"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Kaisar
“No–nona…!”
Suara itu pecah di antara sunyi yang masih menggantung di ujung kesadarannya.
Bai Ruoxue baru saja membuka matanya ketika wajah Shuang Shuang yang sembap oleh tangis memenuhi pandangannya. Gadis itu berlutut di sisi pembaringan, kedua tangannya gemetar mencengkeram tepi selimut.
“Akhirnya… akhirnya Anda bangun…” Isaknya pecah, tak lagi bisa ditahan. Air matanya jatuh deras, membasahi punggung tangan Ruoxue.
Bai Ruoxue tidak langsung menjawab.
Tatapannya kosong beberapa detik, seolah jiwanya masih tertinggal di tempat lain. Ia menatap wajah Shuang Shuang… lalu perlahan mengalihkan pandangan ke atas.
Langit-langit istana menyambutnya—ukiran naga berlapis emas yang berkilau samar diterpa cahaya pagi. Tirai sutra tipis bergerak perlahan tertiup angin. Aroma obat-obatan dan dupa masih tersisa di udara.
Ia berkedip pelan.
Kilas balik itu… apa tadi?
Api.
Tamparan.
Sertifikat yang terbakar.
Suara ibunya.
Langit kekaisaran.
Dadanya mendadak terasa sesak. Begitu sesak hingga ia harus menarik napas lebih dalam, namun udara tetap terasa berat.
Apa itu hanya mimpi?
Atau… kenangan?
Kenangan yang terasa begitu nyata hingga ia bisa merasakan panas api di kulitnya, rasa perih di pipi, dan kehampaan yang menelan dadanya.
Ia memejamkan mata sebentar.
Sakit itu masih ada.
Luka itu terasa segar.
Seakan-akan tubuh ini benar-benar tubuh Bai Ruoxue yang mengalami semua itu—bukan sekadar melihatnya dari kejauhan.
Air matanya tiba-tiba mengalir tanpa peringatan.
Setetes.
Lalu setetes lagi.
Tanpa suara.
Tanpa isak.
Shuang Shuang terkejut. “Nona… saya kira Anda… Anda…”
Bai Ruoxue menoleh perlahan. Gerakannya tenang, terlalu tenang.
“Kenapa?” suaranya lirih, serak karena lama tak digunakan.
Shuang Shuang menunduk, bahunya bergetar. “Anda tidak sadarkan diri selama… empat belas hari.”
Ruangan terasa hening sesaat.
Empat belas hari?
Angka itu bergema di kepalanya.
Empat belas hari berarti dua minggu penuh. Dua minggu tubuhnya terbaring tak bergerak. Dua minggu orang-orang mungkin sudah membicarakan nasibnya. Dua minggu istana berputar tanpa kehadirannya.
“Saya kira… saya kira Anda tidak akan pernah bangun lagi…” Shuang Shuang terisak semakin keras.
Empat belas hari.
Ingatan itu datang seperti kilatan cahaya tajam.
Air dingin. Dorongan kasar. Tawa Mei Yuxin. Tubuhnya terhempas ke sungai.
Ia ingat dengan jelas rasa air yang masuk ke paru-parunya, dingin yang membekukan tulang, arus yang menyeret tubuhnya tanpa ampun. Ia ingat mencoba berenang, mencoba bertahan, mencoba menggenggam sesuatu—apa pun—untuk hidup.
Dan setelah itu… gelap.
Tangannya perlahan mengepal di atas selimut.
“Aku harus segera menemui Yang Mulia.”
Ia bangkit begitu saja, berusaha menegakkan tubuhnya.
“No–nona!” Shuang Shuang berteriak panik, cepat-cepat menopang bahunya. “Hati-hati! Anda bisa terjatuh!”
Bai Ruoxue mengerutkan kening. Tubuhnya memang terasa lebih ringan dari biasanya, sedikit lemas, tetapi tidak sampai tak mampu berdiri.
“Aku tidak selemah itu,” gumamnya pelan.
Namun Shuang Shuang tidak melepaskan tangannya. Gadis itu justru terlihat semakin gugup. Tatapannya ragu. Bibirnya bergerak, tapi tak ada kata yang keluar.
“No–nona…”
Bai Ruoxue menatapnya tajam. “Ada apa?”
Shuang Shuang terdiam cukup lama. Terlalu lama.
Udara di ruangan itu mendadak terasa berat.
“A–Anda…”
“Bicara.”
Gadis itu menelan ludah. Wajahnya memucat.
“Sedang… mengandung.”
Hening.
Dunia seakan berhenti berputar.
Kata-kata itu menggantung di udara seperti petir yang belum sempat menyambar—lalu menghantam tepat di atas kepalanya.
Mengandung?
Apa?
Bai Ruoxue merasa seolah lantai di bawah kakinya runtuh. Tubuhnya tidak bergerak, tapi pikirannya bergetar hebat.
