NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Tidak Semua Perjuangan Harus Sendiri

Pagi di Jakarta tidak pernah pelan.

Alarm berbunyi pukul lima. Alya sudah bangun sebelum itu.

Laptop terbuka di meja makan. Slide presentasi terpampang, penuh revisi merah yang ia kerjakan hampir tanpa sadar semalaman. Cangkir kopi kosong berdiri seperti saksi.

Dari kamar tamu, Arka keluar dengan rambut masih sedikit berantakan.

“Kamu nggak tidur?” tanyanya, suaranya rendah tapi penuh perhatian.

“Tidur,” jawab Alya cepat.

Arka melirik jam di microwave. “Dua jam bukan tidur.”

Alya hendak membalas, tapi memilih diam. Ia terlalu tegang untuk berdebat.

Arka mendekat, melihat layar laptopnya. “Ini yang direvisi?”

Alya mengangguk. “Kliennya perfeksionis. Kalau pagi ini gagal, bisa-bisa kontraknya lepas.”

“Dan itu besar ya?”

“Sangat.”

Hening sejenak.

Arka menarik kursi dan duduk di sampingnya. “Coba jelasin ke aku.”

Alya mengernyit. “Apa?”

“Konsepnya. Jelasin kayak aku kliennya.”

“Aku nggak punya waktu buat simulasi, Ka.”

“Justru kamu butuh.”

Nada suaranya tidak memaksa. Tapi yakin.

Alya menghela napas, lalu mulai menjelaskan. Awalnya cepat dan kaku. Lalu pelan-pelan mengalir. Arka sesekali mengangkat alis, pura-pura kritis.

“Kalau aku kliennya,” katanya setelah beberapa menit, “aku bakal tanya kenapa kamu yakin ini solusi paling efektif.”

Alya terdiam.

Ia memang belum menekankan bagian itu.

Arka tersenyum kecil. “Kamu terlalu fokus sama data sampai lupa jual ceritanya.”

Kalimat itu membuat sesuatu menyala di kepala Alya.

Ia cepat menambahkan satu slide baru.

“Begitu?” tanyanya.

“Lebih kamu banget.”

Alya menatapnya.

Di tengah tekanan ini, Arka tidak merasa tersaingi. Tidak juga merasa ditinggal. Ia justru duduk di sana, membantu tanpa diminta.

“Meeting kamu jam berapa?” tanya Alya pelan.

“Jam sepuluh.”

“Presentasiku jam sembilan.”

Arka berdiri, meraih kunci mobilnya. “Aku anter.”

“Kamu nanti telat.”

“Kalau kamu sukses, itu lebih penting.”

Alya terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus membuktikan diri sendirian.

Ruang rapat terasa dingin.

Klien duduk di seberang meja panjang, wajah mereka sulit ditebak. Proyektor menyala. Lampu sedikit redup.

Alya berdiri di depan.

Di kursi belakang, Arka duduk tenang. Bukan sebagai siapa-siapa. Hanya sebagai pendamping.

Presentasi dimulai.

Slide demi slide berjalan.

Ada pertanyaan tajam. Ada kritik. Ada jeda-jeda yang membuat jantung Alya berdetak keras.

Tapi kali ini, ia tidak goyah.

Karena setiap kali ia menoleh sekilas, Arka ada di sana.

Tidak menyela.

Tidak mendominasi.

Hanya mengangguk kecil seolah berkata, lanjutkan.

Ketika presentasi selesai, ruangan hening beberapa detik.

Lalu salah satu klien berkata, “Revisi ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.”

Napas Alya tertahan.

“Kita lanjut.”

Tiga kata.

Tapi cukup membuat bahunya yang tegang akhirnya turun.

Begitu keluar ruangan, Alya hampir tidak percaya dirinya sendiri.

“Aku lolos,” bisiknya.

Arka tersenyum lebar. “Aku tahu.”

“Kamu sok tahu.”

“Enggak. Aku cuma tahu kamu.”

