menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 1
“SMA Garuda Bangsa bukanlah sekolah sembarangan. Dikenal dengan prestasi akademiknya yang menjulang, sekolah ini juga memiliki standar disiplin yang sangat tinggi. Di puncak hierarki murid, berdirilah Aria Putri.
Kelas 3 di SMA Garuda Bangsa adalah fase yang penuh tekanan. Ini bukan lagi masa untuk bermain-main; ini adalah tahun "penghakiman" di mana setiap detik berharga untuk masa depan.
Bagi para siswa kelas 3, kelulusan bukan sekadar akhir dari masa seragam putih abu-abu, melainkan gerbang menuju realitas yang keras. Kata-kata seperti *"Perpisahan adalah awal,"* mungkin terdengar manis, namun bagi mereka, kelulusan adalah tentang melepaskan identitas remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri.
Aria Putri adalah anomali. Dia menjabat sebagai Ketua OSIS selama tiga periode berturut-turut—sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dia cerdas, bertalenta dalam musik dan debat, namun memiliki tatapan mata sedingin es. Kedisiplinannya tidak mengenal kompromi, dan ketegasannya sering dianggap sebagai tirani oleh teman-temannya sendiri.
\---
Pagi itu, di gerbang utama, Aria berdiri tegak dengan buku catatan kecil di tangannya. Matanya yang tajam menangkap sosok Bimo, seorang siswa kelas 10 yang berjalan santai dengan kerah baju terbuka tanpa dasi.
"Berhenti," suara Aria rendah, namun sanggup menghentikan langkah Bimo seketika.
Bimo menoleh, wajahnya pucat. "Eh, Kak Aria... pagi, Kak."
Aria melangkah mendekat, jaraknya hanya satu meter. "Di mana dasimu?"
"Anu, Kak... ketinggalan di meja belajar. Tadi buru-buru karena takut telat," jawab Bimo terbata-bata.
Aria tidak tersenyum. "Takut telat bukan alasan untuk melanggar aturan estetika dan martabat seragam. Kamu tahu apa fungsi dasi di sekolah ini? Itu simbol kesiapanmu untuk belajar. Jika dasi saja kamu lupakan, apalagi tanggung jawabmu di dalam kelas?"
"Maaf, Kak, cuma hari ini kok..."
"Diam!" bentak Aria, suaranya naik satu oktav membuat beberapa murid di sekitar menoleh. "Jangan membela diri atas kelalaianmu. Masuk ke ruang OSIS, ambil dasi pinjaman, dan terima poin pelanggaranmu. Jangan sampai aku melihat leher kosongmu lagi besok, atau kau akan berdiri di lapangan sampai upacara selesai. Mengerti?"
Bimo hanya bisa menunduk dalam, bibirnya terkunci rapat. Dia tidak berani membantah aura dominan yang dipancarkan Aria.
\---
Siang harinya, saat jam istirahat, suasana koridor lantai dua sangat ramai. Dua siswi kelas 11, Rina dan Maya, tampak berlarian sambil tertawa keras, mencoba mengejar satu sama lain.
\*TAP. TAP. TAP.\*
Langkah sepatu pantofel Aria yang beradu dengan lantai keramik terdengar seperti lonceng kematian bagi kegaduhan tersebut.
"KALIAN PIKIR INI LAPANGAN LARI?" suara Aria menggelegar di sepanjang koridor.
Rina dan Maya mendadak berhenti, hampir tergelincir. Napas mereka tersengal.
"Maaf, Kak Aria, kami cuma bercanda," kata Maya sambil mencoba mengatur napas.
"Bercanda ada tempatnya! Ini koridor, tempat orang berjalan dengan tenang untuk menuju ruang kelas atau perpustakaan!" Aria mendekat, wajahnya tampak sangat marah. "Bagaimana jika kalian menabrak guru yang membawa tumpukan tugas? Atau menabrak siswa lain hingga terluka? Apakah tawa kalian bisa menyembuhkan luka orang lain?"
"Kami tidak bermaksud begitu..."
"Aku tidak butuh maksudmu, aku butuh tindakanmu! Sekarang, kembali ke kelas dengan berjalan kaki secara normal. Jika aku melihat kalian berlari lagi di lingkungan sekolah, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak akan mendapat izin keluar kelas saat istirahat selama satu minggu. Pergi!"
Kedua siswi itu tertunduk malu, berjalan kaku di bawah tatapan tajam Aria yang mengawal mereka hingga masuk ke kelas.
