Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Start
Matahari pagi merangkak naik dari balik punggung bukit, menyapukan cahaya keemasan pada hamparan sawah bertingkat yang membelah Desa Clekatakan. Udara dingin masih menggigit, membawa aroma campuran tanah basah, daun cengkeh, dan asap kayu bakar dari rumah-rumah penduduk yang mulai mengepul tipis. Tio Wirawan menarik napas panjang, merasakan sensasi dingin itu memenuhi paru-parunya. Inilah yang ia rindukan. Kebebasan.
Dari balik kaca jendela angkot tua yang membawanya dari terminal Pemalang, ia memandangi lereng Gunung Slamet yang menjulang di kejauhan. Puncaknya tersaput kabut tipis, memberinya kesan misterius yang justru membuat adrenalinnya terpompa. Tiga jam perjalanan dari kota, berganti kendaraan dua kali, dan akhirnya ia sampai di sini. Sendirian. Persis seperti yang ia inginkan.
Angkot berhenti di ujung jalan aspal yang mulai menyempit. Pak Dirman, supir angkot yang ramah, menoleh ke belakang.
"Le, iki wes cerek basecamp. Kowe arep tak terke tekan ngarep pos polisi alas? Akeh pendaki biasane mlaku seko kene."
(Nak, ini sudah dekat basecamp. Kamu mau saya antar sampai depan pos polisi hutan? Banyak pendaki biasanya jalan dari sini.)
Tio menggeleng, membayar ongkos, lalu turun sambil menyandang ransel hijau army-nya yang penuh sesak.
"Nggih, Pak. Matur suwun. Saya jalan saja, sekalian pemanasan."
(Iya, Pak. Terima kasih. Saya jalan saja, sekalian pemanasan.)
Pak Dirman mengamati pemuda di hadapannya. Celana gunung hitam, jaket tipis merah marun, sepatu tracking yang tampak usang dipakai, dan ransel yang ia yakin beratnya tidak main-main.
Tapi ada satu yang mengganggunya.
"Sendirian, Le? Ora karo kanca ne?"
(Sendirian, Nak? Tidak ada teman?)
"Hobi saya, Pak. Lebih tenang sendiri," jawab Tio singkat sambil menyesuaikan tali ransel.
"O... ngati-ati, Le. Slamet iku ora kaya gunung liyane. Akeh jurang, akeh alas kenthong. Yen ora ngerti jalur, bisa mbahayani."
(O... hati-hati, Nak. Slamet itu tidak seperti gunung lain. Banyak jurang, banyak hutan lebat. Kalau tidak tahu jalur, bisa membahayakan.)
Tio hanya tersenyum, mengangguk sopan, lalu berjalan meninggalkan angkot. Dalam hati ia bergumam, Setiap gunung selalu punya cerita horornya sendiri. Itu cuma cara mereka menakut-nakuti pendaki pemula. Ia sudah mendaki Rinjani sendirian, sudah menaklukkan Semeru via jalur terjal, sudah melewati malam sendirian di Kalimantan. Slamet? Pasti bisa.
Jalan setapak menuju basecamp Gunung Malang berkelok di antara kebun milik warga. Pohon-pohon durian tua berdiri tegak di kanan-kiri, buahnya belum musim. Beberapa petani menyapanya ramah, dan ia membalas seperlunya tanpa menghentikan langkah.
Ransel seberat 18 kilogram terasa pas di pundaknya. Isinya sudah ia rencanakan dengan matang. Tenda bivy ringan, sleeping bag dengan ketahanan suhu hingga minus, kompor portable, gas kaleng, makanan freeze-dry untuk lima hari, headlamp cadangan, power bank 20.000 mAh, ponsel yang sudah ia pastikan tak akan mendapat sinyal di atas ketinggian tertentu, kamera aksi GoPro untuk mendokumentasikan perjalanan, jurnal fisik kecil dan pensil—kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan, pisau serbaguna merek ternama, serta dua botol air masing-masing satu setengah liter.
Lima hari. Ia targetkan pendakian ini selesai dalam lima hari. Hari pertama mencapai pos 3 atau 4, bermalam di sana. Hari kedua lanjut ke puncak, lalu turun dan bermalam di pos 2 atau 3. Hari ketiga turun total, dan dua hari cadangan untuk jaga-jaga. Rencana sempurna.
Setelah empat puluh menit berjalan, ia sampai di sebuah bangunan sederhana beratap seng. Dindingnya papan kayu, dengan papan nama bertuliskan "Pos Pendakian Gunung Malang - Desa Clekatakan". Di terasnya, seorang pria paruh baya duduk di bangku panjang, mengisap rokok kretek sambil membaca koran bekas.
"Selamat pagi, Mas," sapa Tio.
Pria itu mendongak, meletakkan koran di pangkuan. Wajahnya keriput terbakar matahari, dengan mata yang tajam seperti elang. "Pagi. Mau daftar naik?" Suaranya serak.
"Iya, Mas. Sendirian." Tio meletakkan ransel di bangku.
