NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Awan Hitam Menelan Matahari

​Kota Emerald sedang berada pada jam tersibuknya. Pukul dua belas siang, matahari bersinar terik memanggang aspal jalanan. Di dalam ruang rapat kaca Grup Kusuma, Nadia sedang memberikan presentasi ekspansi kuartal ketiga di hadapan puluhan investor asing.

​Sementara itu, di lantai 88 Menara Emerald, Arya duduk santai di sofa kulit ruang kerja Han Shixiong yang pintunya baru saja diganti dengan baja padat dua hari lalu. Han berdiri dengan hormat di samping meja, menuangkan teh Dahongpao kualitas premium untuk sang Guru Besar.

​"Grup Kusuma kini memonopoli 70% pasar properti dan logistik Selatan, Guru Besar," lapor Han dengan senyum bangga. "Semuanya berjalan sangat lancar."

​Arya menyesap tehnya perlahan. Matanya yang gelap menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota.

​"Terlalu lancar," gumam Arya santai. Jari telunjuknya mengetuk pelan tepi cangkir porselen. "Tapi ketenangan ini akan segera berakhir. Siapkan tim medismu, Han. Dan perintahkan seluruh karyawan Menara Emerald di atas lantai 50 untuk turun ke basemen sekarang juga."

​Han mengerutkan kening, bingung. "Turun ke basemen? Tapi Guru, tidak ada peringatan gempa bumi atau badai dari BMKG hari ini—"

​Sebelum Han menyelesaikan kalimatnya, ruangan itu mendadak menjadi gelap.

​Bukan karena lampu padam, melainkan karena cahaya matahari di luar jendela tiba-tiba lenyap. Han menoleh ke arah jendela dan matanya terbelalak ngeri.

​Di luar sana, langit biru yang cerah dalam sekejap tertutup oleh gumpalan awan hitam pekat yang bergulung-gulung dengan kecepatan tidak wajar. Awan itu tidak membawa hujan, melainkan hawa dingin yang menusuk tulang dan tekanan udara yang sangat berat.

​Di jalanan kota, klakson mobil bersahutan liar. Para pejalan kaki berhenti dan mendongak, menunjuk-nunjuk ke arah langit yang mendadak berubah menjadi malam hari di tengah hari bolong. Kepanikan mulai menjalar layaknya wabah.

​"A-apa yang terjadi?!" Han Shixiong berseru, tubuhnya mendadak terasa seberat timah. Tekanan udara yang turun dari langit membuatnya nyaris sulit bernapas.

​"Mereka datang membalas dendam," Arya meletakkan cangkirnya dengan tenang. "Lima praktisi tingkat Puncak Kondensasi Qi, dan satu setengah langkah menuju Inti Emas. Untuk ukuran Bumi, barisan ini lumayan juga."

​SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!

​Dari balik awan hitam yang bergolak, lima pilar cahaya dengan warna berbeda—merah, biru, kuning, hijau, dan putih—menembus langit dan meluncur ke bawah bagai meteor. Cahaya itu tidak jatuh ke tanah, melainkan berhenti dan melayang tepat di atas Menara Emerald.

​Di jalanan, ribuan warga kota merekam pemandangan itu dengan ponsel mereka. Saat cahaya itu meredup, jeritan histeris dan kehebohan meledak.

​Di atas awan, berdiri lima sosok manusia. Mereka mengenakan jubah kuno yang berkibar tertiup angin badai. Di bawah kaki mereka, pedang-pedang raksasa bercahaya melayang menopang tubuh mereka. Mereka menatap ke bawah ke arah Kota Emerald layaknya dewa-dewa yang sedang menatap sarang semut.

​Di tengah formasi itu, berdiri Sang Pemimpin Sekte Pedang Awan. Matanya memancarkan kilatan petir.

​Ia menarik napas panjang, lalu berbicara. Suaranya tidak keras, namun diperkuat oleh Qi spiritual hingga menggema menembus beton, baja, dan kaca ke setiap sudut Kota Emerald, memekakkan telinga jutaan penduduknya.

