NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 21

(kita balik ke Hana)

Aku berendam cukup lama di dalam bathtub, membiarkan air hangat membilas sisa-sisa sesak yang menempel di pori-pori kulitku. Aroma sabun lavender yang biasanya menenangkan, sore ini terasa hambar.

Pikiranku masih melayang pada rentetan kalimat tajam yang kukirimkan pada Wira sebelum aku tertidur tadi.

Aku menatap langit-langit kamar mandi yang beruap. Ada bagian dari diriku yang merasa lega karena akhirnya semua beban itu terucap, tapi ada bagian lain yang mendadak merasa kosong.

"Dia pasti syok," bisikku pelan, suaraku menggema di antara dinding keramik.

Aku tahu Wira Meskipun dia pernah menyakitiku dengan kata-katanya, aku tahu dia bukan pria yang berhati batu. Aku tahu pesan itu pasti menghantamnya telak, apalagi soal kabar anak kami yang tidak pernah ada. Aku menyakiti hatinya dengan sengaja, memberikan pukulan terakhir yang mungkin tidak akan pernah bisa dia lupakan.

Tapi mau bagaimana lagi?

Dunia kami sudah berbeda. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk sekadar mengatakan "maaf" lalu kembali seperti semula. Aku bukan lagi Hana yang remaja, yang dunianya hanya berputar pada janji-janji manis di bawah pohon kampus.

Aku adalah Hana yang sudah belajar bahwa cinta saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang dibiarkan membusuk selama bertahun-tahun.

Aku keluar dari bathtub melilitkan handuk, dan bercermin. Mataku masih sedikit sembab, tapi sorot matanya terlihat lebih tegas. Aku harus egois kali ini. Aku harus menjaga hatiku, menjaga Mama dan Papa dari drama masa lalu yang bisa saja menghancurkan ketenangan rumah ini.

Aku melangkah keluar kamar mandi, mengambil ponselku yang masih tergeletak di atas meja rias.

Jariku ragu sejenak, namun akhirnya aku tetap pada pendirianku. Aku memastikan nomornya tetap berada dalam daftar blokir. Bukan karena aku masih membencinya dengan api yang berkobar, tapi karena aku takut jika aku memberinya celah, aku akan goyah lagi.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan dari Wira, melainkan pesan singkat dari Tomi.

Tomi:[ Han, jangan bilang kamu masih tidur gara-gara efek 'kabinet bebek' tadi pagi? Haha. Cuma mau mastiin kamu baik-baik saja. Kabari ya kalau sudah bangun!]

Aku tersenyum tipis. Kontras sekali. Di satu sisi ada masa lalu yang penuh air mata, di sisi lain ada Tomi yang selalu membawa tawa ringan. Aku menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa bayangan Wira dari kepalaku.

Aku meraih ponsel, mengetik balasan singkat untuk Tomi. Rasanya seperti menghirup udara segar setelah tenggelam dalam tangisan yang menyesakkan.

Hana: [Enak saja, aku nggak tidur terus ya! Tadi cuma... butuh waktu buat santai sebentar. Makasih ya, Tom, udah nanyain.]

Tak lama, Tomi membalas dengan lelucon tentang bagaimana bebek-bebek di taman tadi merindukan tawaku. Kami berbalas pesan sejenak dan jujur, kehadirannya sangat membantu mengalihkan mendung di kepalaku. Setelah itu, aku meletakkan ponsel dan fokus pada diriku sendiri. Aku memakai pakaian rumah yang nyaman dan melakukan ritual skincare malam dengan telaten.

Menatap cermin, aku berjanji bahwa bekas air mata tadi adalah yang terakhir untuk hari ini.

Malam harinya, suasana rumah terasa sangat hangat.

Papa dan Mama sudah pulang dengan wajah yang cerah. Kami pun berkumpul di meja makan, menikmati hidangan selagi hangat.

"Wah, kelihatannya ada yang lagi bahagia banget nih," godaku sambil menyendok nasi untuk Papa.

Papa tertawa lebar, wajah lelahnya tertutup oleh binar kemenangan.

"Kamu tahu saja, Han. Tadi di kantor, Papa baru saja tanda tangan kontrak dengan investor baru. Proyek besar kita di pusat kota akhirnya jalan. Ini benar-benar kado tambahan setelah kelulusanmu kemarin."

"wahh syukurlah , Pa. Hana ikut senang. Papa hebat banget bisa narik investor di saat ekonomi lagi begini," ucapku tulus.

Mama menyahut sambil menyodorkan piring lauk padaku.

"Bukan Papa saja yang beruntung hari ini. Mama juga tadi menang arisan! Lumayan, bisa buat kita makan-makan keluarga lagi akhir pekan nanti. Atau mungkin Hana mau beli sesuatu?"

