SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: TUMPUKAN BUKTI DAN JEBATAN BERBAHAYA
Malam itu, kediaman Adinata tampak seperti benteng yang dijaga ketat. Lampu-lampu taman menyala terang, dan pengawal-pengawal terpilih berpatroli dengan senjata terisi penuh. Namun, di dalam ruang kerja Rizky yang besar dan mewah, suasana terasa lebih intens daripada pertahanan di luar sana. Di atas meja kerja yang biasanya rapi, kini tumpukan dokumen, kaset rekaman, foto-foto bukti, dan catatan tangan tersebar begitu saja, membentuk peta kejahatan yang selama ini tersembunyi rapi.
Putri duduk di kursi kerja, matanya tajam memeriksa setiap lembar kertas. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu betul betapa pentingnya urutan dan keabsahan bukti. Satu kesalahan kecil dalam penyusunan bisa membuat semua usaha mereka sia-sia di pengadilan. Rizky duduk di sebelahnya, membantu mengelompokkan dokumen-dokumen berdasarkan kasus—mulai dari korupsi, pencucian uang, hingga bukti yang mengarah pada kekerasan fisik dan pembunuhan.
Nina berdiri di dekat pintu, sesekali melirik keluar untuk memastikan tidak ada yang menguping, sambil memegang laptop yang berisi salinan digital dari semua bukti tersebut sebagai cadangan.
"Ini dia," kata Putri pelan, tangannya terhenti pada sebuah amplop cokelat tua yang sudah sedikit usang. Dia mengeluarkan kaset pita rekaman dari dalamnya. Wajahnya pucat, tapi tangannya tidak gemetar lagi. "Ini adalah bukti utama. Rekaman percakapan antara Ayahku dan Pak Hidayat beberapa hari sebelum kecelakaan 'misterius' mereka. Di sini terdengar jelas bagaimana Pak Hidayat mengancam Ayah untuk menyerahkan saham bisnis ekspor kayu, dan kalau tidak, dia akan 'menyelesaikan' masalahnya dengan cara kekerasan."
Rizky menatap kaset itu dengan tatapan berat. Dia tahu, mendengarkan rekaman itu lagi akan menyakitkan bagi Putri, tapi itu adalah kunci untuk keadilan. "Apakah kamu yakin ingin membawanya besok? Kita bisa membuat salinannya saja."
Putri menggeleng tegas. "Aslinya lebih kuat di mata hukum, Rizky. Aku harus membawanya. Ini adalah suara orang tuaku. Ini adalah bukti bahwa mereka tidak mati sia-sia."
Rizky mengangguk hormat. "Baiklah. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri. Tidak ada yang akan menyentuh kaset itu selain kita dan polisi."
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka hingga larut malam. Setiap dokumen yang mereka susun adalah sebuah pukulan bagi jaringan mafia yang telah berkuasa terlalu lama. Putri merasa beban di dadanya perlahan terangkat. Selama bertahun-tahun, dia menyimpan rahasia ini sendirian, merasa kecil dan tidak berdaya. Tapi sekarang, dia memiliki Rizky di sisinya—orang yang dulunya adalah bagian dari keluarga musuh, namun kini menjadi sekutu terkuatnya.
"Sudah hampir jam dua pagi," kata Nina pelan, memecah keheningan. "Kalian harus istirahat sebentar. Besok adalah hari yang sangat berat. Kalian butuh tenaga."
Putri mengusap matanya yang lelah. "Kamu benar, Nina. Tapi rasanya sulit untuk tidur saat semua ini belum selesai."
"Kita sudah melakukan yang terbaik malam ini," kata Rizky, lalu berdiri dan membantu Putri bangkit dari kursi. "Besok, kita akan membawa semua ini ke Detektif Rian. Kita akan memastikan keadilan ditegakkan. Sekarang, ayo istirahat. Rara pasti sudah menunggu kita di rumah."
Mereka membereskan dokumen-dokumen itu ke dalam sebuah tas koper khusus yang tahan api dan anti-air. Rizky mengunci tas itu dengan ganda, dan menyimpan kuncinya di saku celananya, sementara Putri menyimpan salinan kunci lainnya di kalung yang selalu dia pakai.
Namun, takdir seolah ingin menguji keteguhan mereka. Belum sempat mereka meninggalkan ruangan, ponsel Putri yang berada di atas meja tiba-tiba berdering nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nomor yang tidak dikenal. Jantung Putri berdegup kencang. Dia menatap Rizky.
