Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Retakan di Dalam Istana
Pagi datang tanpa matahari yang benar-benar hangat.
Kabut tipis menggantung di halaman istana, membuat menara batu terlihat seperti bayangan samar. Burung-burung tetap berkicau, pelayan tetap berjalan seperti biasa, namun di balik rutinitas itu, sesuatu telah berubah.
Arvella terbangun lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak menangis.
Ia hanya membuka mata, menatap kosong ke depan, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat. Detak jantungnya stabil, tetapi pikirannya bergerak cepat—terlalu cepat untuk ukuran bayi.
Ada yang bergeser.
Langkah-langkah di luar kamarnya berbeda. Terlalu ringan. Terlalu berhati-hati.
Liora masuk sambil membawa kain hangat, wajahnya tersenyum seperti biasa. Namun Arvella menangkap jeda kecil sebelum senyum itu muncul. Sangat singkat. Hampir tak terdeteksi.
Hampir.
“Putri kecil sudah bangun,” kata Liora lembut.
Arvella mengedipkan mata sekali.
Lalu dua kali.
Isyarat kecil yang tidak disadari siapa pun—kecuali Kael, yang berdiri di ambang pintu.
Tatapan mereka bertemu.
Kael langsung tahu.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya mendekat dan berdiri di sisi buaian, berpura-pura memperhatikan kain yang menutupi tubuh Arvella.
“Apakah malam tadi tenang?” tanyanya ringan.
Liora mengangguk. “Tenang. Tidak ada gangguan.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Arvella menggerakkan jarinya, pelan, lalu berhenti. Matanya menatap ke arah pintu kamar—lebih tepatnya, ke koridor panjang menuju sayap barat istana.
Seseorang baru saja lewat.
Dan orang itu bukan penjaga.
Ruang pertemuan kecil di sayap barat seharusnya kosong di jam seperti ini. Namun pagi itu, dua orang berdiri di dalamnya.
Salah satunya mengenakan jubah abu-abu pucat, wajah tertutup tudung. Yang lain—seorang pelayan senior—berdiri dengan tangan gemetar.
“Aku sudah bilang,” bisiknya. “Tempat itu tidak boleh dibuka.”
Suara dari balik tudung terdengar tenang. Terlalu tenang.
“Tidak dibuka. Hanya dilemahkan.”
Pelayan itu menelan ludah. “Bayi itu… bukan bayi biasa.”
“Justru itu masalahnya.”
Pelayan tersebut memejamkan mata. “Jika Kael tahu—”
“Kael tidak tahu,” potong suara itu. “Belum.”
Sebuah kantong kecil dilempar ke tangan si pelayan. Logam di dalamnya berdenting pelan.
“Ini yang terakhir. Setelah ini, kau tidak perlu terlibat lagi.”
Pelayan itu ragu.
Lalu mengangguk.
Di luar ruangan, bayangan kecil bergerak melewati celah pintu.
Dan bayangan itu tidak sendirian.
Arvella menguap kecil saat Kael menggendongnya menyusuri koridor. Dari luar, mereka tampak seperti pengawal dan bayi bangsawan biasa. Tidak ada yang mencurigakan.
Namun Arvella menghitung setiap langkah.
Tujuh orang.
Dua penjaga palsu.
Satu pelayan yang seharusnya tidak bertugas hari ini.
Kael berhenti mendadak.
“Kenapa penjaga di lorong ini diganti?” tanyanya datar.
Salah satu penjaga menegakkan tubuh. “Perintah dari kepala pengamanan, Tuan.”
Kael menatapnya lama.
Arvella menggerakkan tangannya, seolah ingin meraih udara.
Bukan dia. Yang lain.
Kael mengalihkan pandangannya ke penjaga di sisi kanan. Pria itu menghindari kontak mata. Terlambat setengah detik saat menjawab salam.
Cukup.
“Panggil kepala pengamanan,” kata Kael. “Sekarang.”
Penjaga itu terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Dan di detik ketiga—ia berbalik dan lari.
“Kejar!” teriak Kael.
Koridor langsung kacau. Langkah kaki menggema, pelayan berteriak kaget, penjaga lain menghunus senjata.
Arvella tetap tenang di pelukan Kael.
Matanya menyipit.
Pelarian itu tidak akan berhasil.
Penjaga palsu itu berhasil mencapai tangga spiral, tapi sebelum ia turun tiga anak tangga, sesuatu menghantam kakinya.
Bukan senjata.
Bukan sihir yang terlihat.
Namun tubuhnya terpelintir, seolah ditarik oleh tangan tak kasatmata. Ia jatuh keras, mengaduh kesakitan.
Kael tiba tepat saat itu.
Pedangnya menempel di leher pria tersebut.
“Siapa yang menyuruhmu,” tanya Kael dingin, “menyamar di istana ini.”
Pria itu tertawa terputus-putus. “Kau terlambat.”
Kael mengeraskan tekanan pedangnya.
Namun sebelum ia bisa berkata lebih jauh, pria itu menggigit sesuatu di mulutnya.
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Tubuhnya kejang.
Lalu diam.
Kael mengumpat pelan.
Arvella menatap mayat itu tanpa ekspresi.
Racun pengikat sumpah.
Teknik lama. Digunakan oleh kelompok yang tidak ingin jejaknya tertinggal.
Ini bukan aksi individu.
Ini jaringan.
Siang hari, istana berada dalam status siaga. Pemeriksaan dilakukan, pelayan diinterogasi, penjagaan digandakan. Namun hasilnya minim.
Satu penjaga palsu mati.
Satu pelayan menghilang.
Dan tidak ada bukti langsung yang bisa ditunjukkan ke siapa pun.
Di ruang pribadi, Kael berdiri di dekat jendela, tangan terkepal.
“Mereka bergerak lebih cepat dari yang kuduga,” katanya.
Liora duduk di dekat Arvella. “Apa yang mereka inginkan?”
Kael menatap bayi itu.
“Bukan kematiannya.”
Liora terdiam.
“Jika mereka ingin membunuhnya, mereka sudah mencoba sejak lama,” lanjut Kael. “Yang mereka inginkan adalah… reaksinya.”
Arvella menggerakkan kepalanya sedikit, seolah mengiyakan.
Kael menelan ludah. “Mereka ingin memastikan kekuatan dalam dirinya nyata.”
Liora memeluk dirinya sendiri. “Dan sekarang?”
“Sekarang mereka tahu.”
Arvella mengeluarkan suara kecil. Bukan tangisan—lebih seperti dengusan kesal. Matanya menatap Kael tajam, penuh makna.
Kalau begitu, berhenti sembunyi.
Kael tersenyum tipis, pahit.
“Kau benar,” gumamnya. “Kalau mereka menguji batas kita… maka kita juga akan mengubah permainan.”
Di luar, lonceng kecil istana berdentang—tanda pergantian penjagaan.
Namun bagi Arvella, itu terdengar seperti tanda lain.
Bahwa musuh tidak lagi berada di luar tembok.
Mereka sudah ada di dalam.
Dan mulai sekarang, setiap langkah akan menentukan siapa yang lebih dulu jatuh.