NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Sejarah yang Terlupakan

Cānglóng Pài bukan tempat. Bukan bangunan, bukan gua, bukan aula batu yang mereka temukan kemarin. Cānglóng Pài adalah konsep —ide yang tertanam di dalam gunung, yang tumbuh bersama akar-akar pohon, yang mengalir bersama air sungai bawah tanah. Tempat di mana mereka yang ditolak oleh dunia bisa menemukan tempat .

Fengyin belajar ini bukan dari kata-kata, tapi dari napas . Dari cara udara di dalam aula terasa—tidak tertutup, tidak pengap, tapi beredar dengan ritme yang hampir seperti detak jantung raksasa. Dari cara cahaya kristal di dinding berubah-ubah, bukan karena sifat kristal itu sendiri, tapi karena kehadiran orang. Lebih terang ketika banyak murid berkumpul. Lebih redup ketika mereka pergi berlatih. Seolah-olah gunung itu mengenali , merespons , peduli .

Tiga hari sudah mereka tinggal di sini. Tiga hari yang penuh dengan keheningan yang diberikan , bukan keheningan yang dipaksakan. Master Wei tidak memburu-buru mereka. Tidak meminta penjelasan, tidak meminta bukti, tidak meminta apa-apa kecuali kesediaan untuk melihat .

"Lihat dulu," kata Master Wei pada hari pertama, setelah mereka beristirahat dari perjalanan turun anak tangga. "Lihat sebelum bertanya. Rasakan sebelum mengerti. Di Cānglóng Pài, mata adalah alat yang paling sering menipu. Yang paling jarang menipu adalah... di sini." Dia menepuk dada, di atas jantung. "Dan di sini." Dia menepak perut, di bawah pusar, di Dantian.

Fengyin mengerti. Bukan secara instan—tapi secara bertahap , seperti air yang meresap ke tanah kering. Mengerti bahwa ini adalah tempat di mana Gu Yanqing, dalam kehidupan lainnya, mungkin akan nyaman . Tempat di mana dia sendiri, dengan segala beban dan rahasianya, bisa mulai melepaskan .

Pagi hari ketiga, Master Wei memanggil mereka. Bukan ke aula utama, tapi ke ruangan yang lebih kecil—lebih pribadi . Sebuah gua yang dindingnya dipenuhi ukiran, bukan naga seperti yang Fengyin duga, tapi sungai . Sungai yang berliku, yang bermuara, yang bercabang menjadi anak-anak sungai yang tak terhitung.

Di tengah ruangan, sebuah kolam dangkal. Airnya tidak mengalir dari mana pun—tapi juga tidak stagnan. Berputar pelan, berkilauan dengan cahaya yang bukan dari kristal, bukan dari matahari, tapi dari dalam air itu sendiri.

"Ini adalah Huíyì Zhīquán," kata Master Wei, suaranya berubah—lebih rendah, lebih intim . "Mata Air Ingatan. Tidak semua yang tinggal di Cānglóng Pài tahu tentang ini. Hanya mereka yang perlu mengingat, atau yang perlu diingatkan ."

Dia menatap Fengyin, mata tua yang tiba-tiba terlihat lebih tua lagi. Lebih sakit .

"Kamu perlu mengingat," kata Master Wei. "Bukan masa lalumu—itu sudah cukup kamu bawa. Tapi masa lalu yang lebih tua . Masa lalu Tiānzé Zhě. Masa lalu yang menjelaskan mengapa kamu di sini, mengapa kamu kembali, mengapa dunia ini membutuhkanmu... dan mengapa dunia ini akan mencoba menghancurkanmu."

Fengyin duduk di tepi kolam, kakinya menjuntai di atas air yang berputar. Yuelan duduk di sebelahnya—tidak dipanggil secara khusus, tapi tidak diusir. Master Wei membiarkannya, seolah-ilah kehadirannya adalah bagian dari ini. Bagian dari sesuatu yang lebih besar.

