Jamila Anata gadis sembilan belas tahun yang tiba-tiba hamil anak kakak Iparnya kejadian itu terjadi karena Kakak ipar Mila pulang kantor dalam keadaan Mabuk parah dan dia menganggap Jamila adalah sang istri
Bagaimana kejadian nya simak di novel terbaru ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesya icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Jakarta
Pagi itu Bara sangat bahagia karena pagi ini dia dan sang Mama akan ke Jakarta, sesuai janji sang Mama. " Nak, kamu mau bawa apa lagi ke Jakarta nya?? mainan kamu udah kamu masukin ke koper enggak?? nanti ketinggalan kamu nangis minta mainan itu, ucap Mila.
Bara mengangguk pelan " cudah Mama, cudah Bala masukin cemua" ucap bocah tiga tahun itu cadel.
Jam sembilan pagi keduanya tiba di bandara Sultan syarif Qasim 2 pekanbaru. keduanya memasuki bandara dan menunggu pesawat terbang ke Jakarta. Menunggu sejam kurang, Keduanya sudah duduk manis di pesawat.
Burung besi itu mengudara menuju Jakarta. Bara sangat senang dan selalu bercerita selama perjalanan. " Mama, Nanti kita jalan-jalan ya sama Aunty Len, Bala kangen main sama Aunty Len, ucapnya.
Mila mengangguk lalu membelai rambut sang anak. Mila selalu berusaha mewujudkan keinginan sang putra walau harus menunggu beberapa saat sampai dia mampu mewujudkan keinginan Bara.
Sejam lebih dikit mengudara, Pesawat landing di bandara Jakarta. Ibu dan anak itu keluar pesawat dan langsung mengambil koper mereka. Di pintu kedatangan sudah menunggu Rena.
Melihat sang sahabat berjalan kearah nya, Membuat Rena antusias. " Mila, Bara sayang" Panggil Rena.
Mila dan Rena saling memeluk penuh kerinduan begitu pula Bara memeluk Aunty Len kesayangannya. " Wah siapa ini, anak kesayangan Aunty Len di sini juga rupanya " goda Rena lalu memeluk bocah tampan dan imut itu.
Bara tersenyum dan memeluk Rena antusias. " Aunty Len, nanti kita makan baleng ya" ajak Bara. Rena mengangguk dan tersenyum, lalu ketiganya menuju ke parkiran mobil Rena.
Mobil itu melaju menuju restoran karena sudah pas waktu makan siang juga. Di restoran pun ada rombongan para pebisnis muda tengah meeting sekalian makan siang bersama.
Ya di sana ada Jovan dan para kolega bisnis nya sedang Meeting dan makan siang bersama.
Mila, Rena dan Bara tiba di restoran lalu mencari meja yang kosong. " Maaf mas, ada meja kosong untuk tiga orang"? tanya Mila kepada seorang pramusaji.
Pria muda itu mengangguk" Baik mbak, ayo ikut saya. Meja kosong tinggal satu mbak dan itu di samping ruangan VVIP, jawab nya.
Mila dan Rena mengangguk setuju dan mengikuti mas pramusaji itu. Sebuah ruangan kecil namun nyaman itulah tempat meja terakhir restoran itu.
Bara sangat senang karena meja itu dekat taman dan kolam ikan. " Waaaw Mama lihat cana, itu ada ikan Mama" teriak Bara
antusias selayaknya anak pada umumnya.
Mila dan Rena tersenyum melihat antusiasme nya Bara. " Bara mau peliharaan ikan juga di rumah kita? tanya Mila.
Bara mengangguk dan berteriak senang. Mila mengelus rambut sang anak. " Nanti setelah pulang dari jakarta kita belum akuarium nya ya, nanti Bara yang pilih ikan nya" Ucap Mila.
Obrolan itu berakhir dengan kedatangan waiters untuk mencatat pesanan. Mereka bertiga memesan makanan masing-masing. Bara biasa dia cuma suka ayam goreng dan jus jeruk.
