Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Seperti biasa setiap pagi Dira berjalan di lorong bersama Sinta dan Bayu. Tawanya masih terdengar lepas meski beberapa hari terakhir emosinya naik turun. Ya ia sudah melupakan kejadian beberapa hari terakhir ini.
Tapi seperti biasa… ketenangan tidak pernah bertahan lama.
Vina dan gengnya muncul dari ujung lorong.
“Eh, si anak drama kantor,” sindir Vina.
Dira memutar bola matanya. “Pagi juga, fans.”
Teman-teman Vina mencoba mendorong bahunya.
“Katanya sekarang nggak ke kantor lagi? Ditinggal ya?”
Sinta terlihat tegang. Tapi Dira malah tersenyum miring.
“Ditinggal? Enggak tuh. Yang ada kalian yang sibuk mikirin hidup orang.”
Vina mendekat, mencoba menjatuhkan buku Dira.
Refleks cepat.
Dira menangkap bukunya sebelum jatuh.
“Cari perhatian boleh. Tapi jangan murahan,” ucap Dira santai tapi tajam.
Lorong mendadak hening.
Beberapa murid mulai memperhatikan.Mulai tertarik untuk diabaikan
Vina kesal karena tidak mendapat reaksi yang diinginkan. Ia ingat beberapa hari yang lalu saat ia ikut acara kakaknya ,disana ia mendapat gosip bahwa dira sedang dekat dengan seorang om kaya.
“Kamu tuh cuma numpang nama orang kaya!”
Dira mendekat satu langkah.
“Aku nggak numpang siapa-siapa. Kalau aku berdiri, itu karena kakiku sendiri.”
Tatapannya tegas. Tidak goyah.
Akhirnya Vina mendecih dan pergi.
Sinta langsung memeluk Dira. “Gila kamu keren banget.”
Dira nyengir. “Bar-bar itu bukan berarti bodoh, ya.”
" Ah siap .. yuk masuk " ajak sinta yang hanya diangguki dira
Tapi jauh di dalam hati… ia tetap memikirkan satu orang.
***
Dira keluar gerbang sekolah dengan langkah santai. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin sore. Ia ingin menuju gerbang menunggu sang kakak
Namun..
Lalu ia melihat mobil hitam yang sangat dikenalnya terparkir di depan.
Jantungnya berdebar tanpa izin.
Elvan berdiri di samping mobil itu.
Formal seperti biasa. Tenang. Tapi ada sesuatu yang berbeda di wajahnya—tidak sedingin biasanya.
Semakin ia mendekat semakin berdebar jantungnya .
Dira mendekat pelan.
“Eh Om CEO turun langsung jemput anak SMA nih ?” godanya, mencoba terdengar biasa.
Elvan menatapnya beberapa detik sebelum bicara.
“ saya minta maaf.”
Langsung. Tanpa berputar.
Dira sedikit terdiam.
" hah.. Bang kenzo mana om?" dira mengalihkan pembicaraan
“Saya tidak seharusnya bicara seperti itu waktu itu,” lanjutnya. “Kamu bukan gangguan. Kamu tidak pernah jadi gangguan.” Lanjut elvan tanpa peduli dengan pertanyaan dira.
Hening.
Mata Dira melembut.
“Om marah karena cemburu kan?” tanyanya tiba-tiba, senyum tipis mulai muncul.
Elvan terdiam.
Itu sudah jawaban.
Dira tertawa kecil. “Ih, CEO bisa cemburu juga ya .”
“Saya serius.”
“Aku juga.”
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Dira memang bar-bar. Cepat marah. Cepat tertawa.
Dan… cepat memaafkan.
Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan.
“Ayo. Aku lapar om .” Perintahnya
Elvan menghela napas pelan, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Di dalam mobil, suasana tidak lagi kaku.
Dira bersandar santai.
“Lain kali kalau cemburu bilang aja om . Jangan jutek.” dira mengomel " Ini malah bikin aku sakit hati.." pura-pura sedih
Elvan meliriknya sekilas.
“Saya akan belajar ”
Dira tersenyum puas.
