"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PRIA DARI MASA LALU YANG BERBAHAYA
BAB 6: PRIA DARI MASA LALU YANG BERBAHAYA
Malam itu, restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu telah dikosongkan. Hanya ada satu meja di dekat jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta seperti hamparan berlian. Alana duduk dengan gelisah, jemarinya memainkan pinggiran gelas kristal. Di sampingnya, Elvan duduk tenang sambil sesekali memeriksa ponselnya.
“Kak, kenapa harus aku yang menemui mitra ini sendirian nanti? Bukankah ini urusan bisnis keluarga?” tanya Alana. Dia merasa belum siap mental bertemu orang baru di saat luka hatinya masih terasa basah.
“Karena dia hanya mau bicara dengan pemilik baru Ardiansyah Group, Alana. Dan itu adalah kau,” jawab Elvan tenang. “Jangan takut. Dia orang yang membantuku menemukanmu. Namanya Kenzo Dirgantara.”
Mendengar nama itu, jantung Alana berdegup aneh. Nama itu terasa tidak asing, namun dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Sebelum Alana sempat bertanya lebih lanjut, suara langkah sepatu yang tegas bergema di ruangan yang sunyi itu.
Seorang pria berjalan mendekat. Dia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, tanpa dasi, memberikan kesan pemberontak namun sangat berkelas. Wajahnya memiliki garis rahang yang sangat tajam dengan tatapan mata yang seolah bisa menembus hingga ke dalam jiwa.
“Sudah lama tidak bertemu, Alana,” suara pria itu rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke punggung Alana.
Alana terpaku. Pria ini... auranya begitu dominan, jauh berbeda dengan Raka yang hanya bisa menggertak. Kenzo menarik kursi tepat di depan Alana tanpa menunggu dipersilakan. Dia mengabaikan Elvan seolah dunia hanya berisi mereka berdua.
“Kenzo... kita pernah bertemu?” tanya Alana ragu.
Kenzo menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat berbahaya namun sangat tampan. “Kau mungkin lupa karena kecelakaan sepuluh tahun lalu itu. Tapi aku tidak akan pernah lupa bagaimana kau menangis saat aku mencuri permenmu di taman kanak-kanak.”
Elvan berdehem keras, mencoba memecah suasana yang mendadak terasa sangat intim itu. “Kenzo, cukup nostalgianya. Kita di sini untuk membahas bagaimana caramu menghancurkan sisa-sisa koneksi Raka di pasar saham.”
“Itu mudah,” Kenzo menyandarkan tubuhnya, matanya tetap terkunci pada wajah Alana. “Tapi aku punya syarat. Aku tidak mau bekerja sama dengan perusahaan. Aku mau bekerja sama dengan pribadinya. Alana harus ikut denganku ke Singapura minggu depan untuk memantau proyek pelabuhan.”
“Apa?! Tidak bisa!” Elvan langsung memukul meja. “Adikku baru saja bercerai, dia butuh istirahat!”
“Dia butuh kebebasan, Elvan. Bukan dikurung di istana emasmu,” balas Kenzo dingin.
Sementara itu, di sebuah rumah kontrakan sempit yang berbau lembap, Raka duduk di lantai dengan sebotol minuman keras murah. Siska menangis di pojok ruangan, meratapi kuku-kukunya yang patah karena harus mencuci baju sendiri.
“Ini semua salahmu, Raka! Kalau saja kau tidak sombong membuang Alana sebelum memastikan hartanya, kita tidak akan begini!” teriak Siska histeris.
“Diam kau, jalang!” bentak Raka. Dia melempar botol itu ke dinding hingga hancur.
Ponsel Raka yang layarnya sudah retak berbunyi. Sebuah notifikasi dari akun gosip elit muncul. Foto Alana yang sedang makan malam berdua dengan Kenzo Dirgantara tersebar luas dengan caption: "Putri Adiwangsa Didekati Sang Naga Bisnis, Kenzo Dirgantara."
Darah Raka mendidih. Dia tahu siapa Kenzo. Kenzo adalah pria yang dulu pernah menghina Raka di sebuah seminar bisnis, menyebut Raka sebagai "benalu yang beruntung". Melihat Alana—wanita yang selama ini dia anggap miliknya—sekarang duduk berdekatan dengan pria sesempurna Kenzo, membuat harga diri Raka hancur lebur.
“Alana... kau tidak boleh dengan pria lain,” gumam Raka dengan mata memerah. “Kau itu milikku! Kau cuma bisa hidup kalau ada aku!”
Raka meremas ponselnya hingga tangannya berdarah. Rasa sesal mulai merayapi hatinya, bukan karena dia mencintai Alana, tapi karena dia tidak rela Alana dimiliki oleh pria yang jauh lebih hebat darinya. Kecemburuan buta mulai membakar akal sehatnya.
Kembali ke restoran, suasana semakin panas namun dengan cara yang berbeda.
