Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Rumah yang Tidak Ramah
Pagi di rumah sakit, cahaya lembut yang masuk melalui celah tirai. Ishani terbangun perlahan. Tubuhnya masih terasa lelah setelah semalam hampir tidak tidur. Ia menoleh ke samping.
Iyan masih terlelap di dalam box kecil di samping ranjangnya. Wajah mungil itu terlihat tenang. Dadanya naik turun perlahan.
Ishani tersenyum. Setiap kali melihatnya, ada perasaan yang sulit dijelaskan memenuhi dadanya. Hangat, penuh sekaligus juga rapuh.
Ia masih sering merasa seperti sedang bermimpi. Lebih dari dua bulan lalu, ia masih seorang janda yang kehilangan segalanya. Sekarang, ia seorang ibu. Dan entah bagaimana, ia juga tidak lagi sendirian.
Matanya bergerak mencari sosok lain di dalam kamar.
Langit.
Sofa di sudut ruangan kosong. Selimutnya terlipat rapi. Tidak seperti biasanya yang selalu berantakan. Ishani mengernyit. “Kak Langit?”
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba duduk perlahan. Tubuhnya masih terasa berat. Luka bekas persalinan membuat setiap gerakan terasa hati-hati.
Saat itulah pintu kamar terbuka. Bu Maura masuk sambil membawa tas plastik kecil.
“Oh, sudah bangun?” katanya lembut.
“Iya, Bu,” jawab Ishani. “Kak Langit ke mana?”
Bu Maura berhenti sebentar sebelum menjawab. “Dia pulang sebentar ke rumahnya.”
Ishani mengangguk pelan.
“Ada urusan keluarga.”
Nada suara Bu Maura terdengar biasa saja, tapi ada sesuatu yang terasa… ditahan.
“Tadi pagi?” tanya Ishani.
“Iya.”
Ishani menunduk. Ia ingat terakhir kali melihat Langit sebelum tertidur. Wajahnya terlihat lelah sekali, tapi ia tetap duduk di kursi dekat ranjang. Entah kapan ia pergi.
Ishani menatap Iyan lagi. Tangannya menyentuh lembut pipi bayi itu. “Dia belum lihat Iyan lagi pagi ini,” gumamnya pelan.
Bu Maura meletakkan tas di meja. “Nanti juga datang,” katanya menenangkan.
Namun jauh di dalam hatinya, Bu Maura tahu… pertemuan Langit dengan keluarganya tidak akan berjalan mudah. Rumah keluarga Wicaksana masih terasa sama seperti dulu. Besar. Megah. Dan dingin.
**********
Langit berdiri di balkon lantai dua, memandang taman luas yang tertata rapi di bawah sana. Tangannya bertumpu pada pagar besi.
Sejak kecil ia selalu merasa rumah ini terlalu besar untuk disebut rumah. Lebih terasa seperti gedung. Tempat orang tinggal tanpa benar-benar hidup di dalamnya.
Pintu balkon terbuka.
Langit tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. “Jadi kamu benar-benar mau menikahi perempuan itu?”
Suara Pak Rama terdengar di belakangnya.
Langit tetap memandang taman. “Iya.”
“Karena janji pada Biru?”
Langit tidak langsung menjawab.
“Aku juga bertanggung jawab,” ujarnya pelan.
Pak Rama mendengus pelan. “Kamu terlalu emosional. Apakah karena itu kamu membeli rumah itu?"
Langit akhirnya menoleh. “Kalau aku emosional, Ayah yang terlalu dingin. Mengenai rumah itu, aku hanya menginginkan kenangan saat semuanya terasa sederhana. Saat Ayah belum menyerah ."
Rahang Pak Rama mengeras. “Kamu pikir hidup ini tentang perasaan?”
“Tidak,” jawab Langit tenang.
“Justru karena hidup bukan tentang perasaan… seseorang harus bertanggung jawab.”
Pak Rama berjalan mendekat. “Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.”
“Justru aku sangat tahu.”
Pak Rama menatapnya tajam. “Perempuan itu akan jadi masalah.”
Langit tertawa kecil. “Masalah buat siapa?”
“Buat keluarga ini,” jawab Pak Rama cepat.
Langit menatap lurus ke mata ayahnya. “Biru juga dulu dianggap masalah.”
Hening.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Pak Rama mengalihkan pandangannya ke taman. “Aku tidak akan mengubah keputusanmu,” katanya akhirnya. “Tapi nenekmu sudah memberi syarat.”
Langit mengangguk pelan. “Tinggal di sini.”
Pak Rama menatapnya lagi. “Perempuan itu siap?”
Langit terdiam. Pertanyaan itu sebenarnya sudah berputar di kepalanya sejak semalam. Apakah Ishani siap tinggal di rumah ini? Rumah yang bahkan ia sendiri tidak pernah benar-benar merasa nyaman di dalamnya.
“Kalau dia tidak mau?” tanya Pak Rama.
Langit menarik napas. “Kalau dia tidak mau… aku tidak akan memaksanya.”
