Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: RAHASIA DI BALIK DINDING IVY
Jalanan menuju Puncak berkelok tajam, menanjak di antara kabut tebal yang menyelimuti perkebunan teh. Mobil bak tua sewaan Gaara menderu berat, mesinnya yang sudah uzur dipaksa bekerja ekstra membawa muatan pot-pot mawar dan sisa barang-barang mereka. Juliet duduk di kursi penumpang, jemarinya bertautan erat dengan tangan kiri Gaara yang bebas dari kemudi.
"Kau dingin?" tanya Gaara, melirik Juliet yang sesekali menggigil.
Juliet menggeleng, meski bibirnya sedikit memucat. "Hanya sedikit tegang. Sudah bertahun-tahun aku tidak menginjakkan kaki di rumah itu. Terakhir kali saat pemakaman Ibu, dan Ayah langsung mengunci gerbangnya rapat-rapat."
Rumah di Puncak itu bukan sekadar bangunan. Bagi Juliet, itu adalah peti kemas memori. Tempat di mana ia pernah melihat ibunya tertawa lepas tanpa beban protokol perusahaan, dan tempat di mana ayahnya pernah menjadi sosok pelindung sebelum keserakahan mengubahnya menjadi orang asing.
Setelah melewati jalan setapak yang ditumbuhi rumput liar, gerbang besi berkarat dengan ukiran huruf 'W' muncul di balik kabut. Gaara menghentikan mobil, turun untuk membuka gembok yang sudah macet termakan usia. Dengan sedikit paksaan dan siraman pelumas, gerbang itu berderit terbuka, seolah-olah rumah itu sedang menguap setelah tidur panjang yang dipaksakan.
Rumah bergaya kolonial itu berdiri dengan anggun namun menyedihkan. Dinding-dinding putihnya kini tertutup tanaman rambat Ivy yang tebal, jendela-jendelanya berdebu, dan taman luas di depannya telah berubah menjadi rimba kecil yang tak teratur.
"Indah sekali," gumam Bu Ratna yang turun dari kursi belakang, matanya menatap kagum pada arsitektur kuno itu meskipun kondisinya terbengkalai.
"Ini akan butuh banyak kerja keras," Gaara menatap sekeliling dengan mata seorang arsitek lanskap. "Tapi tanah di sini... tanah ini punya potensi yang luar biasa."
Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan membersihkan ruang tengah agar bisa ditempati. Juliet, yang dulu tidak pernah menyentuh sapu, kini dengan cekatan mengelap debu tebal di atas furnitur jati yang tertutup kain putih.
Saat ia sedang membersihkan kamar utama yang dulu ditempati ibunya, tangannya menyenggol sebuah bingkai foto kayu yang tergeletak telungkup di atas nakas. Juliet memungutnya. Itu foto ibunya, sedang menggendong Juliet kecil di depan sebuah dinding mawar yang sangat lebat.
Juliet mengamati dinding di belakang ibunya. Ada sesuatu yang aneh. Di sudut bawah foto itu, tampak sebuah pintu kayu kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya kelopak bunga.
"Gaara! Kemari sebentar!" teriak Juliet.
Gaara masuk dengan kaos yang sudah basah oleh keringat, membawa beberapa kardus. "Ada apa?"
Juliet menunjukkan foto itu. "Lihat pintu ini. Aku ingat taman belakang rumah ini, tapi aku tidak pernah melihat pintu kayu ini. Ayah selalu bilang taman belakang hanya dibatasi oleh tebing."
Gaara mengamati foto itu dengan saksama. "Pintu ini disamarkan dengan sangat baik oleh tanaman. Jika fotonya diambil sepuluh tahun lalu, mungkin pintunya sudah tertutup sepenuhnya oleh Ivy sekarang."
Rasa penasaran mengalahkan rasa lelah mereka. Dengan senter di tangan, Gaara dan Juliet melangkah ke taman belakang yang menghadap langsung ke lembah. Mereka menyisir dinding pembatas yang tertutup tanaman rambat yang sangat tebal. Gaara menggunakan parang kecil untuk memangkas dedaunan yang menempel pada dinding batu.
Krak!
Ujung parang Gaara membentur sesuatu yang bukan batu. Ia menyibakkan dedaunan lebih lebar, dan di sanalah pintu itu berada. Kayunya sudah menghitam, namun engsel besinya masih tampak kokoh.
"Terkunci," ucap Gaara setelah mencoba mendorongnya.
Juliet teringat sesuatu. Ia meraba lehernya, menarik kalung perak dengan liontin kunci kecil yang selalu ia pakai—satu-satunya perhiasan yang tidak ia buang karena itu adalah pemberian terakhir ibunya sebelum meninggal.
"Coba ini," Juliet menyerahkan kunci itu.
Gaara memasukkan kunci tersebut. Pas. Dengan satu putaran keras, suara kunci yang terbuka bergema di kesunyian malam pegunungan. Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma tanah lembap dan wangi mawar yang sangat pekat—seolah-olah aroma itu telah terperangkap di sana selama satu dekade.
Di balik pintu itu bukan tebing, melainkan sebuah taman rahasia berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh dinding batu tinggi. Di tengahnya, terdapat satu varietas mawar yang belum pernah Juliet lihat sebelumnya. Kelopaknya berwarna gradasi antara putih susu dan emas di bagian tengah, sangat anggun dan bercahaya di bawah sinar senter.
"Ini bukan Juliet Rose," bisik Juliet takjub. "Ini varietas baru."