"Ini nomor baru... tapi mungkin mereka," bisik Putri.
"Angkat. Tapi aktifkan perekam," kata Rizky tegas, tangannya siap meraih senjata yang dia selipkan di pinggang.
Putri menghela napas, lalu menekan tombol jawab dan menyalakan fitur perekam.
"Halo?"
[Putri Aulia...] suara yang sama terdengar lagi—suara kasar yang menggunakan pengubah suara, tapi kali ini nadanya terdengar lebih gembira dan licik. [Kau pikir kau sudah menang? Kau pikir dengan mengumpulkan kertas-kertas sampah itu kau bisa mengalahkan kami?]
"Apa yang kalian inginkan?!" seru Putri, tak mampu menahan emosinya. "Pak Darmawan sudah di penjara! Kenapa kalian tidak berhenti?!"
[Bos kami memang di penjara, tapi pengaruhnya jauh lebih besar dari yang kau bayi, gadis kecil bodoh,] ejek suara itu. [Dan kau tahu? Rencana pembunuhan pada Pak Hidayat tadi... itu hanya pemanasan. Kami punya rencana yang lebih indah. Besok, saat kau berencana membawa bukti-bukti itu ke polisi... sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan semua orang akan tahu bahwa Putri Aulia, istri dari anak mafia, yang merencanakan segalanya. Bahwa kaulah yang membunuh polisi dan meledakkan markas. Kau akan menjadi penjahat yang paling dicari, Putri. Dan kau tidak akan pernah bisa melihat adikmu lagi.]
"Jangan sentuh Rara!" teriak Putri, wajahnya memerah karena marah dan takut. "Kalian pengecut! Kalau punya nyali, hadapi aku secara langsung!"
[Sampai jumpa besok, Putri. Bersiaplah untuk neraka,] ucap suara itu, lalu panggilan terputus.
Tangan Putri gemetar hebat, ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Rizky segera memeluknya erat-erat. "Tenang, Putri. Tenang. Itu hanya taktik menakut-nakuti. Mereka tahu kita sudah di ujung kemenangan, jadi mereka mencoba membuat kita takut."
"Tapi mereka tahu rencana kita, Rizky!" kata Putri panik. "Mereka tahu kita akan membawa bukti besok. Bagaimana bisa mereka tahu? Apakah ada mata-mata di sini?"
Nina yang sejak tadi diam, tiba-tiba berbicara dengan wajah serius. "Tidak mungkin ada orang di ruangan ini yang membocorkan informasi. Kita ber tiga saja yang tahu. Kecuali... telepon atau perangkat kita disadap."
"Atau mungkin mereka hanya menebak dan mencoba keberuntungan," kata Rizky berpikir keras. "Tapi kita tidak boleh mengambil risiko. Kalau mereka benar-benar tahu, berarti jaringan mereka lebih luas dari yang kita duga. Kita harus mengubah rencana."
"Bagaimana? Kita tidak bisa menunda lagi. Setiap hari tertunda, bahaya semakin dekat," kata Putri.
"Kita tetap pergi besok, tapi kita akan mengubah strateginya," kata Rizky dengan mata tajam. "Kita akan membagi pasukan. Kita akan membuat tipuan. Seolah-olah kita membawa bukti lewat jalan biasa dengan mobil mewah kita, tapi sebenarnya, bukti aslinya akan dibawa lewat rute lain dan kendaraan yang berbeda oleh orang yang paling kita percayai."
"Siapa?" tanya Nina.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka perlahan. Semua orang terkejut dan Rizky langsung menodongkan senjatanya ke arah pintu. Namun, yang muncul bukanlah musuh, melainkan Bang Rio. Wajahnya tampak lelah dan penuh keraguan, tapi matanya menunjukkan ketegasan yang belum pernah dilihat sebelumnya.
"Maaf mengganggu, Tuan Muda, Nona Putri," kata Bang Rio pelan, tapi suaranya terdengar jelas. "Saya tidak sengaja mendengar sebagian percakapan tadi. Saya tahu saya tidak seharusnya menguping, tapi saya khawatir dengan keselamatan kalian."
Rizky menurunkan senjatanya, tapi masih waspada. "Ada apa, Bang Rio?"
