Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Asap rokok mengepul di atas udara malam yang dingin, seorang pria tinggi dengan badan kekar dengan rambut hitam itu melempar batang rokok yang sudah selesai ia hisap ke atas salju kemudian menginjaknya.
Injakan nya meninggalkan bunyi khas, suara api yang padam terendam sesuatu yang basah.
Ia menghembuskan napas kasar, merasa sedikit kesal.
Sesekali ia mendecih pelan, ia kesal karena situasi yang ia hadapi saat ini tidak menguntungkan.
Napasnya yang seolah berasap karena suhu yang dingin juga mengepul di udara, sesekali wajahnya mengadah menatap langit malam, setidaknya malam ini tidak terlalu buruk karena langitnya bagus walau turun salju tipis-tipis.
Hanya saja, suasana hatinya tidak sebaik kondisi malam ini.
"Pernikahan, perjodohan, istri.. mereka pikir semua itu bisa di lakukan hanya dengan modal bisnis? Payah," pria itu menggerutu.
Mata hitam tajam nya menatap ke arah orang-orang berpakaian rapi yang tengah asik berbincang di dalam resto, dengan tatapan benci. Ini bukan pertama kalinya bagi keluarga Rovano -pria yang merokok tadi- mendesak pria itu untuk menikah.
Namun kali ini ia sudah cukup muak sehingga sudah tidak tahan untuk berada di sana, Rovano pikir mungkin jika ia bisa melewati perjodohan yang ini, maka ini akan jadi yang terakhir.
"Mereka memang tidak pernah memikirkan perasaanku." Ia bergumam lagi.
Padahal dia ini anak bungsu, tapi di nilai tidak kompeten dalam dunia bisnis sehingga desakan untuk menikah jatuh padanya ketimbang pada sang kakak hanya untuk meningkatkan bisnis keluarga mereka.
Bisnis keluarga Jovian sudah jadi nomor satu di London, tapi masih saja itu terasa kurang dan mereka terus memperluasnya dengan terburu-buru.
Salah satunya dengan pernikahan bisnis yang tak jauh seperti nikah palsu, Rovano membencinya, karena ia melihat beberapa dari keluarganya ada yang melakukan hal itu. Ada yang berakhir buruk, namun ada juga yang happy ending.
Salju semakin tebal mengenai jaketnya, jika ia terus berada di luar maka tubuhnya akan kedinginan tapi ia merasa itu lebih baik dari pada berada di dalam sana.
Sesuatu baru saja menarik perhatiannya, seorang gadis dengan mantel merah tebal tengah berjalan menuju ke arah resto tempat keluarganya sedang menunggu untuk makan malam bersama.
Rovano terpana melihat rambut cokelat kemerahan panjang dengan wajah manis itu, berjalan sembari sesekali memegangi pipinya yang memerah karna kedinginan.
Rovano sedikit tersenyum, menurutnya gadis itu sedikit lucu.
Begitu tiba di depan resto, gadis itu berdiam diri seolah sedang memperhatikan keluarga Rovano yang sedang berbincang, membuat jadi Rovano penasaran padanya.
"Hei!" Rovano memanggilnya dengan suara yang sedikit keras.
Gadis itu terkejut ketika Rovano menyapanya, badannya langsung berjalan mundur begitu Rovano mulai mendekat. Pasalnya Rovano memanggil gadis itu dengan kurang ramah.
"M-maaf, aku tidak memegang uang tunai," ucap gadis itu seketika, membuat Rovano shock.
Gadis itu baru saja beranggapan kalau Rovano apa? Kenapa dia bicara soal uang tunai? Tatapan Rovano menjadi semakin heran dan penasaran sembari terus mendekati gadis itu, apalagi ia merasa sedikit tersinggung dengan kata-katanya.
Gadis itu kebingungan, "k-kalau kau lapar, aku bisa membelikan mu makanan di dalam sana namun aku tidak punya uang tunai untuk di berikan Tuan."
"Hah.. kau mengira aku ini pengemis?" Rovano tampak tak percaya, "kau tidak melihat setelan mahal yang aku pakai ini, hah?"
Rahang pria itu mengeras, ia kesal.
Gadis itu sedikit ketakutan namun ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pada Rovano.
Rovano semakin heran kemudian memperhatikan tubuhnya, bajunya sudah di penuhi banyak salju sehingga ia terlihat seperti gelandangan.
Di tambah ia tadi menyender pada tembok yang mungkin memiliki salju yang kotor, pria tampan pun bisa jadi jelek jika begini.
"Restoran ini sudah di sewa oleh keluargaku, kau mau membeli makanan ke dalam pun, kau akan di tolak, paham?" ucap Rovano pada gadis itu.
Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya diam dan menatap Rovano dengan takut, namun entah mengapa Rovano merasa gadis itu sedang berpura-pura ketakutan.
Setelah di lihat dari dekat, gadis itu terlihat cukup sexy dan wajahnya sangat cantik.
