NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Raya duduk diam di dalam mobil, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Udara di dalam terasa hangat, kontras dengan hujan yang mengguyur deras di luar sana. Tangannya masih gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena kebingungan yang kini berkecamuk di pikirannya.

"Kau bercanda, kan?" Suaranya tajam, matanya menatap Arya penuh curiga. "Kenapa aku harus menerima tawaran aneh ini? Aku bahkan tidak mengenalmu!"

Arya hanya tersenyum tipis, tangannya yang bersarung kulit bertumpu pada lututnya. "Kau benar. Kita tidak saling mengenal." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap langsung ke mata Raya. "Tapi kenyataannya, kau juga tidak punya tempat untuk kembali."

Raya terdiam.

"Kau mau ke mana sekarang? Dengan perut sebesar itu, dalam keadaan hujan deras, sendirian?" Arya melirik koper kecil yang masih menggantung di tangan Raya. "Katakan padaku, berapa lama kau bisa bertahan di luar sana tanpa bantuan?"

Raya menggigit bibirnya, marah karena pria ini benar. Tapi harga dirinya tak membiarkannya menyerah begitu saja.

"Aku lebih baik mencari jalan sendiri." Suaranya terdengar mantap, meski di dalam hati ia mulai goyah.

Arya menatapnya lama, lalu menghela napas pelan. "Baiklah." Ia mengetuk dashboard mobil dengan jemarinya, memberi isyarat pada sopirnya untuk menghentikan mobil.

Raya memandangnya bingung. "Apa yang kau lakukan?"

"Jika kau tidak ingin menerima bantuanku, maka kau harus turun."

Raya terbelalak. "Hei, kau mau mengusirku sekarang?!"

"Aku hanya memberimu pilihan, Raya." Arya menatapnya santai. "Aku tidak memaksa. Tapi jika kau benar-benar ingin bertahan sendirian, silakan turun."

Mobil berhenti. Hujan masih deras. Raya menatap pintu mobil yang kini terbuka. Tangannya mencengkeram erat ujung dress-nya. Sekali lagi, ia merasakan tendangan kecil di perutnya.

Anaknya...

Jika ia terus bersikeras, maka anaknya juga yang akan menderita.

"Tunggu!" Suaranya meluncur lebih cepat daripada pikirannya.

Arya tersenyum kecil. "Sudah berubah pikiran?"

Raya menarik napas dalam, lalu mengangguk dengan enggan. "Aku tidak punya pilihan lain, bukan?"

Arya menutup kembali pintu mobil. "Baik. Sekarang, kita bisa bicara lebih tenang."

Mobil melaju melewati kota yang mulai sunyi. Di dalam, Raya duduk tegak, masih penuh kewaspadaan.

Arya menatapnya dari sudut matanya sebelum bertanya, "Jadi, kau ingin tahu lebih banyak tentang perjanjian ini, atau kau mau menebaknya sendiri?"

Raya menatapnya tajam. "Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?"

Arya tersenyum tipis, lalu menyesap minuman kaleng yang entah dari mana munculnya. "Aku butuh istri."

Raya hampir tersedak ludahnya sendiri. "Apa?!"

Arya meneguk minumannya dengan santai. "Tenang. Ini bukan pernikahan karena cinta."

"Jadi apa?"

"Bisnis." Arya menatapnya serius. "Orang tuaku menginginkan cucu, tapi aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Kau, di sisi lain, membutuhkan tempat berlindung dan masa depan yang lebih baik untuk anakmu. Aku menawarkan solusi."

Raya mencengkram dress basahnya lebih erat.

Tawaran ini terdengar gila. "Kenapa aku? Kenapa bukan wanita lain?"

"Karena kau berbeda."

Raya terdiam. Ia tak tahu apakah harus merasa tersanjung atau malah semakin curiga.

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di sebuah vila besar di pinggiran kota. Bukan rumah utama Arya, tapi tempat yang cukup nyaman.

"Kau akan tinggal di sini dulu sebelum aku memperkenalkanmu pada keluargaku." Arya membuka pintu mobil dan berjalan santai ke depan pintu vila.