"Mulai dari mana?" tanya Fengyin.

Master Wei berdiri di seberang kolam, jubah putihnya mengambang meski tidak ada angin. "Dari awal. Dari sebelum Dinasti Wuji Chao. Dari sebelum nama-nama dan gelar-gelar. Dari waktu di mana manusia pertama kali menemukan bahwa mereka bisa menjadi lebih dari... ini." Dia mengangkat tangan, menunjuk ke tubuhnya sendiri—tua, keriput, fana .

"Di zaman itu," lanjutnya, suaranya menjadi seperti cerita , seperti dongeng yang diceritakan di depan api unggun, "ada mereka yang bisa berbicara dengan elemen. Bukan mengendalikan—berbicara. Mendengar. Berdampingan . Mereka disebut Yuánshǐ Zhě—Yang Asli. Dan di antara mereka, ada yang paling langka. Yang bisa berbicara tidak dengan satu elemen, tidak dengan empat, tapi dengan enam . Dengan semua yang ada, yang pernah ada, yang akan ada."

"Tiānzé Zhě," bisik Fengyin.

"Tiānzé Zhě," setuju Master Wei. "Yang Dipilih Tuhan. Meski kata 'Tuhan' adalah kesalahan penerjemahan. Bukan entitas yang memilih. Bukan dewa. Tapi keadaan . Kondisi di mana jiwa dan elemen menyatu begitu sempurna sehingga tidak bisa dibedakan lagi. Di mana manusia menjadi... saluran. Wadah. Jalan bagi kekuatan yang lebih besar dari individu."

Dia berhenti, menatap kolam. Airnya berputar lebih cepat, seolah-ilah mendengar , seolah-ilah merespons .

"Tapi kekuatan besar," lanjut Master Wei, suaranya lebih pelan, "selalu menarik keinginan besar. Ada yang ingin menjadi Tiānzé Zhě tanpa menjadi layak . Tanpa menjadi dipilih . Mereka mencoba mencuri. Mencoba menipu. Mencoba... memaksa ."

"Kaisar Xuancheng," kata Fengyin. Bukan pertanyaan.

Master Wei mengangguk. "Dia bukan yang pertama. Ada yang sebelumnya, ratusan tahun sebelumnya. Yang juga mengejar imortalitas dengan mencuri dari Tiānzé Zhě. Yang juga berhasil—sebagian. Berhasil hidup lebih lama dari yang seharusnya. Tapi tidak pernah benar-benar hidup . Hanya... ada. Menumpuk tahun seperti menumpuk debu. Menumpuk kekuatan seperti menumpuk batu. Hingga, pada akhirnya, mereka menjadi gunung. Gunung yang mengancam. Gunung yang harus... disingkirkan ."

Dia menatap Fengyin, dan di matanya ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang hampir seperti... permintaan maaf .

"Setiap kali ini terjadi," kata Master Wei, "Tiānzé Zhě muncul. Bukan karena takdir yang kejam. Bukan karena kutukan. Tapi karena keseimbangan . Dunia memiliki cara untuk melindungi dirinya sendiri. Dan cara itu... adalah kamu. Adalah mereka seperti kamu. Yang datang, yang berjuang, yang seringkali mati , agar dunia bisa terus berputar."

Fengyin menatap tangannya—tangan kecil, tangan sepuluh tahun, tangan yang pernah memegang pedang kayu dan pernah menggenggam tangan kakek yang mati. Tangan yang kini ditunggu oleh dunia.

"Berapa banyak?" tanyanya, suaranya hampir tidak terdengar. *"Berapa banyak Tiānzé Zhě sebelumku?"

"Tujuh," kata Master Wei. "Tujuh yang tercatat. Yang pertama, seribu tahun lalu, melawan Kaisar Pertama yang haus kekuatan. Yang ketiga, enam ratus tahun lalu, mengorbankan dirinya untuk menghentikan wabah yang dibuat oleh Yuánshǐ Zhě yang gila. Yang kelima, tiga ratus tahun lalu—"

Dia berhenti. Menatap kolam, yang berputar lebih cepat lagi, yang mulai menunjukkan gambar . Bayangan samar, bentuk-bentuk yang bergerak.

