NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Day-1

Hari ini hari ke satu setelah Aira menyanggupi persyaratan dari Magnitius semalam. Aira mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya.

 "Hari ini, aku akan bertemu dengan ksatria yang dipilih Magnitius untuk melatihku. Semoga aku bisa bertahan." bisiknya pada dirinya sendiri.

Nocturna di dalam cermin, tersenyum kecil.mengangguk, "Aira, berpura-puralah tidak bisa, lemah, dan tidak terlatih. Fokuskan perhatianmu pada jurus-jurus ksatria itu, pelajari setiap gerakan dan kelemahannya. Itu akan menjadi kunci untuk mengalahkan Magnitius," bisiknya,

"Ide bagus".

 Nocturna tersenyum kecil, "Nama ksatria itu adalah Ryker, salah satu ksatria terbaik di kerajaan ini. Dia kuat, cepat, dan sangat terlatih. Tapi, Aira, jangan underestimate dirimu. Kamu memiliki kemampuan yang tidak biasa, dan itu bisa menjadi keuntunganmu," katanya,

"tok..tok...tokk..."

"Siapa?" teriak Aira.

"Nona, yang mulia sudah menunggu Anda di paviliun". Ucap seorang maid.

"Baiklah, aku akan pergi". Aira segera bersiap.

Dalam perjalanan Aira terus memutar pandangannya pada setiap penjuru ruangan."aneh dan mengerikan". Batin Aira.

 Aira memasuki paviliun, dan matanya langsung tertuju pada sosok tinggi besar, berdiri dengan gagah di tengah lapangan. Ryker, ksatria yang dipilih Magnitius, memandang Aira dengan tatapan tajam.

"Dia Ryker? ".

"Kamu, Aira. Aku akan melatihmu hari ini," katanya, suaranya yang dalam dan berwibawa.

Aira mengangkat dagunya, mencoba menunjukkan keberanian. "Aku siap,"

Ryker tersenyum, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Kita lihat saja,"

 Namun, Aira menyadari kalau ia tidak melihat Magnitius di sekitar. Aira merasa ada tatapan yang mengawasi dari balik tirai di ujung paviliun, tempat di mana dia bisa melihat bayangan Magnitius yang sedang duduk di atas takhta, mengawasi setiap gerakannya.

"Dia pasti ada di sana, mengawasi," pikir Aira, matanya yang tajam menatap tirai sejenak sebelum kembali fokus pada Ryker yang sudah siap untuk memulai latihan.

 Ryker, dengan gerakan yang gesit, mengambil posisi serangan, pedangnya terangkat tinggi. "Aira, coba tangkis ini!" serunya, lalu melaju ke arah Aira dengan kecepatan yang mengejutkan.

Aira, mengingat saran Nocturna, berpura-pura tidak siap dan terhuyung ke belakang, menghindari serangan Ryker dengan susah payah.

"Aduh..." Pekik Aira saat kakinya tersandung

 Ryker tersenyum, berpikir bahwa Aira memang tidak sekuat yang dia bayangkan.

 Ryker melaju ke arah Aira, pedangnya menyambar ke arah kepala Aira. Aira, dengan gerakan yang lambat dan tidak terkoordinasi, mengangkat tangannya untuk menangkis, tapi Ryker dengan mudah mengatasinya dan pedangnya kini mengarah ke perut Aira.

"Awwwaa...." pekik Aira

"Terlalu lemah," kata Ryker, suaranya yang dalam dan kritis. "Coba lagi."

Aira mengangguk, mengambil napas dalam-dalam, dan mencoba lagi. Tapi hasilnya sama, Ryker dengan mudah mengalahkan Aira.

"Ksatria? Kemampuan pergerakannya sangat lambat untuk di sebut sebagai ksatria, energinya? jangan bilang dia tidak mempelajari ilmu sihir?. Isi kepala Aira dipenuhi pertanyaan.

Sosok yang sejak tadi menatap dari kejauhan merasa geram dengan tingkah Aira. Magnitius tidak mengira kalau Aira sebodoh itu dalam berpedang.

"Berhenti! Siapa yang mengangkatmu menjadi ksatria, kalau mengajarkan seorang gadis saja tidak becus!?". Magnitius menunjukkan taringnya.

Ksatria Ryker menunduk hormat pada sang raja. "Ampuni hamba yang mulia raja. Saya akan berusaha dengan maksimal sampai nona Aira pandai menggunakan pedang".

"Cih! Di hanya memiliki waktu tujuh hari pelatihan!". Bantah Magnitius, wajahnya memerah. "Apa kau sanggup?". Magnitius menantang dengan memegang sebuah pedang yang ujungnya berada di bawah dagu ksatria Ryker.

 Ryker menelan ludah, merasa tekanan yang besar. "Hamba sanggup, Yang Mulia. Hamba akan membuat Nona Aira menjadi ksatria yang hebat dalam tujuh hari," katanya, suaranya yang teguh dan penuh keyakinan.

Magnitius menatap Ryker dengan tajam, lalu menarik pedangnya kembali. "Aira, dengar baik-baik. Kamu memiliki tujuh hari untuk menjadi ksatria yang layak. Ryker! latih dia dengan keras. Tidak ada toleransi untuk kegagalan," katanya, suaranya yang dingin dan berwibawa.