Mata pria itu mengerjap. "Sendirian? Mboten enten kanca ne?" (Tidak ada teman?) Lagi-lagi pertanyaan yang sama.
"Enggak, Mas. Saya biasa sendiri. Udah sering." Tio mencoba terdengar meyakinkan.
Pria itu—yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Giman, penjaga basecamp selama 12 tahun—menggeleng pelan.
"Slamet ki beda, Le. Ora koyo Sindoro, ora koyo Sumbing. Lek kowe munggah dewean, awake dhewe kudu tanggung jawab. Tapi aku tetep ora nyaranne."
(Slamet ini beda, Nak. Tidak seperti Sindoro, tidak seperti Sumbing. Kalau kamu naik sendiri, kamu sendiri yang harus bertanggung jawab. Tapi saya tetap tidak menyarankannya.)
Tio menahan senyum meremehkan. "Saya paham risikonya, Pak. Saya sudah siap."
Pak Giman menghela napas panjang, lalu mengambil buku besar yang kumal dari dalam laci. Sampulnya lusuh, halaman-halamannya menguning. "Isi data kowe nang kene." (Isi data kamu di sini.)
Tio membuka buku tamu itu. Kolom-kolom yang harus diisi: nama, alamat, nomor telepon, tujuan pendakian, jumlah rombongan, rencana lama pendakian, dan tanda tangan.
Ia mengisi nama: Tio Wirawan. Alamat: Jakarta. Nomor telepon: 0812xxxxxx. Tujuan pendakian: Rekreasi, puncak. Jumlah rombongan: 1. Rencana lama pendakian: 5 hari. Tanda tangan.
Pak Giman membaca setiap kolom dengan teliti. "Nomor telepon iki iso dikontak sakdurunge sinyal ilang?"
(Nomor telepon ini bisa dikontak sebelum sinyal hilang?)
"Iya, Pak. Tapi biasanya di atas 2000 meter langsung mati."
"Lha iya. Kowe mudun kapan kira-kira?"
(Lha iya. Kamu turun kapan kira-kira?)
"Hari kelima, Pak. Paling telat hari keenam. Saya perkirakan Rabu atau Kamis depan."
Pak Giman menulis sesuatu di buku catatan kecil pribadinya. "Tak catet. Lek sampe hari ketujuh kowe durung balik, tak laporke Pak Darmo sing ketua komunitas pendaki kene."
(Saya catat. Kalau sampai hari ketujuh kamu belum balik, akan saya laporkan Pak Darmo yang ketua komunitas pendaki sini.)
Tio mengangguk, meski dalam hati ia berpikir tak akan sampai segitunya. Ia tahu persis kemampuannya. Ia adalah pendaki yang menghitung setiap langkah, yang memetakan jalur secara mental, yang tak pernah mengambil risiko bodoh. Atau setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.
Pak Giman merogoh sakunya, mengeluarkan selembar peta sederhana fotokopian.
"Iki peta jalur pendakian. Rute seko kene munggah liwat Pos 1, Pos 2, Pos 3, Pos 4, terus Puncak Malang. Seko Puncak Malang nuju Puncak Slamet isih 4-5 jam maneh. Jalure angel, akeh watu gede, akeh jurang."
(Ini peta jalur pendakian. Rute dari sini naik lewat Pos 1, Pos 2, Pos 3, Pos 4, terus Puncak Malang. Dari Puncak Malang menuju Puncak Slamet masih 4-5 jam lagi. Jalurnya sulit, banyak batu besar, banyak jurang.)
Tio menerima peta itu, melipatnya tanpa benar-benar membaca detail. "Siap, Pak. Makasih."
"Eits, durung." Pak Giman mengangkat tangan. "Kene tak foto. Dokumentasi."
Ia mengambil ponsel jadulnya, memotret Tio yang berdiri kaku di depan pos. Klik.
"Wis. Nek kowe wis mudun, lapor maneh neng kene yo, ben aku ngerti nek kowe selamet."
(Sudah. Kalau kamu sudah turun, lapor lagi ke sini ya, biar saya tahu kamu selamat.)
Tio mengangguk, mengikat ulang tali sepatu, lalu menyandang ransel. Pak Giman masih duduk di bangku, memperhatikan gerak-gerik pemuda itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ketika Tio hendak melangkah pergi, Pak Giman berseru lagi.
"Le, nunggu sedilut." (Nak, tunggu sebentar.)
Tio menoleh. Pak Giman bangkit, masuk ke dalam pos, lalu keluar membawa sebatang tongkat bambu hitam. Tongkat itu tampak tua, dipegangi, dengan ukiran sederhana di bagian gagangnya.
"Iki gawa. Tongkat ki mbantu, ning ojo ngandelke tongkat wae. Sing penting ati-ati lan ojo lali karo sing Gawe Urip."
(Ini bawa. Tongkat ini membantu, tapi jangan hanya mengandalkan tongkat. Yang penting hati-hati dan jangan lupa sama yang Menciptakan Kehidupan.)
