NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. MIMPI BURUK

Serangan monster terhadap Akademi Sihir Oberyn meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam daripada sekadar reruntuhan bangunan.

Hari itu, langit di atas akademi tampak kelabu. Bukan karena awan hujan, melainkan karena asap yang masih tipis mengepul dari beberapa bagian bangunan yang rusak.

Di halaman utama akademi, beberapa menara kecil yang biasanya berdiri kokoh kini retak. Dinding batu di sisi barat hancur sebagian akibat serangan Troll yang sebelumnya mengamuk. Jejak cakaran dan luka bakar sihir masih terlihat jelas di tanah.

Namun yang paling menyedihkan adalah para murid yang terluka.

Gedung kesehatan akademi dipenuhi oleh murid-murid dengan luka perban di tubuh mereka. Ada yang tangannya terbalut kain sihir, ada yang terbaring karena kehabisan mana, bahkan beberapa harus dirawat karena luka serius akibat serangan monster.

Untungnya, tidak ada korban jiwa.

Namun tetap saja itu adalah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah akademi.

Karena itulah Akademi Oberyn diliburkan sementara.

Seluruh aktivitas pembelajaran dihentikan sampai keadaan benar-benar aman.

Para murid diminta tetap berada di asrama atau pulang ke rumah keluarga mereka jika memungkinkan.

Sementara itu di gedung pusat akademi, tepatnya di ruang rapat besar, para tokoh penting akademi berkumpul.

Ruangan itu luas dengan langit-langit tinggi dan jendela besar yang menghadap taman akademi. Namun hari ini suasananya jauh dari tenang.

Di sana duduk para profesor, guru senior, dan pejabat akademi.

Di ujung meja panjang duduk Kepala Akademi Oberyn, Magnus Alderion.

Pria tua dengan rambut putih panjang itu memiliki wajah tegas yang dipenuhi garis pengalaman. Matanya tajam seperti elang, seakan mampu melihat lebih dalam dari pada orang lain.

Di sisi kanan ruangan duduk Student Council.

Kelima anggota yang memimpin para murid akademi.

Yang pertama tentu saja Aaron Oberyn, Ketua Student Council. Rambut pirangnya tampak rapi seperti biasa, namun ekspresinya jauh lebih serius hari ini.

Di sampingnya duduk Lunaris Avard, peringkat dua Student Council dengan rambut perak panjang dan wajah dingin yang hampir selalu tanpa ekspresi.

Kemudian Edgar Maverick, pria tinggi dengan bahu lebar yang tampak lebih seperti kesatria daripada penyihir.

Di ujung lainnya ada Leonhart Draven, yang duduk santai sambil menyandarkan punggungnya.

Dan yang terakhir Selena Mortar, Student Council peringkat ke lima yang tubuhnya mungil.

Selena menyilangkan tangan dengan wajah yang jelas menunjukkan bahwa ia tidak menyukai situasi ini.

Di meja seberang mereka para profesor mulai berbicara.

Seorang guru tua berdiri lebih dulu. "Saya tidak mengerti. Bagaimana mungkin monster bisa masuk ke akademi? Akademi ini memiliki sihir perlindungan yang bahkan dapat menahan serangan pasukan besar."

Beberapa guru lain mengangguk setuju.

"Benar."

"Sihir pelindung akademi sudah aktif selama ratusan tahun. Dan selalu diperiksa setiap bulannya."

"Tidak mungkin monster bisa menembusnya begitu saja."

Suasana rapat mulai dipenuhi bisikan.

Namun salah satu profesor kemudian berdiri. Profesor itu menggeleng.

"Tidak ada yang salah dengan sihir perlindungan akademi. Pelindung itu masih aktif sampai sekarang. Karena aku salah satu yang mengurus soal pelindung akademi itu," kata profesor itu.

Ucapan itu membuat beberapa orang semakin bingung.

"Kalau begitu bagaimana para monster bisa masuk?"

"Apakah ada yang merusak sistem perlindungan?"

Namun sebelum diskusi itu semakin kacau sebuah suara berat terdengar dari sisi meja profesor.

"Itu bukan karena pelindungnya rusak."

Semua orang menoleh.

Yang berbicara adalah Profesor Garrick.

Pria paruh baya dengan tatapan mata tajam itu berdiri perlahan sambil bertumpu pada tongkat sihirnya.

Ia menatap semua orang di ruangan itu sebelum berkata pelan, "Para monster itu tidak menembus pelindung akademi. Mereka dipindahkan ke dalam akademi."

Beberapa orang mengernyit.

"Dipindahkan?"

Profesor Garrick mengangguk. "Melalui rune teleportasi."

Kalimat itu seperti petir di tengah ruangan.

Semua orang langsung berseru kaget.

"Rune teleportasi?!"

"Mustahil!"

"Teleportasi jarak jauh untuk makhluk sebesar dan sebanyak itu?!"

Bisikan dan suara terkejut memenuhi ruangan.

Seorang guru berdiri. "Tapi, bagaimana bisa? Untuk memindahkan monster sebanyak itu dari tempat yang jauh pastilah mana yang dibutuhkan pasti sangat besar."

