Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 36: Undangan Terbatas dan Sumpah di Tepi Pantai
Private Island Resort, Labuan Bajo.
Angin laut yang hangat membelai wajah Kara. Dia berdiri di balkon vila kayu ulin yang menghadap langsung ke laut lepas berwarna biru turkis.
Tidak ada suara klakson Jakarta. Tidak ada teriakan wartawan. Tidak ada dering telepon dari kantor pajak. Hanya suara ombak yang memecah karang dan kicauan burung camar.
"Nelamun lagi, Calon Pengantin?"
Damian muncul dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Kara, lalu menumpukan dagunya di bahu wanita itu.
"Nggak nelamun," Kara bersandar nyaman. "Cuma masih nggak percaya. Seminggu yang lalu aku duduk di ruang interogasi kejaksaan. Hari ini aku di sini, mau nikah sama musuh bisnisku."
Damian terkekeh. "Musuh yang paling hot, koreksi."
"Gimana kabar Mama kamu?" tanya Kara pelan, sedikit merusak suasana tapi perlu ditanyakan.
Wajah Damian sedikit kaku, tapi dia tetap tenang. "Dia terbang ke Swiss pagi ini. Katanya mau 'berobat' menenangkan saraf. Intinya, dia kabur karena malu. Biarkan saja. Hari ini tentang kita, bukan dia."
Damian memutar tubuh Kara agar menghadapnya.
"Tamu undangan sudah sampai semua. Cuma dua puluh orang. Sahabat kamu, Maya, Pak Hadi, dan Papa kamu. Sesuai pesanan Tuan Putri."
"Terima kasih, Dam," Kara mengelus pipi Damian. "Aku nggak butuh pesta di GBK. Aku cuma butuh orang-orang yang tulus."
Pukul 17.00 WITA. Menjelang Matahari Terbenam.
Area Pink Beach yang biasanya ramai turis, hari ini disewa tertutup sepenuhnya (privat).
Sebuah altar sederhana namun mewah didirikan di atas pasir yang berwarna kemerahan. Tiang-tiangnya dililit kain sifon putih yang melambai tertiup angin dan ribuan bunga Lily of the Valley—bunga yang sama yang dipakai di pernikahan kerajaan Inggris—didatangkan langsung dari Belanda pagi ini.
Alunan biola dan cello memainkan lagu Canon in D secara live.
Di ujung lorong bunga, Damian berdiri.
Dia mengenakan setelan jas linen warna beige (krem muda) yang santai namun sangat elegan, pas dengan suasana pantai. Rambutnya ditata rapi, wajahnya bersinar, meski tangannya sedikit berkeringat karena gugup.
Di sebelahnya, Pak Hadi (yang jadi saksi) tersenyum. "Tenang, Pak Bos. Jangan pingsan."
Musik berubah menjadi Turning Page.
Semua tamu berdiri.
Kara muncul di ujung lorong.
Gaun Elie Saab dari Paris itu berkilauan ditimpa cahaya matahari sore. Potongannya yang timeless memeluk tubuh Kara dengan sempurna, veil panjangnya terseret lembut di atas pasir. Dia tidak memegang buket bunga yang rumit, hanya seikat Calla Lily putih.
Di sampingnya, Pak Gunawan menggandeng lengan putrinya. Pria tua itu tampak gagah, tapi matanya basah.
Mereka berjalan pelan menuju altar.
"Pa," bisik Kara. "Jangan nangis dong. Nanti makeup Papa luntur."
Pak Gunawan tertawa kecil sambil menghapus air mata. "Papa bahagia, Ra. Akhirnya kamu ada di tangan laki-laki yang ngeliat kamu sebagai harta karun, bukan mesin ATM."
Mereka sampai di depan altar. Pak Gunawan menyerahkan tangan Kara kepada Damian.
"Damian Cakra," ucap Pak Gunawan tegas. "Saya serahkan putri satu-satunya, nyawa saya, dunia saya. Kalau kamu bikin dia nangis karena sakit hati, ingat... saya masih punya koleksi senapan berburu di gudang."
Damian tersenyum hormat, menjabat tangan Pak Gunawan erat. "Saya pastikan Bapak nggak perlu buka gudang itu, Pa. Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."
Pak Gunawan menepuk bahu Damian, lalu duduk.
Kini, hanya ada Kara dan Damian. Berhadapan. Dunia seolah berhenti berputar.
Pendeta/Penghulu memulai upacara. Hingga tibalah saat pengucapan janji.
Damian menatap mata Kara dalam-dalam. Angin laut mengacak rambutnya sedikit.
"Kara Anindita," suara Damian sedikit bergetar karena emosi.
"Saya, Damian Cakra, mengambil engkau menjadi istri saya. Dulu saya melihatmu sebagai saingan yang harus dikalahkan. Tapi ternyata, kamu adalah kepingan jiwa yang selama ini saya cari."
"Saya berjanji untuk menjadi partnermu dalam bisnis dan kehidupan. Menjadi pelindungmu saat badai datang, dan menjadi rumahmu saat kamu lelah. Saya berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. I love you, more than my logic can explain."
Air mata Kara menetes. Dia menarik napas, tersenyum.
"Damian Cakra," balas Kara.
"Saya, Kara Anindita, mengambil engkau menjadi suami saya. Terima kasih sudah menarik saya dari kegelapan dan membuat saya percaya lagi bahwa cinta itu ada."
"Saya berjanji untuk berdiri di sampingmu, setara dan seirama. Saya akan menjadi pendukung terbesarmu dan kritikus terujujurmu. Saya menerima masa lalumu, keluargamu, dan masa depan kita. I love you, my Cold CEO."
"Silakan pasangkan cincin."
Damian menyematkan cincin emas putih polos (karena cincin tunangannya sudah heboh) di jari manis Kara. Kara melakukan hal yang sama.
"Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai Suami dan Istri. Silakan cium pasangan Anda."
Damian tidak menunggu dua kali. Dia menarik pinggang Kara, menunduk, dan mencium bibir istrinya dengan lembut namun penuh gairah.
Suara tepuk tangan dan sorakan dari para sahabat memecah keheningan pantai. Kelopak bunga mawar putih dilemparkan ke udara.
Matahari terbenam sempurna di ufuk barat, melukis langit dengan warna ungu dan oranye, menjadi latar belakang siluet sepasang pengantin baru yang sedang berciuman.
"Selamat datang di keluarga kecil kita, Nyonya Cakra," bisik Damian di bibir Kara setelah melepaskan ciumannya.
"Mohon kerjasamanya, Tuan Cakra," balas Kara sambil tersenyum lebar.
Malam itu, di bawah langit berbintang Labuan Bajo, Kara Anindita resmi menutup buku masa lalunya yang kelam, dan membuka lembaran baru yang ditulis dengan tinta emas.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