Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"I-Itukan ... Dini dan Pak Lurah?" Untuk beberapa detik, otak Kyara seolah berhenti bekerja. Ia hanya menatap dengan wajah shock, tak mampu memprotes kenyataan di depan matanya.
Sementara Dini dan Pak Lurah saling merangkul mesra, lalu tanpa diduga, lelaki seumuran Hesti itu memeluk Dini, dan melabuhkan kecupan di kening gadis itu, sebelum mereka akhirnya masuk ke dalam taksi.
"Astagfirullahal 'adzim!" Belum reda keterkejutan yang dirasakan Kyara, kini ia sudah mendapatkan kejutan lainnya. Kyara berdiri mematung bak arca. Pikirannya mulai berkelana pada suara desahan yang ia dengar sore kemarin dari kamar Dini.
Tubuh Kyara terhuyung satu langkah ke belakang, berbagai dugaan liar bermunculan. "Ya Tuhan ... jangan-jangan suara lelaki yang waktu itu kudengar adalah ... s-suaranya Pak Lurah?" Kyara menatap lagi ke arah depan, namun kini sepasang sejoli itu sudah tak ada. "Dini ... apa yang sebenarnya kamu lakukan?" Ia memegang dadanya. "Apakah kamu punya hubungan spesial dengan lelaki itu?" Satu per satu pertanyaan bermunculan. "Dia itu pantasnya jadi ayahmu, Din. Bukan pacarmu." Kepalanya bergerak cepat ke kanan dan kiri.
Untuk beberapa saat, Kyara hanya berdiri. Menatap kosong ke halaman motel di depannya. Lalu kesadaran pun tiba-tiba menghantamnya. "Ah, sudahlah. Mau Dini pacaran dengan Pak Lurah, atau pun menikah siri sekali pun ... aku tidak peduli. Itu bukan urusanku." Ia mengakhiri rasa keponya. Bersamaan dengan itu, angkot berwarna hijau kuning berhenti di depannya, membunyikan klakson, lalu berhenti. Dan Kyara pun masuk ke dalamnya.
_____
Taksi meluncur perlahan membelah jalanan siang itu. Matahari tepat berada di atas kepala, cahayanya menyilaukan dan memantul di kaca-kaca gedung di sepanjang jalan. Suasana kota ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, klakson sesekali terdengar bersahutan.
Di kursi belakang taksi, Dini duduk merapat di samping Pak Lurah. Sejak keluar dari lobi motel, lelaki itu tak juga melepaskan genggaman tangannya dari jemari Dini. Tangannya besar dan hangat, menggenggam seolah enggan membiarkan gadis muda itu menjauh.
Pak Lurah menoleh memandang wajah Dini yang tampak cerah. Gadis itu terlihat segar, pipinya merona, bibirnya tersenyum manja. Rambut hitamnya yang panjang jatuh lembut di bahunya. Di mata lelaki paruh baya itu, Dini terlihat sangat memesona. Ia mendekat sedikit, lalu berbisik pelan di telinga gadis itu. "Neng, Aa sudah transfer uang jajan ke rekening, Neng. Habiskan. Nanti kalau habis, tinggal minta lagi saja ya. Jangan sungkan."
Dini melirik ke arah lelaki itu. Matanya langsung berbinar. Senyum genit muncul di wajahnya. "Makasih, Aa," ucapnya manja. Ia lalu memeluk Pak Lurah sekilas. Tubuh kecilnya merapat sebentar pada lelaki yang usianya hampir setara dengan ibunya sendiri.
Pelukan itu membuat dada Pak Lurah menghangat. Ia tersenyum puas.
Dini kemudian menatap wajah lelaki itu dengan mata berbinar. "Hari Minggu lusa, kita jadi kan menginap di Lembang?" Nada suaranya lembut dan penuh harap.
Pak Lurah langsung mengangguk dengan semangat. "Jadi, dong. Kita ketemuan di jalan saja ya? Biar aman."
Dini mengangguk kecil. "Oke, Aa." Ia kembali bersandar ke kursi taksi, tetapi tangannya masih berada dalam genggaman Pak Lurah. Jari-jari lelaki itu sesekali mengusap lembut punggung tangan Dini.
