Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 31
Udara di klinik itu terasa berat, seolah oksigen kalah dengan aroma antiseptik dan ketegangan yang memuncak. Di saat Anjar melangkah lebar untuk masuk ke dalam ruangan, Arkan dengan cepat menghalangi pria itu.
Dia merasa Kalau pria itu terlalu kurang ajar untuk masuk ke dalam, karena di sana ada Mutiara yang hanya memakai tanktop saja dan rasanya itu tidak pantas dilihat oleh orang luar, apalagi lelaki.
"Tolong saya, Tuan Arkan. Saya hanya ingin bertemu dengan istri anda, ada yang perlu saya pastikan."
Anjar berusaha untuk mendekat ke arah Mutiara, tetapi lagi-lagi Arkan dengan cepat mendorong pria itu.
Bahkan kini Anjar dan juga Arkan sudah berada di luar, Arkan bahkan langsung menutup pintu ruangan itu agar suster tidak terganggu saat mengobati luka Mutiara.
"Tuan Arkan, tolong izinkan saya untuk memeriksa sesuatu?"
"Tidak bisa! Kalau ada perlu nanti saja, setelah istriku selesai diperiksa dan diobati, baru anda boleh berbicara dengannya. Anda tidak boleh masuk untuk berbicara saat ini."
"Hanya sebentar saja, kumohon!"
"Satu langkah saja anda mendekat ke arah istri saya sekarang, saya pastikan anda keluar dari sini dengan kaki pincang sebelah," desis Arkan.
Matanya menyalang, sarat dengan proteksi seorang suami yang sedang berada di puncak cemburu.
Anjar tidak mundur. Ia justru membusungkan dada, menatap Arkan dengan mata yang berkaca-kaca namun tajam.
"Tolong izinkan aku untuk masuk, Tuan Arkan. Aku harus melihatnya!"
"Dia istriku! Dia sedang terluka dan sedang diobati, jadi... anda tak boleh melihatnya saat ini." Arkan mencengkram kerah kemeja yang dipakai oleh Anjar.
"Tapi, aku punya hak lebih dari yang kamu tahu!" Selain itu, aku hanya ingin membuktikan satu hal. Aku hanya ingin membuktikan kalau perempuan yang ada di dalam sana adalah putriku!"
Gerakan Arkan terhenti. Cengkeramannya pada kerah baju Anjar melonggar, tetapi matanya masih memicing curiga. Takutnya Anjar hanya berbohong.
"Putrimu?"
"Ya, aku hanya ingin bertemu dengan putriku sebentar."
"Saat aku menikahinya dia hanya memiliki seorang nenek, bagaimana mungkin bisa memiliki ayah sepertimu?"
Arkan menatap Anjar dengan dalam, saat diperhatikan agar benar-benar begitu mirip dengan istrinya. Namun, dia tetap tidak ingin langsung percaya dengan pria itu.
Dia tahu kalau yang diduga oleh mutiara benar adanya, kalau istrinya itu dibuang karena sesuatu hal.
"Dua puluh lima tahun lalu aku kehilangan bayiku," ujar Anjar dengan suaranya yang mendadak serak.
Dia bahkan terisak, air matanya mulai mengalir di kedua pipinya. Tatapan mata pria itu penuh luka yang dalam.
"Dua puluh lima tahun aku mencari bayiku yang hilang. Wajah itu dan kalung itu, kalung liontin unik yang melingkar di lehernya, aku sendiri yang memesannya saat dia lahir!"
Arkan terdiam sejenak, dadanya naik turun. Logikanya berperang, dia merasa harus tetap waspada dan tidak boleh langsung percaya begitu saja.
"Dunia ini luas, Tuan Anjar. Kemiripan bisa menipu. Kalau memang dia putrimu, apa buktinya? Apa yang membuatmu begitu yakin selain perasaan sentimental itu?"
"Siram liontin itu dengan air," ucapnya mantap. "Logam itu dibuat dengan teknik grafir tersembunyi. Jika terkena air, akan muncul nama Liora."
Tepat saat mereka berdebat, pintu terbuka. Mutiara melangkah keluar dengan perlahan, wajahnya pucat tapi sudah lebih tenang. Perban tipis mengintip dari balik kerah bajunya.
"Kenapa kalian berdebat terus?" tanya Mutiara lirih.
Anjar seolah kehilangan kewarasan. Ia menerjang maju, tangannya terulur hendak merengkuh Mutiara.
