Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbal ke-100
"Hei, jaga bicaramu!!!" celetuk suara nyaring dari arah lain.
Sura menoleh mencari dari mana asalnya, dikejutkan oleh dua ekor kalong yang tiba-tiba hinggap di bahunya.
"Raja itu sangat menakutkan, cepat minta maaf!" mereka berbisik.
"Wah, imutnya...apa kalian punya nama?" Sura nampak sumringah terpukau oleh wujud siluman seukuran telapak tangannya.
"Tentu saja, punya! Aku Kele," menyahuti sambil menunjuk ke arah lain. "Aku Lawar,"
"Kami ditugaskan untuk mengawasimu."
"Unik sekali, jadi begitu? Selama ini hewan kelelawar diambil dari nama siluman?"
"Apa yang dia ocehkan?"
"Berani-beraninya mengabaikanku?!" Raja menggertakkan gigi, memandangi manusia yang sibuk berceloteh riang tanpa memperdulikannya.
"HEI, MANUSIA BODOH!"
Siluman kalong terjingkat terbang, melihat dari kejauhan. Dibuat takut oleh aura gelap yang Raja pancarkan,
"Tamat sudah! Manusia itu membuat Raja marah."
Raja bangkit menuruni tangga, berdiri tepat di hadapan Sura.
GLEK! Sura tersenyum sepat, saat tangan penuh cakar menarik rantai yang mengalung di lehernya.
"Hentikan sandiwaramu. Belum pernah ada manusia yang berani melihatku sedekat ini," Raja menyeret,
Membawa tubuh pria itu semakin mendekat, hingga bertatap wajah.
"Hng..." Raja mengerang,
Nafas beratnya menghembus rambut Sura, namun raut Sura tetap tak bergeming.
"Bersujud lah padaku, kalau kamu mau mati dengan tenang. Memohon lah!"
"Eh!?" Sura tercengang, merasakan sentuhan tangan yang menangkup dagunya.
"Tanganmu empuk sekali..." menggosokkan pipi dengan manja,
"Hahh...?" Ucapannya mengejutkan siluman kalong yang masih mengawasi dari belakang.
Tentu juga mengagetkan raja, di saat seperti ini bisa-bisanya dia bersikap santai?
"KHRRR!"
Sura tersentak mendengar auman Raja. "Sudah kubilang, jangan keseringan marah...nanti kamu sulit mendapat suami."
"Hentikan ocehanmu. Aku bukan perempuan dan aku tidak membutuhkan suami."
"Oh ya? Jadi kamu ini beneran singa jantan?" Sura mengangkat alis, reflek menunduk berusaha mengintip bagian tubuh bawah yang tertutup bulu.
Mungkinkah buku kuno itu menuliskan fakta? Atau sengaja ditulis tanpa riset mendalam? Penulisnya tidak mengetahui perbedaan fisik diantara singa jantan dan betina.
"Jangan samakan aku dengan hewan rendahan yang ada di luar." ucap Raja merasa tersinggung,
"Ah, aku tidak bermaksud---maaf."
"Dia benar. Mungkin saja fisik siluman singa memang seperti ini," batin Sura justru meragukan pengetahuan yang selama ini dimiliki.
"Apa kamu tidak takut mati?"
"Tentu saja takut. Tapi aku sudah pernah merasakan neraka sejak datang kesini," menyahuti dalam benak.
"Aku masuk ke dalam tubuh seorang budak. Aku bisa melihat semua ingatan tubuh ini, setiap hari dia dipaksa menjadi pemuas nafsu dan melayani banyak orang setiap harinya. Entah itu wanita ataupun pria..."
"Berulang kali pemilik tubuh ini memohon pengampunan bahkan mencoba bunuh diri agar terlepas dari tugasnya."
"Huft...untung saja aku berhasil keluar, walau harus dijadikan tumbal." Sura melirik pada tulisan aneh yang muncul di atas kepala Raja.
Waktu berpindah, pemilik asli tengah bercinta dengan wanita bangsawan. Karena itulah Sura mendapat kekuatan bernama kalkulator cinta,
Kekuatan ini membantu Sura melihat seberapa besar kebencian dan rasa cinta lawan kepadanya.
"Tidak seperti siluman lain, rasa bencinya kepadaku cuma 1%. Bahkan rasa sukanya tiba-tiba naik menjadi 3%, sepertinya aku tidak perlu khawatir,"
"Mungkin aku bisa membujuknya agar diizinkan tinggal. Siapa tahu, aku bisa bertemu cewek cantik." menyeringai,
"Diluar aku sudah tidak punya rumah ataupun keluarga." ucap Sura merendahkan suara.
"Walau berhasil kabur, aku tetap tidak punya rumah. Tak ada siapapun yang menunggu kepulanganku,"
"Jadi biarlah...biarkan aku mati sebagai tumbal." ucap Sura memelas mengharapkan rasa iba.
