NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:922
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Hening yang ganjil dan berat menyelimuti setiap sudut ruang isolasi—jenis keheningan dari keberadaan sesuatu yang begitu besar dan menyakitkan hingga mampu mematikan segala gerak dan bunyi di sekelilingnya. Satu-satunya yang mampu memecahnya adalah gesekan lembut mata pena logam di atas permukaan kertas putih, suara kecil namun jelas seperti detak jantung yang lemah namun tetap berdenyut.

Lusy duduk meringkuk di tengah brankar yang ditutupi seprai putih bersih, tubuhnya yang ringkih dan kurus dibalut erat oleh selimut wol tebal yang tidak mampu sepenuhnya menghalau dingin yang menusuk. Di atas pangkuannya, sebuah meja lipat kecil dari logam ringan ditempatkan dengan hati-hati, menerangi dirinya dengan cahaya hangat dari lampu meja yang ditutupi dengan kain sutra merah muda agar tidak terlalu silau. Cahaya itu membuat bayangan panjang jatuh di dinding kaca di belakangnya, sementara jemarinya yang pucat tampak bergetar hebat setiap kali ia berusaha mengukir huruf demi huruf dengan teliti.

Ia sedang sadar, keadaan yang kini ia sebut sebagai sebuah kemewahan singkat, sebuah nikmat yang harus dibayar dengan harga mahal menggunakan cairan merah pekat yang baru saja mengalir melalui selang infus yang terhubung ke lengannya kiri.

Cairan itu yang dicuri Axel dari bank darah rumah sakit, yang membuatnya bisa kembali merasakan kejelasan pikiran dan kehangatan rasa manusia yang sudah lama menjadi tamu jarang di dalam dirinya. Namun, Lusy tahu dengan sangat jelas bahwa kesadaran yang hangat ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum badai berikutnya menghantam.

"Nona, Anda harus istirahat."

Suara Ana terdengar lembut dari sudut ruangan yang lebih gelap, di mana sang perawat berdiri dengan sikap tetap waspada.

Lusy menggelengkan kepalanya dengan lembut, tidak mengangkat wajahnya dari selembar kertas yang kini mulai ternoda oleh tetesan air mata yang jatuh tanpa suara dari sudut matanya. Setiap tetesan itu meninggalkan lingkaran kecil yang sedikit merusak kejelasan tulisan yang ia buat dengan susah payah.

"Sedikit lagi... Hanya beberapa baris lagi sebelum ingatanku memudar kembali menjadi kabut yang tidak bisa kukendalikan."

Kalimat-kalimat dalam surat itu benar-benar bergetar di atas kertas, seperti cermin yang mencerminkan kondisi jiwa yang sedang berada tepat di ambang kehancuran. Setiap huruf yang ditulis dengan teliti tampak seperti sedang berjuang untuk tetap berdiri tegak, sama seperti perjuangan Lusy untuk tetap menjadi dirinya sendiri di tengah badai yang mengamuk dalam tubuhnya.

𝘗𝘢𝘱𝘢, 𝘔𝘢𝘮𝘢...

𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢. 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘈𝘹𝘦𝘭 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪—𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯...

Lusy berhenti sejenak, merasakan bagaimana dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia menutup mata sebentar, membayangkan wajah ayahnya yang biasanya tegas namun selalu penuh dengan kasih sayang setiap kali melihatnya—wajah yang kini mungkin penuh dengan keraguan dan kekhawatiran karena ketidakhadirannya yang tidak bisa dijelaskan. Ia juga membayangkan kelembutan tangan ibunya yang selalu mencemaskan hal-hal kecil dalam hidupnya—memasak makanan kesukaannya, menyetrika baju-bajunya dengan rapi, atau hanya menghabiskan waktu bersama dengan membicarakan hal-hal sepele yang membuat mereka tertawa.

𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘴𝘰𝘴𝘰𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘓𝘶𝘴𝘺 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢. 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘹𝘦𝘭 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘋𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪...

Setelah selesai menulis kalimat terakhir, Lusy mengeluarkan napas panjang dan berat. Ia kemudian melipat kertas itu dengan hati-hati, melipatnya menjadi empat bagian kecil dengan lipatan yang rapi. Setelah itu, ia menoleh perlahan ke arah Ana yang masih berdiri di sudut ruangan, matanya yang biasanya penuh dengan kehangatan kini memancarkan sebuah permohonan yang begitu dalam dan menyakitkan hingga membuat Ana merasa seperti ada sesuatu yang menusuk langsung ke dalam hatinya, membuatnya tercekik oleh rasa iba yang mendalam.

"Ana..."

"Kemarilah."

Ana menganggukkan kepalanya lembut, kemudian mulai mendekat dengan langkah kaki yang berat. Setiap langkahnya seolah menghabiskan banyak tenaga, karena ia tahu bahwa apa yang akan dilakukan Lusy selanjutnya adalah sesuatu yang penuh dengan risiko—risiko yang tidak hanya akan membahayakan posisinya sebagai perawat yang telah menyetujui kontrak rahasia, tapi juga bisa membuat Axel marah hingga tidak bisa dikendalikan.

