"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Nyawa
Suasana di koridor rumah sakit pagi itu terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung Alana, namun fokusnya hanya tertuju pada pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Lampu merah di atas pintu itu menyala, menandakan bahwa nyawa ibunya sedang dipertaruhkan di dalam sana oleh tim bedah jantung terbaik yang disewa Arkan.
Alana duduk di kursi tunggu kayu yang keras, jemarinya bertautan erat. Ia masih mengenakan blus dari malam perjamuan yang melelahkan itu—ia tidak sempat pulang, tidak sempat bernapas. Kejadian Elena yang tiba-tiba muncul di kediaman Arkananta masih menghantuinya seperti mimpi buruk yang enggan berakhir.
"Minum ini."
Sebuah botol air mineral dingin ditempelkan ke pipi Alana. Ia tersentak dan mendongak, menemukan Arkan berdiri di depannya. Pria itu tampak tetap segar meski Alana tahu Arkan hanya tidur tiga jam setelah mengurus pemindahan Elena ke fasilitas rehabilitasi rahasia di pinggiran kota.
"Terima kasih," bisik Alana. Ia menerima botol itu, namun tangannya masih gemetar.
Arkan duduk di sampingnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan yang manis—itu bukan gayanya. Ia hanya duduk di sana, keberadaannya yang dominan memberikan rasa aman yang aneh bagi Alana di tengah ketidakpastian ini.
"Operasinya akan memakan waktu enam jam. Kamu tidak bisa terus seperti ini, Alana. Makanlah sesuatu atau kamu akan pingsan sebelum ibumu keluar," ucap Arkan tanpa menoleh.
"Aku tidak lapar, Arkan. Aku hanya... aku takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika ini semua adalah hukuman karena aku telah banyak berbohong?"
Arkan menoleh, menatap Alana dengan mata elangnya yang tajam. "Jika dunia ini menghukum setiap pembohong, maka tidak akan ada yang tersisa di ruangan ini. Berhenti menyalahkan dirimu. Fokus saja pada apa yang harus kamu lakukan setelah ini."
Alana terdiam. Kalimat Arkan selalu mengandung makna ganda. "Apa yang harus kulakukan setelah ini?"
Arkan berdiri, berjalan menuju jendela koridor yang menghadap ke arah kota. "Kakekku memang menerima penjelasanku tentang Elena yang 'sakit jiwa', tapi dia tidak bodoh. Dia merasa posisiku sedang goyah. Untuk menutupi skandal semalam, dia menuntut bukti nyata dari pernikahan ini."
Jantung Alana berdegup kencang. "Bukti nyata?"
"Kita akan mendaftarkan pernikahan kita secara sipil besok pagi. Tanpa pesta, tanpa pengumuman besar. Hanya tanda tangan di atas kertas legal di depan pengacara keluarga," Arkan berbalik, menatap Alana dengan intensitas yang membuat gadis itu sesak napas. "Pernikahan kontrakmu dipercepat, Alana. Kamu bukan lagi tunanganku. Kamu akan menjadi Nyonya Arkananta secara hukum."
Alana berdiri dengan kaki lemas. "Besok? Tapi ibuku baru saja dioperasi! Aku tidak bisa meninggalkan dia!"
"Itulah harganya, Alana," suara Arkan merendah, dingin dan tak terbantah. "Biaya operasi ini, biaya perawatan Elena, dan keamanan keluargamu dari ancaman penagih utang... semua itu tidak gratis. Kakekku memberiku syarat: jika pernikahan ini resmi secara hukum besok, maka dia akan menghentikan penyelidikannya terhadap latar belakangmu. Jika tidak, dia akan menyeret Elena ke polisi atas tuduhan penipuan, dan ibumu akan dipindahkan ke rumah sakit umum."
Alana merasa dunia di sekelilingnya mulai runtuh. Ia menatap lampu ruang operasi yang masih merah. Di dalam sana, ibunya sedang berjuang. Di luar sini, ia sedang menjual sisa-sisa kebebasannya pada sang iblis.
"Kamu benar-benar kejam, Arkan," ucap Alana dengan suara serak. "Kamu menggunakan nyawa ibuku untuk mengikatku."
Arkan berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Alana bisa mencium aroma kopi dan parfum maskulinnya. Ia merunduk, berbisik tepat di telinga Alana. "Aku tidak memaksamu. Kamu bisa menolak sekarang, dan aku akan membiarkanmu membawa ibumu keluar dari sini. Tapi kita berdua tahu, kamu tidak akan sanggup melihatnya mati."
Alana memejamkan mata. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah. Ia tahu Arkan benar. Ia tidak punya pilihan. Sejak ia melangkah masuk ke kantor Arkananta Group sebagai sekretaris pengganti, ia sudah masuk ke dalam jaring laba-laba yang sudah disiapkan Arkan.
"Baik," bisik Alana hancur. "Aku akan melakukannya. Aku akan menikahimu besok."
