Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Di tengah ketegangan bayang-bayang Texas yang mencoba menarik kembali ayahnya, Theodore menemukan dunianya sendiri yang jauh lebih tenang. Di koridor Saint Vladimir Academy yang dingin, ada satu alasan mengapa Theo selalu datang lebih awal, bukan untuk perpustakaan, melainkan untuk sebuah bangku kayu di bawah pohon ek yang tertutup salju tipis.
Alasannya adalah Stevie Zurcher.
Stevie adalah gadis asal Zurich, Swiss, yang pindah ke Rusia mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai diplomat. Berbeda dengan gadis-gadis elit Rusia yang selalu tampil dengan riasan tebal dan tas desainer terbaru, Stevie memiliki kecantikan yang organik—rambut pirang madu yang sering ia ikat asal, dan mata cokelat yang selalu memancarkan kejujuran. Mereka sudah berteman sejak tahun pertama High School, namun baru seminggu yang lalu Theo memberanikan diri meminta Stevie menjadi kekasihnya di bawah rintik salju yang tenang.
Bagi seluruh sekolah, Theodore Volkov adalah sosok yang misterius, cerdas, dan dingin. Namun, bagi Stevie, Theo adalah pria paling hangat yang pernah ia kenal. Theo yang biasanya bicara seperlunya tentang bisnis dan kalkulus, berubah menjadi pendengar yang sabar saat Stevie bercerita tentang rindu pada cokelat di Zurich atau sketsa lukisannya yang belum selesai.
Pagi itu, Theo berdiri menunggu Stevie di depan gerbang sekolah. Saat sosok Stevie muncul dengan mantel wol biru tua dan syal rajutan tangan, wajah Theo yang biasanya kaku langsung melunak. Sebuah senyum tipis namun tulus tersungging di bibirnya—senyum yang hanya ia simpan untuk ibunya, dan kini, untuk Stevie.
"Kau kedinginan?" tanya Theo lembut. Tanpa menunggu jawaban, ia segera melepas sarung tangan kulitnya dan menggenggam tangan Stevie yang mungil, memasukkannya ke dalam saku mantel besarnya yang hangat.
Stevie mendongak, wajahnya merona bukan karena suhu di bawah nol derajat. "Theo, semua orang melihat kita. Kau tahu mereka selalu membicarakanmu."
Theo tidak peduli. Ia tidak peduli pada anak menteri atau cucu raja yang memandang mereka dengan penasaran. "Biarkan saja. Mereka hanya iri karena aku memiliki alasan untuk tersenyum di musim dingin ini."
Selama seminggu ini, Theo memperlakukan Stevie seperti permata yang paling berharga. Saat jam makan siang, ketika teman-teman elit Theo mencoba mendekat untuk meminta bantuan tugas atau membicarakan bisnis, Theo akan dengan sopan memberi isyarat agar mereka menunggu.
"Maaf, teman-teman. Waktuku sekarang milik Stevie," ucap Theo sambil membuka bekal yang ia bawa—roti isi kesukaan Stevie yang ia siapkan sendiri.
Di meja kantin yang riuh, Theo duduk dengan tubuh yang sedikit condong ke arah Stevie, menciptakan "ruang privasi" di tengah keramaian. Ia akan mendengarkan Stevie bercerita tentang kesulitan di kelas sejarah dengan penuh perhatian, sesekali merapikan helai rambut Stevie yang menutupi wajahnya.
"Kau tahu, Theo," Stevie berbisik sambil menggigit rotinya. "Banyak orang bilang kau adalah anak pengusaha yang sangat berambisi. Tapi bagiku, kau hanyalah Theo yang suka membelikanku susu hangat saat aku begadang belajar."
Theo menatap mata Stevie dalam-dalam. "Aku berambisi untuk satu hal, Stevie. Memastikan orang-orang yang kusayangi tetap aman dan bahagia. Sisanya? Itu hanya permainan angka."
Stevie tidak pernah bertanya tentang masa lalu keluarga Theo. Ia tidak tahu tentang kekaisaran di Texas atau tentang Alexander, saudara kembar Theo yang telah tiada. Stevie mencintai Theo karena Theo adalah Theo—pemuda yang selalu memastikan Stevie berjalan di sisi trotoar yang jauh dari kendaraan, dan pemuda yang akan membungkuskan syalnya di leher Stevie jika angin berhembus terlalu kencang.
Sore itu, setelah jam sekolah usai, mereka berjalan menyusuri pinggiran kanal Neva. Theo menggandeng tangan Stevie erat. Di mata Theo, Stevie adalah lambang kehidupan baru yang ia dan orang tuanya bangun di Rusia—kehidupan yang murni, tanpa embel-embel warisan berdarah.
"Stevie," panggil Theo berhenti di jembatan. "Mungkin hidupku ke depan tidak akan sesederhana kelihatannya. Mungkin akan ada badai yang mencoba mengganggu ketenangan kita."
Stevie menatap Theo, menggenggam balik tangan kekasihnya itu. "Di Zurich, kami punya pepatah. Gunung tidak akan goyah hanya karena angin kencang. Selama kau tetap hangat seperti ini padaku, aku tidak peduli badai apa yang datang dari luar sana."
Theo menarik Stevie ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Kehangatan ini adalah segalanya bagi Theo. Ia menyadari bahwa ia mewarisi sifat ayahnya yang posesif dan protektif, namun ia melakukannya dengan kelembutan yang ia pelajari dari ibunya.
Malam itu, Theo membawa Stevie pulang untuk bertemu dengan Rose dan Nikolai. Ia ingin wanita yang ia cintai dikenal oleh orang-orang yang paling ia hormati.
Rose menyambut Stevie dengan pelukan hangat, sementara Nikolai memberikan anggukan tenang yang penuh penilaian—penilaian seorang ayah yang ingin memastikan putranya memilih wanita yang tepat. Sepanjang makan malam, Theo tidak pernah melepaskan perhatiannya dari Stevie. Ia memastikan piring Stevie terisi, dan ia akan menggenggam tangan Stevie di bawah meja jika ia melihat kekasihnya itu mulai merasa gugup.
"Dia wanita yang baik, Theo," bisik Rose saat Stevie sedang membantu mencuci piring di dapur.
Nikolai menepuk bahu Theo. "Jaga dia. Jangan biarkan racun Texas menyentuh dunianya."
Theodore menatap ayahnya dengan tekad yang bulat. "Aku akan menjaganya lebih baik daripada siapapun, Ayah. Dia adalah alasanku untuk tetap menjadi manusia di tengah permainan bisnis yang kejam ini."
Theo kembali ke ruang tengah, melihat Stevie yang tertawa kecil mendengar cerita masa kecil Theo dari ibunya. Di sana, di rumah yang hangat di tengah dinginnya Rusia, Theo menyadari satu hal, meskipun ayahnya menolak warisan miliaran dolar di Texas, Theo telah menemukan warisannya sendiri—sebuah cinta yang tulus dan murni, yang tidak akan pernah ia biarkan hancur oleh apapun.
Satu minggu pacaran hanyalah awal. Bagi Theodore Volkov, Stevie Zurcher adalah masa depannya yang ia pilih sendiri, tanpa campur tangan surat wasiat atau katalog digital manapun.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