Raya turun, memperhatikan bangunan itu dengan hati-hati. "Kenapa tidak langsung bertemu orang tuamu?"

Arya menyeringai. "Kau pikir aku akan membawamu ke sana tanpa memastikan kau cukup kuat?"

Raya mengernyit. "Apa maksudmu?"

Arya berbalik, menatapnya dengan ekspresi penuh misteri. "Anggap saja ini ujian. Aku tidak mau membawa wanita lemah ke keluargaku."

Raya mengangkat dagunya. "Aku bukan wanita lemah."

Arya tertawa kecil, lalu dengan santainya membuka kemeja jasnya dan menepuk tempat di sebelahnya di tangga depan vila. "Baiklah, buktikan."

Raya mengerutkan kening. "Apa yang kau lakukan?"

"Aku mau tidur di luar." Arya menyandarkan kepalanya ke tembok, memejamkan mata.

Raya menganga. "Kau bercanda?!"

Arya mengangkat satu mata, menyeringai. "Aku mau lihat apakah kau akan tega membiarkanku kedinginan di luar."

Raya menghela napas panjang, lalu akhirnya berjalan masuk ke dalam vila. Namun, setelah beberapa menit, ia keluar lagi dengan selimut tebal dan melemparkannya ke kepala Arya.

"Tidurlah di dalam. Kau lebih berguna jika tidak jatuh sakit."

Arya menyingkirkan selimut dari wajahnya dan tertawa kecil. "Bagus. Setidaknya kau punya hati."

Raya mendecak, lalu masuk kembali tanpa menoleh.

Arya menatap pintu vila yang tertutup, senyumnya bertambah lebar.

"Sepertinya ini akan lebih menyenangkan dari yang kuduga."

Keesokan paginya, Arya kembali ke rumah keluarganya. Ia masuk dengan langkah santai, sementara kedua orang tuanya sudah menunggunya di meja makan dengan ekspresi cemberut.

"Kau belum memperkenalkan kami pada calon istrimu," tegur ayahnya dengan nada dingin.

Arya duduk dan mengambil secangkir kopi.

"Aku tahu kalian ingin tahu. Tapi bagaimana kalau wanita yang kupilih berasal dari kalangan biasa, tetapi berhati malaikat?"

Ibunya, yang sedang menyeruput teh, langsung meletakkan cangkirnya. "Itu bukan masalah. Nenekmu dulu juga berasal dari keluarga biasa, tapi dia memiliki hati emas."

Arya mengangkat bahu. "Bagus kalau begitu." Ia menyesap kopinya dengan tenang.

"Tunggu." Ayahnya menyipitkan mata. "Kau serius sudah punya calon istri?"

Arya menatap mereka, lalu dengan santai berkata, "Sebenarnya, aku sudah punya pacar."

Ibunya hampir menjatuhkan sendoknya. Ayahnya bahkan mendadak terbatuk. "APA?!"

Arya tetap tenang, bahkan menambahkan, "Dan dia sedang hamil."

Kali ini, ibunya benar-benar tersedak tehnya. "KAU BILANG APA?!"

Arya menahan tawa melihat reaksi berlebihan mereka. "Kalian ingin cucu, bukan? Aku hanya mempercepat prosesnya."

Ibunya mengusap dadanya sambil menatap putranya dengan wajah campuran syok dan bingung. Ayahnya menatapnya tajam. "Arya... Kau tidak sedang bercanda, kan?"

Arya tersenyum penuh misteri. "Menurut Ayah?"

Tanpa banyak bicara, Bu Atika Mamanya berdiri dengan cepat dan menjewer telinga Arya.

"Beraninya kau membuat anak orang hamil sebelum menikah! Astaga, anak ini!"

Arya meringis sambil berusaha melepaskan diri. "Ibu! Sakit! Aku belum selesai bicara!"

Pak Harun menghela napas panjang, lalu menatap putranya dengan tajam. "Kau sadar ini bisa jadi skandal? Jika orang-orang tahu putra tunggal keluarga kita telah menghamili seorang wanita sebelum menikah, reputasi keluarga kita akan rusak!"

Arya mengangkat tangan seolah menyerah. "Karena itulah aku berencana menikahinya."