"Wah, double kebahagiaan ya!" aku tertawa. "Hana nggak butuh apa-apa kok, Ma. Bisa makan bareng Papa sama Mama begini saja Hana sudah senang banget."

Papa menatapku dengan lembut.

"Han, Papa bangga sama kamu. Setelah semua yang kita lalui, melihat kamu lulus dengan hasil terbaik dan sekarang kita bisa duduk tenang begini... Papa merasa perjuangan kita pindah dan memulai hidup baru nggak sia-sia."

Mendengar kata "pindah" dan "hidup baru", jantungku sempat mencelos teringat Wira. Tapi melihat senyum tulus Papa dan Mama, aku memaksakan diri untuk tetap di sini, di masa kini.

"Iya, Pa. Hana juga bersyukur banget punya Papa dan Mama yang selalu dukung Hana," jawabku sambil menggenggam tangan Mama di atas meja.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di meja makan, berbincang tentang banyak hal mulai dari rencana liburan singkat, hingga candaan Mama soal teman-temannya di arisan tadi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, aku merasa rumah ini benar-benar utuh. Tidak ada rahasia, tidak ada ketakutan, hanya ada kami bertiga

...****************...

Waktu berlalu begitu cepat tak terasa sudah enam bulan sejak hari wisuda yang penuh emosi itu. Kini, duniaku sudah benar-benar berubah. Aku tidak lagi dikenal sebagai mahasiswa yang sering menyendiri di sudut perpustakaan, melainkan sebagai Manajer di perusahaan Papa.

Bekerja di bawah kepemimpinan Papa memberiku banyak pelajaran. Aku belajar memimpin tim, mengambil keputusan besar, dan tentu saja, membuktikan bahwa gelar lulusan terbaikku bukan sekadar pajangan. Meskipun posisiku cukup mapan, aku punya impian besar yang mulai tumbuh di kepalaku

aku ingin memiliki usaha sendiri. Aku ingin membangun sesuatu dari nol dengan namaku sendiri. Namun, aku sadar membangun bisnis butuh modal yang tidak sedikit, jadi untuk sementara aku menabung dan mematangkan konsepnya.

Selama enam bulan ini, hatiku terasa sangat ringan. Tidak ada lagi teror pesan singkat, tidak ada lagi ketakutan akan bayang-bayang masa lalu. Aku menjalani hari-hariku dengan sangat bahagia. Keluarga kami benar-benar utuh dan harmonis Papa yang semakin sukses dengan investasinya, dan Mama yang selalu punya cerita seru dari grup arisannya.

Hubungan pertemananku juga tetap solid. Meskipun kami semua sudah sibuk dengan dunia kerja, kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu.

Diva kini bekerja di sebuah perusahaan kreatif ternama. Dia masih tetap Diva yang heboh dan penuh energi, selalu menjadi pusat perhatian di kantornya. Sementara Dhea, dia memilih jalur yang lebih tenang dengan bekerja di instansi pemerintahan dia terlihat sangat profesional dengan seragamnya, meski kalau sudah berkumpul, sifat aslinya yang hobi gibah sehat tetap tidak hilang.

Malam itu, kami bertiga sedang hangout di sebuah kafe setelah jam kantor selesai.

"Gila ya, Han. Enam bulan lalu kita masih pusing revisi, sekarang kita sudah pusing mikirin KPI," keluh Diva sambil menyeruput es kopi lattenya.

Dhea tertawa kecil.

"Tapi Hana paling keren sih, langsung jadi manajer. Gimana rasanya, Han? Udah siap jadi pengusaha muda belum?"

Aku tersenyum menatap dua sahabat terbaikku ini.

"Masih jauh, Dhe. Nabung dulu, belajar dulu. Aku nggak mau gegabah."

"Eh, tapi ngomong-ngomong soal masa depan..." Diva menyenggol lenganku dengan tatapan jahil.

"Gimana kabar si Tomi? Enam bulan ini dia nempel terus kayak prangko, nggak ada kemajuan nih?"

Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar pertanyaan itu. Memang, selama enam bulan ini Tomi selalu ada. Dia menjadi teman diskusi yang hebat, pendengar yang sabar, dan tentu saja, penguasa stok lelucon di hari-hariku yang penat.

"Gila ya, dunia sesempit itu!"

Diva memukul meja kafe dengan antusias setelah aku menceritakan siapa Tomi sebenarnya.

Dhea hampir tersedak minumannya.

"Tunggu, tunggu... Jadi Tomi yang sering bawain kamu camilan pas kita ngerjain skripsi itu ternyata CEO? Perusahaan entertainment dan fashion yang lagi viral itu punya dia?".

(Niatnya mau buat ceo grub laguna😁🤣)

Aku mengangguk sambil mengaduk minumanku masih merasa sedikit tidak percaya.