Alana merasa wajahnya memanas setiap kali Kenzo mencondongkan tubuhnya ke arahnya. “Kenapa kau membantuku, Kenzo? Kakakku bilang kau orang yang sangat sibuk dan mahal.”
Kenzo mengulurkan tangannya, dengan berani menyentuh sehelai rambut Alana yang jatuh di keningnya. Alana tersentak, tapi dia tidak menjauh. Ada chemistry yang kuat, seperti daya tarik magnet yang tidak bisa dijelaskan.
“Karena aku benci melihat sesuatu yang indah dirusak oleh pria yang tidak punya selera seperti mantan suamimu,” bisik Kenzo. “Dan karena aku ingin kau berhutang budi padaku, Alana. Aku bukan pria baik-baik. Aku akan menagih hutang itu suatu saat nanti.”
“Hutang apa?” tanya Alana dengan suara bergetar.
“Hutang hatimu,” jawab Kenzo tegas.
Tepat saat itu, Elvan yang sedang mengangkat telepon di sudut ruangan kembali dengan wajah tegang. “Alana, kita harus pergi. Si gila Raka sedang membuat keributan di depan gerbang perumahan kita. Dia berteriak-teriak minta bertemu denganmu dan membawa media!”
Alana berdiri dengan cepat, wajahnya kembali pucat. Kenzo ikut berdiri, dia mengancingkan satu kancing jasnya dengan tenang.
“Biar aku yang menanganinya,” ujar Kenzo.
“Tidak, ini urusan keluargaku,” tolak Elvan.
“Elvan, kau adalah kakak. Kau punya reputasi yang harus dijaga. Tapi aku? Aku dikenal sebagai iblis di dunia bisnis. Biar aku yang menunjukkan pada pria rendahan itu bagaimana rasanya menyentuh milik Kenzo Dirgantara.”
Kenzo menatap Alana. “Kau mau ikut melihat mantan suamimu merangkak, atau kau mau pulang dan tidur?”
Alana mengepalkan tangannya. Dia teringat bagaimana Raka mempermalukannya di depan Siska semalam. Rasa sakit itu berubah menjadi kobaran keberanian.
“Aku akan ikut,” tegas Alana. “Aku ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa dia tidak lagi punya hak bahkan untuk menyebut namaku.”
Kenzo tersenyum puas. Dia menawarkan lengannya pada Alana. “Itu baru gadisku.”
Malam itu, konvoi mobil mewah meluncur menuju gerbang kediaman Adiwangsa. Di sana, Raka sudah berdiri dengan pakaian berantakan, berteriak seperti orang gila di hadapan kamera wartawan yang dia panggil secara anonim.
“Alana! Keluar! Aku tahu kau dipaksa oleh kakak-kakakmu! Kau masih mencintaiku, kan?!” teriak Raka.
Saat mobil Rolls-Royce Kenzo berhenti, Raka berlari mendekat. Pintu terbuka, dan Alana turun dengan anggun, dibantu oleh tangan Kenzo yang melingkar posesif di pinggangnya.
Dunia seolah berhenti bagi Raka. Dia melihat istrinya—mantan istrinya—terlihat begitu cantik, begitu berkelas, dan berada dalam pelukan pria yang paling dia benci di dunia ini.
“Lepaskan dia, Kenzo! Dia istriku!” raung Raka.
Kenzo melangkah maju, menghalangi pandangan Raka ke arah Alana. Dia menatap Raka dengan tatapan yang bisa membekukan darah. “Istrimu? Oh, maksudmu wanita yang kau usir di tengah hujan badai kemarin malam? Maaf, Raka. Sampah yang kau buang, sekarang sudah menjadi harta yang paling berharga di tanganku.”
“Kau—!” Raka hendak melayangkan pukulan, tapi dengan satu gerakan cepat, pengawal Kenzo sudah menekan wajah Raka ke kap mobil yang panas.
Alana berjalan maju, berdiri tepat di depan Raka yang terhimpit. Dia membungkuk sedikit, menatap mata Raka yang penuh amarah dan air mata palsu.
“Raka,” ucap Alana pelan, suaranya masuk ke mikrofon wartawan yang ada di dekat sana. “Terima kasih sudah membuangku. Karena tanpamu, aku tidak akan pernah tahu bahwa aku pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada pecundang sepertimu.”
Alana kemudian berbalik, tidak melihat lagi ke arah Raka yang berteriak histeris menyebut namanya. Dia berjalan masuk ke gerbang bersama Kenzo, meninggalkan Raka yang hancur di depan kamera seluruh negeri.
Namun, di balik kemenangan itu, Alana bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan karena Raka, tapi karena tangan Kenzo yang masih belum melepaskan pinggangnya. Dia tahu, ini adalah awal dari konflik baru yang lebih rumit: jatuh cinta pada pria yang jauh lebih berbahaya dari mantan suaminya.