Pak Harun dan Bu Atika saling berpandangan.

"Kapan?" tanya ayahnya tegas.

"Setelah dia melahirkan cucu kalian."

Bu Atika menepuk dahinya dengan frustasi.

"Kenapa tidak sekarang?!"

Arya menghela napas. "Ya tidak bisa Bu, kita tidak bisa menikahi wanita yang sedang hamil."

Pak Harun mengetuk meja dengan jarinya. "Baik kalau begitu. Bawa dia ke rumah sesegera mungkin.

Kami ingin bertemu dengannya."

Arya tersenyum kecil. "Tentu. Aku akan menjemputnya. Tapi ada satu syarat."

Pak Harun dan Bu Atika menatapnya curiga.

"Syarat apa?"

"Kalian tidak boleh menentukan jenis kelamin anaknya. Baik laki-laki atau perempuan, kalian harus menerimanya."

Kedua orang tuanya saling bertatapan, lalu tersenyum lebar. Bu Atika berkata, "Tentu saja! Bagi kami, yang penting ada keturunan."

Pak Harun mengangguk mantap. "Yang penting adalah darah keluarga ini berlanjut."

Arya menyeringai kecil. "Bagus. Kalau begitu, aku akan segera membawanya."

Tatapan matanya penuh arti, seolah menyimpan rencana lain yang masih tersembunyi.

Saat Arya pergi, Bu Atika dan Pak Harun tersenyum bahagia. "Akhirnya, kita akan punya cucu!" seru Bu Atika girang.

Pak Harun mengangguk dengan penuh kebanggaan. "Sudah lama aku menantikan momen ini."

Bu Atika tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Mas Harun, kita harus menyiapkan kamar khusus untuk calon menantu dan cucu kita!"

Pak Harun mengangguk. "Kau benar. Kita harus membuatnya nyaman di sini. Bagaimanapun, dia akan menjadi bagian dari keluarga ini."

Tanpa membuang waktu, mereka berdua langsung bersiap untuk berbelanja keperluan kamar calon menantu mereka. Bu Atika bahkan sudah membayangkan seperti apa dekorasi kamar yang akan dibuatnya.

"Kita harus membeli ranjang yang nyaman untuknya. Juga beberapa set baju yang layak." katanya penuh semangat.

Pak Harun tersenyum melihat antusiasme istrinya. "Jangan lupa juga perlengkapan bayi. Kita harus memastikan semuanya siap sebelum dia datang."

Dengan penuh kegembiraan, mereka pergi ke pusat perbelanjaan. Bu Atika memilih baju-baju dengan sangat teliti. Setiap kali ia melihat pakaian bayi yang lucu, matanya berbinar-binar.

"Lihat ini, Mas! Bajunya begitu mungil dan lucu!" serunya sambil memegang setelan bayi berwarna lembut.

Pak Harun tertawa kecil. "Kau lebih bersemangat dari Arya sendiri."

Bu Atika mendelik. "Tentu saja! Ini cucu pertama kita! Kau pikir aku tidak akan antusias?"

Pak Harun mengangkat tangan tanda menyerah.

"Baiklah, baiklah. Kita beli semuanya yang kau mau."

Setelah berjam-jam berbelanja, mereka pulang dengan mobil yang hampir penuh dengan barang-barang kebutuhan calon menantu dan cucu mereka. Namun, di balik kebahagiaan itu, Bu Atika masih merasa penasaran.

"Kira-kira seperti apa wanita yang dipilih Arya? Apakah dia benar-benar memiliki hati malaikat seperti yang dikatakan Arya?"

Pak Harun mengangguk. "Kita akan segera mengetahuinya. Tapi kalau memang Arya sampai bersedia menikahinya, pasti dia bukan wanita sembarangan."

Bu Atika menghela napas panjang. "Aku harap dia benar-benar bisa menjadi bagian dari keluarga kita."

Mereka berdua lalu menatap kamar yang telah mereka siapkan dengan penuh harapan. Mereka berharap wanita yang di pilih oleh Arya adalah wanita yang akan mengubah hidup anak mereka menjadi lebih baik lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!