\---
Ketegasan Aria mencapai puncaknya saat dia memergoki tiga siswa kelas 2 sedang menyudutkan seorang anak kelas 1 di area belakang kantin. Mereka tampak sedang mengintimidasi adik kelas tersebut untuk menyerahkan uang sakunya.
Aria muncul dari balik pilar, melipat tangan di dada. "Sangat heroik ya, tiga orang melawan satu anak yang bahkan belum genap satu semester di sini."
Para perundung itu terlonjak. Sang ketua geng, Satria, mencoba berlagak berani. "Hanya urusan kecil, Ar. Jangan ikut campur."
Aria melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun. "Urusan kecil? Memeras dan menindas itu adalah pelanggaran berat di SMA Garuda Bangsa. Kalian tahu apa sanksinya?"
"Ar, ayolah, kita kan sudah lama kenal..."
"Aku tidak mengenal pengecut," potong Aria cepat. "Kalian punya dua pilihan. Lepaskan dia sekarang dan minta maaf, atau aku akan membawa kasus ini langsung ke meja Kepala Sekolah dengan rekomendasi skorsing atau bahkan pengeluaran. Aku punya rekaman suara kalian sejak lima menit yang lalu."
Satria dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka tahu Aria tidak pernah menggertak sambal. Kata-katanya adalah hukum.
"Maaf..." gumam Satria pelan kepada anak kelas 1 itu sebelum mereka bergegas pergi meninggalkan tempat kejadian dengan wajah kesal.
Aria menatap anak kelas 1 itu sebentar. "Jangan biarkan dirimu diinjak. Laporkan jika terjadi lagi. Paham?" Setelah anak itu mengangguk, Aria pergi tanpa menunggu ucapan terima kasih.
\---
Meski Aria menjaga ketertiban, kebencian murid-murid kepadanya semakin memuncak. Di kantin, di grup chat tanpa Aria, dan di pojok-pojok sekolah, protes mulai bermunculan.
"Dia itu robot atau manusia sih?" gerutu seorang siswa. "Tiga tahun kita dipimpin diktator. Kapan kita bisa bebas?"
"Dia terlalu disiplin sampai tidak punya empati," sahut yang lain. "Iya dia pintar, iya dia hebat, tapi sekolah ini jadi terasa seperti penjara karena dia. Kita tidak butuh ketua OSIS yang hanya tahu cara marah-marah."
Banyak siswa yang merasa bahwa kepemimpinan Aria terlalu kaku. Mereka merasa tercekik oleh aturan-aturan kecil yang selalu diawasi oleh "Mata Elang" Aria.
Ketidaksukaan itu berubah menjadi atmosfer dingin setiap kali Aria melewati kerumunan. Tidak ada lagi sapaan hangat, yang ada hanyalah bisikan-bisikan sinis yang sengaja dikeraskan agar dia mendengar.
Aria Putri, sang Ketua OSIS yang segera lulus, berdiri di tengah lapangan saat senja. Dia mendengar semuanya. Dia tahu mereka tidak menyukainya.
Namun, baginya, kedisiplinan adalah bentuk kasih sayang yang paling keras untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia luar yang jauh lebih kejam daripada tegurannya di koridor sekolah.
\---
Pagi itu di SMA Garuda Bangsa, suasana kelas 3-1 tampak sangat kontras dengan hiruk-pikuk koridor saat jam istirahat.
Di dalam ruangan ini, keheningan adalah hukum. Semua murid telah duduk rapi di kursi masing-masing, buku-buku cetak tebal sudah terbuka di atas meja, dan pandangan mereka tertuju ke depan.
Di barisan depan, Aria Putri duduk dengan punggung tegak, pena di tangan, dan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
Pak Heru, guru Matematika yang dikenal kaku, masuk ke dalam kelas. Tanpa banyak basa-basi, beliau membuka buku absen yang sampulnya sudah mulai mengelupas.
"Baik, bapak absen dulu. Tolong dengarkan namanya baik-baik," ujar Pak Heru dengan suara berat.
Satu per satu nama disebutkan. "Ahmad?"
"Hadir, Pak."
"Aria Putri?"
"Hadir, Pak," jawab Aria singkat dan tegas.
Absen berlanjut hingga Pak Heru berhenti pada satu nama. Matanya menyipit menatap baris nama di urutan bawah.
"Sasha Arka?"
Hening. Tidak ada jawaban. Pak Heru mendongak, menyapu seluruh penjuru kelas. "Sasha Arka hadir?"
Sekali lagi, hanya suara kipas angin yang terdengar. Murid-murid lain saling lirik, namun mereka hanya mengangkat bahu. Tak ada yang tahu di mana keberadaan gadis itu.
