Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETAHUN YANG MENGGUBAH SEGALANYA
Satu tahun sejak Wei Chen pertama kali membuka mata di Desa Qinghe...
Dia duduk di puncak bukit kecil di belakang desa, memandangi hamparan sawah yang membentang di bawah.
Matahari terbit perlahan di ufuk timur. Langit jingga keemasan. Burung-burung mulai berkicau.
Di sampingnya, Mei Ling duduk bersandar di bahunya. Tangannya digenggam Wei Chen.
Mereka diam. Menikmati pemandangan.
"Ini pertama kalinya aku ke sini," kata Mei Ling pelan. "Dari kecil tinggal di desa, tapi tidak pernah naik ke bukit ini."
"Aku suka lihat matahari terbit," kata Wei Chen. "Di tempat asalku, jarang bisa lihat begini. Gedung-gedung tinggi menghalangi."
"Di sana sibuk sekali?"
"Sibuk. Orang lari ke sana ke mari. Tidak punya waktu lihat matahari terbit."
Mei Ling tersenyum. "Di sini, kita punya banyak waktu."
Wei Chen mengangguk. Tapi dalam hati, dia tahu waktu mereka tidak banyak.
Mei Ling batuk. Batuk kecil. Tapi Wei Chen merasakan tubuhnya bergetar.
Dia menoleh. Wajah Mei Ling pucat. Ada bercak merah di sudut bibir.
"Mei Ling..."
"Aku baik-baik saja." Dia tersenyum — senyum getir yang biasa. "Jangan khawatir."
Wei Chen menggenggam tangannya lebih erat.
Satu tahun. Dalam satu tahun, hidupnya berubah total.
Dari CEO yang sibuk, jadi petani dan pedagang di desa kecil.
Dari tidak punya siapa-siapa, jadi punya seseorang yang berarti.
Dari tidak punya tujuan, jadi punya misi: menyembuhkan Mei Ling.
Tapi satu tahun juga berarti Mei Ling semakin dekat dengan batasnya. 25 tahun. Usia terakhir keluarganya.
Dia menghitung. Mei Ling lahir di musim semi. Sekarang musim dingin. Berarti...
Enam bulan lagi.
Enam bulan. 180 hari. 4.320 jam.
Waktu yang singkat. Terlalu singkat.
Satu jam kemudian, mereka turun ke desa.
Di pasar, toko mereka sudah buka. Karyawan baru — dua pemuda desa — sibuk melayani pembeli.
Garuda Trading sekarang bukan lagi kios kecil di pinggir pasar. Tapi toko resmi di lokasi strategis, dengan stok melimpah dan pelanggan tetap dari desa-desa sekitar.
Kontrak dengan Klan Naga Hitam selesai tepat waktu. Pesanan berikutnya sudah masuk — 200 lampu, 100 tungku. Uang muka 5.000 koin perak sudah di tangan.
Toke Wijaya duduk di kursi dekat kasir, menghitung pendapatan. Melihat Wei Chen masuk, dia tersenyum.
"Nak Wei! Lihat ini." Dia menunjukkan buku catatan. "Pendapatan bulan ini naik 50%."
Wei Chen mengangguk. "Bagus."
"Kau tidak terkejut?"
"Sudah kuperkirakan."
Toke Wijaya tertawa. "Kau memang beda." Dia melirik Mei Ling yang duduk di kursi dekat jendela. "Gadis itu... bagaimana kabarnya?"
Wei Chen diam. Lalu, "Dia butuh obat."
"Obat? Sakit apa?"
"Bukan sakit. Kutukan."
Toke Wijaya mengerutkan kening. "Kutukan keluarga Mei Ling? Aku dengar. Tapi kau bisa apa?"
"Aku akan cari obatnya."
"Obat kutukan?" Toke Wijaya menggeleng. "Nak, itu mimpi. Sudah banyak orang coba, semua gagal."
"Aku bukan orang biasa."
Toke Wijaya menatapnya lama. Lalu menghela napas.
"Aku tahu. Tapi kadang, menerima takdir lebih baik daripada melawan."
Wei Chen tidak menjawab. Tapi matanya berkata: aku tidak pernah terima takdir.
Sore harinya, Wei Chen pergi ke rumah Kakek Tio.
Pria tua itu sedang duduk di beranda, memandangi hutan di kejauhan.
"Nak Wei." Dia tersenyum. "Sudah kuduga kau akan datang."
Wei Chen duduk. "Kakek, aku butuh info."
"Tentang pil pemurni?"