"Liora! Putriku."
Mutiara membeku mendengar pria yang wajahnya mirip dengan dirinya itu memanggil dirinya dengan akrab, tetapi Arkan seakan belum ikhlas kalau Anjar memeluk istrinya.
Ia menarik lembut Mutiara ke belakang punggungnya, dia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng baja.
"Jangan sentuh dia!"
"Sayang, biarkan dia bicara," Mutiara menyentuh lengan suaminya, menenangkan badai yang berkecamuk di sana.
Mutiara bahkan mengusap dada Arkan, dia berharap dengan seperti itu akan tidak akan marah-marah lagi dan mereka bisa berbicara secara baik-baik.
"Dia bilang dia ayah kamu," adu Arkan.
"Lalu?"
"Dia ingin membuktikan kalau kamu putrinya melalui kalung liontin itu."
"Ya udah, kita buktikan sekarang."
"Baiklah, tapi sebelum itu kita bayar dulu."
Anjar menelpon istrinya dan juga anaknya agar datang ke sana, sedangkan Arkan mengajak Mutiara untuk menebus obat dan juga membayar biaya pengobatannya Mutiara, setelah itu dia mengajak Mutiara dan juga Anjar untuk duduk di bangku yang ada di depan klinik.
"Lepaskan sebentar kalungnya, Sayang."
"Emm," jawab Mutiara sambil melepaskan kalungnya dengan jantung yang berdebar dengan cepat.
Arkan mengambil segelas air mineral yang sudah dia siapkan sejak tadi. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena kemungkinan kenyataan ini akan mengubah hidup mereka selamanya.
Dia takut kalau misalkan Mutiara benar adalah Liora, putri dari Anjar. Dia takut kalau pria itu tidak akan menyetujui pernikahannya dengan Mutiara.
Karena bagaimanapun juga Arkan sudah berumur, jarak usia di antara dirinya dan Mutiara juga terpaut dua belas tahun. Arkan sudah mencintai Mutiara, dia takut kehilangan wanita itu.
"Cepat tuangkan airnya," pinta Anjar.
Arkan menurut, dia menuangkan air putih pada liontin milik istrinya, air itu mengalir membasahi ukiran-ukiran halus di sana.
Tiba-tiba sebuah keajaiban muncul. Di bawah lapisan air, cahaya matahari memantul pada ukiran liontin yang perlahan menampakkan huruf-huruf artistik yang timbul.
L-I-O-R-A.
Tangis Anjar pecah seketika, dia begitu bahagia. Karena putrinya yang hilang, kini telah ditemukan. Berbeda dengan Arkan, dia malah diam sambil menatap Anjar dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
"Liora, Sayang. Demi Tuhan, Ayah benar-benar senang."
Mutiara terpaku, jemarinya menyentuh nama yang terukir di sana, menyadari bahwa identitasnya yang hilang selama seperempat abad baru saja kembali lewat beberapa tetes air.
"Peluk Ayah, Nak," pinta Anjar.
Arkan masih merasa tidak ikhlas kalau istrinya dipeluk oleh pria lain, walaupun itu adalah ayah kandungnya. Pria itu menepis tangan Anjar yang sudah dia rentangkan di dekat tubuh istrinya.
"Tunggu dulu, ini belum bisa dipastikan kalau kamu adalah ayah kandung dari istriku. Walaupun memang kata nenek Mia beliau menemukan Mutiara yang dibawa oleh dua orang preman," ujar Arkan.
"Lalu, apa lagi yang kamu inginkan?"
"Tes DNA, biar semuanya benar-benar terungkap secara jelas."
"Rasanya tidak perlu tes DNA, kamu nggak lihat wajah kita benar-benar mirip? Liontinnya juga benar-benar aku yang berikan saat dia bayi," ujar Anjar mulai kesal.
"Lakukan saja, Sayang. Biar mereka puas, ayo kita ke rumah sakit. Aku yakin kalau dia adalah putri kita."
Di saat Arkan dan juga Anjar berdebat, ternyata tidak jauh dari sana ada Cia dan juga Abidzar. Keduanya sudah sejak tadi datang dan mereka memperhatikan apa yang dilakukan oleh ketiga orang tersebut.
"Baiklah, kita akan ke rumah sakit," ujar Arkan sambil menggenggam tangan istrinya dengan begitu erat.