Di ruangan VVIP yang lumayan redup suara namun kaca nya transfaran untuk melihat keluar, namun orang luar tidak bisa melihat ke dalam.
Jovan terkejut kala melihat Mila bersama Rena di luar dan ada seorang anak kecil yang bergelayut manja di lengan nya minta suapi.
Jovan terpana saat melihat wajah anak laki-laki itu. Jantung nya berdetak kuat karena wajah anak laki-laki itu bagaikan pinang di belah dua dengan wajah nya kala kecil. Bahkan bisa di bilang Bara itu cerminan Jovan kecil dan Bara jika dewasa akan setampan Jovan Papa nya.
Jovan keluar ruangan meeting membuat semua orang terkejut di sana.
Jovan ingin ke meja Mila namun obrolan di sana membuat Jovan terdiam untuk mendengar apa yang di bicarakan Rena dan Mila.
" Mil, lu lama kan di Jakarta, kasihan Bara Mil, mau sampai kapan lu ninggalin ibu kota untuk menjauhkan Bara dari ayah nya. Pria itu harus tau Mil jika dia punya anak sama lu. Itu tanggung jawab dia juga membesarkan Bara Mil, bukan cuma Lu.
Mila tersenyum kecut. " Gue cuma sebulan aja di Jakarta Ren, gue enggak akan ganggu dia, gue ingin membesarkan Bara sendiri. Biar aja orang menghina gue Ren, apapun gue lakukan demi kebahagiaan Bara.
Mila tertunduk sedih. Ren, salah enggak sih gue kalau gue menutup jati diri Bara?? gue enggak siap Ren, menerima kenyataan buruk lagi. Bara memang butuh kasih sayang orang tuanya, Tapi gue yakin gue bisa jadi ayah dan ibu sekaligus untuk anak gue.
Rena menggenggam tangan Mila. Sementara Bara terlihat di dekat kolam kecil melihat ikan. " Lu enggak salah Mil, gue tau gimana hidup lu hampir tiga tahun ini. Gimana lu berjuang sendirian kala hamil dan hampir meninggal kala melahirkan Bara, semua yang lu lakukan demi Bara.
Gue, Nyokap bokap gue akan selalu ada buat lu Mil. Mila tersenyum, karena memang keluarga Rena lah yang selalu ada untuknya sejak dulu.
Jovan terdiam mendengar semua ucapan Mila dan Rena. Dia bagaikan pria jahat yang membuat kehidupan wanita baik-baik itu hancur. Bahkan dengan kejam nya dia selama ini tidak pernah mencari Mila dan dia tidak tau jika kejadian silam itu meninggalkan benih nya di rahim Mila.
" Maaf " Cuma itu yang Jovan katakan saat melihat Mila dari jauh. Tatapan Jovan mengarah pada pria kecil yang sangat mirip dengan nya sendu. " Maafkan Papa nak, Papa jahat sama kamu dan mama kamu. Suatu saat Papa akan tebus semua kesalahan Papa, kasih Papa waktu sedikit lagi ya nak Papa akan menebus kesalahan Papa dan menemui kamu.
Bagi Jovan, jika tidak bisa memiliki Mila tidak apa-apa namun anak laki-laki itu tidak bersalah, dia anak nya darah daging nya sendiri.
Jovan kembali ke ruangan meeting dan duduk terdiam sepanjang meeting. Hanya Robby yang menyimak dan mencatat semua hasil meeting hari itu.
Setelah selesai meeting Jovan menatap Robby. " Mila sudah di Jakarta, baru saja saya melihatnya. Kamu cari tau dimana Alamat nya dan cari tau identitas anak laki-laki yang bersama Mila dan ambil sample rambutnya saya mau tes DNA, ucap Jovan.
Walau tidak melakukan Tes pun Jovan yakin itu anaknya, namun demi memuluskan jalan nya nanti dan Mila tidak bisa berkelit saat Jovan menanyakan siapa Bara, Jadi Jovan memutuskan Tes DNA di lakukan.
Robby mengangguk dan keduanya keluar restoran. Mila, Rena dan Bara pun telah pulang ke apartemen Mila di Jakarta.