"Yang kelima," lanjut Master Wei, suaranya bergetar, "adalah Gu Yanqing. Bukan kakekmu yang kamu kenal. Bukan 'Kakek Yuanqing' yang melatihmu di gunung. Tapi Gu Yanqing yang pertama. Yang asli. Yang... yang adalah kakek dari kakekmu. Yang juga temanku."

Fengyin membeku. Bukan karena dingin—tapi karena revelasi . Gu Yanqing, nama yang dipakai oleh dua orang. Tidak kebetulan. Tidak acak .

"Dia adalah Tiānzé Zhě?" tanyanya.

"Dia adalah yang kelima," kata Master Wei. "Yang berjuang melawan Kaisar Keenam—bukan Xuancheng, tapi kakek buyutnya. Yang menang, tapi tidak bisa membunuh. Yang mengunci Kaisar itu di dalam kristal, di dalam tempat yang bahkan aku tidak tahu di mana. Yang kemudian... menghilang . Dikira mati. Tapi sebenarnya, hanya menunggu . Menunggu waktu yang tepat untuk kembali. Untuk melatih. Untuk mewariskan ."

Dia menatap Fengyin, dan di matanya ada air mata yang tidak jatuh. Air mata yang ditahan selama puluhan tahun.

"Dan kemudian dia kembali," bisik Master Wei. "Sebagai 'Kakek Yuanqing'. Sebagai guru di gunung. Sebagai pelindung anak kecil yang kehilangan desa. Sebagai... sebagai segalanya yang dia bisa menjadi, dengan tubuh yang bukan miliknya, dengan kekuatan yang bukan penuh , dengan waktu yang terbatas ."

Fengyin merasakan sesuatu di dadanya. Sesuatu yang meledak . Bukan kristal—tapi kenangan . Kenangan akan Gu Yanqing yang sebenarnya, yang mati di depannya, yang memberikan segalanya. Yang ternyata, juga, adalah lebih dari yang pernah diceritakan. Lebih dari yang pernah dimengerti .

"Dia menungguku," kata Fengyin, suaranya pecah. *"Dua kali. Dua kehidupan. Dia menungguku."

"Dia mencintaimu," kata Master Wei, sederhana. "Bukan sebagai murid. Bukan sebagai alat. Tapi sebagai... harapan. Sebagai bukti bahwa dunia bisa menjadi lebih baik. Bahwa pengorbanannya, pengorbanan semua Tiānzé Zhě sebelumnya, tidak sia-sia ."

Dia berjongkok di tepi kolam, di hadapan Fengyin, sejajar. Membuat dirinya lebih kecil, lebih rendah , bukan sebagai guru tapi sebagai teman . Sebagai seseorang yang juga kehilangan.

"Aku tidak bisa menggantikannya," kata Master Wei. "Tidak ada yang bisa. Tapi aku bisa melanjutkan . Bisa mengajarkan apa yang dia tidak sempat. Bisa melindungi apa yang dia lindungi. Bisa... bisa menjadi bagian dari perjalananmu, bukan tujuanmu."

Dia mengulurkan tangan, menepuk kepala Fengyin—sentuhan yang berat, yang nyata , yang berbeda dari sentuhan Gu Yanqing tapi tidak kalah berarti .

"Dan sekarang," kata Master Wei, suaranya kembali lebih kuat, lebih formal , "kita belajar. Bukan sejarah lagi—kamu sudah cukup dibebankan oleh sejarah. Tapi teknik . Cara menyembunyikan kekuatanmu agar tidak terdeteksi oleh Sekte Naga Hitam. Agar tidak menjadi target. Agar bisa tumbuh sampai siap."

Dia berdiri, menggeser jubahnya, dan mulai berjalan mengelilingi kolam.

