"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung
Minggu pagi,
Kota yang biasanya sibuk dengan hiruk-pikuk aktivitas kerja dan lalu lintas padat kini menunjukkan wajah yang berbeda. Sinar matahari baru mulai menyebar secara perlahan melalui celah-celah gedung bertingkat, menciptakan bayangan panjang yang merentang di atas jalan-jalan yang lebih sepi dari biasanya.
Tampak wajah sumringah dua orang paruh baya yang tengah menyusun beberapa kotak di jok belakang mobil. Mereka adalah pak Bandi dan bu Ais yang hari ini sudah menjadwalkan kunjungan ke rumah anak menantu tercinta--Dimas dan Naina.
"Apa tidak apa-apa Yah kita tidak mengabari mereka dulu?" Tanya bu Ais pada pak Bandi saat mereka sudah siap berangkat.
"Tidak apa-apa. Kita beri kejutan. Pasti mereka senang. Lagian kita belum pernah berkunjung kesana sejak mereka pindah." Jawab pak Bandi.
Mobil mereka pun berangkat, perlahan menelusuri jalan kota.
*****
Susana rumah Dimas Dan Naina terlihat sepi. Saat turun dari mobil yang baru saja di parkirkan di depan rumah, bu Ais terkesima melihat pemandangan perkarangan rumah anaknya yang begitu rapi. Tidak ada satupun sampah terlihat, bunga-bunga tumbuh subur berbagai warna, tersusun rapi seperti sangat terawat.
Bu Ais menyunggingkan senyum, merasa kagum pada sosok siapa lagi kalau bukan menantunya--Naina.
"Assalamu'alaikum." Ucap Bu Ais mengetuk pintu.
Dimas dan Naina yang masih duduk di dapur terperanjat mendengar ketukan pintu itu. Naina segera menyeka air mata. Dimas yang baru saja berdiri hendak membukakan pintu, didahului oleh Naina, mereka sempat beradu pandang sekilas,
"Biar aku saja, Mas." Ucap Naina. Dimas berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa, tapi tatapannya terus membuntuti Naina.
"Ibu, Ayah?" Ucap Naina sumringah saat mendapati bu Ais dan pak Bandi di depan pintu.
"Waalaikumsalam," Sambung Naina kemudian menyalami tangan bu Ais dan pak Bandi bergantian.
Dimas yang tadinya duduk segera menghampiri, ia sedikit kaget dengan kedatangan ayah dan ibunya itu.
"Ayah, Ibu? Aih gak ngabarin kalo mau kesini." Ucap Dimas yang juga mengalami tangan bu Ais dan pak Bandi.
"Sengaja. Kejutan." Jawab pak Bandi.
"Maaf Ayah dan Ibu baru sempat datang kesini."
"Tidak apa-apa,Bu. Ayo kita masuk." Ucap Naina.
"Ibu dan Naina duluan, Dimas bantu Ayah bawa barang-barang yang ada di bagasi."
Dimas menggaruk tengkuknya, dan mengikuti pak Bandi menuju mobil.
"Heh! Kamu kaya gak senang Ayah dan Ibu datang, Dim?" Tanya pak Bandi dengan sedikit nada bercanda.
"Bu-bukan gitu, Yah. Soalnya kaget aja." Jawab Dimas gelagapan.
***
Didalam rumah,
Bu Ais menatap Naina lekat, memperhatikan menantunya itu yang seperti enggan menatapnya.
"Ibu mau dibuatkan minuman apa? Biar Naina buatkan." Ucap Naina, bu Ais diam saja dan terus memperhatikan.
"Ibu mau teh, apa jus atau apa? Atau ibu mau makan dulu? Kebetulan aku sudah masak. Tapi maaf ya Bu kalau masakan Naina kurang enak." Ucap Naina panjang lebar dan seperti sengaja dan mengalihkan pandangan dari bu Ais.
Bu Ais mendekat, lalu ia memegang pipi Naina dengan kedua tangannya. Menatap menantunya dengan tatapan sayu.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya bu Ais
Naina tersenyum, "Aku--aku baik-baik saja, Bu."
"Kamu habis menangis?" Tanya bu Ais lagi yang seperti merasakan sesuatu.
Naina menggelengkan kepala. "Tidak, Bu." Naina tersenyum.
"Mata kamu sembab. Apa Dimas menyakiti kamu?" Bu Ais lagi-lagi memastikan.
Belum sempat Naina menjawab, Dimas bersama pak Bandi datang dengan membawa begitu banyak kotak.
"Astaga! Ini apa, Yah? Kok banyak sekali?" Keluh Dimas sembari meletakkan kotak-kotak itu.
"Itu oleh-oleh. Isinya ada baju-baju buat Naina. Dan beberapa barang serta bahan makanan. Ayah dan Ibu sengaja membeli itu buat kalian."
"Sebanyak ini?"
