NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Dunia yang Tak Pernah Kupilih

“Ini liburan pertamamu,” katanya pelan.

Aku mengangguk, masih memegang lengannya, seolah takut ia menghilang kalau aku melepaskan. Pintu kaca besar di depanku terbuka otomatis. Udara di dalam toko langsung terasa berbeda—lebih sejuk, lebih tenang, dan entah kenapa… terasa mahal. Semua di dalamnya berkilau. Lantai marmer mengilap, dinding kaca, dan deretan pakaian yang tertata rapi seperti benda seni, bukan sekadar baju.

Begitu kami melangkah masuk, beberapa orang langsung berdiri.

“Good afternoon, Mr. Haruka,” kata seorang pria berjas hitam dengan senyum profesional.

“Welcome back. We’ve prepared everything as requested.”

Aku menegang sedikit. Kata-kata itu jelas bukan ditujukan padaku. Cara mereka menunduk halus, cara mata mereka langsung tertuju pada Haruka—aku tahu, aku hanya ikut di sisinya.

Haruka mengangguk singkat. “Thank you.”

Lalu, tanpa ragu, ia meraih tanganku. Bukan menggenggam erat—lebih seperti memastikan aku tidak tertinggal. Gerakan kecil itu membuatku kembali sadar… aku ada di sini bukan sebagai tamu sembarangan.

Aku melirik sekeliling. Semua mata sesekali mengarah padaku, tapi tidak ada tatapan merendahkan. Justru… penasaran. Seolah mereka bertanya-tanya, siapa gadis yang berjalan di samping pria itu.

Aku mendekat sedikit ke Haruka dan berbisik, “Mereka sopan banget…”

Ia menunduk sedikit agar hanya aku yang mendengar. “Karena mereka tahu aku tidak suka orang yang tidak sopan.”

Jawaban itu membuatku terdiam. Nada suaranya datar, tapi maknanya jelas. Aku tidak tahu harus kagum atau takut.

Kami mulai berjalan menyusuri deretan pakaian. Gaun, setelan, mantel—semuanya terlihat terlalu sempurna untuk disentuh. Tanganku bahkan ragu untuk menyentuh kainnya.

Aku berhenti di satu rak dan melihat label harga.

Mataku membelalak.

“…Haruka,” bisikku, nyaris panik. “Ini harganya—”

Ia tidak melihat label itu sama sekali. Ia hanya memperhatikan wajahku.

“Kamu suka yang mana?” tanyanya santai.

“Aku… aku cuma lihat-lihat,” jawabku cepat. “Aku nggak beli.”

Ia tidak membantah. Tidak juga menjawab. Ia hanya melangkah ke satu sisi, menarik beberapa potong baju—gaun, kemeja, mantel—semuanya dengan warna yang lembut, elegan, dan… entah kenapa sangat ‘aku’.

Ia menyerahkannya pada staf.

“These,” katanya singkat.

Aku tertegun. “Eh—itu buat siapa?”

Ia menoleh. “Untuk kamu.”

Aku langsung menggeleng. “Nggak perlu. Serius. Aku cuma ikut—”

Ia sudah berjalan menuju kasir.

Aku mengejarnya. “Haruka! Aku nggak minta ini.”

Ia berhenti tepat di depan meja kasir, lalu menoleh padaku. Tatapannya tenang. Terlalu tenang untuk dibantah.

“Aku tahu,” katanya. “Makanya aku yang beliin.”

Aku kehabisan kata-kata. Staf kasir langsung bekerja cepat, seolah ini adalah hal yang biasa—padahal bagiku ini terasa seperti mimpi yang terlalu mahal.

Setelah itu, tanpa menunggu reaksiku selesai, Haruka kembali menggenggam tanganku. “Ayo.”

“Kita ke mana lagi?” tanyaku lemah.

“Lihat jam.”

Aku nyaris tersedak. “Jam?!”