"Iya. Ternyata ayahnya Tomi itu investor utama di perusahaan Papa sekarang. Dan Tomi... dia punya kerajaan bisnis sendiri. Kemarin pas aku ikut Papa meeting, aku kaget banget lihat dia duduk di kursi pimpinan pakai jas rapi. Beda banget sama Tomi yang kita kenal di kampus."

"Pantesan!" sahut Diva.

"Pantesan selera fashion-nya dia meski santai tapi kelihatan 'mahal'. Han, ini sih namanya dapet durian runtuh. Udah baik, humoris, pinter, eh ternyata konglomerat muda juga."

"Tapi yang paling penting," sela Dhea dengan wajah lebih serius

"dia bener-bener dukung kamu, Han. Dia sering tanya ke aku soal rencana kamu buka usaha sendiri. Kayaknya dia bener-bener mau bantu kamu jadi pengusaha juga."

Aku tersenyum tipis. Selama enam bulan ini, pertemuanku dengan Tomi memang jadi sangat intens. Bukan cuma karena urusan bisnis Papa dan Ayahnya, tapi karena Tomi sering mengajakku diskusi soal tren fashion dan entertainment terbaru.

Dia memperlakukanku bukan sebagai anak rekan bisnis ayahnya, tapi sebagai wanita yang punya potensi besar.

"Dia emang sering kasih masukan soal rencana usahaku," kataku jujur.

"Bahkan dia bilang, kalau aku sudah siap, perusahaannya bisa jadi mitra pertama buat brand yang bakal aku buat nanti."

Saat sedang asyik bercerita Sebuah pesan WhatsApp masuk.

Tomi: [Lagi asyik hangout ya? Jangan lupa sisain waktu buat dinner nanti malam. Papa kamu sama Ayahku lagi ngerayain gol bisnis baru, dan mereka 'mewajibkan' kita berdua hadir sebagai perwakilan anak muda. Gimana, Manager Hana? Siap bertugas?]

Aku menunjukkan pesan itu ke Diva dan Dhea. Mereka langsung bersorak heboh menggodaiku.

"Ciee, Manager Hana! Kayaknya 'tugas negara' kali ini lebih mirip kencan terselubung deh," goda Diva sambil menyenggol lenganku, matanya berbinar melihat pesan dari Tomi.

Dhea ikut menimpali sambil menopang dagu, menatapku serius.

"Tapi beneran deh, Han. Udah enam bulan lho. Tomi itu kurang apa lagi coba? Dia selalu ada, dukung kamu, bahkan sekarang keluarga kalian sudah sedekat ini. Kelihatannya dia sayang banget sama kamu. Kenapa hubungan kalian masih jalan di tempat begini saja?"

Aku hanya terdiam, menyembunyikan kegundahan di balik tawa kecil yang dipaksakan. Aku menyesap kopiku yang mulai dingin, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Mereka tidak tahu alasan sebenarnya. Mereka tidak tahu tentang badai tujuh tahun lalu, tentang taruhan nyawa, dan tentang luka yang baru saja mengering.

Memang benar, Tomi pernah mengutarakan perasaannya dulu, saat kami masih di tingkat akhir kuliah. Tapi saat itu aku langsung menutup diri, mengatakan bahwa aku belum siap untuk apa pun yang melibatkan hati. Dan Tomi? Dia pria yang sangat luar biasa lembut dan pengertian. Dia tidak menjauh, dia justru tetap di sana, menjadi sahabat yang paling bisa diandalkan.

"Entahlah," jawabku pelan sambil memutar-mutar ponsel di tangan.

Jika ditanya apakah aku menyukai Tomi, jawabannya mungkin 'ya'. Siapa yang tidak akan jatuh hati pada pria sepertinya? Tapi setiap kali aku ingin melangkah lebih jauh, bayang-bayang masa lalu itu menarikku kembali.

Ada suara di kepalaku yang selalu berbisik Apakah kamu pantas, Hana? Apakah kamu pantas mendapatkan pria sesempurna Tomi setelah semua yang terjadi?

Aku merasa seperti barang pecah belah yang sudah direkatkan kembali, namun bekas retakannya masih sangat nyata. Sedangkan Tomi? Dia bersih, sukses, dan punya masa depan yang begitu cerah.

Rasanya aku tidak pantas membawa "sampah" masa laluku ke dalam hidupnya yang begitu indah.

"Jangan kelamaan mikir, Han. Nanti diambil orang baru tahu rasa," celetuk Diva lagi, membuyarkan lamunanku.

"Iya, iya. Nanti aku pikirkan lagi. Sekarang mending kita habisin ini, aku harus siap-siap buat dinner 'tugas negara' itu," kataku sambil tersenyum, mencoba terlihat baik-baik saja di depan mereka.

Aku harus bersiap. Malam ini bukan hanya soal bisnis Papa, tapi juga soal menghadapi Tomi. Aku tahu cepat atau lambat, aku harus memberi kepastian pada pria yang sudah begitu sabar menantiku.

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!