Tio ragu, tapi akhirnya menerima tongkat itu. "Terima kasih, Pak. Nanti saya kembalikan."
"Ora usah. Simpen wae, kanggo pengeling-eling." (Tidak usah. Simpan saja, untuk pengingat.)
Satu kalimat terakhir Pak Giman sebelum Tio benar-benar beranjak.
"Le, gunung iki urip. Dheweke duwe roso, duwe karep. Ojo sok ngremehke. Sing ngremehke gunung, bakal diremehke dening gunung."
(Nak, gunung itu hidup. Dia punya rasa, punya kehendak. Jangan pernah meremehkan. Yang meremehkan gunung, akan diremehkan oleh gunung.)
Tio hanya tersenyum, melambaikan tangan, lalu melangkah masuk ke jalur setapak yang mulai menanjak. Dalam benaknya, kata-kata Pak Giman hanyalah mantra-mantra tua yang diucapkan penjaga basecamp pada setiap pendaki. Formalitas. Tradisi. Tak lebih.
Jalur awal masih ramah. Pematang sawah, kemudian kebun campuran, lalu perlahan memasuki area hutan produksi milik Perhutani. Pepohonan pinus berdiri rapi seperti barisan tentara.
Tio berjalan cepat, mengatur napas dengan ritme yang ia kuasai: tarik napas empat langkah, buang napas empat langkah. Ini ritme yang membuatnya bisa berjalan berjam-jam tanpa kelelahan berarti.
Dua puluh menit kemudian, ia mencapai papan kayu lapuk bertuliskan "Pos 1 - Ketinggian 1.500 mdpl". Ia bahkan tidak merasa lelah. Tanpa berhenti lama, ia melanjutkan perjalanan. Tujuan hari ini adalah mencapai Pos 3 atau 4, di ketinggian sekitar 2.500 meter. Di sanalah ia berencana mendirikan bivak.
Saat melewati area yang lebih rapat, Tio berhenti sejenak. Ia mengeluarkan kamera selfi dari kantong pinggang, menyalakannya, lalu merekam wajahnya sendiri.
"Day one. Gue sekarang di jalur pendakian Gunung Slamet via Gunung Malang, Desa Clekatakan, Pemalang. Jam menunjukkan pukul 09.15 pagi. Target hari ini mencapai Pos 3 atau 4, tergantung kondisi. Sendirian, kayak biasanya."
Ia tersenyum ke lensa. "Gue suka sendiri. Nggak perlu nungguin orang lain, nggak perlu ngatur jadwal bareng-bareng. Lo bisa gercep pas mau secepat apa pun. Ini baru namanya bebas."
Ia mengarahkan kamera ke pemandangan di belakangnya: lereng hijau yang perlahan menanjak, dengan puncak yang masih tersamarkan kabut. "Liat tuh, puncaknya masih jauh. Tapi gue akan sampai. Pasti."
Ia merekam beberapa detik lagi, lalu mematikan kamera. Dalam perjalanan ini, kamera itu akan menjadi satu-satunya temannya—sebuah alat untuk merekam pengakuan, celotehan, dan kata-kata yang tak akan pernah ia lontarkan pada manusia lain.
Tio melanjutkan perjalanan. Ia tak tahu, bahwa di belakangnya, di pos pendakian, Pak Giman masih duduk termenung. Penjaga basecamp itu memandangi buku tamu yang baru saja diisi Tio. Matanya berhenti pada satu baris yang ia tanyakan tadi.
"Rencana lama pendakian 5 hari." Lalu ia menggeleng pelan, mengingat ribuan pendaki yang pernah ia daftarkan selama 12 tahun. Yang selamat, yang hilang, yang ditemukan dalam keadaan tak utuh lagi.
Pak Giman memejamkan mata, berbisik lirih dalam hati. "Muga-muga kowe bali slamet, Le. Muga-muga gunung iki ora nesu karo kowe."
(Semoga kamu kembali selamat, Nak. Semoga gunung ini tidak marah padamu.)
Angin bertiup pelan, menerbangkan debu di halaman pos. Di kejauhan, sosok Tio dengan ransel hijau army-nya perlahan ditelan oleh rimbunnya hutan lereng Slamet. Ia pergi dengan keyakinan penuh, dengan rencana yang ia anggap sempurna, dengan arogansi seorang petualang yang belum pernah benar-benar dikalahkan oleh alam.
Di dalam ranselnya, jurnal kecil berwarna coklat masih bersih, belum ada satu kata pun tertulis. Pensilnya masih runcing. Di halaman pertama, nanti, ia akan menulis banyak hal. Tentang harapan, tentang ketakutan, tentang penyesalan, tentang hal-hal yang tak pernah ia duga akan ia tulis.
Tapi untuk sekarang, halaman itu masih kosong. Bersih. Seperti masa depannya yang belum terbaca, tersaput kabut tebal—sama seperti puncak Slamet yang diam-diam menunggunya di atas sana.