"Tekniknya disebut Cánglóng Yǐn—Bayangan Naga Tersembunyi. Dibuat oleh Gu Yanqing yang pertama, disempurnakan oleh generasi-generasi Cānglóng Pài. Bukan untuk menyembunyikan dari mata biasa—tapi dari mata yang melihat elemen . Dari mereka yang punya Jingjie Interval, Jingjie Universal, dari mereka yang bisa merasakan kehadiran seperti merasakan panas atau dingin."

Dia berhenti di belakang Fengyin, menempatkan tangan di bahu kecilnya.

"Kamu punya enam elemen," kata Master Wei. "Enam kristal yang berdenyut, bahkan sekarang, bahkan ketika kamu mencoba menekannya. Bayangan Naga Tersembunyi akan membuat mereka berdenyut... di tempat lain. Di dalam bayangan yang kamu ciptakan, bukan di dalam dirimu. Seolah-olah kamu adalah orang biasa. Seolah-olah kamu tidak ada."

"Bagaimana?" tanya Fengyin.

"Dengan menjadi kosong ," kata Master Wei. "Bukan kekosongan yang hampa. Tapi kekosongan yang penuh . Seperti mangkuk yang kosong bisa diisi apa pun. Seperti ruang yang kosong bisa menjadi apa pun. Kamu bukan menekan elemenmu—kamu melepaskannya , sementara, ke dalam bayangan, ke dalam angin, ke dalam tempat di mana mereka bisa bermain tanpa terikat pada tubuhmu."

Dia menggerakkan tangan, dan sesuatu terjadi. Bukan dengan Master Wei—dia tidak punya kristal yang terlihat, tidak punya elemen yang mengalir. Tapi dengan ruangan . Dengan kolam. Dengan udara.

Fengyin merasakan keenam elemennya—Yǐng, Fēng, Shuǐ, Huǒ, Tǔ, Guāng—bergetar. Bukan di dalam dirinya, tapi di luar . Di sekitarnya. Seolah-olah mereka telah dipindahkan, dipisahkan, tapi masih terhubung .

"Ini," kata Master Wei, "adalah yang pertama. Merasakan bahwa kamu bisa berada tanpa menjadi . Bahwa identitamu bukan kekuatanmu. Bahwa kamu, Chen Fengyin, Chen Xiaoyu, siapapun namamu—kamu adalah lebih dari elemen-elemen yang mengalir melalui dirimu."

Fengyin menutup mata. Mencoba. Mencoba merasakan kekosongan yang bukan hampa. Mencoba melepaskan tanpa kehilangan.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat—dia merasakannya. Keenam elemennya, yang selama ini seperti api yang membakar di dalam dada, menjadi seperti... cermin . Yang memantulkan, bukan menyinari. Yang ada, tapi tidak mengusik .

Dia membuka mata. Master Wei tersenyum—senyum yang kecil, yang lelah, tapi puas .

"Bagus," kata Master Wei. "Untuk pertama kali. Sekarang, ulangi. Seratus kali. Seribu kali. Sampai menjadi refleks, sampai menjadi napas , sampai kamu bisa melakukannya bahkan ketika tidur, bahkan ketika terluka, bahkan ketika mati ."

Dia menatap Yuelan, yang selama ini diam, menonton, mencerna .

"Dan kamu," kata Master Wei pada Yuelan. "Kamu juga belajar. Bukan Cánglóng Yǐn—kamu tidak punya Yǐng untuk disembunyikan. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang hanya bisa diajarkan oleh murid Cānglóng Pài yang juga punya Shuǐ. Sesuatu yang akan membuatmu... lebih ."

Yuelan mengangguk, mata keemasannya berkilauan dengan tekad yang baru. Yang tidak mengerti sepenuhnya, tapi ingin . Yang takut, tapi berani .

Dan di kolam Huíyì Zhīquán, air yang berputar perlahan menunjukkan bayangan—bayangan yang bukan dari mereka yang ada di ruangan. Bayangan dari masa lalu, dari masa depan, dari kemungkinan .