"Sialan," Rovano menggerutu kemudian meninggalkan gadis itu dan segera masuk kembali ke dalam resto sembari menepuk-nepuk pakaiannya.
Pria tampan itu kesal dan juga malu, padahal berniat untuk mengajak gadis itu berkenalan tapi ia malah di kira seorang tunawisma. Dia juga merasa sudah buang-buang waktu, untuk apa Rovano menjelaskan hal seperti itu pada orang asing.
"Kau seperti sudah menerjang badai salju, bisa tidak kau lebih rapi lagi, Rovano?" tegur seorang wanita paru baya yang memiliki warna rambut sama dengan Rovano yang tak lain adalah ibunya.
Rovano sendiri hanya melayangkan tatapan mata bosan, omelan itu ia dapatkan setiap hari maka dirinya sudah biasa.
"Rovano, bersikaplah lebih sopan, tamu kita sudah tiba," ucap seorang pria yang memilki kerutan di wajahnya padahal usianya masih muda, yang tak lain adalah Ryan, kakak Rovano.
"Berisik," gumam Rovano menahan kesal.
Beberapa orang berpakaian rapi mendekati meja mereka, seisi restoran ini sudah di pesan khusus oleh keluarga Rovano yang akan mengadakan pertemuan bisnis.
"Selamat datang, Nyonya," ibu Rovano menyambut rekan bisnis mereka.
"Oh terima kasih Nyonya Jovian, maaf sekali kami terlambat, putri ku sedang dalam keadaan kurang sehat jadi kami tadi mengantarnya dulu ke rumah sakit." Ucap seorang wanita berambut pirang kecokelatan.
Rovano memperhatikan wanita yang merupakan rekan bisnis keluarga nya itu, wajahnya mirip dengan gadis yang bertemu dengannya di depan tadi. Tapi apakah ini sebuah kebetulan?
Hanya saja, wanita tersebut mengaku kalau putrinya sakit, sedangkan gadis itu tadi bertemu dengan Rovano di depan.
Sangat aneh, tapi Rovano juga tidak bisa berasumsi sembarangan.
"Ini putra bungsuku, kuharap kita bisa segera mengenalkannya pada Sarah," ucap ibu Rovano, memperkenalkan anaknya.
"Wah, tampannya. Ryan, kau kalah tampan dengan adikmu ya," wanita itu memuji Rovano yang hanya bisa tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat sehingga sang ibu harus menyenggol kakinya untuk tersenyum lebih tulus.
"Ah, anda bisa saja. Aku yakin Sarah juga pasti semenawan anda, rambutnya hampir mirip seperti anda, bukan?" Ryan berbicara, segera menutupi sikap kurang sopan Rovano yang malah menyeringai ke arah rekan bisnis mereka.
"Benar, hanya saja dia lebih cokelat kemerahan, panjang dan bergelombang, matanya berwarna emerald, wajahnya kecil namun dia tidak seimut yang kalian kira. Dia galak loh," sahut wanita itu.
"Hahaha, ya, aku masih mengingatnya dengan baik, tapi entah apakah ia masih ingat padaku," Ryan tertawa bersama wanita itu.
Ia adalah istri dari Nico Vleryn— Marissa Vleryn. Keluarga sesama pengusaha kaya yang sudah turun temurun melakukan pernikahan bisnis.
Semua orang di dalam ruangan tersebut tertawa kecuali Rovano, dia yang paling tidak ingin berada di sana.
Pria itu menangkap bayangan gadis, dengan ciri-ciri yang di sebutkan oleh Marissa tadi, yang ternyata memang gadis yang sama dengan yang bertemu di depan resto tadi.
Gadis itu kini sedang mengintip mereka, tepat di luar restoran yang menggunakan dinding kaca ini.
Gadis itu adalah Sarah Vleryn, putri dari rekan bisnis orang tua Rovano yang akan di jodohkan dengan Rovano. Dia gadis yang di sebutkan oleh Marissa sedang sakit hingga tidak bisa datang di malam perjodohan mereka.
Dari kejauhan mata mereka bertemu, Rovano menyeringai ke arah Sarah yang langsung terkejut dan bersembunyi.
Rovano mendengarkan bincang-bincang ini, ia merasa mulai tertarik dengan apa saja yang di miliki oleh perusahan keluarga Vleryn. Jika di gabungkan dengan perusahaan keluarga Jovian akan memberikan keuntungan yang luar biasa.
Namun semua itu bergantung pada pernikahan janggal ini, Rovano dan Sarah sama-sama anak bungsu, tapi kenapa mereka yang harus menikah? Itu masih menjadi pertanyaan.
Melihat Sarah yang ada di luar sana, dengan tatapan penasaran namun ragu, memberikan ide pada Rovano. Pernikahan bisnis ini tidak akan menjadi buruk jika Sarah mau di ajak kerjasama.
"Dasar licik," gumam Rovano, matanya tidak lepas menatap Sarah yang sedang berjalan menjauh di luar sana.