Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Resonansi di Ambang Kehancuran
Suara alarm di Sektor 7 bukan lagi sekadar peringatan; itu adalah raungan kematian yang memekakkan telinga. Cahaya merah yang berputar-putar di langit-langit laboratorium menciptakan bayangan yang mengerikan pada deretan tabung eksperimen. Arga berdiri di antara puing-puing kaca, napasnya memburu, namun matanya tetap terkunci pada tabung nomor 09. Di sana, Sari masih terlelap, tidak menyadari bahwa jiwanya sedang dipertaruhkan dalam sebuah kalkulasi digital yang dingin.
"Serang!" teriak Barata Adiraja, suaranya parau penuh amarah.
Mesin humanoid prototipe—sebuah kerangka baja hitam yang dilapisi serat karbon—mulai bergerak. Gerakannya tidak alami; setiap persendiannya berderit dengan suara mekanis yang tajam. Mesin itu mendeteksi panas tubuh Arga dan dalam sekejap mata, ia meluncur maju dengan pendorong hidrolik di kakinya.
Bum!
Lantai beton tempat Arga berdiri sedetik lalu retak dihantam tinju baja mesin tersebut. Arga melenting ke belakang, mendarat di atas meja operasi yang sudah miring. Ia tidak bisa menggunakan serangan skala besar. Satu ledakan energi emas dari Mustika bisa menghancurkan sistem pendukung hidup Sari.
“Kau terlalu banyak berpikir, Inang!” Macan Kencana menggeram, energinya merayap di bawah kulit Arga seperti lava cair. “Hancurkan mesin itu sebelum ia meremukkan tulangmu!”
"Diam!" bentak Arga pelan.
Ia memejamkan mata sesaat, mencoba mengingat pelajaran Kala Vira. Jangan melawan gravitasi, gunakan. Arga melihat kabel-kabel besar yang menjuntai dari langit-langit, kabel yang mengalirkan daya ke mesin-mesin ekstraksi. Sebuah rencana nekat terbentuk di kepalanya.
Mesin humanoid itu kembali menyerang, kali ini dengan tendangan memutar yang diarahkan ke kepala Arga. Arga merunduk rendah, membiarkan tendangan itu menghantam pilar beton di belakangnya. Di saat mesin itu menarik kembali kakinya, Arga melompat, namun bukan ke arah mesin, melainkan ke arah panel kontrol utama di dinding.
"Kau mau mematikan dayanya? Terlambat!" Barata mengeluarkan senjata cadangan, sebuah senapan pendek, dan mulai menembaki Arga secara membabi buta.
Arga bergerak zig-zag di antara tabung-tabung kaca. Ia menggunakan teknik Sinkronisasi Berat Badan untuk melompat lebih tinggi dari jangkauan manusia biasa tanpa memicu ledakan energi. Ia menyambar salah satu kabel daya yang terkoyak, membiarkan tegangan listrik ribuan volt mengalir melalui tubuhnya.
Rasa sakitnya tak terbayangkan. Arga berteriak, matanya berkilat emas bercampur hitam pekat. Arga tidak membiarkan listrik itu membunuhnya; ia menggunakannya sebagai katalis untuk memaksa Mustika Macan Kencana melepaskan energi murni dalam bentuk Arcing (loncatan listrik).
"Sekarang!"
Arga melemparkan ujung kabel itu ke arah kaki logam mesin humanoid yang sedang menginjak genangan cairan kimia dari tabung yang pecah.
Zzzzzzzzt!
Hubungan arus pendek yang luar biasa terjadi. Mesin itu kejang-kejang, sistem sirkuit internalnya meledak dan mengeluarkan asap hitam yang pekat. Perangkat AI di dalamnya gagal berfungsi, membuat kerangka baja itu tumbang dan menghantam Barata Adiraja hingga pria besar itu tertindih di bawah berat logam ratusan kilogram.
"Argh! Singkirkan benda ini dariku!" Barata meronta, namun kaki mesin itu telah mengunci tubuhnya ke lantai.
Arga tidak memedulikan Barata. Ia segera berlari menuju tabung Sari. Waktunya tinggal hitungan detik sebelum sistem keamanan melakukan Hard Reset yang akan mematikan semua fungsi organ subjek di dalam tabung.
"Sari... bertahanlah," bisik Arga.
Tangannya gemetar saat ia menyentuh permukaan kaca yang dingin. Ia bisa melihat data di monitor menunjukkan proses ekstraksi memori mencapai 92%. Jika mencapai 100%, Sari bukan lagi Sari; dia hanya akan menjadi cangkang kosong tanpa masa lalu.