Dan tanpa sadar, Alya memeluknya di lorong kantor yang ramai.

Tidak peduli orang melihat.

Tidak peduli rekan kerja berbisik.

Ia hanya tahu satu hal—

Ia ingin orang ini ada di hidupnya.

Namun kebahagiaan jarang datang tanpa ujian kecil.

Sore itu, setelah meeting Arka juga berjalan lancar, mereka duduk di kafe dekat apartemen.

“Klienku mau proyek jalan cepat,” kata Arka. “Kemungkinan aku harus bolak-balik Jakarta beberapa bulan ke depan.”

Alya membeku sesaat.

“Beberapa bulan?”

“Iya. Minimal tiga.”

Hening.

Itu bukan kabar buruk.

Tapi juga bukan kabar sederhana.

“Artinya kamu bakal sering di sini,” kata Alya pelan.

“Iya.”

“Apartemenku kecil.”

Arka tersenyum miring. “Aku bisa sewa tempat sendiri.”

Kalimat itu terdengar logis.

Tapi entah kenapa, ada rasa tidak nyaman yang muncul.

“Kamu nggak mau sekalian pindah?” tanya Alya tanpa berpikir panjang.

Arka terdiam.

“Ke Jakarta?” tanyanya pelan.

Alya baru sadar apa yang ia ucapkan.

“Aku cuma… maksudnya kalau proyeknya makin besar…”

“Lya.”

Nada suara Arka berubah. Bukan marah. Tapi hati-hati.

“Aku mau dekat sama kamu. Tapi aku juga bangun sesuatu di kota kita.”

Alya menunduk.

Ia tidak bermaksud memaksa.

Tapi ketakutan lama muncul lagi.

Takut harus memilih.

Takut salah satu mengalah terlalu jauh.

“Aku nggak mau kamu ninggalin semuanya cuma buat aku,” katanya pelan.

“Dan aku nggak mau kamu mikir aku harus.”

Hening turun lagi di antara mereka.

Namun kali ini, bukan hening yang mengancam.

Lebih seperti ruang untuk berpikir.

Arka meraih tangan Alya di atas meja.

“Dengar,” katanya lembut, “kita nggak lagi tujuh belas tahun. Kita punya mimpi masing-masing. Tapi itu bukan berarti kita nggak bisa jalan bareng.”

Alya menatapnya.

“Caranya gimana?” tanyanya jujur.

“Kita kompromi. Aku bolak-balik dulu. Kamu lihat situasi Ibu kamu. Kita evaluasi. Nggak usah ambil keputusan besar karena panik.”

Logis.

Tenang.

Dewasa.

Dan itu justru membuat Alya merasa lebih aman.

Ia mengangguk pelan.

“Maaf tadi kayak maksa,” katanya.

Arka tersenyum. “Kamu cuma takut.”

Alya menghela napas. “Iya.”

Arka menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku juga. Tapi kali ini kita takut bareng.”

Kalimat itu membuat Alya tersenyum kecil.

Takut bareng.

Bukan saling meninggalkan.

Malam itu, ketika mereka kembali ke apartemen, tidak ada drama.

Hanya dua orang yang duduk berdampingan di balkon.

Lampu kota masih sama seperti kemarin.

Tapi rasanya berbeda.

Karena sekarang, Alya tahu—

Cinta mereka tidak lagi soal mengejar atau ditinggalkan.

Tapi tentang belajar menyesuaikan langkah.

Namun di tengah ketenangan itu, satu pertanyaan masih tersisa, lebih realistis dari sebelumnya—

Sampai kapan mereka bisa terus berkompromi sebelum salah satu merasa terlalu lelah?

Dan ketika saat itu datang…

Akankah mereka tetap memilih bertahan?

Atau kembali mengulang sejarah?

di mana cinta yang buta perlahan membuat sejarah yanga baru tetapi itulah kehidupan. bung feri irwandi perna berkata "tidak ada sesuatu yang terbentuk tanpa terbentur"

kelas kingggg

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!