Dirinya… mengandung?
Lebih tepatnya—
Bai Ruoxue mengandung?
“Ta–tapi…” Suaranya nyaris tak terdengar. “Yang Mulia…”
Shuang Shuang menunduk dalam-dalam, hampir tak berani menatapnya. “Yang Mulia tidak pernah menyentuh Anda.”
Kalimat itu seperti hantaman kedua. Lebih keras. Lebih menyakitkan. Ruangan itu terasa semakin sempit.
Jika Kaisar tidak pernah menyentuhnya… maka anak siapa ini?
Pertanyaan itu berputar liar di kepalanya.
Ia bukan gadis bodoh. Ia tahu bagaimana istana bekerja.
Fitnah adalah sarapan pagi di tempat ini. Senyum bisa menyembunyikan belati. Racun bisa larut dalam teh. Dan tuduhan bisa membunuh lebih cepat dari pedang.
Jika kabar ini tersebar—
Ia akan dicap perempuan tak tahu diri. Perempuan tak suci. Perempuan yang berani mengkhianati Kaisar.
Dan hukuman untuk itu…
Mati adalah yang paling ringan.
Napasnya menjadi berat.
Bai Ruoxue… bukankah kau gadis terpelajar?
Bukankah kau selalu berhati-hati?
Lalu dari mana anak ini?
Ia memaksa dirinya untuk tenang. Mengusir pikiran-pikiran yang bisa membuatnya bertindak gegabah.
Pikir.
Jangan panik.
Panik hanya akan membuatnya terlihat bersalah.
“Shuang Shuang.”
“I–iya, Nona?”
“Kau percaya padaku, bukan?”
Tanpa ragu sedikit pun Shuang Shuang mengangguk keras. “Tentu saja! Nona tidak mungkin melakukan hal seperti itu!”
Baik. Setidaknya ia masih punya satu orang di pihaknya. Bai Ruoxue menarik napas panjang.
Apakah ini kesalahan diagnosa? Ataukah ini permainan?
Mei Yuxin…
Nama itu melintas tajam di benaknya. Bukankah ia yang mendorongnya ke sungai. Bukankah ia yang paling ingin melihatnya hancur?
Jika ia ingin menjatuhkan Bai Ruoxue, maka tuduhan ini adalah cara paling efektif.
Seorang selir yang mengandung tanpa disentuh Kaisar. Skandal ini akan menjadi santapan lezat bagi seluruh harem.
Ia memejamkan mata sebentar, mencoba menyusun kemungkinan.
Diagnosis di istana… tidak selalu akurat. Mereka hanya mengandalkan denyut nadi dan perkiraan tabib. Tidak ada bukti yang benar-benar pasti.
Hah…
Andaikan ini zaman modern.
Ia hampir ingin tertawa getir memikirkannya.
Ia pasti sudah mengambil test pack. Melakukan USG. Menunjukkan hasilnya di depan semua orang dan berkata dengan tegas—lihat sendiri kebenarannya.
Tapi ini bukan dunia itu.
Ini dunia di mana kata-kata lebih kuat daripada bukti. Dan kebohongan yang diulang cukup lama bisa berubah menjadi kebenaran.
“Aku harus menyelidikinya,” gumamnya pelan.
Ia tidak boleh gegabah. Jika ia langsung menyangkal, mereka akan mengatakan ia panik. Jika ia diam, mereka akan menganggapnya mengaku. Langkahnya harus tepat.
Saat itu—
Ketukan terdengar di luar pintu.
Tiga kali.
Tegas.
Shuang Shuang menegang.
Suara seorang kasim terdengar dari balik pintu.
“Selir Xue, Anda dipanggil oleh Yang Mulia.”
Cepat sekali.
Bai Ruoxue menatap lurus ke depan. Sepertinya kabar ia bangun telah menyebar lebih cepat dari api yang melahap kertas kering.
Atau mungkin…
Mereka memang menunggu momen ini. Menunggu ia sadar. Menunggu ia berdiri. Agar bisa melihatnya jatuh dengan mata terbuka.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Bukan senyum bahagia. Bukan pula ketakutan. Melainkan garis tipis seseorang yang sadar dirinya sedang didorong ke tepi jurang—dan memilih berdiri tegak sebelum dijatuhkan.
“Baik,” ucapnya tenang.
Shuang Shuang menatapnya khawatir. “Nona…”
Bai Ruoxue mengangkat dagunya sedikit. Air mata tadi sudah mengering. Tatapannya kini jernih.
Jika ini jebakan—
Maka ia tidak akan masuk sebagai mangsa yang gemetar. Ia akan masuk sebagai seseorang yang siap membongkar permainan.
“Bantu aku berpakaian,” katanya pelan.
Karena di istana ini—
Kelemahan bukan untuk diperlihatkan.
Dan hari ini…
Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi