NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah nama pena

Clara menatap dokumen itu dan mulai membacanya perlahan. Setiap paragraf ia cerna dengan teliti, seolah bukan hanya sedang membaca kontrak, tetapi sedang menimbang arah hidupnya sendiri. Sampai di bagian kewajiban promosi, jemarinya berhenti. Ia mengangkat kepala dan menatap Bu Raisa.

“Maaf, Bu Raisa… untuk bagian promosi, apa saya memang harus selalu hadir?” tanya Clara hati-hati.

Raisa menautkan jemarinya di atas meja. “Kamu tidak ingin ikut mempromosikan karyamu? Kamu bisa dikenal media. Publik pasti akan menyukai kamu.”

Clara menarik napas pelan. “Saya ingin tulisan saya yang dilihat, bukan diri saya, bukan juga kehidupan saya. Apa bagian ini bisa di rubah?”

Raisa tertawa kecil, bukan mengejek, bukan pula meremehkan. Itu tawa kagum, dari sekian banyak penulis muda yang pernah ia temui, kebanyakan justru haus sorotan. Clara berbeda. Ia tidak ingin wajahnya dipajang, tidak ingin kisah hidupnya dijadikan bahan konsumsi publik.

“Apakah hanya itu yang ingin kamu rubah?” tanya Raisa.

Clara mengangguk mantap.

“Baik.” Raisa menoleh pada asistennya. “Budi, tolong ubah klausul promosi. Kita buat fleksibel. Promosi bisa dalam bentuk tulisan, audio, atau tertutup, tidak wajib tampil publik.”

Budi segera mengetik ulang dokumen itu dengan sigap.

Raisa kembali menatap Clara. “Lalu, kamu ingin menggunakan nama asli atau nama pena?”

“Nama pena, Bu.”

“Sudah ada?”

Clara mengangguk. “Arunika.”

Nama itu jatuh begitu saja ke ruangan putih yang hening.

Dan Raisa membeku sepersekian detik. Clara mengerjap, bingung.

Apa aku salah bicara? batinnya.

“Bu?” panggil Budi pelan karena melihat Raisa terdiam terlalu lama.

Raisa tersadar. “Eh… iya. Sudah selesai, Budi?”

Budi mengerutkan kening. “Kenapa ibu malah melamun? Nanti kesambet lagi.”

“Ck, mana ada hantu di sini,” sahut Raisa cepat, menutupi kegelisahannya.

Ia menatap Clara lagi, kali ini lebih dalam.

“Kenapa memilih nama itu?” tanya Raisa akhirnya.

“Itu nama pena ibu saya dulu,” jawab Clara polos.

Raisa terdiam lagi, kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena potongan puzzle yang selama ini hilang tiba-tiba menyatu. Sorot mata Clara. Ketajaman kalimatnya. Kedewasaan berpikirnya. Semua terasa familiar.

Jadi… ini alasannya.

“Dunia ini ternyata sempit,” gumam Raisa pelan.

Clara tidak mengerti maksudnya, tapi ia tidak bertanya.

“Ini, Clara. Tolong dibaca kembali,” ujar Budi, menyerahkan dokumen yang sudah diperbarui.

Clara membaca ulang dengan tenang. Klausul promosi telah diubah sesuai permintaannya. Tidak ada kewajiban tampil publik yang memaksanya menjadi figur sorotan. Ia menarik napas panjang lalu tanpa ragu membubuhkan tanda tangan di atas materai.

Seketika, seolah satu bab hidupnya resmi berganti halaman, ia menyerahkan kembali berkas itu pada Budi.

Raisa berdiri dan mengulurkan tangan.

“Clara Ayudita, Selamat datang di Aksara Langit.”

Clara menyambut uluran tangan itu dengan hangat. Ada getaran halus di dadanya bukan karena gugup, melainkan karena sadar bahwa langkah ini bukan hanya untuk dirinya.

“Terima kasih, Bu Raisa. Tolong bimbing saya. Dan tegur saya jika saya melakukan kesalahan.”

Raisa tersenyum, kali ini bukan senyum profesional, melainkan senyum seseorang yang melihat masa depan.

“Tenang saja,” ucapnya lembut. “Saya tidak sedang merekrut penulis biasa.”

Clara tidak menyadari, di balik senyum itu Raisa sedang menatap bayangan masa lalu.

Clara melirik jam tangannya. Jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas lewat.

Mungkin masih sempat, batinnya.

Clara berniat menemui natan setelah urusannya disini selesai.

“Bu Raisa, saya pamit dulu. Saya ada janji dengan teman,” ucap Clara sopan.

“Kamu tidak makan dulu? Kita bisa sekalian makan siang,” tawar Raisa, nada suaranya tetap hangat meski jadwalnya pasti padat.

Clara tersenyum kecil. “Lain kali saja, Bu.”