"Iya."
Kakek Tio diam. Lalu, "Kau sudah dapat uang banyak. Tapi sepuluh ribu koin emas... masih jauh."
"Aku tahu. Tapi aku harus coba."
Kakek Tio menatapnya. "Kau benar-benar cinta padanya, ya?"
Wei Chen diam. Cinta? Kata itu masih asing.
"Aku... tidak tahu." Jujur. "Tapi aku tidak mau dia pergi."
Kakek Tio tersenyum. "Itu cinta, Nak."
Wei Chen diam.
"Cinta itu aneh," lanjut Kakek Tio. "Dia bikin orang kuat jadi lemah, orang lemah jadi kuat. Dia bikin orang waras jadi gila, orang gila jadi waras." Dia tertawa kecil. "Dia juga bikin orang kaya jadi miskin, orang miskin jadi kaya."
Wei Chen tidak menjawab.
"Kau mau aku bantu?" tanya Kakek Tio.
"Mau."
"Bagus." Kakek Tio berdiri. "Tapi bukan gratis."
"Apa maunya Kakek?"
Kakek Tio menatap hutan di kejauhan. "Ajak aku jalan-jalan ke hutan. Sebentar saja."
Wei Chen mengerutkan kening. "Hutan?"
"Iya. Aku sudah lama tidak ke sana. Tua, takut jatuh." Dia tersenyum. "Tapi kalau ada yang temani, mungkin aman."
Wei Chen mengangguk. "Kapan?"
"Besok pagi."
Esok paginya, Wei Chen dan Kakek Tio masuk ke hutan di belakang desa.
Hutan itu lebat. Pohon-pohon besar menjulang. Suara burung dan serangga di mana-mana.
Kakek Tio berjalan perlahan, sesekali berhenti, memegang pohon atau daun.
"Ini." Dia menunjuk tanaman kecil dengan daun ungu. "Daun ungu. Bahan pil pemurni. Langka."
Wei Chen memerhatikan. Mengingat bentuknya.
"Ini." Kakek Tio menunjuk jamur di batang pohon. "Jamur giok. Juga langka."
Mereka berjalan lebih dalam. Kakek Tio menunjukkan puluhan tanaman langka. Wei Chen merekam semuanya di ingatan.
Setelah beberapa jam, mereka berhenti di dekat sungai kecil.
"Ini semua yang bisa kutunjukkan." Kakek Tio duduk di batu. "Sisanya, kau harus cari sendiri. Atau beli di pasar gelap."
Wei Chen mengangguk. "Terima kasih, Kek."
"Tapi ingat." Kakek Tio menatapnya serius. "Bahan saja tidak cukup. Kau juga harus bisa meramu. Itu ilmu tersendiri."
"Aku akan pelajari."
Kakek Tio tersenyum. "Kau memang aneh. Tapi aneh yang baik."
Mereka diam. Suara sungai mengalir.
"Nak Wei, kau tahu kenapa aku mau bantu?"
"Kenapa?"
"Karena dulu, aku juga punya seseorang." Mata Kakek Tio berkaca-kaca. "Istriku. Dia juga kena kutukan. Aku tidak bisa selamatkan dia."
Wei Chen diam.
"Sekarang, melihat kau berjuang untuk Mei Ling... seperti melihat diriku dulu." Kakek Tio menatapnya. "Tapi kau lebih beruntung. Kau masih punya waktu."
Wei Chen mengangguk.
"Aku tidak akan sia-siakan."
Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda bersama Mei Ling.
Bulan purnama. Cahayanya perak.
"Chen, hari ini kau pergi ke hutan sama Kakek Tio?"
"Iya."
"Ngapain?"
"Cari tanaman obat."
Mei Ling diam. Lalu, "Untukku?"
Wei Chen mengangguk.
Mei Ling memeluknya. Tiba-tiba.
"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kau begitu baik padaku?"
Wei Chen diam. Lalu, "Karena kau satu-satunya orang di dunia ini yang peduli padaku tanpa alasan."
Mei Ling melepas pelukan. Menatap matanya.
"Aku peduli karena kau... kau berbeda." Matanya berkaca-kaca. "Kau datang entah dari mana. Kau kerja keras. Kau tidak pernah mengeluh. Kau selalu ada untukku."
Wei Chen mengusap air matanya.
"Aku di sini. Tidak akan pergi."
Mei Ling tersenyum. Tapi senyumnya getir.
"Chen... boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau... kau sayang aku?"