Arga menempelkan dahinya ke kaca. Ia tidak memukul kaca itu. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih halus—sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seorang 'Pewaris'. Ia mencoba melakukan resonansi frekuensi jantungnya dengan frekuensi Mustika yang sedang disedot dari tubuh Sari.
“Kau gila, Inang,” suara Macan Kencana kini terdengar khawatir. “Jika kau menarik kembali energi itu secara paksa tanpa melalui prosedur, jiwamu bisa ikut terseret ke dalam kehampaan.”
"Lakukan saja!" perintah Arga dalam hati.
Arga memejamkan mata. Ia membayangkan semua kenangan indahnya bersama Sari. Saat mereka berbagi mie instan di bawah atap bocor, saat Sari membalut luka di tangannya setelah pulang kerja dari dermaga. Ia mengirimkan gelombang emosi itu melalui telapak tangannya, menembus kaca, menembus cairan hijau, langsung ke pusat kesadaran Sari.
Tiba-tiba, cahaya di dalam tabung berubah dari hijau menjadi emas terang yang menyilaukan. Monitor di samping tabung mulai berkedip liar.
[ERROR: REVERSE RESONANCE DETECTED]
[SUBJEK 09: AWAKENING...]
Sari membuka matanya di dalam cairan tersebut. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Bukan tatapan kosong, melainkan tatapan penuh pengenalan. Sari mengulurkan tangannya di dalam air, menyentuh titik yang sama di mana tangan Arga berada.
Prang!
Tabung itu pecah bukan karena pukulan, melainkan karena tekanan energi yang sudah tidak mampu lagi ditampung oleh material kacanya. Cairan hijau tumpah ke lantai, membawa tubuh Sari yang lemas ke dalam pelukan Arga.
Arga segera mencabut kabel-kabel di pelipis Sari dengan sangat hati-hati. Ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan jaketnya yang robek. Sari terbatuk, memuntahkan cairan kimia dari paru-parunya, lalu menatap Arga dengan lemah.
"Ar... ga...?" suaranya nyaris tidak terdengar, namun itu adalah melodi paling indah yang pernah didengar Arga.
"Aku di sini, Sari. Kita pulang," bisik Arga, air mata jatuh di wajahnya yang kotor.
Namun, momen itu hancur saat suara tawa dingin bergema dari interkom laboratorium. Bukan suara Barata, melainkan suara yang lebih berwibawa, lebih tua, dan lebih mengerikan. Suara Jagat Mahesa.
“Luar biasa, Arga Satria. Kau benar-benar melampaui ekspektasiku. Kau berhasil membalikkan proses ekstraksi menggunakan ikatan emosional. Sebuah data yang sangat berharga bagi penelitianku.”
Arga mendongak ke arah kamera pengawas di sudut ruangan, matanya berkilat penuh dendam. "Kau tidak akan pernah menyentuhnya lagi, Mahesa!"
“Jangan terlalu yakin, Anak Muda. Sektor 7 telah dikunci sepenuhnya. Kau menyelamatkannya dari tabung, tapi kau baru saja membawanya masuk ke dalam peti mati yang lebih besar. Mari kita lihat, apakah kau bisa menggendongnya keluar sambil melawan seluruh pasukanku?”
Pintu-pintu baja laboratorium tertutup rapat dengan suara dentuman berat. Dari lorong-lorong gelap, muncul pasukan berjubah abu-abu dengan senjata berteknologi tinggi yang sudah membidik ke arah mereka.
Arga berdiri, menggendong Sari di lengan kirinya, sementara tangan kanannya mengepal kuat, memancarkan aura emas yang kini jauh lebih stabil dan terkendali. Ia telah naik ke Tahap 2: Master Muda. Ia tidak lagi meledakkan energi tanpa arah; ia memusatkan setiap inci kekuatannya pada titik-titik vital.
"Sari, pegangan yang erat," ujar Arga.
"Arga, aku takut..." bisik Sari, tangannya mencengkeram erat kemeja Arga.
"Jangan takut. Kali ini, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Bahkan jika aku harus meruntuhkan seluruh gedung ini di atas kepala mereka."
Arga menerjang maju. Pertempuran sesungguhnya di Sektor 7 baru saja dimulai. Bukan lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang pelarian besar yang akan mengguncang stabilitas 9 keluarga elit Jakarta.