Kami masuk ke bagian lain toko. Lebih sunyi. Lebih eksklusif. Jam-jam di balik kaca berkilau seperti benda museum.

Aku berdiri kaku. “Aku nggak butuh jam semahal ini…”

Haruka mendekat. Mengambil satu jam dengan desain sederhana, tidak mencolok—tapi jelas mahal.

“Yang ini cocok,” katanya.

“Aku bisa lihat jam di HP,” balasku cepat.

Ia tersenyum tipis. “Tapi ini bisa kamu pakai tanpa mikir baterai.”

Aku menatapnya kesal. “Haruka…”

Ia mendekat satu langkah lagi. Suaranya direndahkan. “Alya.”

Aku diam.

“Bukan soal harganya,” lanjutnya. “Ini soal kamu punya sesuatu yang selalu mengingatkan… kamu tidak sendirian.”

Pipiku langsung terasa panas.

Aku memalingkan wajah. “Kamu selalu ngomong kayak gitu…”

Ia mengangkat alis. “Kayak apa?”

“Kayak—” aku terdiam, lalu bergumam, “bikin orang susah nolak.”

Ia terkekeh pelan. Jarang. Hangat.

Jam itu pun dibeli.

Lalu kalung. Lalu gelang. Semua dengan desain sederhana—tidak berlebihan, tidak mencolok. Seolah Haruka tahu… aku bukan tipe yang suka menjadi pusat perhatian, tapi suka merasa aman.

Saat staf membungkus barang-barang itu, aku berdiri di sampingnya, masih belum percaya.

“Kenapa kamu ngelakuin ini?” tanyaku akhirnya.

Ia menoleh. “Karena aku mau.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban paling jujur.”

Aku menelan ludah. “Tapi ini terlalu banyak.”

Ia mendekat sedikit, menurunkan suaranya. “Alya, dengar aku.”

Aku menatapnya.

“Aku hidup di dunia yang keras,” katanya. “Aku terbiasa lihat orang menginginkan sesuatu dariku. Kekuasaan. Uang. Perlindungan.”

Ia berhenti sebentar.

“Kamu satu-satunya yang tidak minta apa-apa.”

Dadaku menghangat. Tanganku refleks mencengkeram lengannya.

“Aku cuma… pengen kamu punya hal-hal indah,” lanjutnya. “Karena hidupmu sebelum ini tidak banyak memberimu pilihan.”

Pipiku semakin panas. Aku menunduk, malu.

“Haruka…” suaraku nyaris bergetar. “Kamu bikin aku merasa… kecil.”

Ia menggeleng pelan. “Bukan kecil.”

Ia mengangkat daguku dengan satu jari—gerakan lembut, tapi membuatku menahan napas.

“Berharga.”

Aku langsung menepis tangannya, wajahku merah. “Jangan ngomong kayak gitu di tempat umum!”

Ia tertawa kecil. “Pipimu merah.”

“Kamu jahat.”

“Tapi kamu senyum.”

Aku sadar… aku memang tersenyum.

Kami akhirnya keluar dari toko dengan beberapa tas besar. Aku menatapnya, lalu menatap tas-tas itu, lalu kembali menatapnya.

“Ini beneran liburan,” gumamku.

Ia membuka pintu mobil sport itu untukku. “Aku bilang juga apa.”

Saat aku duduk, aku meliriknya lagi. “Haruka.”

“Hm?”

“Kalau aku bilang… dunia ini bukan dunia yang pernah kupilih…”

Ia menutup pintu, berjalan memutar, lalu duduk di kursi pengemudi.

“Makanya aku ada,” katanya sambil menyalakan mesin. “Biar kamu nggak harus memilih sendirian.”

Mobil melaju perlahan. Kota asing itu terbentang di depan kami—mewah, luas, dan menakutkan.

Tapi untuk pertama kalinya…

Aku tidak merasa tersesat.

Karena di sampingku, ada Haruka.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!