Bang Rio melangkah masuk, lalu tiba-tiba berlutut di hadapan Rizky dan Putri. "Tuan Muda... Nona Putri... Saya sudah melayani Pak Hidayat selama lebih dari dua puluh tahun. Saya melihat banyak hal. Saya melihat kejahatan, saya melihat kekerasan. Selama ini saya diam karena rasa hormat dan kesetiaan pada bos. Tapi melihat apa yang terjadi pada Pak Hidayat, melihat bagaimana Pak Darmawan berniat menghancurkan segalanya, dan melihat perjuangan kalian untuk kebenaran... saya sadar bahwa kesetiaan saya selama ini salah tempat."
Dia mengangkat wajahnya, menatap Rizky dengan mata berkaca-kaca. "Saya ingin menebus kesalahan saya. Saya ingin membantu kalian. Izinkan saya yang membawa bukti-bukti itu besok. Saya tahu semua jalan pintas di kota ini, saya tahu tempat-tempat persembunyian, dan saya tahu wajah orang-orang Pak Darmawan. Mereka tidak akan curiga pada saya karena saya dikenal sebagai orang kepercayaan Pak Hidayat. Saya akan bawa bukti itu langsung ke markas besar polisi, melewati rute yang paling aman dan tidak terduga."
Putri dan Rizky saling bertatapan. Mereka tahu risiko mempercayai seseorang, apalagi yang dulunya adalah tangan kanan mafia. Tapi ada ketulusan di mata Bang Rio yang sulit diabaikan.
"Bang Rio, ini sangat berbahaya," kata Putri pelan. "Kalau mereka menangkapmu, mereka tidak akan segan-segan membunuhmu."
"Saya sudah tua, Nona. Hidup saya sudah banyak berlumuran dosa karena menurut perintah yang salah. Kalau kematian saya bisa membawa keadilan dan melindungi Nona Putri, Tuan Muda, dan Nona Rara... itu akan menjadi hal terhormat yang pernah saya lakukan," jawab Bang Rio tegas.
Rizky menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan membantu Bang Rio berdiri. "Bangunlah, Bang Rio. Saya percaya padamu. Tapi ingat, keselamatanmu juga penting. Jangan sampai tertukar."
"Terima kasih, Tuan Muda!" seru Bang Rio, tampak lega.
"Rencananya begini," kata Rizky, mulai menjelaskan strategi dengan cepat. "Besok pagi pukul sembilan, aku dan Putri akan keluar dari rumah menggunakan mobil biasa, ditemani beberapa pengawal yang terlihat mencolok. Kita akan pergi ke arah markas polisi lewat jalan utama untuk memancing mereka keluar. Sementara itu, Bang Rio, kamu akan membawa tas berisi bukti asli keluar lewat pintu belakang setengah jam sebelumnya, menggunakan mobil van pengantar barang yang tidak mencolok. Kamu akan lewat jalan kecil dan memutar ke arah markas polisi dari sisi lain. Nina, kamu akan ikut bersama Bang Rio untuk memastikan semua bukti aman sampai tujuan."
"Siap!" jawab Nina dan Bang Rio serempak.
"Dan aku akan membawa tas palsu yang isinya hanya kertas kosong bersamaku," tambah Putri. "Kalau mereka menyerang, mereka akan mengambil yang palsu."
"Rencana ini berisiko, tapi ini satu-satunya cara untuk memastikan bukti sampai dengan selamat tanpa pertumpahan darah yang besar," kata Rizky. "Kita harus berhati-hati. Pak Darmawan mungkin sudah menyiapkan jebakan maut, tapi kita akan membalikkan jebakan itu padanya."
Malam itu, tidak ada yang tidur nyenyak. Putri duduk di samping Rara yang tidur pulas, membelai rambut adiknya sambil berdoa agar rencana besok berjalan lancar. Rizky berdiri di balkon kamar, memantau situasi di luar dan memikirkan setiap kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Ketegangan mencapai puncaknya. Besok adalah hari penentuan. Apakah mereka berhasil membawa keadilan, atau apakah jebakan berbahaya dari Pak Darmawan akan menghancurkan segalanya? Putri menggenggam kalungnya yang berisi kunci cadangan, merasakan kehadiran orang tuanya seakan sedang menemaninya. Dia tidak akan mundur. Dia tidak punya pilihan selain menang.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri dan Rizky menyusun rencana berisiko untuk membawa bukti ke polisi, dengan Bang Rio yang tiba-tiba menawarkan diri untuk membawa bukti asli demi menebus kesalahannya. Jika kamu menjadi Putri, apakah kamu akan langsung mempercayai Bang Rio yang dulunya adalah tangan kanan mafia, atau kamu masih akan mencurigainya meski dia tampak tulus?