NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Kemenangan di bursa saham pagi itu hanyalah awal dari ritual pembersihan yang dilakukan Rangga Dirgantara. Baginya, angka-angka merah di layar monitor hanyalah simbol, namun pengkhianatan di belakangnya adalah urusan pribadi. Rangga tidak pernah percaya pada kebetulan. Baginya, setiap serangan adalah pesan, dan ia selalu membalas pesan tersebut dengan kehancuran total.

​Setelah menutup telepon dari Yudha, Rangga melangkah keluar ke beranda belakang. Ia melihat Alya yang sedang duduk di kursi rotan, menggendong Aira, sementara Aisya tertidur di boks bayi portabel di sampingnya. Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela pepohonan di halaman mansion menciptakan pemandangan yang begitu kontras dengan kegelapan strategi yang baru saja ia jalankan.

​Rangga mendekat, auranya yang tadi tajam dan mematikan seketika meluruh. Ia berlutut di samping Alya, mengusap pipi bayi mungilnya dengan ujung jari telunjuknya.

​"Semua sudah selesai, Mas?" tanya Alya lembut. Ia bisa melihat sisa-sisa ketegangan di rahang Rangga yang mengeras.

​"Sudah. Tikus-tikus itu sudah kembali ke lubangnya, atau mungkin sudah terkubur di sana," jawab Rangga dengan suara yang dalam namun tenang.

​"Mas, aku tahu kau ingin melindungi kami. Tapi tolong, jangan biarkan kebencian itu meracuni hatimu lagi. Kita sudah memiliki segalanya di sini," Alya menatap mata suaminya, mencari janji kedamaian di sana.

​Rangga mengecup kening Alya, lalu beralih mencium kening kedua putrinya. "Aku hanya memastikan bahwa ketika mereka besar nanti, tidak akan ada satu pun bayang-bayang masa lalu yang berani menyentuh gaun mereka."

​Meski di depan Alya ia tampak tenang, di dalam kepalanya, Rangga sudah menyusun langkah terakhir. Ia memanggil Yudha untuk menemuinya di ruang bawah tanah—sebuah ruangan kedap suara yang menjadi pusat komando keamanannya.

​Yudha datang dengan beberapa berkas fisik. Di Jakarta yang serba digital, Rangga tetap meminta berkas fisik untuk hal-hal yang terlalu sensitif untuk berada di peladen mana pun.

​"Siapa pimpinannya, Yudha?" tanya Rangga tanpa basa-basi.

​"Seorang mantan sekutu Ayahmu dulu bernama Hendra, Tuan. Dia kabur ke Singapura lima tahun lalu dan mencoba membangun kekuatan baru dengan sisa-sisa aset tersembunyi. Dialah yang mendanai serangan short-selling pagi ini," Yudha menyerahkan foto seorang pria paruh baya yang tampak ambisius.

​Rangga menatap foto itu dengan tatapan kosong, seolah sedang melihat orang mati. "Hendra... dia pikir dia cukup pintar untuk bermain api denganku. Di mana dia sekarang?"

​"Dia bersembunyi di sebuah apartemen mewah di kawasan Sudirman, Tuan. Dia pikir dia aman di sana karena gedung itu milik salah satu konsorsium asing," lapor Yudha.

​Rangga menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan. "Sewa seluruh lantai di atas dan di bawah unitnya. Matikan aliran listrik dan sinyal di gedung itu malam ini. Aku tidak ingin dia mati dengan cepat. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam kegelapan, sama seperti dia mencoba merampas masa depan putri-putriku pagi ini."

​"Laksanakan, Tuan."

​Di lantai atas, Arkan baru saja menyelesaikan sarapannya dan segera berlari menuju kamar adik-adiknya. Meskipun ada perawat khusus yang berjaga 24 jam, Arkan merasa dialah penjaga utama setelah Ayahnya.

​"Suster, apakah Aira sudah minum susu?" tanya Arkan dengan nada yang sangat mirip dengan cara Rangga memberikan instruksi di kantor.

​"Sudah, Tuan Muda Arkan," jawab suster itu sambil tersenyum ramah.

​Arkan duduk di kursi kecil di samping boks bayi. Ia memperhatikan setiap gerakan tangan mungil adiknya. "Nanti kalau kalian sudah besar, Kak Arkan akan belikan mainan paling banyak. Tapi kalian tidak boleh main sama anak laki-laki lain, ya? Harus sama Kak Arkan saja," gumamnya pelan.

​Alya yang berdiri di ambang pintu mendengar gumaman itu dan tertawa kecil. Ia masuk ke dalam ruangan dan memeluk bahu putra sulungnya. "Arkan, kenapa adik-adik tidak boleh main sama teman laki-laki lain?"

