“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: KETUKAN KENING DAN RAHASIA 9 PADEPOKAN
Udara di dalam padepokan pencak silat universitas terasa kaku dan pengap. Bau keringat khas ruang latihan beladiri menyambut Rimba dan rombongannya. Di tengah ruangan, para mahasiswa yang sedang berlatih tanding seketika menghentikan aktivitas mereka. Mata mereka tertuju pada sosok mahasiswa baru yang berjalan tenang dengan serigala hitam besar yang mengikutinya.
Sheila sudah berdiri di tengah matras. Wajahnya yang cantik tampak tegang, sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Teman-teman Rimba segera mengambil tempat di tribun penonton. Cesar, seolah mengerti posisinya, ikut melompat ke tribun dan duduk dengan tenang, namun matanya yang tajam tetap mengawasi setiap gerak-gerik di tengah ruangan.
Rimba melangkah mendekat, berhenti tepat tiga meter di hadapan Sheila. "Sebenarnya ada apa, Kak? Kenapa sampai harus menantang di padepokan?" tanya Rimba dengan nada santai, tanpa beban.
"Aku ingin balas dendam atas kekalahan para panitia orientasi yang kamu permalukan tempo hari!" jawab Sheila galak. Suaranya menggema, namun Rimba justru tersenyum tipis.
"Kakak tidak jujur," sahut Rimba kalem. "Masa seorang atlet hebat yang pasti paham filosofi beladiri masih harus berbohong soal alasan bertarung?"
Sheila melotot, alisnya bertaut. "Kenapa kamu mengatakan aku bohong?"
"Heee... aku bisa merasakan bahwa bukan itu alasan sebenarnya. Aura Kakak tidak menunjukkan kemarahan pada panitia-panitia itu," Rimba tertawa kecil. "Tapi kalau Kakak belum mau mengatakannya, baiklah. Mari kita bertukar jurus. Mana tahu setelah ini Kakak berubah pikiran."
Sheila mendengus. Di pinggir matras, Bima—kakak Sheila—memperhatikan dengan saksama. Rimba segera menimbang-nimbang gaya apa yang harus ia gunakan. Jika ia menggunakan teknik pencak silat murni, ia khawatir akan dikejar-kejar oleh UKM silat untuk bergabung. Rimba ingin hidup tenang sebagai mahasiswa IT biasa (setidaknya di permukaan). Gaya apa saja lah, asal bukan silat, batinnya.
Sheila langsung membuka kuda-kuda Pasang yang kokoh. Tanpa peringatan, ia merangsek maju. Gerakannya sangat cepat untuk ukuran manusia biasa. Sebuah pukulan lurus mengarah ke wajah Rimba, disusul dengan teknik sapuan kaki rendah yang mematikan. Sheila adalah praktisi tingkat 3 Puncak; gerakannya presisi dan bertenaga.
Rimba hanya menggeser kakinya sedikit. Ia menangkis pukulan Sheila dengan punggung tangannya, lalu melompat ringan untuk menghindari sapuan kaki tersebut. Belum sempat Sheila mengatur napas, ia kembali menyerang dengan tendangan samping (Side Kick) yang mengincar rusuk. Rimba mengelak dengan gerakan yang sangat indah, seolah-olah ia sedang menari mengikuti irama angin.
Suara takjub terdengar dari arah tribun. Teman-teman sekelas Rimba menahan napas. Sheila semakin gencar merangsek. Pukulan, tendangan, dan kuncian ia lepaskan bertubi-tubi. Namun, semakin keras ia berusaha, semakin jauh Rimba terasa dari jangkamuannya. Wajah Sheila mulai memerah—campuran antara lelah, malu, dan penasaran.
"Dari tadi kamu hanya menghindar! Hanya itu kepandaianmu?!" seru Sheila memprovokasi. "Serang kalau kamu memang jagoan!"
"Baiklah," jawab Rimba singkat.
Sheila kembali menerjang. Namun, di sela-sela serangan Sheila yang membabi buta, Rimba bergerak secepat kilat. Bukannya memukul atau menendang, Rimba hanya mengangkat jari telunjuknya dan... tok! Ia mengetuk lembut kening Sheila.
Sheila tersentak mundur. Ia tertegun sejenak, memegang keningnya yang sama sekali tidak sakit tapi terasa sangat menghina harga dirinya sebagai atlet. Penonton di tribun pun ikut ternganga.
"Lagi?" tantang Rimba dengan senyum menyebalkan.
Sheila menghentakkan kakinya kesal. Ia menyerang lagi dengan teknik yang lebih rumit, mencoba menjebak kaki Rimba. Namun, setiap kali ia masuk ke jarak serang, jari Rimba selalu lebih dulu menyentuh keningnya. Tok! Tok! Sheila mulai frustrasi. Pengerahan Qi yang terus-menerus tanpa hasil jelas menguras staminanya. Gerakannya mulai kacau, napasnya tersengal. Pada akhirnya, setelah keningnya terkena ketukan untuk yang kesekian kalinya, Sheila berhenti. Ia terduduk di atas matras, bahunya bergetar, dan tiba-tiba saja ia menangis sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Rimba bengong. "Lho? Kok malah menangis?"
Bima segera berlari ke tengah matras, mencoba menenangkan adiknya, namun tangis Sheila justru semakin keras karena merasa dipermalukan sedemikian rupa. Bima menatap Rimba dengan tajam. "Hei, Rimba! Kamu harus tanggung jawab!"