​"MANUSIA FANA BERNAMA ARYA. KAU TELAH MENGHANCURKAN MURID SEKTE PEDANG AWAN. KELUARLAH DAN TERIMA HUKUMAN MATIMU, ATAU KAMI AKAN MENGUBUR SELURUH KOTA INI BERSAMAMU!"

​Gelombang suara itu bukan sekadar ancaman, melainkan murni serangan spiritual. Kaca-kaca di gedung-gedung pencakar langit bergetar hebat. Di Menara Emerald, kaca anti-peluru di lantai 80 ke atas mulai memunculkan jaring retakan.

​Di ruang rapat Grup Kusuma, beberapa investor jatuh pingsan karena gendang telinga mereka berdarah. Nadia memegangi meja, kepalanya berdenyut hebat. Namun, anehnya, liontin giok di lehernya tiba-tiba memancarkan kehangatan yang mengalir ke seluruh nadinya, menetralkan tekanan mengerikan itu dalam sekejap.

​Arya... batin Nadia, teringat pesan suaminya. Tangannya mencengkeram liontin itu erat-erat.

​Di lantai 88, Han Shixiong sudah berlutut di lantai, memuntahkan seteguk darah karena tidak mampu menahan tekanan dari lima kultivator tingkat tinggi sekaligus.

​Arya berdiri. Ia mengibaskan tangannya, dan sebuah penghalang energi keemasan langsung menyelimuti tubuh Han, membuat pria tua itu bisa bernapas kembali.

​"Guru Besar..." Han memandang Arya dengan teror yang nyata. Legenda itu benar. Para dewa telah turun dari gunung. "M-mereka bisa terbang... ini bukan pertarungan manusia..."

​"Tetap di sini, Han," potong Arya tenang. Ia merapikan kerah jaket katunnya seolah hanya akan pergi berbelanja ke minimarket. "Aku sudah memasang segel pelindung di gedung ini dan rumah Kusuma. Selama kalian tidak keluar, tidak akan ada sehelai rambut pun yang terluka."

​"Tapi Guru... mereka ada lima! Dan mereka ada di langit!"

​Arya tidak menjawab. Ia hanya melangkah menuju jendela kaca raksasa yang retak. Tanpa peringatan, ia meninju kaca tebal itu hingga hancur berkeping-keping. Angin badai dari luar langsung melolong masuk ke dalam ruangan.

​Arya melangkah ke tepi ambang jendela di lantai 88. Angin meniup rambutnya dengan liar. Ia mendongak, menatap lima kultivator arogan yang melayang di udara sekitar seratus meter di atas gedung.

​Mata Arya menyipit. Niat bertarung dari kehidupan masa lalunya sebagai Kaisar Vajra perlahan mendidih di dalam nadinya.

​Dengan tolakan kaki yang ringan, Arya melompat keluar dari jendela lantai 88.

​Ia tidak jatuh. Energi spiritual keemasan meledak dari telapak kakinya, memadat di udara membentuk tangga tak kasat mata. Langkah demi langkah, Arya berjalan naik ke arah langit, seolah gravitasi Bumi tidak berlaku baginya.

​Di bawah sana, jutaan mata terbelalak ngeri dan takjub melihat pemandangan epik tersebut.

​Lima Penatua Sekte Pedang Awan menyipitkan mata saat melihat seorang pemuda berjaket modern berjalan menaiki udara kosong menghampiri mereka.

​Arya berhenti pada ketinggian yang sejajar dengan kelima kultivator tersebut. Tangannya kembali dimasukkan ke dalam saku celananya. Matanya yang gelap memancarkan kedinginan mutlak.

​"Kalian membuat kota ini menjadi berisik, dan menghalangi sinar matahariku," ucap Arya datar, suaranya yang tidak diperkeras secara ajaib terdengar jelas di telinga kelima Penatua tersebut. "Jadi, siapa di antara kalian lima burung gagak tua yang ingin mati lebih dulu?"

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!