Bayangan dari naga yang tersembunyi, yang menunggu waktunya untuk terbang.

Hari-hari berikutnya adalah latihan .

Bukan latihan seperti di Gunung Puncak Angin—tidak ada pukulan, tidak ada tendangan, tidak ada keringat yang mengalir di punggung. Tapi latihan dalam . Latihan duduk. Latihan bernapas. Latihan menjadi tidak ada .

Fengyin belajar bahwa Cánglóng Yǐn bukan teknik yang bisa dikuasai dalam semalam. Bahwa "melepaskan" elemen bukan seperti melepaskan burung dari sangkar—tapi seperti melepangkan tangan di air, membiarkan air mengalir melalui , tanpa menahan, tanpa menggenggam .

Dia gagal. Ratusan kali. Elemennya—terutama Yǐng dan Fēng, yang paling liar, paling hungry —menolak untuk pergi. Menolak untuk bermain di luar tanpa dia. Menolak untuk tidak menjadi bagian dari dirinya.

"Mereka takut," kata Master Wei, pada hari ketujuh, ketika Fengyin frustrasi, ketika tangannya gemetar oleh kelelahan yang bukan fisik. "Elemenmu takut. Karena mereka tahu—atau merasakan —bahwa kamu pernah mati. Bahwa kamu pernah kehilangan mereka. Mereka tidak mau pergi lagi. Mereka mau menempel . Mereka mau melindungi ."

"Tapi aku butuh mereka pergi," kata Fengyin, suaranya serak. "Aku butuh tidak terlihat. Aku butuh—"

"Kamu butuh percaya ," kata Master Wei. "Percaya bahwa mereka akan kembali. Bahwa melepaskan bukan kehilangan. Bahwa kekosongan adalah tempat di mana pertumbuhan bisa terjadi."

Dia berhenti, menatap Fengyin dengan mata yang tiba-tiba terlihat sangat tua. Sangat sakit .

"Gu Yanqing yang pertama," kata Master Wei, suaranya lebih pelan, "dia juga gagal. Ratusan kali. Ribuan kali. Dia hampir menyerah, hampir membiarkan dirinya terbakar oleh kekuatannya sendiri. Tapi kemudian dia menemukan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya bisa melepaskan."

"Apa?"

"Cinta," kata Master Wei, sederhana. "Bukan cinta romantis—itu datang kemudian, itu adalah bonus . Tapi cinta pada dunia. Pada kehidupan. Pada kemungkinan . Dia menemukan bahwa dia ingin melindungi, bukan karena terpaksa, tapi karena memilih . Dan pilihan itu... pilihan itu membuatnya bisa melepaskan. Karena dia tahu, dengan yakin, bahwa kekuatannya akan kembali ketika dia butuh. Bahwa dunia tidak akan membiarkannya mati tanpa perlawanan. Bahwa dia dicintai —oleh elemen, oleh takdir, oleh... aku."

Dia tersenyum, getir, tapi nyata .

"Kita adalah teman," kata Master Wei. "Gu Yanqing yang pertama dan aku. Bukan murid dan guru—teman. Sama-sama muda, sama-sama bodoh, sama-sama bercita-cita . Dan ketika dia menemukan Cánglóng Yǐn, dia mengajariku. Bukan karena aku Tiānzé Zhě—aku bukan. Tapi karena aku ada . Karena aku peduli. Karena... karena cinta tidak membutuhkan kekuatan untuk menjadi nyata."

Fengyin menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, melihat Master Wei bukan sebagai guru yang tua dan bijaksana, tapi sebagai manusia . Sebagai seseorang yang kehilangan teman, yang menunggu puluhan tahun, yang akhirnya—akhirnya—menemukan hubungan lagi.

"Aku akan mencoba lagi," kata Fengyin.

"Bukan mencoba," kata Master Wei. "Melepaskan. Percaya. Percaya ."

Malam itu, sesuatu berubah.