"Tanggung jawab?" Rimba terkejut. "Aku cuma menyentuh keningnya, Bang. Masa dia bisa hamil?"
Beberapa mahasiswa di sekitar tribun spontan tertawa mendengar celetukan polos Rimba.
"Bukan tanggung jawab begitu, Bodoh!" seru Bima kesal. "Kamu harus membuat adikku berhenti menangis!"
"Dia yang menantang, kenapa sekarang aku yang dihukum?" Rimba menggaruk kepalanya. "Begini ya, Bang. Kalau dia memang adikmu, beritahu dia kalau jadi petarung itu jangan keras kepala. Waktu pertama kali keningnya kena ketok, dia seharusnya sudah sadar bahwa pertarungan sudah berakhir. Untung aku tidak berniat buruk. Kalau tadi itu pertarungan sungguhan di dunia luar, kepalanya mungkin sudah tidak ada di tempatnya sekarang."
Bima dan Sheila (yang sedikit mengintip dari balik tangannya) tertegun mendengar penjelasan dingin namun logis dari Rimba.
"Sudahlah, aku pergi dulu," kata Rimba sambil berbalik. Ia memberikan isyarat pada rombongannya untuk keluar.
"Rimba, tunggu!" teriak Sheila, namun Rimba tidak menoleh. Ia terus berjalan kembali menuju pohon beringin favoritnya.
---
Beberapa saat kemudian, saat Rimba dan Firman sedang duduk santai (setelah keenam mahasiswi tadi pamit pulang), Bima dan Sheila datang menghampiri. Sheila sudah berhenti menangis, meski mata dan hidungnya masih memerah. Mereka duduk di hadapan Rimba dengan sikap yang jauh lebih sopan.
"Rimba, maafkan kami soal tadi," buka Bima. "Sebenarnya, aku tidak berniat mencarimu untuk berkelahi. Tapi adikku ini bersikeras ingin tahu seberapa kuat dirimu."
Bima menghela napas. "Sejujurnya, aku melihat pertarunganmu di Underground Arena malam itu. Tadi pagi, saat melihatmu di kampus, aku baru sadar kalau 'Wawan' adalah mahasiswa di sini. Itulah kenapa tadi aku bertanya pada temanmu ini," Bima melirik Firman.
"Aku menceritakannya pada Sheila, dan dia langsung ingin mengujimu. Sebenarnya... kami sedang dalam misi dari kakek kami. Kami diminta mencari orang-orang kuat untuk menghadiri pertemuan para kultivator daerah ini. Ada hal penting yang ingin didiskusikan untuk menjaga keseimbangan alam dan keamanan kota."
Rimba menyesap minuman kalengnya. "Kapan acaranya?"
"Tiga minggu lagi, hari Minggu. Sebelumnya perkenalkan, namaku Bima, dan ini Sheila, adikku," ujar Bima. Sheila hanya diam, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Rimba dengan tatapan yang sangat kompleks—ada rasa marah yang tersisa, rasa penasaran yang besar, dan... sedikit kekaguman yang mulai tumbuh.
"Entahlah Bang, aku belum bisa janji. Kegiatanku di luar cukup banyak," jawab Rimba diplomatis.
"Aku sangat berharap kamu datang, Rim. Ini adalah pembentukan tim untuk mewakili daerah kita dalam pertemuan 9 Padepokan Tersembunyi," jelas Bima serius.
"Apa lagi itu? Padepokan Tersembunyi?" tanya Rimba heran.
"Agak susah menerangkannya karena aku sendiri belum diizinkan masuk ke jajaran itu. Dibutuhkan orang dengan kekuatan minimal Tingkat 4 ke atas. Sedangkan aku baru Tingkat 3 Rendah. Jika kamu datang, kakekku bisa menjelaskan semuanya padamu."
Rimba tersenyum tipis. "Apalagi aku, Bang. Abang bisa lihat sendiri, aku kan cuma Tingkat 1 Menengah."
Bima tertawa hambar. "Ah, kamu pasti punya teknik tingkat tinggi untuk menyembunyikan aura. Sheila ini Tingkat 3 Puncak, dan kamu mempermainkannya seperti anak kecil. Menurut analisaku, kamu pasti sudah di Tingkat 4 ke atas, atau bahkan lebih."
Rimba diam, menghargai analisa Bima tanpa membenarkan atau membantah. Sementara itu, Sheila merasa ada getaran aneh di hatinya setiap kali matanya bertemu dengan mata Rimba. Sosok di depannya ini begitu misterius.
Akhirnya Bima dan Sheila pamit setelah bertukar nomor ponsel, dengan janji akan menghubungi Rimba saat waktu pertemuan sudah dekat.
Setelah mereka pergi, Firman menyenggol bahu Rimba. "Senior tadi bilang dia lihat kamu bertarung, Rim. Tapi ada satu hal yang dia tidak tahu..." Firman tertawa tertahan.
"Apa?"
"Dia tidak tahu kalau gara-gara pertarungan itu, aku dapat lima miliar cuma buat jadi penonton setia!" tawa Firman pecah, membuat Rimba ikut tersenyum. Malam pun mulai turun di Buana Cakrawala, membawa rahasia baru tentang dunia kultivasi yang lebih luas dari yang Rimba bayangkan.