Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sebelum Lucio menjawab, Naya sudah lebih dulu pergi dari ruangan itu.
Lucio menatap cukup lama punggung Naya yang menjauh, kemudian netranya jatuh pada map yang tadi dipegang Naya. Ia ambil dokumen tersebut, memberi atensi cukup lama pada lembaran-lembarannya.
“Apa dia sudah tahu?”
Setelah beberapa saat, Lucio menutup map itu dengan pelan. Ia berjalan ke arah lemari di belakang meja kerjanya, membuka pintunya, lalu memasukkan dokumen tersebut ke dalam salah satu laci rahasia.
Klik.
Ia menguncinya dengan rapi, seolah memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhnya
Sementara itu, setelah Naya memberikan dokumen pada Shinta, ia segera kembali ke kamarnya.
“Apa mungkin orang yang selama ini dicari papa adalah Lucio?” Naya menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Ia berjalan mondar-mandir dekat ranjang, tangannya saling meremas tanpa sadar.
Tapi… kalau benar Lucio orangnya, untuk apa dia melakukan semua itu?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
“Kalau benar dia dalangnya, maka dia pasti punya tujuan tertentu menikahiku.” gumam Naya.
Perlahan rasa takut terhadap Lucio kembali muncul, menjalar seperti dingin yang merayap di tulang. Naya menggigil hanya dengan membayangkan kemungkinan terburuk, hidup bersama seseorang yang mungkin adalah pembunuh ibunya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Naya mengambil ponselnya dari meja samping ranjang. Ia mencari nomor ayahnya dan segera menekan tombol panggil.
Berdering.
Namun tidak ada jawaban.
Naya mencoba lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tetap tidak diangkat.
“Baiklah, mungkin papa memang butuh waktu sendiri,” gumam Naya pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang dengan lemah.
Setelah itu Naya membuka dompetnya, lalu mengeluarkan satu-satunya foto ibunya yang masih ia miliki.
Ia menatap foto itu lama sekali.
Senyum lembut wanita dalam foto itu terasa begitu hangat, begitu akrab, namun sekaligus begitu jauh.
Perlahan Naya membawa foto itu ke dadanya.
Ia memeluknya erat, seolah sedang memeluk sosok yang ada di dalam gambar tersebut, berharap kehangatan yang sama masih bisa ia rasakan, meski hanya lewat selembar foto yang mulai memudar oleh waktu.
*
Makan malam harinya, Naya turun ke ruang makan untuk makan malam. Ia berusaha untuk terlihat tenang.
“Selamat malam, Nyonya.” Sapa para pelayan yang bertugas malam itu, salah satu dari mereka menarik kursi, dan mempersilahkan Naya duduk. “Silahkan, nona.”
Sebelum duduk, Naya melirik ke kursi utama yang kosong. Lucio tidak ada. Hal itu membuat Naya sedikit lega.
“Terima kasih,” Naya duduk.
Setelah Naya duduk, para pelayan meletakkan hidangan pembuka di meja panjang itu berupa irisan smoked salmon dan bruschetta yang masih hangat.
“Mama kemana?” Tanya Naya seraya mengambil satu smoked salmon, mengunyahnya perlahan.
“Nyonya Shinta tidak tinggal disini, beliau sudah pulang ke mansion.” Jawab salah satu pelayan.
Saat Naya hendak kembali bertanya, ponselnya berdering. Ia menoleh dan tersenyum senang mendapati nama ayahnya terpampang jelas di layar.
Akhirnya.
Dengan cepat Naya menekan tombol untuk menjawab.
“Hallo, papa.” sapanya.
Terdengar suara berisik seperti barang jatuh, dan suara tumpang tindih orang mengobrol.
“Ya, Nay. Papa lagi sibuk. Kamu baik-baik aja kan?” Suara ayahnya terdengar bersamaan dengan suara keramaian yang mulai terdengar jauh. Sepertinya ayahnya sudah menjauh dari keramaian tersebut.
Naya menyudahi makan malamnya, kemudian pindah ke ruang tamu yang tidak ada siapapun. “Aku mau bertemu, papa. Ada yang mau aku ceritain.” Katanya setelah duduk di sofa ruang tamu.
“Mau papa jemput?”
“Nggak usah, pa. Aku bisa naik taksi, atau minta anterin supir.”
“Ya, sudah. Papa bentar lagi pulang,”
“Aku berangkat sebentar lagi,”
“Berangkat kemana?”
Naya terlonjak kaget, refleks menoleh ke pintu, Lucio berjalan masuk dengan langkah lebar. Jas hitamnya sedikit kusut, wajahnya tidak terlihat bersahabat sama sekali.
“Aku tutup dulu teleponnya, Pa.”
Naya buru-buru mengakhiri panggilan itu sebelum ayahnya sempat mengatakan hal lain. Begitu layar ponselnya mati, ia menelan ludah dengan gugup.
Lucio sudah duduk di sebelahnya.
Pria itu menatapnya dengan sorot mata tajam dan menyelidik, seolah-olah Naya baru saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Tatapan itu membuat Naya merasa seperti sedang diinterogasi tanpa satu pun pertanyaan diucapkan.
Perlahan tangan besar Lucio terulur, mencoba mengambil ponsel yang masih berada di genggaman Naya.
Refleks, Naya menarik tangannya menjauh.
Namun Lucio jauh lebih cepat. Dalam satu gerakan sigap, ia menangkap pergelangan tangan Naya dan menariknya mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga hampir tidak tersisa ruang.
Napas Naya tertahan.
“Kamu tidak akan ke mana-mana,” bisik Lucio rendah di dekat telinganya.
“Malam ini adalah malam pertama kita.”
Saat mengatakan itu, Lucio dengan sengaja memberi sapuan singkat di daun telinga Naya. Sentuhan ringan itu justru terasa seperti aliran listrik yang membuat tubuh Naya menegang.
Naya membeku.
Ia bahkan tidak berani bergerak.
Selama ini ia berpikir Lucio tidak akan menuntut apapun dari pernikahan ini, bahwa semuanya hanya sekadar kesepakatan dingin tanpa perasaan.
Namun ternyata ia salah.
“Oh, kamu baru saja menelpon papamu?” Lucio sudah kembali ke tempat duduknya, menatap layar ponsel Naya dengan santai. Sementara Naya masih membeku, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Kembalikan ponselku!” Naya menggertakkan giginya saat menyadari ponselnya sudah berpindah tangan.
Lucio meliriknya sekilas, berdiri, kemudian naik ke lantai dua sambil memasukkan ponsel Naya ke saku celananya.
Benar-benar orang seenaknya!
...***...
...Like, komen dan vote ...