Di sudut taman itu, ada sebuah meja batu kecil dengan sebuah kotak besi yang sudah berkarat. Di atasnya tertulis: "Untuk Juliet, saat duniamu terasa gelap."
Juliet membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah buku jurnal bersampul kulit dan beberapa botol kecil berisi benih yang diawetkan.
Juliet membuka halaman pertama jurnal itu. Tulisan tangan ibunya yang rapi menyambutnya.
"Untuk putriku tersayang. Jika kau membaca ini, mungkin Ayahmu telah kehilangan dirinya dalam ambisinya sendiri. Ketahuilah, kekayaan Wijaya bukan hanya dibangun dari angka-angka di atas kertas, tapi juga dari penemuan yang aku sembunyikan di sini. Mawar ini, 'Golden Hope', adalah hasil penelitianku selama bertahun-tahun. Ini adalah mawar yang paling tahan terhadap penyakit dan bisa mekar di cuaca ekstrem sekalipun. Ini adalah warisanmu yang sesungguhnya. Jangan biarkan siapapun, termasuk Ayahmu, memilikinya untuk tujuan komersial yang rakus."
Juliet jatuh terduduk di rumput yang empuk. Air matanya mengalir deras. Selama ini ia mengira ibunya hanyalah wanita lemah yang menyerah pada keadaan. Ternyata, ibunya adalah seorang pejuang yang telah menyiapkan jaring pengaman bagi Juliet jauh sebelum badai itu datang.
Gaara berlutut di sampingnya, merangkul bahu Juliet. "Ibumu memberikan kita senjata yang lebih kuat daripada apa pun yang dimiliki Adam, Juliet. Varietas mawar ini... jika kita mengembangkannya secara legal, ini akan menjadi revolusi di dunia lanskap."
"Adam tidak boleh tahu tentang ini," ucap Juliet tegas. "Dia akan melakukan apa saja untuk merebutnya."
Malam itu, di dalam rumah tua yang kini terasa lebih hangat, Juliet dan Gaara duduk di depan perapian yang baru mereka nyalakan. Mereka tidak lagi membicarakan tentang kemiskinan atau ketakutan. Mereka membicarakan tentang masa depan.
"Kita akan mematenkan varietas ini atas namamu dan ibumu," kata Gaara sambil mempelajari jurnal penelitian itu. "Kita akan gunakan modal dari hasil penjualan rumah Puncak ini—seperti yang kau rencanakan—tapi kita akan tetap tinggal di sini sebagai pusat penelitian. Kita akan lawan Adam dengan prestasi, bukan hanya dengan dendam."
Juliet menyandarkan kepalanya di bahu Gaara. "Kau tahu, Gaara? Saat kita di bandara dulu, aku pikir hidupku sudah berakhir. Tapi sekarang aku sadar, hidupku baru saja dimulai di balik pintu kayu tua itu."
Gaara mengecup kening Juliet. "Mawar butuh kegelapan malam untuk menyimpan energi sebelum mekar di pagi hari. Begitu juga kita."
Tiba-tiba, ponsel Gaara yang diletakkan di atas meja kayu bergetar. Sebuah nomor internasional muncul di layar. Gaara mengaktifkan loudspeaker.
"Halo?"
Suara tawa rendah yang dingin terdengar dari seberang sana. Suara yang membuat bulu kuduk Juliet berdiri.
"Selamat atas kepindahan kalian ke Puncak. Pemandangannya bagus, bukan? Sangat puitis untuk tempat persembunyian terakhir."
Itu Adam.
"Apa maumu, Adam?" desis Gaara, tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih.
"Aku hanya ingin memberitahu, aku baru saja membeli lahan tepat di samping rumah tua itu. Aku akan membangun kompleks hotel megah di sana. Aku ingin melihat bagaimana mawar-mawarmu bertahan di bawah bayang-bayang betonku. Dan Juliet... nikmatilah waktumu dengan si tukang kebun itu selagi kau bisa. Karena setiap kali kau menatap lembah, ingatlah bahwa aku sedang mengawasimu."
Telepon diputus sepihak.
Juliet menatap ke luar jendela. Di kejauhan, di antara pepohonan yang gelap, ia melihat sorot lampu mobil yang diam membeku, seolah-olah sedang mengintai mangsa.
Ancaman itu nyata. Adam tidak lagi sekadar mengirim preman atau sabotase kecil. Ia membawa perang langsung ke depan pintu rumah mereka.
Gaara berdiri, menutup gorden dengan rapat. Ia kembali ke arah Juliet, meraih kedua tangannya dan menciumnya satu per satu. "Biarkan dia membangun betonnya. Kita akan membangun akar kita lebih dalam lagi. Dia pikir dia bisa menutupi matahari bagi kita? Dia lupa bahwa mawar terbaik seringkali mekar di tempat yang paling tersembunyi."
Juliet mengangguk. Ia tidak lagi gemetar. Di dalam dadanya, ia merasakan semangat ibunya yang baru saja ia temukan di taman rahasia itu.
"Malam ini kita istirahat," ucap Juliet. "Karena besok pagi, kita mulai menanam 'Golden Hope'. Dan kali ini, dunia yang akan bertekuk lutut pada mawar kita, bukan sebaliknya."
Hujan kembali turun di luar, namun kali ini suaranya terdengar seperti nyanyian pelindung. Di balik dinding Ivy, mawar emas itu bersinar samar di bawah cahaya bulan, menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia bahwa keindahan yang tulus tidak akan pernah bisa dikubur oleh beton semahal apa pun.
...****************...