancurkan para spekulan tersebut, pintu ruang kerjanya terbuka sedikit. Alya berdiri di sana dengan piyama sutranya, wajahnya tampak mengantuk namun dipenuhi kekhawatiran.

​"Mas... ada apa? Kenapa suaramu keras sekali?" tanya Alya pelan.

​Seketika, ekspresi iblis di wajah Rangga lenyap. Matanya yang tadi berkilat amarah kini melunak dalam sekejap mata. Ia meletakkan ponselnya dan berjalan menghampiri Alya.

​"Maaf, Sayang. Apa aku membangunkanmu?" suara Rangga berubah total, menjadi sangat lembut dan penuh kasih sayang. Ia memegang bahu Alya dan mengecup keningnya. "Hanya masalah kecil di kantor. Tikus-tikus lama mencoba keluar dari lubangnya."

​Alya menatap mata Rangga, mencoba mencari kejujuran. "Masalah kecil tidak akan membuatmu bangun jam empat pagi dan memaki Yudha. Apa ini tentang perusahaan?"

​Rangga menghela napas, ia membawa Alya duduk di kursi kebesarannya. "Mereka mencoba bermain dengan saham kita. Tapi jangan khawatir, Alya. Kau tahu siapa suamimu. Tidak ada yang bisa mengambil satu rupiah pun dari warisan anak-anak kita. Sekarang, kembalilah tidur. Kau butuh tenaga untuk menyusui Aira dan Aisya pagi nanti."

​Alya menggenggam tangan Rangga. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Mas. Dan tolong... jangan gunakan cara-cara lama yang berbahaya. Ingat anak-anak."

​Rangga berlutut di depan Alya, mencium tangan istrinya. "Aku berjanji. Aku akan menyelesaikannya dengan cara yang bersih, tapi tetap mematikan. Sekarang, tidurlah."

​Setelah memastikan Alya kembali tidur, Rangga kembali ke mode predatornya. Ia kembali menghubungi Yudha.

​"Yudha, lupakan soal cara bersih. Aku ingin kau hubungi broker kita di Singapura dan London. Lakukan buyback (pembelian kembali) saham secara agresif. Gunakan dana cadangan pribadiku di Swiss. Kita akan menjebak mereka. Biarkan mereka terus menjual, lalu kita akan melahap semua saham itu sampai mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dijual," perintah Rangga dengan senyum licik.

​"Tapi Tuan, itu akan menghabiskan banyak likuiditas pribadi Anda," Yudha mengingatkan.

​"Uang bisa dicari, Yudha. Tapi harga diri Dirgantara tidak bisa ditawar. Aku ingin orang-orang yang mencoba menjatuhkanku hari ini berakhir di jalanan sebagai pengemis. Lakukan sekarang!"

​Rangga kemudian memeriksa kamera CCTV di kamar Arkan. Ia melihat putra sulungnya itu sedang tidur dengan nyenyak, memeluk bantal gulingnya. Rangga tersenyum tipis. Segala kemarahan dan ambisinya pagi ini adalah untuk memastikan bahwa ketika Arkan dewasa nanti, kerajaan yang ia warisi adalah kerajaan yang tak tergoyahkan.

...****************...

​Pukul 09.00 WIB, saat Bursa Efek Indonesia dibuka, suasana di kantor pusat Dirgantara Group sangat mencekam. Para direktur berkumpul dengan wajah pucat. Namun, Rangga tidak muncul di kantor. Ia tetap berada di mansionnya, duduk di meja makan sambil menyuapi Arkan sarapan, sementara matanya sesekali melirik ke arah tablet yang menampilkan pergerakan pasar.

​"Ayah, kenapa Ayah tidak pakai dasi hari ini?" tanya Arkan polos.

​"Karena hari ini Ayah ingin santai saja di rumah bersama Arkan dan adik-adik," jawab Rangga sambil memberikan potongan sosis pada Arkan.

​Namun di balik ketenangan itu, jari-jari Rangga sedang memerintahkan Yudha melalui pesan singkat untuk melepaskan "serangan balik". Dalam waktu dua jam, harga saham Dirgantara Group yang tadinya anjlok, tiba-tiba meroket kembali karena aksi pembelian besar-besaran yang dilakukan Rangga secara rahasia.

​Para spekulan yang mencoba menjatuhkannya kini terjepit. Mereka telah menjual saham di harga rendah, dan sekarang mereka dipaksa membeli kembali di harga tinggi untuk menutupi kerugian mereka.

​Rangga menyesap kopi hitamnya tanpa gula. "Yudha, bagaimana hasilnya?"

​"Mereka hancur, Tuan. Tiga perusahaan cangkang yang menyerang kita baru saja menyatakan bangkrut. Kita berhasil mengambil alih 5% saham tambahan dari pasar dengan harga murah," lapor Yudha dari seberang telepon.

​"Bagus. Berikan bonus untuk tim IT. Dan Yudha... maaf soal makianku tadi pagi. Tapi tetaplah waspada. Jika ada lalat lain yang mencoba mendekat ke keluargaku, kau tahu apa yang harus dilakukan," ucap Rangga sebelum menutup telepon.

​Rangga kemudian berbalik, melihat Alya yang sedang menggendong Aira di teras belakang, menikmati sinar matahari pagi. Ia melangkah mendekat, merangkul pinggang istrinya, dan mencium pipi bayi mungilnya.

Bersambung....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!