Walau hatinya pernah terluka, ia memang bukan tipe yang menyimpan dendam lama.
Dan Elvan tahu…
ia hampir kehilangan gadis yang paling berisik sekaligus paling tulus dalam hidupnya.
Mobil itu melaju perlahan meninggalkan sekolah.
Di kejauhan, seseorang berdiri memperhatikan.
Albian.
Wajahnya tetap tenang.
Tapi tatapannya dalam.
Ia tidak marah.
Ia hanya… menunggu
***
Mobil yang ditumpangi elvan dan dira kini berhenti disalah satu restoran pusat kota..
" Ayoo om.aku sudah lapar " menyeret lengan elvan ketika baru saja turun dari mobil
" Kamu tidak sabaran ya " gemas elvan.
Mereka masuk beriringan. Dira memilih kursi dipojok kanan ruangan..
" Om. aku pesan banyak ya.." Pinta dira
Dira duduk sambil melihat menu.
Lima menit berlalu.
sepuluh menit
Elvan melirik dari balik menu.
" Kamu membaca atau menghitung hurufnya"
Dira mendongak " ini penting"
" penting "
" iya aku lagi menentukan takdir perutku siang ini om "
Elvan menghela napas pelan " Pesan aja "
Dan lima belas menit kemudian—
Meja mereka penuh.
Pasta. Steak. Sup. Kentang goreng. Dessert kecil. Bahkan minuman tambahan.
" Kamu yakin ini untuk satu orang? "
" Aku kan lagi masa pertumbuhan om"
" Kamu sudah SMA"
" Masih tumbuh emosinya "
Elvan menahan senyum tipis.
Dira makan dengan lahap. Tapi bukan berantakan. Justru anehnya… tetap terlihat manis
Pipinya sedikit menggembung saat mengunyah. Alisnya naik turun saat menemukan rasa yang enak.
“Om !” katanya tiba-tiba dengan mulut masih penuh
Elvan langsung menyodorkan tisu.
“Telan dulu.”
Dira menelan cepat. “Ini enak banget. Om harus coba.”
Tanpa pikir panjang, ia menyuapkan sedikit ke arah Elvan.
Gerakan itu membuat Elvan membeku satu detik.
Beberapa orang di sekitar mungkin mengira ia akan menolak.
Tapi ia tidak.
Ia mencicipi.
Hening beberapa detik.
“Lumayan,” jawabnya tenang.
Dira langsung protes. “Cuma lumayan? Ini surgawi!”
Elvan menatapnya lebih lama dari biasanya.
Cara Dira makan dengan bahagia. Cara matanya berbinar hanya karena makanan.
Sederhana.
Tulus.
Dan entah kenapa… menghangatkan.
" Kamu tahu?” ucap Elvan pelan.
“Apa?”
“Saya tidak pernah melihat orang makan seantusias kamu.”
Dira tersenyum lebar. “Itu karena om hidupnya terlalu serius.”
" Om " panggil dira setelah beberapa saat hening.
" Ya"
" Om kenapa sih, kalau ngomong selalu pakai saya ?" Tanya dira karna memang ia kurang suka .
" Terus kenapa kamu panggil saya om ?" tanya balik elvan
" Yah elah om kok malah balik tanya sih , jelas karna om tua " ceplos dira sambil tertawa
" Tua " Ulang elvan
Dira terdiam kaku
" Salah ya .Kan emang jauh umur kita om " Balas dira
Elvan menghela napas lagi dan lagi.
"Sudah .kalau saya ubah bicara saya apa kamu juga akan ubah panggilan kamu? Tanya elvan
" Iya. Nanti aku panggil om jadi sayang " canda dira sambil cekikikan.
" huh.. sudah habiskan makanan kamu ,baru aku antarkan pulang " Dira terdiam .Elvan tidak pakai kata saya lagi padahal tadi ia hanya bercanda.
" Hah.. O-om soal tadi aku cuma bercanda " klasifikasi dira
" Aku tau "
Dira pun hanya menatap sekilas dan kembali melahab makanannya.
Bersambung......