Ia menyesap kopi yang sudah mulai dingin hingga habis, seolah menuntaskan satu fase kecil sebelum melangkah ke fase berikutnya. Lalu ia berdiri dan sedikit menunduk.

“Terima kasih atas hari ini, Bu Raisa.”

Raisa ikut berdiri. Tatapannya berbeda dari awal pertemuan lebih dalam, lebih personal. “Saya yang berterima kasih, Clara.”

Mereka berjalan bersama menuju pintu. Budi yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan segera bergerak.

“Saya antar sampai bawah.”

Clara menggeleng halus. “Tidak usah, Pak Budi. Saya bisa sendiri. Bapak pasti masih banyak pekerjaan.”

Budi menatapnya sebentar, lalu mengangguk paham. “Baiklah. Hati-hati di jalan.”

Clara membalas dengan anggukan dan senyum.

Pintu lift tertutup perlahan, menyisakan Raisa dan Budi di lorong lantai lima.

Sepeninggal Clara, kini Raisa berdiri di depan jendela besar ruangannya. Ia menatap Clara yang sedang berjalan melintasi halaman gedung Aksara Langit, langkahnya ringan, wajahnya tenang, tak menyadari bahwa ia baru saja mengusik masa lalu seseorang.

“Kak Reza… aku menemukannya,” bisik Raisa pelan.

Kilasan puluhan tahun lalu datang tanpa diminta.

“Ayo, Raisa cepat! Nanti antreannya makin panjang!”

Raisa yang waktu itu masih berseragam SMA, rambutnya dikepang dua, berlari bersama temannya menuju toko buku di ujung jalan. Nafasnya terengah, tapi wajahnya penuh semangat.

“Untung aja antreannya nggak terlalu panjang,” ucap Raisa, mengintip ke dalam toko.

“Bu Fitri lama banget ceramahnya,” protes temannya sambil tertawa. Mereka mengantre sambil bercanda, menunggu giliran masuk.

Begitu pintu kaca terbuka, aroma kertas baru menyambut mereka. Di rak paling depan, novel dengan sampul sederhana namun elegan terpajang rapi.

Raisa menggenggam novel yang baru dibelinya dengan wajah sumringah.

“Akhirnya koleksiku lengkap!” serunya sambil memeluk buku itu.

“Aku masih kurang satu yang judulnya Cahaya di kegelapan,” sahut temannya dengan wajah muram.

“Jangan sedih, nanti aku bantu cari,” jawab Raisa cepat.

Saat pulang ke rumah, Raisa mendapati kakaknya sedang berbicara serius dengan asistennya di ruang kerja.

“Aku mau merekrut Arunika ke Aksara Langit. Potensinya sangat besar. Kenapa dia bertahan di penerbit kecil?” suara Reza terdengar tegas.

“Saya sudah mencoba mendatangi penerbit itu, Pak. Tapi mereka juga tidak tahu profil asli Arunika, mereka bilang yang tahu hanyalah pemilik perusahaan dan Arunika selalu menggunakan pos saat mengirim karya nya,” jawab asistennya.

"Dimana pendiri perusahaan itu," tanya Reza cepat

"Dia sudah meninggal setahun yang lalu,"

Raisa yang berdiri di tangga hanya terdiam, mendengarkan dengan penasaran.

Ia naik ke lantai dua, masuk ke kamar, meletakkan tasnya, lalu menatap novel yang baru saja ia beli. Ia mengusap perlahan nama Arunika di sampulnya sebelum menyusunnya di rak yang sudah penuh dengan karya penulis itu.

Malamnya, Raisa duduk di ruang tamu bersama kakaknya, menikmati camilan favoritnya.

“Kak, apa Arunika sepenting itu untuk Perusahaan?” tanya Raisa polos.

Reza menatap adik kesayangannya dan tersenyum lembut.

“Kakak ingin membawa Aksara Langit ke kancah internasional. Dan kakak yakin, yang bisa melakukan itu hanyalah Arunika.”

“Tapi sayangnya,” lanjut Reza, wajahnya sedikit murung, “Arunika sangat sulit untuk diraih.”

Beberapa bulan kemudian, berita besar menghiasi koran cetak nasional:

Penulis Terkenal Arunika Menghilang dari Dunia Literasi.

Tak ada klarifikasi, tak ada karya baru dan tak ada jejak. Seolah cahaya itu tiba-tiba padam.

Kilasan masa lalu itu menguap perlahan, kembali pada ruangan putih yang sunyi.

Raisa berkedip, menyadari dirinya kini berdiri sendirian di depan jendela besar. Di bawah sana, Clara sudah tak terlihat lagi.

Mata Raisa berkaca-kaca.

“Arunika tidak menghilang,” gumamnya pelan. “Ia hanya beristirahat.”

Ia menatap langit biru Jakarta, mengingat janji kakaknya yang dulu belum sempat terwujud.

“Aku akan pastikan,” bisiknya, suaranya tegas, “Aksara Langit pergi ke dunia yang jauh lebih besar.”

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!