Beberapa profesor juga terlihat serius.

Profesor Calestine berkata, "Ada kemungkinan, bahwa sihir itu bukan sihir biasa."

Semua orang menoleh padanya.

"Beberapa waktu terakhir ada rumor yang beredar. Bahwa penyihir hitam mulai bergerak kembali. Dan kemungkinan bisa jadi itu adalah mereka," lanjut Profesor Calestine.

Ruangan kembali hening.

Beberapa guru langsung berbisik cemas.

"Penyihir hitam?"

"Itu hanya rumor, bukan?"

Namun seorang profesor tua menggeleng. "Saya juga mendengar rumor yang sama. Beberapa desa di utara melaporkan hilangnya ternak dan munculnya simbol rune yang mencurigakan. Bahkan di sebuah desa menghilang seluruh warganya tanpa jejak dan ada sisa sihir hitam di sana. Keadaan masih diselidiki sampai saat ini."

Itu berarti masalah ini jauh lebih serius daripada sekadar serangan monster biasa.

Diskusi kembali memanas.

Para guru mulai berdebat.

Beberapa mengatakan ini hanya kebetulan.

Yang lain bersikeras bahwa ada pihak yang sengaja menyerang akademi.

Suara mereka saling bertabrakan di ruangan itu.

Sampai akhirnya sang kepala akademi, Magnus mengetuk meja dengan tongkatnya.

TOK!

Suara itu langsung membuat ruangan hening.

Kepala akademi itu menatap semua orang dengan tatapan tajam.

"Cukup." Suara Magnus tidak keras. Namun memiliki wibawa yang membuat semua orang langsung diam.

Magnus berdiri perlahan. "Masalah ini jelas bukan kebetulan. Akademi Oberyn tidak pernah diserang monster dalam skala seperti ini. Karena itu kita harus menganggap ini sebagai serangan yang disengaja."

Beberapa profesor mengangguk. Magnus kemudian memberi perintah.

"Profesor Garrick dan beberapa profesor lain akan menyelidiki lebih lanjut tentang rune teleportasi itu.Sementara yang lain fokus pada dua hal. Pertama, merawat para murid yang terluka. Dan kedua, memperbaiki kerusakan akademi. Akademi ini harus kembali berdiri seperti semula secepat mungkin."

Magnus menatap Student Council dan melanjutkan, "Student Council juga akan membantu menjaga keamanan selama masa libur akademi."

Aaron mengangguk tenang. "Baik, Profesor."

Magnus akhirnya berkata singkat. "Rapat selesai."

Kursi-kursi mulai bergeser.

Para profesor berdiri dan keluar ruangan sambil masih membicarakan kemungkinan yang terjadi.

Namun ekspresi mereka semua sama; khawatir.

Karena jika benar penyihir hitam kembali bergerak, dunia sihir akan kembali memasuki masa yang berbahaya.

Di sisi lain jauh dari keributan akademi ....

Di kediaman besar yang terletak di distrik bangsawan.

Kediaman Duke Arram Oberyn.

Di lantai dua rumah besar itu seorang gadis sedang tertidur di kamar yang luas.

Tirai jendela tertutup sebagian, membuat cahaya sore masuk dengan lembut ke dalam ruangan.

Di tempat tidur besar, Elara Ravens tertidur lelap.

Tubuhnya masih terasa lelah setelah pertempuran panjang melawan monster.

Energi sihirnya hampir habis.

Para penyembuh akademi sudah memeriksanya dan memastikan bahwa ia hanya mengalami kelelahan mana.

Namun tidur yang dalam itu ... perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Dalam mimpinya ...

Elara berdiri di sebuah tempat yang asing.

Langit berwarna merah.

Udara dipenuhi bau asap.

Ketika ia menoleh ke sekeliling, Elara menyadari bahwa ia berada di sebuah kota yang hancur.

Bangunan-bangunan runtuh.

Api membakar rumah-rumah.

Orang-orang berlari sambil berteriak panik.

Jeritan kesakitan menggema di seluruh jalan.

Elara menatap sekelilingnya dengan mata lebar.

"Apa ... ini?" ujarnya.

Gadis itu melangkah maju.

Tanah di bawah kakinya dipenuhi abu.

Dan tubuh manusia.

Beberapa tubuh bahkan hangus terbakar.

Jeritan seorang wanita terdengar di kejauhan.

"Tolooong!"

Namun suara itu tiba-tiba berhenti, disusul suara tebasan pedang.

Elara menoleh cepat.

Dan yang ia lihat membuat darahnya terasa membeku.

Di tengah jalan sekelompok orang berjubah hitam berdiri.

Wajah mereka tersembunyi di balik tudung.

Namun mereka memegang pedang dan tongkat sihir.

Dan mereka sedang membantai orang-orang.

Penduduk kota berlari mencoba melarikan diri. Namun satu per satu mereka jatuh.

Darah mengalir di jalan seperti sungai kecil.

Elara mundur selangkah.

"Apa yang mereka lakukan?"

