Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Latihan yang Menyakitkan
Malam menelan kota yang masih berdarah setelah ledakan kedua.
Raka berdiri di pusat latihan Helios Guard—ruang rahasia yang jarang dilihat orang. Dindingnya terbuat dari logam khusus yang bisa menahan energi Astra liar, lantainya berlapis material anti-kejut. Cahaya biru lembut menyelimuti ruangan, seolah menunggu energi Raka menyala.
Kayla menatapnya dengan cemas.
“Kamu yakin mau melakukan ini sendirian?”
Raka menatap lantai kosong di depannya.
“Kalau aku ingin mengendalikan Astra sepenuhnya… aku harus melewati ini. Tanpa bantuan orang lain, tanpa batasan.”
Damar menyela.
“Kalau tubuhmu nggak siap… kamu bisa hancur, Rak. Ingat, energi Astra bukan mainan.”
Raka menarik napas dalam.
“Aku tahu risikonya. Tapi kalau aku tidak menguasainya sekarang, Adrian akan terus memanfaatkan kelemahan ini untuk Eclipse.”
---
Sesi Latihan Pertama
Raka memusatkan energi biru di dadanya. Medan energi melingkupi tubuhnya, berdenyut mengikuti ritme jantungnya. Napasnya panjang dan terkontrol, tapi keringat mulai menetes di pelipisnya.
Kayla memandangnya sambil mengamati monitor pengukur tingkat sinkronisasi.
“Raka… tingkatmu baru 70%. Kalau naik terlalu cepat, jantungmu bisa berhenti.”
Raka menutup mata.
“Tidak ada jalan lain. Aku harus stabil di atas 90%.”
Tubuhnya tiba-tiba melonjak ke udara, energi biru meledak membentuk pusaran. Dinding logam retak sedikit, lantai bergetar.
Damar cepat melompat ke sisi untuk menahan gelombang energi.
“Kendalikan, Rak!” teriaknya.
Raka menggigit bibir. Energi liar mencoba menguasai tubuhnya. Setiap gerakan seperti diseret ke segala arah. Tubuhnya bergetar hebat.
“Tarik napas… tarik napas…” gumamnya pelan.
Cahaya biru berdenyut liar, menembus batas normal.
Satu pukulan energi dari tangannya menghancurkan dummy target di sisi ruangan. Tapi Raka terasa nyeri luar biasa di tulang dan sendi.
Kayla mendekat.
“Kamu harus berhenti—tubuhmu tidak akan tahan!”
Raka membuka mata, pandangannya tajam.
“Aku tidak akan berhenti! Aku harus bisa mengontrol ini!”
Ledakan energi biru meledak di tengah ruangan. Lantai retak, dan debu beterbangan. Raka jatuh tersungkur, nafasnya tersengal.
Damar segera menahannya.
“Kamu gila! Kamu hampir merusak sendiri tubuhmu!”
Raka menatap langit-langit. Cairan biru dari energi Astra masih berdenyut di sekelilingnya.
“Kalau aku tidak menyakitkan diriku sendiri… aku tidak akan pernah tahu batasku…”
Kayla menatapnya, matanya berkaca-kaca.
“Kamu terlalu keras pada dirimu, Rak.”
---
Latihan Intensif Selama Seminggu
Setiap hari Raka bangun sebelum fajar.
Ia menahan medan gravitasi ekstrim yang diciptakan Kayla.
Ia menembus gelombang energi pelatihan Damar.
Ia memusatkan energi biru di dalam tubuhnya hingga cahaya biru mengelilinginya seperti aurora mini.
Setiap pukulan energi menghantam tubuhnya sendiri, setiap gerakan memaksa organ-organ menyesuaikan dengan energi yang tidak wajar. Nyeri dan mual selalu hadir.
Raka menatap cermin setelah satu sesi latihan. Tubuhnya lecet, matanya merah, tapi aura biru mengelilingi dirinya lebih terang dari sebelumnya.
“97%…” gumamnya. “Hampir… Alpha…”
Kayla menatapnya dengan campuran kagum dan khawatir.
“Kamu… hampir menyatu penuh dengan Astra.”
Raka tersenyum tipis.
“Dan setelah ini… aku tidak akan bisa berhenti.”
---
Pertanda Alpha
Pada hari ketujuh, Raka mencoba latihan terakhir: menyatukan energi biru dengan gravitasi Kayla.
Pusaran energi mereka bertemu, membentuk bola biru besar di udara. Setiap detik energi meningkat secara eksponensial.
Raka merasakan sesuatu berbeda: denyut nadi dan energi biru seakan bersatu dengan jantungnya. Sensasi panas ekstrem muncul di seluruh tubuh. Napasnya tertahan.
Cahaya biru mencapai intensitas maksimum.
“Ini… Alpha…” bisiknya.
Tubuhnya mulai menyala dari dalam ke luar, menyebarkan medan energi stabil tapi kuat.
Kayla menatapnya terpana.
“Kamu… sudah sampai level Alpha.”
Raka menunduk, mengatur napas.
“Bukan hanya kekuatan. Ini… tanggung jawab.”
Damar menepuk pundaknya.
“Bagus, Rak. Sekarang, kalau Adrian muncul lagi, kita sudah siap.”
Raka menatap kedua sahabatnya.
“Siap? Aku harus lebih dari siap. Aku harus jadi pemimpin perlawanan. Kota ini… dan semua yang tersisa dari warisan orang tuaku… ada di pundakku sekarang.”
Lampu biru di tubuhnya berdenyut seperti detak jantung kedua dunia: manusia dan Astra.
Dan jauh di atas kota, di menara Eclipse…
Adrian tersenyum tipis, menatap langit.
“Bagus… waktunya meningkatkan tekanan.”