"Ya gak apa-apa. Ayah dan Ibu kan jarang-jarang kesini."
"Terimakasih banyak ya, Ayah Ibu. Aku senang sekali." Ucap Naina. Gadis itu tetap menampakkan wajah ceria dan sumringahnya. Tapi bu Ais tetap saja merasakan sesuatu yang tidak enak.
***
Naina menyiapkan makanan di meja makan di bantu bu Ais. Wanita paruh baya itu terlihat sangat mengkhawatirkan Naina, tapi lebih memilih untuk diam karena tidak ingin membuat menantunya itu risih.
"Sudah ada hilal, kah Dim?" Tanya pak Bandi di tengah suapan nasinya.
"Hilal apa, Yah? Kan puasa masih lama." Dimas yang kebingungan balik bertanya.
"Garis dua." Jawaban pak Bandi serentak membuat Dimas dan Naina tersedak. Mereka kemudian saling tatap.
Naina tertunduk, dan melanjutkan makan.
"Belom, Yah." Ucap Dimas singkat sembari melirik Naina.
"Udah, lagi makan jangan ngobrol. Gak bagus." Bu Ais menengahi. Wanita paruh baya itu lagi-lagi memperhatikan Naina, dan kemudian mengelus pundak menantunya itu. "Tidak apa-apa. Lagian kalian menikah kan baru, wajar saja belum di kasih. Yang penting kalian akur, harmonis, saling sayang itu yang penting." Sambung bu Ais dengan tatapan tertuju pada Dimas.
"Iya, Bu." Naina mengangguk di sertai senyuman. Jauh di dalam lubuk hatinya menyimpan kesedihan. Bagaimana akan mempunyai anak? Bahkan sampai hari ini ia sama sekali tidak pernah di sentuh oleh suaminya--Dimas.
***
Hari semakin siang. Terik matahari mulai menyengat menimbulkan hawa panas. Tampak pak Bandi dan bu Ais bersiap untuk pulang.
"Terimakasih banyak ya Ayah, Ibu sudah berkunjung kesini. Naina sangat senang." Ucap Naina sebelum pak Bandi dan bu Ais memasuki mobil.
"Sama-sama, Nak. Kamu jangan sungkan untuk cerita kalau ada yang tidak nyaman. Atau misal Dimas nyakitin kamu." Jawaban bu Ais terdengar menusuk di telinga Dimas membuat pria itu gelagapan. Ucapan yang sengaja bu Ais tekankan seolah itu berupa sindiran.
"Tidak, Bu. Mas Dimas--" Naina melirik Dimas, "Mas Dimas sangatlah baik dan sangat menyanyangi Naina, juga--begitu hangat. Semua kebutuhan Naina terpenuhi dengan baik." Lanjut Naina.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga kalian selalu berbahagia." Bu Ais memeluk Naina yang tentu Naina membalas pelukan itu.
Setelah bersalaman, dan berpamitan pak Bandi dan bu Ais meninggalkan rumah anak menantunya itu.
Sementara itu, Naina berjalan masuk ke rumah membiarkan Dimas mematung sendirian.
"Apa yang ada di pikirannya? Dia sangat menjaga nama baik ku di depan Ayah dan Ibu." Benak Dimas sembari memperhatikan Naina yang berjalan masuk ke dalam rumah.
*****
"Ayah, Ibu lihat mata Naina tadi sembab. Dia juga terlihat banyak memendam sesuatu." Ucap bu Ais pada pak Bandi.
"Mungkin kalau soal perasaan Ibu lebih peka. Semoga saja mereka baik-baik saja." Jawab pak Bandi.
"Ibu melihat Naina itu gadis lugu yang sangat tulus. Semoga saja Dimas tidak memanfaatkan semua itu untuk menyakitinya."
Pak Bandi mengelus pundak istrinya "Sabar Ibu. Kita do'akan saja yang baik-baik."
"Walaupun Dimas anak kandung kita, tidak akan Ibu biarkan dia menyakiti Naina. Awas saja kalau Ibu dengar berita yang tidak mengenakan."
"Bapak dukung Ibu selalu. Tapi ada baiknya kalau kita berpikir yang positif, biar semua yang terjadi juga ikut positif. Intinya, kita sebagai orang tua harus peka dan selalu nasehati anak kita."
"Iya, Yah."
***
"Naina..." Panggil Dimas yang menyusul Naina berjalan.
"Ada apa, Mas?"
"Terimakasih."
"Terimakasih untuk apa?"
"Kamu sudah menjaga nama baik ku di depan Ayah dan Ibu."
Naina tersenyum kecil, "itu sudah kewajiban ku sebagai Istri, Mas. Apapun cela di rumah ini akan aku usahakan tidak akan sampai mencuat keluar."
Dimas tertegun. Sedangkan Naina berlalu.
"Tenang saja, Mas... Aku akan selalu menjaga nama baik mu." Batin Naina.