Pak Rama tersenyum tipis. “Kalau begitu kamu harus siap kehilangan semuanya.”
Langit tidak menjawab. Ia menatap ke dalam mata Ayahnya. Mencoba mencari sesuatu yang membuat Ayahnya dulu membalikkan badan dari Ibu dan Adiknya.
Langit menarik napas panjang. “Aku tahu. Tapi, aku tidak akan pernah menjadi selemah Ayah.”
Pak Rama mengepalkan tangannya. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini ia bisa menahan amarahnya. Ia membalas tatapan anak sulungnya itu. Anak yang menjadi kebanggaannya. “Ayah harap begitu,” katanya pelan sebelum membalikkan badan meninggalkan langit.
**********
Siang hari di rumah sakit terasa lebih ramai. Beberapa perawat keluar masuk kamar untuk memeriksa kondisi Ishani dan bayi.
Iyan baru selesai menyusu dan sekarang tertidur lagi di dalam box.
Ishani sedang melipat beberapa pakaian bayi kecil yang dibawa Bu Maura. Gerakannya pelan. Masih hati-hati.
Pintu kamar terbuka.
Langit masuk.
Ishani langsung menoleh. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap. Langit terlihat sedikit berbeda hari ini. Lebih diam dari biasanya.
“Kak Langit,” sapa Ishani pelan.
Langit berjalan mendekat. Ia berdiri di samping box bayi dan menatap Iyan yang sedang tidur. Tangannya menyentuh lembut kepala kecil itu. Seperti memastikan semuanya benar-benar nyata.
“Dia tidur terus,” kata Ishani sambil tersenyum.
Langit mengangguk. “Semalam juga begitu.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam keheningan. Akhirnya Ishani bertanya, “Keluarga Kak Langit marah?”
Langit menoleh.
Ishani menunduk sedikit. “Aku tahu mereka tidak suka aku.”
Langit langsung menggeleng. “Ini bukan tentang kamu.”
“Lalu?”
Langit menarik kursi dan duduk di samping ranjang. “Tentang masa lalu.”
Ishani memperhatikan wajahnya. “Kak Langit tidak pernah cerita tentang keluarga. Mas Biru juga…”
Langit tersenyum tipis. “Karena tidak ada yang bagus untuk diceritakan.”
Ishani terdiam.
“Kemarin aku bertemu nenek,” lanjut Langit. “Dia setuju aku menikah.”
Ishani terkejut. “Benarkah?”
“Tapi ada syarat.”
Ishani langsung menegang. “Syarat apa?”
Langit menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. “Setelah menikah… kita harus tinggal di rumah keluarga Wicaksana.”
Ishani membeku.
“Tinggal… di sana?” ulang Ishani pelan.
Langit mengangguk. “Rumah itu besar.
Tapi tidak semua orang di dalamnya ramah.”
Ishani menunduk. Tangannya menggenggam selimut di pangkuannya.
“Kalau aku menolak?” tanyanya lirih.
Langit menjawab tanpa ragu. “Kita tidak akan tinggal di sana.”
Ishani menatapnya lagi. “Tapi itu berarti Kak Langit kehilangan semuanya, kan?”
Langit tidak menjawab.
Dan justru karena itu Ishani tahu jawabannya. Ia menatap Iyan di dalam box. Bayi kecil itu tidur dengan damai, tidak tahu apa pun tentang dunia yang menunggunya.
Ishani menarik napas pelan. “Rumah itu… seperti apa?”
Langit terdiam sejenak. Lalu ia berkata jujur. “Bukan tempat yang hangat.”
Ishani menelan ludah. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berkata pelan, “Kalau begitu… kita harus membuatnya hangat.”
Langit menatapnya.
“Aku tidak ingin Iyan tumbuh di tempat yang penuh kebencian,” lanjut Ishani. “Tapi aku juga tidak ingin Kak Langit kehilangan keluarganya karena kami.”
Langit menggeleng. “Kamu dan Iyan sekarang juga keluargaku.”
Ishani tersenyum kecil. “Justru karena itu.”
Ia menatap Langit dengan tatapan yang belum pernah Langit lihat sebelumnya.
Lebih tenang. Lebih kuat. “Aku mau mencoba.”
Langit membeku. “Mencoba apa?”
“Tinggal di rumah itu.”
Langit menghela napas panjang. “Ishani…”
“Kalau ternyata aku tidak kuat,” lanjut Ishani, “Kita bisa pergi.”
Langit menatapnya lama. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa hangat sekaligus berat.
Wanita ini… lebih kuat dari yang selama ini ia kira. Langit akhirnya tersenyum tipis.
“Kalau begitu kita hadapi bersama.”
Ishani mengangguk.
Di dalam box kecil itu, Iyan bergerak sedikit dalam tidurnya. Seolah tidak tahu bahwa hidupnya baru saja membawa mereka menuju sebuah rumah yang mungkin tidak pernah siap menerima mereka.
Namun kali ini, Langit tidak sendiri.
Dan Ishani juga tidak lagi sendirian.
Awal kehidupan baru mereka baru saja dimulai.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!