"Gadis pintar," Arkan mengusap air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya—sebuah gestur yang terlihat penuh kasih namun terasa sangat posesif. "Tetaplah di sini sampai dokter keluar. Sore nanti, pengacaraku akan membawakan dokumen yang harus kamu pelajari. Ada perjanjian pranikah yang harus kamu tanda tangani."
Enam jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun tersenyum tipis. "Operasinya sukses, Nona Alana. Pasien sedang dalam masa pemulihan di ruang ICU. Kondisinya stabil."
Alana jatuh terduduk di lantai, menangis karena lega. Beban berat yang menghimpit dadanya selama beberapa hari terakhir seolah terangkat sedikit. Namun, kegembiraan itu segera tertutup oleh bayangan kontrak pernikahan yang menunggu di meja Arkan.
Sore harinya, Alana kembali ke penthouse. Arkan sudah menunggunya di ruang kerja. Di atas meja jati itu, tumpukan kertas sudah siap.
"Tanda tangani di setiap halaman yang ada tanda silangnya," ucap Arkan sambil memberikan pulpen emas.
Alana membaca poin-poinnya. Itu adalah perjanjian pranikah yang sangat sepihak. Ia dilarang menuntut harta gono-gini, dilarang memberikan pernyataan pada media tanpa persetujuan, dan yang paling mengejutkan: Pihak Kedua wajib mematuhi segala aturan rumah tangga yang ditetapkan Pihak Pertama, termasuk dalam hal hubungan suami istri.
Alana menatap poin terakhir itu dengan wajah memerah. "Apa maksud dari poin ini, Arkan?"
Arkan menyesap kopinya, ekspresinya tidak berubah. "Pernikahan ini harus terlihat nyata bagi semua orang, termasuk bagi pelayan di rumah ini yang bekerja untuk kakekku. Jika aku memintamu untuk tidur di ranjang yang sama, atau berakting mesra di depan umum, kamu harus melakukannya tanpa protes."
"Tapi... itu melanggar hak asasiku!"
"Hak asasimu sudah habis saat kamu menandatangani kontrak pertama," Arkan berdiri dan berjalan ke arah jendela, memandangi langit malam Jakarta. "Di dunia ini, Alana, tidak ada yang namanya makan siang gratis. Kamu menginginkan nyawa ibumu, dan aku menginginkan stabilitas perusahaanku. Kita hanya dua orang yang sedang bertransaksi."
Alana menandatangani dokumen itu dengan tangan yang gemetar. Setiap goresan tinta seolah-olah adalah paku yang mengunci peti matinya. Setelah selesai, ia meletakkan pulpen itu dengan keras.
"Sudah puas?" tanya Alana tajam.
Arkan mengambil dokumen itu, memeriksanya sebentar, lalu tersenyum miring. "Besok jam sembilan pagi, pakailah gaun putih yang paling sederhana. Kita tidak butuh perayaan. Kita hanya butuh legalitas."
Malam itu, Alana tidak bisa tidur. Ia berbaring di sofa ruang tamu penthouse, menolak untuk masuk ke kamar Arkan meskipun pria itu tidak melarangnya. Ia menatap cincin berlian di jarinya. Besok, ia akan secara resmi menyandang nama Arkananta. Ia akan menjadi istri dari pria yang paling ia benci, sekaligus pria yang menjadi satu-satunya pelindungnya di dunia yang kejam ini.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Selamat atas pernikahanmu, Alana. Tapi jangan berpikir kamu bisa hidup tenang. Rahasia tentang bayi Elena bukan satu-satunya yang kusembunyikan. Sampai jumpa di pesta pernikahanmu... jika kamu berani melanjutkannya.” — M.
Alana tersentak. M? Apakah itu Marco, mantan kekasih Elena?
Ia segera menghapus pesan itu, tubuhnya gemetar. Ternyata, meskipun ia sudah menjual dirinya pada Arkan, ancaman dari masa lalu Elena tidak berhenti begitu saja. Ia terjepit di antara dua kekuatan yang sama-sama berbahaya.
Di ruang kerja, Arkan menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV ruang tamu. Ia melihat Alana yang tampak ketakutan setelah membaca pesan di ponselnya. Arkan tersenyum dingin. Ia tahu tentang pesan itu—ia sudah menyadap ponsel Alana sejak lama.
"Mainkan peranmu dengan baik, Alana," gumam Arkan. "Karena jika Marco berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku, aku akan memastikan dia tidak akan pernah melihat matahari lagi."
Arkan mematikan monitornya. Besok adalah hari besar. Bukan karena ia bahagia akan menikah, tapi karena ia tahu, dengan Alana di sisinya, ia memiliki senjata paling ampuh untuk menjatuhkan kakeknya dan mengambil alih kekuasaan penuh atas Arkananta Group. Cinta? Itu tidak ada dalam kamusnya. Yang ada hanyalah obsesi, kepemilikan, dan kemenangan.