Di kursi depan, sopir taksi diam-diam memperhatikan mereka melalui kaca spion.
Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu sejak tadi mendengar percakapan mereka. Meski berusaha fokus menyetir, telinganya tetap menangkap setiap kata. Ia melirik lagi ke kaca spion. Gadis itu terlihat sangat muda. Wajahnya masih polos seperti anak kuliahan. Kulitnya mulus, senyumnya manis.
Sedangkan lelaki di sampingnya, rambutnya sudah mulai ada uban, wajahnya dipenuhi garis usia.
Sopir itu menarik napas pelan. Di kaca spion, ia melihat Dini sedang membuka ponselnya. Mungkin memeriksa saldo yang baru saja dikirimkan. Beberapa detik kemudian, gadis itu tersenyum lebar. "Eh Aa," katanya.
"Iya, Neng?"
"Udah masuk."
Pak Lurah tertawa kecil. "Ya iyalah. Masa Aa bohong."
Dini tertawa manja. Ia kembali memeluk lengan lelaki itu. "Ah Aa baik banget sih. Aku jadi makin cinta."
Pak Lurah tampak semakin senang mendengarnya. Ia menepuk pelan tangan Dini. "Selama Neng senang, Aa juga senang. Aa juga makin cinta dan sayang sama Neng Dini."
Mata Dini berbinar lagi. "Kalau gitu ... nanti aku mau beli tas yang kemarin aku kirim fotonya ke Aa ya."
Pak Lurah bahkan tidak berpikir lama. "Beli saja."
"Serius?"
"Serius."
Dini tertawa kecil penuh kegembiraan. Ia menggoyang pelan lengan lelaki itu seperti anak kecil yang sedang dimanja.
Sopir taksi kembali melirik dari kaca spion. Dalam hatinya muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Ia teringat pada anak perempuannya di rumah yang usianya hampir sama dengan gadis itu. "Ya ampun ..." gumamnya dalam hati.
Di kursi belakang, Dini kembali bersandar ke bahu Pak Lurah. "Eh Aa ..."
"Iya, Sayang?"
"Nanti kalau kita menginap di Lembang ... aku mau kamar yang ada bathtub-nya ya. Yang besar."
Pak Lurah terkekeh pelan. "Boleh. Apa sih yang nggak buat Neng."
Dini tersenyum puas. Jemarinya kembali memainkan tangan lelaki itu dengan manja. "Terus aku mau makan di resto yang mewah."
"Boleh, Sayang. Tapi Aa mau itunya yang lama ya. Jangan sebentar kayak barusan." Pak Lurah mengedip nakal sambil memanyunkan bibirnya.
Dini tersipu, menyembunyikan wajahnya di dada pria berkemeja cokelat muda itu. "Iya, Aa. Boleh. Kan barusan mah, aku dikejar jadwal kuliah. Masa jam pertama nggak masuk, eh ... jam kedua juga nggak masuk. Nanti aku bisa dikasih surat peringatan. Bisa runyam kalau Mama tahu," ujar Dini menggerutu manja.
"Hehe ... iya." Pak Lurah mengusap pipi Dini. "Jadi pengen cium kamu deh," katanya penuh nafsu.
Seketika pandangan Dini tertuju pada sopir taksi, kemudian ia melirik kekasihnya lagi. "Jangan ah. Nggak enak sama Pak sopir."
Pak Lurah manyun manja. "Ya udah deh. Ganti saja sama nanti malam kita vcs ya?"
Dini mengangguk cepat. "Oke."
Taksi terus melaju melewati jalanan kota yang panas oleh terik matahari siang.
Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil berhenti. Sopir taksi tanpa sadar kembali melirik ke kaca spion. Ia melihat bagaimana gadis muda itu tertawa kecil, sementara lelaki tua di sampingnya memandangnya dengan mata penuh rasa memiliki.
Sopir itu menggeleng pelan. Ia tidak tahu siapa yang sebenarnya memanfaatkan siapa. Yang jelas, pemandangan seperti itu selalu membuat hatinya terasa aneh.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Ia kembali menginjak pedal gas. Sambil menggeleng pelan, ia berbisik lirih, nyaris tanpa suara. "Naudzubillahi min dzalik! Zaman benar-benar sudah edan. Maksiat di mana-mana. Sampai di dalam taksi pun, dua manusia ini berani bermesraan. Kasihan orang tua gadis ini, dan juga istri dan anak si lelaki tua ini."
