Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Alan mengendarai mobilnya dengan cepat meninggalkan gedung pesta dan keluarganya. Ia teringat Hana yang dikurung di gudang bawah tanah oleh ayahnya.
"Mulai sekarang tidak akan aku biarkan siapapun menindas Hana. Dia adalah adikku!" ucapnya pada diri sendiri dengan tegas.
Alan menambah kecepatan, ingin segera tiba di rumah dan membebaskan Hana dari kurungan. Sekalipun itu bertentangan dengan kehendak sang ayah. Di belakangnya sebuah mobil menyusul mengikuti kecepatan Alan, tapi tidak berani mendahuluinya.
Ban mobil berdecit keras saat Alan menginjak rem dengan cepat. Ia membanting pintu dan berlari ke belakang rumah di mana gudang bawah tanah berada.
"Tuan Muda!" Seorang pelayan wanita menghampirinya, wanita yang lebih mudah dari ibunya.
"Berikan aku kunci gudang, cepat!" Suara Alan tinggi menggema, matanya memancarkan kekhawatiran yang sangat saat bersitatap dengan pelayan tersebut.
"Tuan Muda, tenanglah! Jangan terbawa emosi," pinta seorang laki-laki seusia Alan yang datang dengan napas tersengal.
Tanpa bertanya-tanya, pelayan wanita itu memberikan kunci gudang kepada Alan. Kunci itu direbutnya dengan cepat, Alan membuka gudang dan membanting pintunya. Debu mengepul menyambut kedatangan mereka, merangsek masuk ke dalam dada, mengganggu saluran pernapasan.
Uhuk!
Alan mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah mengusir debu yang menutupi pandangan. Sudah berapa lama gudang bawah tanah itu tak dibuka?
"Hana!" Alan memanggil Hana, suaranya menggema di dalam ruangan tersebut.
Pelayan wanita tadi mengernyit, melihat Alan yang mencari-cari dan memanggil Hana.
"Hana! Di mana kau?" Alan masuk semakin dalam, mencari keberadaan adiknya itu.
"Tuan, tidak ada nona Hana di sini. Sejak pagi tidak ada yang datang ke rumah. Bukankah seluruh keluarga sedang melangsungkan pesta sekarang?" ujar pelayan wanita itu terheran-heran.
"Tuan Muda, pelayan itu mengatakan tidak ada nona Hana di sini," ulang asisten Alan menghentikan langkahnya yang sudah berputar-putar di dalam gudang mencari keberadaan Hana.
Alan berbalik, menatap tajam pelayan wanita yang berdiri di luar gudang. Langkah besarnya begitu cepat menghampiri pelayan tersebut.
"Kau yakin tidak ada yang membawa Hana ke gudang ini?" tanyanya penuh penekanan.
"Saya yakin, Tuan Muda. Tidak ada yang datang membawa nona Hana ke rumah ini. Tuan Muda, apakah nona Hana kembali dihukum? Dikurung di gudang ini? Nona telah menghilang selama dua Minggu lamanya. Kesalahan apa yang telah dilakukan nona, Tuan Muda?" cerocos pelayan wanita itu membuat Alan tertegun.
Mata laki-laki itu memindai dengan sengit, tangannya yang kokoh mencengkeram kedua bahu si pelayan. Mata mereka terpatri, begitu dalam. Pelayan tersebut pun dengan berani menatap Alan, ia bertekad apapun yang terjadi akan membeberkan kebenaran kepada Alan.
"Apa yang kau ketahui?" tanyanya tak sabar.
Pelayan wanita itu melepaskan cengkeraman Alan dengan kasar, ia tersenyum sinis penuh kebencian.
"Tuan Muda, nona Hana tidak pernah melakukan kesalahan apapun sejak kedatangannya. Nona selalu membantu pekerjaan kami, bahkan menyiapkan sendiri hidangan kesukaan keluarga ini. Anda ingat malam tahun baru kemarin? Semua hidangan nona Hana sendiri yang menyiapkan, tapi nona Shopia yang justru mengambil jasa itu. Malam itu juga, tuan menghukum nona Hana hanya karena sedikit berdebat dengan nona Shopia. Tolong, jika kalian tidak menginginkan nona Hana kembalikan saja dia ke desa. Mungkin kehidupannya di sana jauh lebih baik dari pada di sini," ungkap pelayan wanita itu dengan tulus, air menggenang di kedua sudut matanya, tak tahan dengan penderitaan Hana.
Alan tertegun, hatinya sakit mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan wanita tadi.
"Apa lagi yang kau ketahui?" desak Alan dengan air mata menggenang di sana.
"Saya kira Tuan Muda juga tahu apa yang terjadi, tapi kalian selalu menutup mata untuk nona Hana. Semua kesalahan kalian limpahkan kepada nona Hana tanpa ingin mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya. Saya hanya menyarankan untuk tidak lagi menyalahkan nona Hana karena itu semua adalah perbuatan nona Shopia sendiri. Sayang, tidak satu pun dari Anda semua yang mempercayai nona Hana. Padahal, jelas-jelas nona Hana yang paling menderita di rumah ini," katanya seraya berbalik meninggalkan gudang belakang dengan air mata yang berjatuhan.
Alan tertegun, air matanya luruh. Perasaannya selama ini ternyata benar, semua itu hanyalah rekayasa Shopia. Sayangnya, tidak ada yang percaya kepada Hana. Padahal, dia selalu menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka.
Alan terhuyung ke belakang dan menabrak dinding gudang yang dingin. Ia menangis menyesali semuanya. Ingatannya berputar pada masa di mana semua orang menyalahkan Hana.
Saat itu Hana baru saja tiba di rumah, Shopia menyambutnya dengan baik. Ia terlihat bisa menerima Hana dan mengajaknya berkeliling rumah, tapi kemudian Shopia terjatuh ke dalam kolam ikan dan Hana yang mendorongnya. Saat itu Hana menyangkalnya dengan keras, tapi mereka tak mau mencari tahu kebenarannya dan menghukum Hana di gudang bawah tanah selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum. Padahal saat itu Hana baru saja tiba di rumah.
"Hana ... maafkan aku! Aku bukan kakak yang baik!" Alan menangis sesenggukan, tubuhnya luruh di lantai.
Jonas, asistennya bingung harus melakukan apa. Ia belum pernah melihat Alan dalam kondisi terpuruk seperti itu.
"Tuan Muda ...!"
Alan membuka tangan, bangkit dari lantai.
"Temukan dua satpam yang membawa Hana dari gedung!" titahnya seraya meninggalkan gudang belakang dan pergi ke markas rahasianya.
Hana, apapun yang terjadi aku akan menemukan dirimu!
hai jalang gk tau diri lo