apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masalah yang sama
Malam itu, sebelum jam makan malam di mulai Cavin telah kembali ke rumah yang kini terasa sunyi.
Cavin melangkah melewati ambang pintu rumah orang tuanya dengan langkah yang sengaja diredam.
Biasanya, ia baru akan menampakkan batang hidungnya saat rembulan telah tinggi—sebuah trik klasik untuk menghindari interogasi tajam ayah dan ibunda mengenai tanggung jawabnya menjaga Thalia.
Namun malam ini berbeda; ada gejolak usil di dadanya, sebuah keinginan impulsif untuk mengusik ketenangan sang istri yang biasanya menggemaskan saat merajuk Cavin masih menyangkal perasaan nya dan tidak terima bila ada dari kawan nya yang memuji istri nya.
Cavin adalah pria dengan dualitas yang unik. Di balik sifat keras kepalanya, ia memegang teguh petuah Mama Hera: “Hormatilah orang yang lebih tua dari mu siapa pun itu” Itulah sebabnya, tutur katanya selalu sehalus dan begitu sopan sekali pun kepada para asisten rumah tangga.
"Den Cavin, makan malam sudah siap di meja," sapa Bi Ranti dengan suara rendah yang meneduhkan.
"Thalia sudah makan, Bi?" tanya Cavin, matanya mencari sosok sang istri di sudut ruang makan yang masih kosong.
Bi Ranti mendesah pelan, wajahnya menyiratkan kecemasan. "Belum, Den. Tadi sore, setelah Den Cavin pergi, ada teman kampusnya datang.
Tak lama setelah tamu itu pulang, Non Thalia menangis hebat. Sampai sekarang ia mengunci diri di kamar, udah bibi kasi tahu jam makan siang udah siap tapi non Thalia enggak menyentuh nasi barang sesuap pun."
Alis Cavin bertaut, ada desir protektif yang tiba-tiba bangkit. "Siapa temannya? Laki-laki?"
"Bukan, Den. Seorang perempuan."
"Baiklah, Bi. Tolong siapkan nampan untuk Thalia, biar saya yang membawanya ke atas. Saya sendiri sudah makan di luar tadi," ucap Cavin sebelum tungkainya menapaki anak tangga satu demi satu.
Pintu kamar terbuka dengan derit halus. Di sana, di atas sofa beludru yang bermandikan cahaya lampu temaram, Thalia tampak seperti sehelai daun yang layu. Ia melamun, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pekatnya malam.
"Mengapa tidak turun? makan malam udah siap bibi bilang kamu melewatkan makan siang" suara Cavin memecah keheningan.
Thalia hanya menoleh pelan.
Matanya sembap, menyisakan jejak duka yang kekanak-kanakan. "Kak..." lirihnya.
"Ada apa?" Cavin mendaratkan tubuhnya di samping istrinya, merasakan kehangatan yang menjalar di antara mereka, jika saja suasana hati istri nya tidak sesedih ini pasti ia akan protes akan panggil itu.
"Apa Kak Cavin pernah dulu kuliah?" Bukannya menjawab, Thalia justru melontarkan tanya yang tak terduga.
Cavin terkekeh tipis. "Pernah. Memangnya kenapa? Kau meragukan kecerdasanku?"yang di jawab gelengan kepala oleh Thalia.
"Apa Kakak pernah... dimarahi oleh dosen pembimbing?" suara Thalia nyaris tak terdengar, penuh dengan kecemasan.
Ingatan Cavin seketika terbang ke masa lalu. Bayangan wajah dosen yang memerah karena amarah mendadak muncul.
Ia ingat betul betapa konyolnya saat itu—makalah penelitiannya dijilid terbalik. Antara ingin marah, malu, dan kini merindukan masa-masa konyol itu, Cavin tersenyum simir.
"Apa Kakak pernah melakukan kecerobohan... misalnya, salah menjilid skripsi?" tanya Thalia lagi, seolah bisa membaca labirin pikiran suaminya.
