Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Jantung Zea berdebar mendengar suara derap langkah yang semakin dekat. Suara yang berasal dari sol sepatu pantofel yang beradu dengan lantai Ia buru-buru keluar untuk melihat siapa yang datang, meski sudah menduga jika itu Naka.
"Naka," ternyata benar Naka yang datang. Ada perasaan lega akhirnya Naka datang, namun ada rasa takut juga, was-was. Kembali bertemu dengan identitas sebagai Zea, membuatnya canggung. Perpisahan yang tidak secara baik-baik, menyisakan banyak sekali masalah diantara mereka.
Langkah kaki Naka terhenti melihat Zea yang baru keluar dari kamar. Ternyata benar kata Rizal, wanita tampak tak baik-baik saja, selain tubuhnya yang makin kurus, matanya bengkak dan terlihat ada lingkaran hitam disekelilingnya. Ternyata berpisah dengan anaknya, memberi dampak yang luar biasa pada Zea. Secinta itu Zea pada Arka, pada ayahnya Arka, apa juga demikian, terbukti dengan tetap menjanda maksi suaminya itu telah lama tiada. "Apa kabar Ze? Ah, aku harus memanggilmu Ze atau Zara?" tersenyum simpul, memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Aku tidak butuh basa-basi, dimana anakku, dimana Arka?" Zea maju beberapa langkah ke depan Naka.
"Sabar, tergesa-gesa banget," Naka tersenyum tipis, berjalan ke arah sofa, menjatuhkan bobot tubuhnya disana.
"Naka, aku sedang tidak ingin bercanda, dimana Arka?" nada suara Zea semakin meninggi.
Alih-alih menjawab, Naka malah hanya melemparkan senyum tipis, menyandarkan punggung sambil melipat kedua lengan di dada.
Zea mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, mulai frustasi dengan sikap Naka yang terkesan sangat menyepelekan ini semua. Kesabarannya ditantang oleh laki-laki itu. Tenang, dia harus lebih tenang untuk menghadapi Naka. Dulu, ia terbiasa menghadapi ketantruman Arka saat awal kerja, harusnya ia sudah bisa lebih tenang menghadapinya. "Kembalikan anakku."
"Tenang, anakmu baik-baik saja," sahut Naka santai.
"Tenang kata kamu! Kamu sudah memisahkan ibu dari anaknya, dan kamu masih bisa nyuruh aku tenang hah!" Zea mulai tak bisa mengontrol emosi.
"Kenapa Ze, sakit ya?" ejek Naka.
"NAKA!" bentak Zea, nafasnya semakin memburu.
"Sakitkan, kehilangan orang yang dicintai? Itu juga yang aku rasakan, Ze," tersenyum simpul. Ia bangkit dari duduknya, mendekati Zea. "Ini belum ada 8 hari, bayangkan seperti apa aku dulu saat kamu tinggalkan. 8 Tahun. 8 Tahun sudah kamu ninggalin aku, dan saat kita kembali bertemu, kamu malah pura-pura tak mengenaliku. Apa aku memang setidak berarti itu di hidup kamu?"
Zea meremat celananya, menunduk dalam.
"Miris, demi uang 1 milyar, kamu menjual cinta kita." Naka menarik kasar dagu Zea, memaksa wanita itu menatapnya. "Jadi seperti ini wajahmu. Wajah yang dulu begitu ingin aku lihat. Wajah yang harapanku, akan aku lihat pertama kalinya saat mataku kembali bisa melihat. Tapi... " ia terkekeh, melepaskan dagu Zea. "Ah sudahlah, aku saja yang bodoh, bisa-bisanya tertipu dengan mulut manismu. Mulut yang begitu fasih mengucapkan kata cinta, mulut tang setiap kata yang keluar dari sana, membuat hati tenang, mulut yang selalu menjanjikan surga, tapi MEMBERIKAN NERAKA!" tekannya, memajukan wajah hingga hidungnya hampir menyentuh pipi Zea.
Zea gemetar, reflek kedua matanya terpejam.
"Pengkhianat!" ujar Naka dengan suara rendahnya. Dadanya naik turun, dan kedua tanganya terkepal kuat.
"Maaf," mata Zea perlahan terbuka.
"Ha, hahaha," Naka mundur selangkah, tertawa terbahak-bahak. "Maaf. Maaf kamu bilang? Apa kamu fikir, kata maaf bisa menebus rasa sakitku hah?" teriaknya sambil meremat dada. "Setelah kamu menukar cinta kita dengan uang 1 milyar, apa kamu rasa, kata maaf itu cukup?" ia tertawa, menoleh ke arah lain untuk menyeka sudut matanya yang basah. Sejujurnya, sakit sekali membahas soal ini. Lukanya yang sudah kering dan menutup, seperti dipaksa menganga kembali.
"Aku terpaksa melakukannya," gumam Zea sambil menunduk, dadanya terasa sesak jika ingat kejadian 8 tahun yang lalu.
"Terpaksa?" Naka kembali menatap Zea, tersenyum kecut. "Gak usah sok terpaksa, bilang saja realistis. Kalau memang terpaksa meninggalkanku, kamu tidak akan secepat itu menikah dengan orang lain."
Zea terperangah, kaget mendengar jika Naka tahu soal pernikahannya di kampung.
"Kamu menikah, melanjutkan hidup dengan baik, tapi aku?" mata Naka berkaca-kaca. Ia tertawa, menyembunyikan lukanya, tak ingin terlihat rapuh di depan Zea, tak ingin wanita itu menertawakannya.
"Darimana kamu tahu soal itu?"
Naka tersenyum simpul, "Ternyata semua itu benar. Aku terlalu naif, awalnya mengira rekaman suara itu hanya editan. Bodoh, bodoh, bodoh!" memaki diri sendiri.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