_____
Langkah Kyara terasa lebih berat saat ia memasuki halaman rumah mertuanya. Matahari siang masih tinggi, panasnya terasa menyengat di kulit, namun pikiran Kyara jauh lebih panas dari itu.
Ia membuka pintu rumah dengan gerakan pelan, lalu masuk ke dalam. Rumah itu terasa sepi. Namun kepalanya sama sekali tidak tenang.
Ia meletakkan tas belanjaannya di atas meja, lalu berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya dipenuhi bayangan yang terus berputar-putar. Bayangan itu terlalu jelas. Meski sudah ia tepis sejak tadi.
Kebersamaan Dini dan Pak Lurah tadi terus berkelebatan dalam benaknya.
Mereka berjalan keluar dari motel dengan tangan saling menggenggam, wajah Dini tersenyum manja seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Kyara mengerjap keras, mencoba mengusir bayangan itu lagi. Namun percuma. Semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas gambaran itu muncul di kepalanya.
Kyara menekan pelipisnya pelan. "Dini ..." gumamnya lirih. Ia menggeleng pelan, rasa kecewa dan khawatir bercampur menjadi satu. "Seharusnya kamu kuliah dengan benar," bisiknya pada diri sendiri. "Bukan malah jadi simpanan lelaki beristri."
Bayangan wajah Bu Lurah tiba-tiba terlintas di benaknya. Seorang perempuan yang pernah ia temui beberapa kali di acara desa. Anggun, ramah, dan terlihat sangat menghormati suaminya. Kyara menelan ludah. "Kalau sampai Bu Lurah dan kedua anaknya tahu ..." gumamnya lagi.
Ia menarik napas panjang. "Aku tak bisa membayangkan akan sekecewa dan semarah apa mereka." Kyara menghela napas berat.
Namun kemudian pikirannya beralih pada keluarganya sendiri. Ia tersenyum pahit. "Kalau soal Mama Hesti dan Mas Doni," bisiknya. "Pasti mereka akan membelamu sesalah apa pun dirimu, Din." Kyara sudah terlalu mengenal keluarga ini. Terutama ibu mertuanya. Sesalah apa pun kedua anaknya, di mata wanita itu ... anak-anaknya selalu benar.
Ia menghela napas lagi, mencoba mengusir pikiran yang semakin membuat dadanya sesak. Akhirnya ia mengambil kembali tas belanjaannya, dan mengayun langkah untuk menapaki tangga.
Langkahnya pelan saat menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ia teringat suaminya yang hari ini mengambil cuti dari kantor. Sejak pagi lelaki itu masih tidur ketika Kyara keluar rumah.
Kyara berniat memeriksa apakah suaminya sudah bangun atau belum. Satu per satu anak tangga ia lewati. Namun ketika ia baru sampai di lantai dua, langkahnya tiba-tiba terhenti. Suara seseorang terdengar dari arah balkon. Suara itu sangat ia kenal. Itu suara suaminya.
Kyara mengerutkan kening. Ia berjalan sedikit lebih pelan. Suara itu terdengar ceria, bahkan terlalu ceria untuk seseorang yang tadi malam habis bergadang dan mengaku kelelahan.
Kyara semakin penasaran. Ia mendekat ke arah balkon, namun berhenti sebelum terlihat.
Dinding pembatas antara lorong dan balkon cukup lebar.
Kyara berdiri di balik dinding itu. Ia menahan napas, lalu sedikit mengintip.
Suaminya berdiri membelakangi pintu, menghadap ke halaman depan. Ponsel menempel di telinganya.
Kyara tidak bisa melihat wajahnya, tetapi nada suaranya jelas terdengar lembut. Terlalu lembut.
Kyara tanpa sadar mengendap sedikit lebih dekat. Rasa penasaran membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Lalu ia mendengar kalimat itu.
"Iya, Sayang. Besok aku udah masuk kerja lagi kok."
Napas Kyara langsung tercekat. Tubuhnya membeku di tempat. "Sayang?" ulangnya tanpa suara.