Raja terdiam mendengar pengakuan manusia yang telah pasrah menerima nasibnya. Siapa sangka cara ini berhasil?
Angka di atas langsung berubah, menurunkan rasa benci Raja menjadi 0%.
"Siapa namamu?"
"Sura." sahutnya pelan, disusul senyuman puas setelah Raja melepaskan cengkraman.
"Kalau kamu? Siapa namamu?"
"Aku tidak punya nama." menyahuti singkat, Raja berbalik kembali menduduki singgasana.
"Aku juga tidak butuh nama, karena aku dikenal sebagai penerus dan keturunan darah dari mendiang raja sebelumnya."
"O-oh, jadi begitu? Haha..." Sura mengangguk pelan, meski kesulitan memahami maksud ucapan tadi.
"Tapi bukankah siluman lain punya nama panggilan? Menurutku lebih enak kalau Raja punya nam-"
"Hng?!" Raja mengernyit tampak kesal.
"Biar kulihat, sampai kapan kamu bisa bersikap sok berani."
"Ritualnya digelar saat malam 1 suro. Biasanya para tumbal akan dikurung, tapi akan kubuat aturan berbeda untukmu---sampai ritual tiba, kamu bisa tinggal di dalam istana."
Setelah mengalami perang panjang Raja siluman akhirnya menyetujui perjanjian damai, namun setiap tahun bangsa manusia wajib memberikan 1 tumbal sebagai ritual penyucian yang dilaksanakan sang raja.
Sembari menunggu persiapan ritual tentu korban tersebut akan dipasung dalam ruang gelap yang disediakan bangsa siluman.
Namun siapa sangka? kalau Sura, korban yang ke-100 bisa mengubah aturan ini.
"Patih! Apa patih Anubis ada di dalam?" pekik siluman serigala dengan tubuh renta,
Berbekal tongkat, melangkah tergesa-gesa menyusuri ruang, diikuti siluman lain. Mereka berdua adalah tetua bangsa siluman yang telah hidup sejak kepemimpinan raja terdahulu,
"Lelucon apa ini?"
Pintu ruang terbuka, tampak meja panjang yang biasa menjadi tempat pertemuan para petinggi kerajaan.
Disanalah patih Anubis berdiri menghadap kedua siluman yang sedang menuntut penjelasan.
"Katakan! Bagaimana bisa, tumbal itu malah dibiarkan bebas di dalam istana?" pekik tetua Seri,
"Dan lihat saja pakaiannya! Manusia setengah telanjang berkeliaran disini. Apa Raja sudah gila?!"
"Tenang saja. Tangan dan lehernya tetap diikat rantai, jadi tidak bisa dianggap bebas." Anubis berdalih berharap mereka memaklumi.
"Omong kosong!" hardik tetua Laga, kesal oleh alasan konyol yang baru saja Anubis lontarkan.
"Jangan bilang raja mau menjadikannya peliharaan?" tambahnya sambil mengernyit.
"A-anu," Anubis terbata-bata, lidahnya kelu seakan tak mampu menenangkan.
Tetua Seri menghela nafas seraya bergumam, "Haih, entah kenapa aku selalu bertemu dengan Raja yang merepotkan."
"Raja terdahulu mewariskan tahta pada putrinya dan menolak untuk menambah keturunan."
"Pertama kali ada siluman memiliki wujud dan kekuatan sebesar Raja. Sayangnya dia terlahir sebagai seorang wanita,"
"Berkat kita rahasia ini aman sampai sekarang. Jika tidak, pasti banyak bangsa siluman yang memberontak demi menggusurnya dari tahta sang Raja."
"Itu benar! Mangkanya untuk menjaga rahasia, raja membunuh semua pelayan yang membantu persalinan." tetua Laga menimpali cerita lama yang hanya diketahui oleh segelintir siluman.
"Ng...sebenarnya manusia itu sempat curiga kalau Raja adalah wanita," ucap Anubis tampak ragu.
"Apa?!"
"Aku juga terkejut, tapi tenang saja. Kami sudah menyangkalnya," buru-buru menjelaskan.
"Manusia cuma bangsa lemah, tak setara dengan bangsa siluman. Cepat jelaskan pada Raja, walau cuma dijadikan peliharaan, nantinya pasti menimbulkan masalah."
"Sampai kapanpun, manusia dilarang tinggal di istana siluman!"
"Kamu adalah adik mendiang Raja. Seharusnya kamu lah pewarisnya, tapi karena wasiat kakakmu---"
"Dari awal aku memang tidak tertarik dengan tahta ini. Jangan khawatir, masalah ini serahkan saja padaku." tegas Anubis menepis ocehan siluman tua di depannya,
Rautnya tampak muak, tanpa pamit langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan.
"Dasar siluman tua!"