Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: PELAJARAN PERTAMA DI DALAM SANGKAR
Pagi di Mansion Moretti tidak membawa ketenangan.
Ia membawa bau mesiu yang belum sepenuhnya hilang dan keheningan yang terasa seperti penghakiman.
Elara berdiri di depan cermin kamarnya. Luka gores di pipinya sudah dibersihkan, namun bayangannya terlihat asing. Tatapan itu tidak lagi polos—ada kewaspadaan di sana. Ada keputusan yang belum sepenuhnya ia pahami, tapi sudah ia terima.
Pintu diketuk. Bukan ketukan pelayan.
“Masuk,” ucap Elara.
Marcus berdiri di ambang pintu. Bahunya diperban, wajahnya pucat, tapi ia masih berdiri tegak seperti prajurit yang menolak tumbang.
“Tuan Julian memintamu ke ruang bawah,” katanya singkat. “Sekarang.”
Elara mengangguk. Tidak ada rasa takut. Yang ada justru… kesiapan yang aneh.
---
Ruang bawah mansion bukan ruang penyimpanan anggur seperti yang ia kira.
Itu adalah ruang latihan.
Dinding beton, lantai karet hitam, kamera di setiap sudut. Di tengah ruangan berdiri Julian—tanpa jas, tanpa dasi, hanya kemeja gelap yang lengannya digulung. Tangannya dibalut sarung tangan latihan.
“Kau terlambat dua menit,” katanya tanpa menoleh.
“Aku tidak tahu ini jadwal latihan,” balas Elara.
“Di dunia ini, orang tidak menunggu jadwal untuk membunuhmu,” jawab Julian datar. Ia berbalik. “Maju.”
Elara menurut. Jarak mereka tinggal satu langkah.
“Apa ini?” tanya Elara. “Hukuman?”
“Pelajaran,” koreksi Julian. “Yang pertama.”
Ia mengangkat sebuah pistol latihan—ringan, tanpa peluru tajam—lalu meletakkannya di tangan Elara.
Elara refleks ingin menjatuhkannya.
“Pegang,” perintah Julian tajam.
Elara menggenggamnya. Tangannya gemetar.
“Kau tidak akan kugunakan sebagai umpan lagi,” lanjut Julian. “Mulai sekarang, siapa pun yang mengincarmu harus berhadapan dengan pilihanmu, bukan hanya perlindunganku.”
“Aku tidak ingin menjadi sepertimu,” kata Elara.
Julian mendekat, cukup dekat hingga Elara bisa mencium aroma logam dan kopi pahit di napasnya.
“Bagus,” katanya pelan. “Kalau begitu, belajarlah agar tidak bisa dihancurkan oleh orang sepertiku.”
Ia tiba-tiba menyentak pistol itu keluar dari genggaman Elara.
Gerakannya cepat. Elara tersentak, kehilangan keseimbangan, dan terjatuh ke lantai.
Julian menatapnya dari atas. Tidak ada ejekan. Tidak ada simpati.
“Bangun,” katanya.
Elara mengepalkan tangan. Lututnya nyeri, harga dirinya lebih nyeri lagi. Ia bangkit.
“Sekali lagi.”
Kali ini, saat Julian mencoba merebut pistol itu, Elara tidak melepaskan. Pegangannya salah. Sikunya terbuka. Julian dengan mudah memelintir pergelangannya hingga senjata itu jatuh.
“Kalau ini nyata,” kata Julian dingin, “kau sudah mati dua kali.”
Dada Elara naik turun. “Terus gunanya apa aku di sini?”
Julian terdiam sejenak. Lalu ia menjawab dengan suara yang lebih rendah.
“Supaya suatu hari nanti… kau tidak perlu percaya pada siapa pun untuk tetap hidup.”
Keheningan jatuh.
Di balik kaca satu arah, layar menyala. Wajah seorang pria tua muncul—berpakaian rapi, tatapannya dingin.
“Julian,” suara itu terdengar melalui pengeras. “Dewan sudah mengambil keputusan.”
Rahang Julian mengeras.
“Elara Vance akan diklasifikasikan ulang,” lanjut pria itu. “Bukan lagi aset pasif. Mulai hari ini, Aset 01 berstatus aktif.”
Elara menoleh tajam. “Apa artinya itu?”
Artinya jawabannya bukan Julian yang akan menjawab.
“Artinya,” suara pria itu menyeringai, “kau tidak lagi dilindungi. Kau akan diuji.”
Layar mati.
Keheningan kembali.
Julian menatap Elara. Untuk pertama kalinya, tidak ada kendali mutlak di matanya—hanya kejujuran yang kasar.
“Mereka akan datang,” katanya. “Bukan untuk mengambilmu. Tapi untuk melihat apakah kau layak hidup.”
Elara mengangkat dagunya. Tangannya masih gemetar, tapi tatapannya tidak.
“Kalau aku gagal?”
Julian mendekat, berdiri tepat di depannya.
“Kalau kau gagal,” katanya pelan, “aku akan menjadikan seluruh dunia tempat yang tidak aman bagi mereka.”
Elara menatap pria yang kini secara resmi menjadi perisai sekaligus penjaranya.
“Kalau aku berhasil?” tanyanya.
Julian tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum seseorang yang tahu apa arti perang.
“Kalau kau berhasil,” katanya,
“mereka tidak lagi melihatmu sebagai aset.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan satu kalimat terakhir yang menggantung di udara:
“Mereka akan menyebutmu ancaman.”