Cavin tersentak, menoleh cepat. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Wajah Thalia mendadak cerah, seulas senyum mulai merekah di bibir pucatnya. "Maksudnya, Kakak juga pernah melakukan kesalahan sekonyol itu?"
"Eh? Tidak, siapa bilang!" Cavin segera memasang topeng angkuhnya, berusaha menjaga wibawa di depan sang istri.
"Huahhh... kupikir Kakak pernah mengalaminya," Thalia mendesah frustrasi, kembali menjatuhkan bahunya.
"Memangnya ada apa denganmu?" Cavin akhirnya menyerah pada rasa ingin tahunya.
"Makalahku... jilidnya terbalik. Seharusnya lembar demi lembar jika di buka maka , ke bab selanjutnya. Tapi milikku, jika dibuka, malah berjalan mundur ke bab sebelumnya. Aku sangat malu, Kak!"
Cavin menahan tawa agar tidak meledak. Bagaimana bisa istrinya mengalami hal yang serupa dengan nya
"Hanya karena itu kau mogok makan? Itu kan baru pengajuan awal, kamu masih bisa memperbaiki lebih dulu.
"Bukan begitu, aku masih harus mengejar ketertinggalan karena cuti kemarin," Thalia mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah, jangan biarkan kecerobohan itu memakan hatimu. Lihat ini," Cavin merogoh saku, mengeluarkan sebuah ponsel baru yang berkilau.
"Semua kenangan di ponselmu yang hilang sudah aku selamatkan melalui iCloud drive. Semuanya ada di sini."
Mata Thalia membelalak. Kegembiraannya meluap, menyapu bersih mendung di wajahnya. "Ini untukku, Kak?" Ia bahkan tak lagi peduli pada penjelasan teknis Cavin.
Ia asyik mengusap layar sentuh itu dengan binar pemujaan.
"Kak! Ini kan foto-foto yang ada di ponsel lama! Foto saat kita di taman itu juga ada! Kok bisa" seru Thalia girang.
Cavin hanya bisa menghela napas panjang. Padahal ia baru saja menjelaskan tentang sinkronisasi data, tapi istrinya ini memang lebih cepat bereaksi daripada mencerna kata-kata.
Ponsel lama Thalia memang sudah terlacak posisinya, namun Papa Ru berpesan untuk merelakannya ,menganggapnya sebagai sedekah bagi yang membutuhkan, sekaligus teguran agar Thalia lebih waspada di masa depan.
Bukan nya menormalisasi kejahatan hanya saja pak Ru tak ingin anak nya akan lepas kendali hingga merugikan diri sendiri.
"Apa Thalia boleh mengunduh permainan? Game?" tanya Thalia dengan nada merayu.
"Tidak boleh," potong Cavin cepat.
"Satu saja, Kak... janji tidak akan ada top-up atau belanja di dalam aplikasi."
Cavin membatin, Memangnya siapa yang mau membiayai hobi tidak berfaedah itu? Namun melihat wajah memohon Thalia, pertahanannya sedikit goyah.
"Coba saja kalau berani, maka ponsel itu akan kembali ke tanganku."
"Enggak mau!" Thalia segera mendekap ponsel barunya dengan erat, seolah itu adalah harta paling berharga di semesta.
"Sudah mandi?" tanya Cavin, beralih pada aroma keringat dan air mata yang masih tersisa di tubuh istrinya.
Thalia hanya menggeleng polos.
"Sana mandi. aku kira bau asem ini dari mana asalnya " goda cavin
" hah ! Maaf ya kak "
" kenapa memanggil kakak lagi hm, apa mau saya yang mandiin"
" enggak usah Thalia bisa kok " ujar Thalia malu sebab cavin bilang ia bau asem
"lalu segera makan."
Bi Ranti sudah menyiapkan hidangan di depan pintu."
Ketukan lembut terdengar di daun pintu, diikuti aroma masakan yang menggoda selera, seolah menandai bahwa malam yang penuh drama ini akhirnya ditutup dengan kehangatan yang sederhana.