NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25: Kabut Pembunuh

Fajar belum menyingsing sepenuhnya. Lembah Abu masih diselimuti oleh kabut tebal yang dingin dan basah.

Di luar formasi ilusi, sekelompok bayangan bergerak cepat dan senyap.

Mereka adalah Regu Pemburu Hantu (Ghost Hunter Squad) dari Sekte Darah. Spesialisasi mereka adalah melacak dan menghabisi sisa-sisa murid yang melarikan diri ke hutan.

Pemimpin mereka, Diaken Gui, adalah pria kurus dengan wajah penuh tato mantra pelacak. Di tangannya, sebuah kompas darah berputar liar, jarumnya menunjuk lurus ke dalam kabut Lembah Abu.

"Aneh," desis Diaken Gui. "Kompas ini mendeteksi konsentrasi Qi kehidupan yang besar di dalam sana. Ratusan orang. Tapi tempat ini seharusnya tanah mati."

"Mungkin mereka bersembunyi di sini, Tuan," bisik wakilnya. "Lembah ini terpencil. Tempat sempurna untuk tikus-tikus yang ketakutan."

Diaken Gui menyeringai, memamerkan gigi runcingnya. "Tikus yang berkumpul di satu lubang hanya memudahkan kita untuk membakarnya sekaligus. Pasukan, masuk! Formasi Senyap. Bunuh penjaga, tangkap yang wanita, sisanya bunuh."

Dua puluh pembunuh berjubah hitam-merah (rata-rata Lapis 5 dan 6) melesat masuk menembus kabut.

Mereka mengira akan menemukan kamp pengungsi yang panik.

Namun, begitu mereka melewati batas formasi, dunia berubah.

Kabut di dalam tidak putih, melainkan abu-abu pekat yang berbau manis. Visibilitas turun menjadi nol. Mereka tidak bisa melihat tangan mereka sendiri.

"Tetap rapat!" perintah Diaken Gui. "Ini Formasi Ilusi tingkat rendah! Gunakan Qi untuk... uhuk!"

Tiba-tiba, Diaken Gui terbatuk. Tenggorokannya gatal. Paru-parunya terasa seperti terbakar.

"Racun?!"

Dari balik kabut, suara Xiao Lan terdengar samar, bergema dari segala arah berkat lembah.

"Selamat datang di Lembah Abu. Nikmati 'Teh Pagi' spesial racikan Puncak Pengobatan."

Itu bukan kabut biasa. Itu adalah uap dari [Rumput Tidur Abadi] yang dibakar di tungku Tie Shan, dicampur dengan Serbuk Pelumpuh Syaraf. Racun ini tidak mematikan seketika, tapi membuat aliran Qi menjadi lambat dan tubuh menjadi berat.

"Tahan napas!" teriak Diaken Gui. "Mundur!"

KLANG!

Suara logam berat menghantam tanah di belakang mereka. Jalan keluar tertutup oleh gerbang besi raksasa yang jatuh dari atas tebing—karya Tie Shan.

Mereka terperangkap.

"Serangan musuh!"

"AAAARGH!"

Jeritan pertama terdengar dari sisi kiri formasi musuh.

Seorang pembunuh Sekte Darah tiba-tiba ditarik ke dalam tanah. Kakinya terperosok ke dalam lubang yang disamarkan dengan ilalang. Di dasar lubang itu, tombak-tombak besi bekas (sisa tempaan gagal Tie Shan) menancap menunggu.

JLEB!

Tubuh pembunuh itu tertembus.

"Di kanan! Ada pergerakan!" teriak pembunuh lain. Ia menebaskan pedangnya ke arah bayangan.

TING!

Pedangnya terpental. Dari balik kabut, sesosok raksasa berbaju zirah besi hitam muncul. Itu Tie Shan, memegang palu besarnya.

"Siapa yang kau sebut tikus?!"

BUM!

Palu Tie Shan menghantam dada pembunuh itu. Zirah kulit musuh hancur, tulang rusuknya remuk. Pembunuh itu terlempar sepuluh meter, mendarat dengan posisi aneh. Mati.

Kekacauan melanda Regu Pemburu. Mereka diserang racun, jebakan tanah, dan benteng manusia.

"Formasi Lingkaran! Bertahan!" teriak Diaken Gui panik. Qi Lapis 7 nya meledak, mencoba mengusir kabut.

Namun, saat kabut di sekitar Diaken Gui menipis sedikit, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya beku.

Anak buahnya yang berada di barisan paling luar... menghilang satu per satu.

Tidak ada suara teriakan. Hanya suara WUSH angin berat, diikuti suara KRAK basah, lalu hening.

Sesuatu sedang memanen nyawa mereka dalam diam. Sesuatu yang sangat cepat dan sangat kuat.

"Keluar kau, pengecut!" Diaken Gui menembakkan Jarum Darah ke segala arah.

Wuuung...

Suara dengungan rendah terdengar di belakang telinganya.

Diaken Gui berputar, pedang darahnya menebas horizontal.

TRANG!

Pedangnya tertahan oleh sebuah batang besi hitam berkarat.

Di balik batang besi itu, sepasang mata dengan pupil lima warna menatapnya dingin.

Li Wei.