Elara menoleh lagi dan tiba-tiba tubuhnya membeku dalam kehororan.

Di tanah berjejer beberapa kepala manusia.

Mata Elara melebar.

Karena ia mengenali wajah-wajah itu.

Aaron.

Duke Arram.

Leonhart.

Lunaris.

Selena.

Edgar.

Profesor Garrick.

Profesor Calestine.

Bahkan Kepala Akademi, Magnus Alderion.

Bahkan beberapa teman akademi Elara termasuk Evangeline.

Kepala mereka dipotong dan ditusukkan berjejer di ujung tombak.

Elara gemetar. "Tidak ..."

Salah satu pria berjubah hitam menoleh ke arah Elara. Mata merah menyala terlihat di balik tudungnya. Ia tersenyum dingin.

Dan tiba-tiba semua orang berjubah hitam menoleh ke arah Elara.

Seolah mereka baru menyadari keberadaan gadis itu.

Salah satu dari mereka mengangkat pedangnya.

Lalu menunjuk Elara dan berujar, "Dia di sana."

Suara mereka seperti bisikan iblis.

Elara mundur.

Namun kakinya terasa tidak bisa bergerak.

Api kota berkobar lebih besar.

Jeritan semakin keras.

Dan kepala-kepala yang tertusuk tombak itu seakan menatap Elara.

Tiba-tiba salah satu kepala membuka mata.

Itu adalah Aaron..Dan darah mengalir dari matanya.

"Elara ... lari ...." Suara itu seperti bisikan dari neraka.

Elara menjerit.

"AAAA!"

Ia langsung terbangun. Tubuhnya duduk tegak di tempat tidur.

Napasnya terengah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Matanya gemetar dalam ketakutan dan air mata.

Jantungnya berdetak sangat keras.

Beberapa detik ia hanya duduk di sana, berusaha memahami apakah yang ia lihat tadi sungguh hanya mimpi.

Namun perasaan takut itu terasa terlalu nyata.

Terlalu nyata.

Sampai Elara menoleh ketika seseorang menggenggam tangan Elara.

Aaron.

1
mimief
eh...Abang Alon main cium" aja
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
Miss Typo
main nyium aja tuh Aaron pinter bgt cari kesempatan 😁
Jelita S
Aron kesempatan dalam kesempitan lo🤣🤣🤣🤣
Jelita S
sama dong akan merindukan Lala kecil😍😍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐡 𝐜𝐢𝐮𝐦𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐩𝐢𝐩𝐢 𝐛𝐤𝐧 𝐛𝐚𝐤𝐩𝐚𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣

𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
Miss Typo
saat dah berubah dewasa lagi, Lala inget gak ya? pasti malu kalau inget semua 😁
Archiemorarty: bisa diliat di bab update jam 5 ini 🤣
total 1 replies
mimief
yah begitulah...ketika kita masih kecil semua akan terasa menyenangkan,ga ada beban dan hidup mengalir begitu aja.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
Archiemorarty: Bener banget ini...😭
total 3 replies
Ir
kek nya penyihir hitam emang udah ngincer elara deh, karena pasti mereka punya ramalan masa depan bahwa akan ada anak perempuan yang membinasakan para penyihir hitam, nah makanya dia tau elara di Akademi Oberyn jadi mereka ngawasin terus monster itu cuma pancingan aja, mimpi elara pun cuma manipulasi biar elara gagal fokus mempelajari sihir nya
Archiemorarty: noooo
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
lala 😘😘😘
Selinah Albaid
setiap novel yang d tulis oleh Thor ini membuat kan kita ternanti2 bab demi bab dengan hati yang berdebar 2 n semangat..pokoknya the best
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak
total 1 replies
Anisa Muliana
thor,,aku baca sambil bayangin lucu bnget smpek ketawa" 🤣 gemes banget😬
Archiemorarty: Asli bocil paling hyper aktif perempuan tuh gemes banget 🤭
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Archiemorarty: otw 🤭
total 1 replies
mimief
kirain... keluarganya miara naga buat mainan
panik donk😜🤣🤣
mimief: lah iya🤣🤣🤣...
penyihir si penyihir ya
tapi ga Ampe miara naga juga 😜🤣
total 2 replies
Miss Typo
Elara yg cadel menggemaskan sekali 😍
Miss Typo: Aamiin 🤲
terimakasih 🙏🥰
total 9 replies
tqotqo
bagus banget ceritanya kayak ngehipnotis baca teruss
Archiemorarty: Wahh... terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
tqotqo
semangat Thor, aku juga kegemesan bacanya🤭
Archiemorarty: Gx kuat othor juga sama kegemasan Elara 😭
total 1 replies
Jelita S
jdi ingat mereka waktu kecil ( Rowan,epan,Lala dan Alon) 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Kan kan ... tengil banget mereka itu 🤣
total 1 replies
Jelita S
lucu banget Elara balik jdi bayik lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Banget 😭
total 1 replies
Jelita S
uh terharu
mimief
imutnya si ok...
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜
mimief: heran ya..
mestinya dimana mana kaleman perempuan yaaa😜
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!