Fengyin duduk di tepi kolam Huíyì Zhīquán—sendiri, Yuelan sudah tidur, Master Wei sudah pergi. Diam, menatap air yang berputar, yang memantulkan cahaya kristal, yang mendengar .

Dia tidak berusaha. Tidak "mencoba". Dia hanya... ada . Menjadi kosong yang penuh. Menjadi mangkuk yang siap. Menjadi ruang .

Dan elemen-elemennya, satu per satu, mulai mengalir keluar .

Yǐng pertama—paling sulit, paling takut . Tapi juga paling setia . Yang mengerti bahwa melepaskan bukan kehilangan. Yang pergi ke sudut-sudut ruangan, ke bayangan-bayangan yang lebih gelap, dan bermain di sana. Tanpa Fengyin. Tapi juga untuk Fengyin.

Fēng mengikut—paling mudah, paling bebas . Yang tidak pernah ingin menempel terlalu erat. Yang senang bisa melayang tanpa tubuh yang membatasi.

Shuǐ, Huǒ, Tǔ, Guāng—satu per satu, mengalir, mengalir, mengalir .

Dan Fengyin, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, merasa... ringan . Tidak kosong. Tidak hampa. Tapi bebas . Bebas dari beban menjadi Tiānzé Zhě. Bebas dari harapan yang menekan. Bebas untuk menjadi... apa pun yang dia inginkan.

Dia tersenyum. Sendirian, di dalam gua yang gelap, dengan elemen-elemennya yang bermain di sekitarnya seperti anak-anak yang diberi izin untuk keluar.

Dan dari bayangan di sudut, sesuatu bergerak.

Bukan Yǐng-nya—itu masih terlihat, masih terasa , bermain di dinding. Tapi bayangan yang lain . Yang lebih tua. Yang lebih kenal .

Seolah-olah Gu Yanqing—yang pertama, yang kedua, yang mana pun—sedang melihat . Sedang mengangguk . Sedang berkata: Bagus. Kamu belajar. Kamu tumbuh. Kamu menjadi lebih dari yang aku harapkan.

Fengyin menutup mata. Tidak menangis—air mata sudah habis di kehidupan sebelumnya. Tapi merasakan . Merasakan bahwa dia tidak sendiri. Bahwa dia tidak pernah sendiri. Bahwa setiap langkah, setiap jatuh, setiap bangkit —ada yang menemani. Ada yang menunggu .

Dan ketika dia membuka mata, elemen-elemennya sudah kembali. Mengalir masuk, bukan dengan paksaan, tapi dengan undangan . Dengan keinginan sendiri.

Cánglóng Yǐn—Bayangan Naga Tersembunyi—telah dipelajari. Bukan sempurna. Bukan mudah . Tapi cukup .

Untuk sekarang.

Pagi berikutnya, Master Wei menemukannya masih duduk di sana. Tidak bergerak, tidak tidur, hanya... ada . Dengan senyum kecil di wajahnya. Dengan elemen-elemen yang berdenyut pelan, terkendali, tersembunyi .

"Kamu berhasil," kata Master Wei, bukan pertanyaan.

"Aku berhasil," setuju Fengyin.

"Maka sekarang, kita lanjutkan. Ada lebih banyak yang harus dipelajari. Lebih banyak yang harus diketahui . Duniamu lebih besar dari desa ini, dari gunung ini, dari sekolah ini. Dan kamu..." Master Wei tersenyum, senyum yang tua dan lelah tapi penuh dengan harapan , "kamu adalah bagian dari dunia itu sekarang. Bagian yang tidak bisa diabaikan. Bagian yang akan... mengubah ."

Dia berbalik, mengajak Fengyin untuk mengikuti. Dan di belakang mereka, di kolam yang masih berputar, bayangan dari masa lalu dan masa depan terus bermain. Terus menunggu .

Sampai waktunya tiba.

Sampai naga tersembunyi siap untuk terbang.

[Bersambung...]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!