"Kau mencari tikus?" tanya Li Wei datar. "Sayang sekali. Di sini hanya ada naga yang sedang tidur."

Li Wei menghentakkan Tongkat Penembus Langit nya.

Ia tidak menarik tongkatnya mundur. Ia hanya mendorongnya ke depan.

Dorongan Satu Inci.

Kekuatan otot murni meledak.

KRAK!

Pedang darah Diaken Gui, senjata tingkat tinggi, retak di tengah.

"Apa?!"

Sebelum Diaken Gui sempat bereaksi, Li Wei memutar tongkatnya dan menghantamkan ujung bawahnya ke kaki Diaken Gui.

Prak!

Tulang kering Diaken Gui patah. Ia jatuh berlutut, menjerit.

"Kau... Lapis 6... bagaimana bisa..." Diaken Gui menatap ngeri. Kekuatan fisik ini bukan milik manusia!

Li Wei tidak menjawab. Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.

"Ini wilayahku," kata Li Wei.

Di sekeliling mereka, sisa anak buah Diaken Gui sudah habis. Sebagian masuk lubang jebakan, sebagian dihajar palu Tie Shan, dan sebagian besar mati dengan kepala pecah akibat serangan diam-diam Li Wei sebelumnya.

Diaken Gui, sebagai pemimpin, adalah yang terakhir.

"Tunggu! Aku punya informasi! Sekte Darah..."

BUAGH!

Li Wei tidak butuh negosiasi. Ia butuh pesan.

Tongkat itu turun. Kepala Diaken Gui hancur, menyatu dengan tanah Lembah Abu.

Hening kembali menyelimuti lembah.

Kabut racun perlahan ditarik kembali oleh formasi penyedot udara buatan Tie Shan.

Para murid Puncak Pengobatan dan Besi keluar dari persembunyian mereka di gua-gua tebing. Mereka menatap ladang pembantaian itu dengan mata terbelalak.

Dua puluh pembunuh elit. Musnah dalam waktu kurang dari waktu meminum secangkir teh. Dan pihak Lembah Abu? Nol korban jiwa. Hanya beberapa luka gores ringan pada Tie Shan.

Li Wei berdiri di atas mayat Diaken Gui, membersihkan darah dari tongkatnya dengan jubah musuh.

Ia menatap para pengungsi yang masih gemetar.

"Lihat," suara Li Wei tenang namun tegas. "Mereka berdarah. Mereka mati. Mereka bukan hantu atau iblis yang tak terkalahkan. Selama kita bersatu dan menggunakan otak, mereka hanyalah pupuk untuk tanah ini."

Sorakan kecil mulai terdengar, lalu membesar menjadi gemuruh kemenangan.

"Hidup Saudara Li!"

"Hidup Lembah Abu!"

Moral mereka, yang hancur semalam, kini bangkit kembali. Mereka bukan lagi domba yang menunggu disembelih. Mereka telah merasakan kemenangan.

Tie Shan berjalan mendekat, menyeret karung berisi senjata jarahan musuh. Ia menyeringai lebar. "Panen besar, Saudara Li. Pedang-pedang ini bisa kulebur untuk memperkuat gerbang."

Xiao Lan datang membawa kain bersih untuk menyeka wajah Li Wei. "Tidak ada yang terluka parah. Racunnya bekerja sempurna."

Li Wei mengangguk. Ia melihat ke arah tumpukan mayat itu.

"Jangan buang mayatnya," perintah Li Wei dingin. "Lucuti barang berharganya. Lalu kubur mereka di bawah Ladang Vena Naga."

"Dikubur?" tanya seorang murid bingung.

"Darah kultivator mengandung Qi," jawab Li Wei tanpa emosi. "Vena Naga butuh nutrisi untuk memulihkan diri setelah kupaksa terbuka kemarin. Kita akan menanam kembali herbal di atas kuburan mereka."

Para murid merinding mendengar pragmatisme Li Wei, tapi mereka patuh. Di masa perang, kekejaman adalah kebajikan.

Li Wei berjalan kembali ke gubuknya. Kemenangan ini manis, tapi ia tahu ini hanya gelombang pertama.

Giok Dao Abadi di dadanya bergetar lagi. Kali ini, ia memproyeksikan sebuah peta samar di benak Li Wei. Sebuah titik merah berkedip di Puncak Utama Sekte Langit Biru.

Visi lain muncul Seorang pria dengan separuh wajah terbakar api dan separuh lagi membeku es, sedang duduk di takhta Ketua Sekte yang hancur.

Li Wei berhenti melangkah.

"Jenderal Iblis itu..." batin Li Wei. "Dia sudah menguasai Puncak Utama."

Lembah Abu aman untuk sekarang. Tapi selama induk iblis itu duduk di takhta, seluruh wilayah ini akan perlahan mati.

"Kita butuh sekutu yang lebih kuat," gumam Li Wei.

Ia teringat kata-kata Tie Shan kemarin tentang Gudang Senjata Rahasia yang kuncinya dipegang oleh Tetua Puncak Besi yang gugur.

Tapi mungkin... Tetua itu meninggalkan petunjuk?

Li Wei memanggil Tie Shan.

"Saudara Tie, bawa semua dan catatan yang kau selamatkan dari Puncak Besi ke gubukku. Kita akan mencari sesuatu."

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!