"Ada yang tahu di mana Sasha?" tanya Pak Heru lagi, nada suaranya mulai terdengar kesal.
Aria terdiam, ingatannya melayang pada percakapan dengan wali kelas beberapa bulan lalu. Saat itu, sang guru berkata kepadanya, \*"Aria, Sasha itu siswi yang bermasalah. Kelakuannya makin menjadi-jadi sekarang sudah kelas tiga. Awalnya dia di kelas 3-3, tapi di sana dia tidak bisa dikendalikan. Saya pindahkan dia ke kelasmu, 3-1, agar kau sebagai Ketua OSIS bisa membantunya, setidaknya memberinya pengaruh positif. Dia akan resmi pindah di semester dua."\*
Kini, semester dua sudah berjalan, namun kursi di pojok belakang itu lebih sering kosong daripada terisi.
Aria mengerutkan kening. Baginya, ketidakhadiran adalah pelanggaran disiplin yang paling tidak bisa ditoleransi, apalagi bagi seseorang yang sudah diberi kesempatan kedua.
Pak Heru menghela napas panjang, menutup buku absen dengan sedikit bantingan. "Ya sudah. Bapak tidak heran lagi. Kita mulai saja pelajarannya. Buka halaman 142 mengenai turunan fungsi."
Pak Heru berbalik ke papan tulis. Kapur di tangannya mulai bergerak cepat, menciptakan bunyi \*tek-tek-tek\* yang berirama saat menuliskan rumus-rumus kompleks. Kelas sangat sunyi, hanya suara kapur dan desah napas murid yang berusaha memahami materi.
\*BRAK!\*
Pintu kelas terbuka secara tiba-tiba tanpa ketukan. Semua kepala menoleh serentak.
Di ambang pintu, berdirilah seorang siswi. Penampilannya sangat jauh dari standar SMA Garuda Bangsa.
Ia mengenakan \*hoodie\* putih kebesaran yang menutupi seragamnya, dan bukannya rok abu-abu, ia justru mengenakan celana panjang kain berwarna gelap. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya terlihat sayu, namun ada kesan menantang di sana.
"Sasha?" Pak Heru meletakkan kapurnya, tangannya bertumpu di pinggang. "Dari mana saja kau? Kenapa jam segini baru masuk?"
Sasha melangkah masuk tanpa rasa bersalah. Suaranya terdengar malas saat menjawab, "Hanya terlambat bangun saja, Pak."
Jawaban itu memicu bisikan di antara murid-murid lain. Aria Putri mengepalkan tangannya di bawah meja. "Terlambat bangun? Di semester akhir kelas tiga?" batin Aria dengan amarah yang tertahan.
Pak Heru mulai mengomel, suaranya naik beberapa desibel. "Terlambat bangun? Kamu pikir ini hotel? Kamu sudah kelas tiga, Sasha! Nilaimu sudah di ujung tanduk, kehadiranmu nol besar, dan sekarang kamu datang dengan pakaian seperti itu? Mana rokmu? Kenapa pakai celana?"
Sasha tidak berhenti berjalan menuju mejanya di pojok belakang. Ia seolah menganggap omelan Pak Heru hanyalah kebisingan latar belakang yang tidak penting.
Ia menarik kursi dengan suara decitan yang memekakkan telinga lalu duduk sambil menyandarkan kepalanya.
"Sasha! Saya bicara denganmu!" bentak Pak Heru.
Sasha hanya menoleh sekilas, lalu mengeluarkan sebuah buku tulis kusam dari dalam tasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri atau meminta maaf.
Pak Heru memijat pelipisnya, tampak sangat lelah menghadapi siswi yang satu ini. "Dengar, Sasha. Saya peringatkan kamu sekali lagi. Jika besok kamu terlambat lagi, atau masuk dengan atribut yang melanggar aturan seperti ini, saya tidak akan segan-segan melaporkanmu langsung ke wali kelas dan memanggil orang tuamu ke sekolah. Mengerti?"
Sasha tetap diam, matanya menatap kosong ke papan tulis. Pak Heru mendengus kesal, lalu kembali mengambil kapurnya. "Semuanya, perhatikan lagi ke depan. Kita lanjutkan materi."
Suasana kelas kembali ke rutinitas pembelajaran, namun ketegangan masih terasa di udara. Aria Putri sedikit menoleh ke belakang, menatap Sasha dengan tatapan dingin dan penuh selidik.
Di matanya, Sasha bukan sekadar siswi bermasalah, melainkan sebuah noda dalam sistem disiplin yang selama ini ia jaga dengan susah payah selama tiga tahun menjabat.
Bersambung...