Wei Chen diam. Jantungnya berdetak kencang.
Sayang. Kata itu asing. Tapi kalau sayang artinya tidak bisa hidup tanpa dia... mungkin iya.
"Aku... tidak tahu." Jujur. "Tapi aku tidak mau kehilangan kau."
Mei Ling tersenyum. Senyum yang berbeda — lebih tenang.
"Itu cukup."
Mereka berpelukan. Di bawah cahaya bulan.
Esok harinya, Wei Chen bangun dengan tekad baru.
Dia punya misi. Tujuan. Alasan untuk hidup.
Menyembuhkan Mei Ling. Berapa pun biayanya.
Dia pergi ke toko. Mengecek produksi. Menghitung keuntungan. Merencanakan ekspansi.
Di atas meja, dia menggambar peta. Peta dunia Murim. Dengan tanda-tanda di tempat-tempat tertentu — tempat bahan langka tumbuh.
Toke Wijaya masuk. Melihat peta itu.
"Apa ini?"
"Rencana." Wei Chen menunjuk satu titik di gunung utara. "Di sini ada Akar Seribu Tahun. Di sini, Embun Giok. Di sini, Darah Naga."
Toke Wijaya mengerutkan kening. "Kau mau cari semua itu?"
"Iya."
"Sendirian?"
"Ajak orang kalau perlu."
Toke Wijaya diam. Lalu menggeleng.
"Kau gila."
"Mungkin." Wei Chen tersenyum tipis. "Tapi orang gila kadang berhasil."
Toke Wijaya tertawa. "Aku tidak tahu harus bilang apa."
"Tidak usah bilang apa-apa." Wei Chen menatap peta. "Bantu aku kumpulkan uang. Sisanya biar aku yang urus."
Toke Wijaya mengangguk. "Baik. Aku bantu."
Sore harinya, Wei Chen pulang ke gubuk.
Mei Ling sedang memasak di dapur. Aroma sayur dan ikan bakar memenuhi ruangan.
Dia duduk di bangku, menikmati pemandangan itu.
Sederhana. Tapi hangat.
"Chen, makan." Mei Ling keluar dengan dua piring.
Mereka makan bersama. Bicara tentang toko, tentang pelanggan, tentang hal-hal kecil.
Setelah makan, mereka duduk di beranda.
"Chen, besok aku mau ke sawah."
"Jangan. Kau harus istirahat."
"Aku bosan di rumah terus."
"Aku belikan buku. Bacaan."
Mei Ling menggeleng. "Baca buku tidak bisa lihat pemandangan."
Wei Chen diam. Lalu, "Aku antar."
"Benaran?"
"Iya. Tapi janji tidak capek-capek."
Mei Ling tersenyum. "Janji."
Esok harinya, mereka ke sawah bersama.
Matahari pagi hangat. Angin sepoi-sepoi. Padi mulai menguning.
Mereka berjalan di pematang. Tangan Mei Ling digandeng Wei Chen.
"Ini..." Mei Ling berhenti. Matanya berkaca-kaca. "Aku rindu ini."
Wei Chen diam.
"Dulu, ibu dan ayah sering ajak aku ke sawah. Waktu kecil." Suaranya bergetar. "Sekarang mereka sudah tiada."
Wei Chen memeluknya.
"Aku di sini."
Mei Ling menangis di dadanya.
Mereka berpelukan di tengah sawah. Di bawah matahari pagi.
Malam harinya, Wei Chen duduk di gubuk, menulis.
Buku catatan. Rencana. Target.
Tahun depan: kumpulkan 2.000 koin emas.
Dua tahun: 5.000.
Tiga tahun: 10.000.
Empat tahun: beli semua bahan.
Lima tahun: ramu pil pemurni.
Tapi Mei Ling tidak punya lima tahun. Dia punya enam bulan.
Wei Chen mengepalkan tangan.
Harus lebih cepat.
Dia menggambar ulang peta. Mencari jalan pintas. Mencari cara.
Tiba-tiba, pintu terbuka.
Mei Ling masuk. Wajahnya pucat. Tubuhnya lemas.
"Chen..."
Dia jatuh.
Wei Chen berlari. Menangkapnya.
"Mei Ling! MEI LING!"
Matanya tertutup.
Napasnya lemah.
Wei Chen memeluknya erat.
"Jangan... jangan pergi..." Suaranya pecah. "Aku belum siap... aku belum..."
Air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya dalam 41 tahun (40 di bumi, 1 di sini), Wei Chen menangis.
Chapter 10 END.