Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara deru mesin mobil yang berhenti di depan kantor direksi proyek membuat Alana mendongak dari tumpukan cetak biru. Hari sudah merangkak menuju senja, dan ia baru saja akan membereskan barang-barangnya ketika pintu kayu itu terbuka tanpa ketukan.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung acak-acak. Napasnya sedikit memburu, dan di tangannya ia hanya membawa sebuah tas kerja kulit.
Pradipta.
Alana terpaku, pena di tangannya hampir terlepas. "Pradipta? Bukannya rapat di Jakarta baru selesai sore ini? Kenapa Anda di sini?"
Pradipta tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menatap Alana dengan intensitas yang membuat jantung Alana berdesir. "Suaramu di telepon tadi siang... itu bukan suara Alana yang 'sudah bisa bernapas'. Itu suara Alana yang sedang tenggelam lagi."
Ia berjalan mendekat, meletakkan tasnya di atas meja kerja Alana yang berantakan. "Saya tidak bisa duduk diam di ruang rapat sambil membayangkan kamu sendirian menghadapi bayangan masa lalumu di sini."
Alana terdiam, matanya mulai memanas. Ia merasa konyol karena membuat pria sesibuk Pradipta terbang melintasi pulau hanya karena sebuah telepon emosional. "Saya hanya... melihat anak kecil itu tadi. Semuanya tiba-tiba kembali, Pradipta. Semua larangan untuk menangis, semua tuntutan Ibu... saya merasa kotor karena pernah menjadi bagian dari siklus itu."
Pradipta mengitari meja, berdiri tepat di hadapan Alana. Ia tidak menyentuhnya, namun keberadaannya terasa seperti benteng yang kokoh.
"Kamu tidak kotor, Alana. Kamu adalah penyintas," ujar Pradipta lembut. "Anak kecil yang kamu lihat tadi adalah pengingat betapa jauhnya kamu sudah melangkah. Kamu tidak lagi di bawah telunjuk ibumu. Kamu adalah pemimpin proyek ini. Kamu adalah perempuan yang berani bilang 'cukup'."
Alana menunduk, air matanya jatuh ke atas meja kayu. "Tapi kenapa rasanya masih sesakit ini?"
"Karena selama dua puluh tahun kamu membalut luka itu dengan paksa. Sekarang, saat kamu membukanya untuk dibersihkan, tentu saja perih," Pradipta akhirnya mengulurkan tangan, menyentuh dagu Alana dan memintanya untuk mendongak. "Tapi kali ini, kamu tidak perlu membersihkannya sendirian."
Di luar, langit Uluwatu berubah menjadi ungu kemerahan. Pradipta mengajak Alana keluar, bukan ke restoran mewah, tapi ke pinggir tebing yang sepi di area proyek yang belum terjamah alat berat. Mereka duduk di atas beton pembatas, membiarkan angin laut menerpa wajah mereka.
"Saya membatalkan tiga pertemuan penting untuk ini," gumam Pradipta sambil menatap cakrawala.
"Maafkan saya," bisik Alana merasa bersalah.
Pradipta terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat merdu di telinga Alana. "Jangan minta maaf. Menyelamatkan asisten terbaik saya—dan mungkin, seseorang yang mulai saya sayangi—jauh lebih penting daripada angka-angka saham itu."
Alana menoleh cepat, jantungnya berdegup tidak keruan mendengar kata "sayangi". Pradipta balas menatapnya, tidak ada keraguan di matanya.
Malam itu, di bawah langit Bali yang mulai bertabur bintang, Alana menyadari satu hal. Pradipta bukan hanya sekadar atasan yang mengerti lukanya; pria ini adalah cermin yang menunjukkan bahwa ia layak dicintai tanpa syarat, tanpa harus menjadi "sukses" atau "kuat" terlebih dahulu.
Pradipta tidak membiarkan Alana tenggelam lebih dalam di balik meja kantor yang dingin. Ia meraih tangan Alana—sebuah sentuhan yang tegas namun menghargai—dan membimbingnya keluar. "Tinggalkan semua berkas ini. Proyek ini tidak akan lari ke mana-mana dalam satu jam."
Mereka berkendara menyusuri jalanan Uluwatu yang berkelok hingga tiba di sebuah pantai tersembunyi yang hanya bisa dicapai melalui celah tebing. Matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan semburat warna jingga dan ungu yang memantul di permukaan air yang tenang.