Lusy meraih tangan Ana dengan hati-hati ketika sang perawat akhirnya sampai di pinggir brankar, kemudian meletakkan surat yang telah dilipat rapi itu ke dalam telapak tangan yang terbuka. Jari jemari Lusy yang sedingin es mencengkeram tangan Ana dengan kuat untuk beberapa saat, seolah-olah ingin memastikan bahwa pesan yang akan disampaikan benar-benar sampai dengan jelas.

"Aku tahu Axel tidak akan pernah mengizinkan surat ini terkirim ke tangan Papa dan Mama. Baginya, mengirim surat ini berarti mengakui bahwa semua yang telah dilakukannya selama ini adalah sebuah kekalahan. Dia tidak bisa menerima bahwa aku tidak bisa diselamatkan lagi."

"Tapi aku tidak bisa pergi tanpa pamit. Aku tidak bisa membuat mereka terus mencariku dan menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak bisa melindungiku. Aku titipkan ini padamu. Jika suatu saat aku benar-benar mati... atau jika aku tidak bisa lagi kembali menjadi manusia yang kamu kenal sekarang... tolong, berikan ini kepada Papa. Jangan biarkan mereka membenciku karena menghilang tanpa kabar dan tanpa memberikan alasan yang jelas."

Ana merasakan bagaimana jemari Lusy yang dingin seperti es terus mencengkeram tangannya dengan kuat, sementara surat kecil itu terasa seperti membawa beban yang sangat berat di telapak tangannya. Ia menatap surat itu dengan pandangan penuh dengan kesadaran akan tanggung jawab yang baru saja diberikan kepadanya.

Ana tahu dengan sangat jelas bahwa menyimpan surat ini adalah sebuah pengkhianatan terhadap kontrak ilegal yang telah ia tanda tangani dengan Axel—kontrak yang menyatakan bahwa ia tidak akan pernah menyembunyikan atau mengirimkan sesuatu yang bisa membahayakan rahasia keluarga Bahng. Namun, melihat penderitaan yang ada di depan matanya dan melihat wajah Lusy yang penuh dengan harapan dan kesedihan, nuraninya sebagai manusia lebih berteriak kencang daripada rasa takutnya pada apa yang mungkin akan dilakukan Axel jika mengetahui hal ini.

"Aku berjanji, Nona. Aku akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Aku akan memastikan bahwa surat ini sampai ke tangan keluarga Nona tepat pada waktunya."

Lusy mengembuskan napas panjang dan lega setelah mendengar janji itu. Kemudian sebuah senyum tipis yang tampak hampa namun penuh dengan rasa syukur menghiasi bibirnya yang masih menyisakan sedikit rona lipstik merah muda dari hari kemarin.

"Terima kasih, Ana." Ia mulai menurunkan tubuhnya kembali ke posisi meringkuk di atas brankar, menarik selimut wol lebih erat ke arah tubuhnya. "Sekarang... tolong matikan lampunya. Aku bisa merasakan 'dia' mulai bangun lagi di dalam sana. Kepalaku mulai bising dengan suara-suara yang tidak bisa kukontrol lagi."

Ana menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa berkata apa-apa lagi. Ia berjalan dengan hati-hati ke arah meja lipat kecil, kemudian mematikan lampu dengan hati-hati dengan menarik sakelar kecil yang terletak di bagian bawahnya. Cahaya hangat yang dulu menerangi ruangan segera padam, meninggalkan ruang isolasi dalam keadaan remang yang mencekam—hanya diterangi oleh sedikit cahaya dari lampu neon di luar ruangan yang menerobos melalui celah di sekitar pintu baja.

Saat Ana mulai berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruang isolasi, pintu itu tiba-tiba terbuka dengan cepat, membuatnya terkejut dan hampir menjatuhkan tangannya yang sedang berada di dekat pegangan pintu.

Di luar pintu berdiri Axel dengan wajah yang lebih gelap dan lelah dari biasanya, ekspresi wajahnya penuh dengan ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Ia baru saja turun dari atas tanah setelah pertengkaran yang memecah hati dengan Samuel, dan suasana yang negatif dari pertengkaran itu masih jelas terlihat di setiap gerakan dan ekspresinya.

Ana segera menundukkan kepalanya sebagai tanda rasa hormat yang tidak bisa dihindari, sambil secara tidak sadar meremas bagian saku seragamnya di mana surat itu disimpan.

Ia menyadari bahwa sejak saat itu, ia tidak lagi hanya berperan sebagai seorang perawat yang ditugaskan untuk merawat pasien dengan kondisi yang unik. Ia telah menjadi penyimpan wasiat dari sebuah jiwa yang sedang sekarat—sebuah jiwa yang hanya ingin memberikan pamit terakhir pada orang-orang yang dicintainya sebelum ia benar-benar hilang selamanya dalam kegelapan yang tak berujung.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
Phida Lee
Ajukan kontrak dan jangan lupa rajin promosi juga bang..
massie-masbro
mantap bang🔥 btw tutor novel bisa rame gimana bng aku masih pemula, ajukan kontrak kah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!