​Arkan menatap ibunya dengan serius. "Karena Ayah bilang, laki-laki di luar sana banyak yang nakal seperti tikus-tikus di kantor. Jadi Arkan harus jaga Aira dan Aisya supaya tidak digigit tikus."

​Alya menggelengkan kepala. Pengaruh Rangga benar-benar meresap kuat ke dalam pola pikir Arkan. Ia hanya berharap suatu saat nanti, keposesifan itu tidak menjadi beban bagi putra dan putri-putrinya.

​Malam harinya, Jakarta diguyur hujan deras. Petir sesekali menyambar, menerangi langit kota yang hitam. Di sebuah apartemen mewah di kawasan Sudirman, Hendra duduk dengan gelisah di depan laptopnya. Ia baru saja menyadari bahwa seluruh asetnya telah dibekukan dan harga saham yang ia pertaruhkan telah melambung tinggi, menghancurkan posisi finansialnya.

​Tiba-tiba, seluruh lampu di unitnya padam. Suasana menjadi sunyi senyap. Sinyal ponselnya hilang total.

​Klik.

​Suara pintu yang terbuka perlahan membuat jantung Hendra hampir copot. Ia melihat sebuah siluet tinggi berdiri di kegelapan. Aroma parfum kayu cendana yang mahal dan dingin memenuhi ruangan.

​"Kau tahu, Hendra... kesalahan terbesarmu bukan mencoba mencuri uangku," suara bariton Rangga terdengar sangat tenang, namun mengandung getaran maut.

​Hendra gemetar hebat. "Rangga... aku... aku bisa jelaskan. Ini hanya bisnis!"

​"Bisnis?" Rangga melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai marmer.

"Menyerang perusahaanku saat istriku baru saja melahirkan bayi kembar bukan lagi bisnis. Itu adalah deklarasi perang terhadap kedamaian keluargaku."

​Rangga berdiri tepat di depan Hendra, bayangannya menutupi pria malang itu. "Aku membiarkanmu hidup lima tahun lalu karena aku pikir kau sudah mati secara mental. Tapi sekarang, aku akan memastikan kau tidak akan punya kesempatan untuk berpikir lagi."

​Rangga tidak menggunakan kekerasan fisik yang kasar. Ia meletakkan sebuah dokumen di atas meja. "Ini adalah surat pengakuan atas semua kejahatan finansialmu dan penyerahan seluruh aset tersisamu kepada yayasan panti asuhan atas nama Alya Dirgantara. Tanda tangani, atau Yudha di luar sana akan memastikan kau menghilang tanpa jejak di dasar laut Jawa malam ini juga."

​Dengan tangan gemetar dan air mata ketakutan, Hendra menandatangani dokumen itu. Bagi Rangga, menghancurkan musuh sampai ke akar finansial dan martabatnya adalah hukuman yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian seketika.

...****************...

​Pukul dua pagi, Rangga kembali ke mansion. Ia masuk melalui pintu belakang agar tidak membangunkan siapapun. Ia membersihkan diri, melepaskan aura dingin dari jalanan Jakarta, dan mengenakan kaos rumahan yang nyaman.

​Ia masuk ke kamar utama. Alya tampak tertidur lelap dengan posisi miring, sementara di boks bayi, Aira dan Aisya sesekali menggeliat dalam tidurnya.

​Rangga duduk di tepi tempat tidur, menatap pemandangan itu. Inilah dunianya. Inilah alasan mengapa ia bersedia menjadi iblis di luar sana agar malaikat-malaikat di dalam rumah ini tetap bisa bermimpi indah.

​Ia merangkak naik ke tempat tidur, memeluk Alya dari belakang dengan sangat lembut. Alya sedikit terbangun, merasakan kehadiran suaminya.

​"Kau sudah pulang, Mas?" bisik Alya tanpa membuka mata.

​"Sudah, Sayang. Semuanya sudah selesai. Tidak akan ada lagi tikus yang berani mendekat," jawab Rangga sambil mengecup pundak Alya.

​"Terima kasih, Mas... tidurlah."

Bersambung.....

1
Muft Smoker
next kak ,,
Muft Smoker: dtggu pake bangeet kak ,,
☺️☺️☺️
total 2 replies
Muft Smoker
waduuuh apakah ia udh bebass
Muft Smoker
punya suami gtuu bisa di tuker tambah gx siih kak author ,,
sereeem bangeet ,,
ganteng kaya tpii misterius gtuu ,,
pgen yg biasa2 aja kak ,,
🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!