Aira mengangguk, ini bukan waktunya main-main. Ryker memandang Aira dengan serius, lalu mengangguk. "Aira, kita mulai lagi. Fokus dan dengarkan instruksi saya," katanya, suaranya yang tegas.

r mengambil posisi, lalu memulai instruksi. "Aira, pertama-tama, coba lakukan 'Teknik Dasar' - posisi siap dengan kaki kiri di depan dan pedang di tangan kanan. Lalu, coba lakukan 'Serangan Lurus' - ayunkan pedang ke arah target dengan kekuatan dari pinggul."

Aira mencoba melakukan gerakan itu, tapi Ryker langsung mengkoreksi. "Tidak, Aira. Kaki kiri harus lebih maju, dan ayunan pedang harus lebih kuat. Coba lagi."

Aira mencoba lagi, dan Ryker terus memberikan instruksi dan koreksi. "Baik, sekarang coba lakukan 'Parade Kiri' - tangkis serangan dari kiri dengan pedang, lalu lakukan 'Serangan Balik' - ayunkan pedang ke arah target dengan cepat."

 Ryker melanjutkan instruksi, "Aira, coba lakukan 'Shinogi' - tangkis serangan dari atas dengan pedang, lalu lakukan 'Kiaiuchi' - ayunkan pedang ke arah target dengan kekuatan dari perut."

Aira mencoba melakukan gerakan itu, tapi Ryker langsung mengkoreksi. "Tidak, Aira. Shinogi harus lebih rendah, dan Kiaiuchi harus lebih cepat. Coba lagi."

Aira mencoba lagi, dan Ryker terus memberikan instruksi dan koreksi. "Baik, sekarang coba lakukan 'Nukiuchi' - hindari serangan, lalu lakukan 'Tsuki' - tusukan pedang ke arah target dengan cepat."

Ryker juga mengajarkan Aira tentang 'Koten' - posisi dasar, 'Hidari' - gerakan ke kiri, dan 'Migi' - gerakan ke kanan.

Hari semakin petang, namun Aira belum selesai berlatih. Tubuhnya sudah kehilangan banyak cairan, tapi Aira tidak menerima jamuan Air setetes pun.

 "Aku lupa kalau mereka vampir. Pantas saja aku cuman diberi makanan gak enak dari kemarin"

 Aira mencoba melakukan gerakan 'Nukiuchi' dan 'Tsuki', tapi Ryker masih belum puas. "Aira, kamu masih terlalu kaku. Coba lagi, dan kali ini, gunakan kecepatan dan kekuatan yang lebih besar," katanya, suaranya yang tegas.

Aira mengangguk, mengambil napas dalam-dalam, dan mencoba lagi. Saat Aira tengah melakukan gerakan, tiba-tiba...

Klekkk....

"Aw...kakiku...". Pekik Aira sungguh-sungguh. Kakinya tak sengaja keseleo.

"Aira, kau baik-baik saja?". Ryker mendekati Aira.

Aira mengangguk. "Pelatihannya hampir selesai bukan? Aku bisa menyelesaikannya." Ucapnya berusaha bangkit.

"Anda yakin?". Tanya Ryker membantu Aira bangun.

Aira mengangguk dan melakukan semua gerakannya dengan runtut dan telaten. Hingga akhirnya. "Kamu berhasil Aira".

Penglihatan Aira memudar, genggamannya melemah. Pedang jatuh ke atas tanah yang tandus. "Aira....."

Teriak Magnitius dari kejauhan. Tubuh Aira terjatuh ke tumpukan tanah yang kering. Tubuh mungilnya membentur keras tanah hingga tercipta pantulan benturan di kepalanya.

 Ryker langsung berlari ke arah Aira yang terjatuh, "Aira! Aira, jawab aku!" serunya, suaranya yang biasanya tenang kini penuh dengan kekhawatiran.

"Aira, apa yang terjadi?" tanya Magnitius, suaranya yang berwibawa kini terdengar panik. Ryker memeriksa Aira yang masih sadar, tapi terlihat sangat lemah.

"Kakinya keseleo, dan dia terlalu memaksakan diri," kata Ryker, suaranya yang rendah. "Kita harus membawanya ke tanin istana sekarang juga yang mulia!"

Magnitius mengangguk, lalu mengangkat Aira dengan hati-hati. "Aku akan membawanya ke Selini, dan panggil tabib terbaik di kerajaan," perintahnya, suaranya yang kembali berwibawa.

Ryker datang membawa seorang tabib terbaik di kerajaan. Tabib Klier memeriksa Aira dengan teliti, lalu mengangguk.

"Dia mengalami kelelahan dan cedera ringan pada kakinya," kata Tabib Klier, suaranya yang lembut. "Tapi yang lebih penting, dia perlu istirahat dan perawatan yang baik."

Magnitius mengangguk, "Lakukan apa saja yang perlu dilakukan untuk menyembuhkannya. Biaya tidak menjadi masalah."

"Sebelumnya, ampuni hamba yang mulia. Saya mau bertanya sesuatu. Apakah nona ini dari kalangan manusia?". Tanya tabib Klier.

"Ya. Ada masalah?". Magnitius sedikit khawatir.

"Sepertinya dia tidak menerima asupan makanan dalam tubuhnya, sehingga kondisinya akan lebih memburuk jika di biarkan". Lanjut tabib

 Magnitius terlihat sangat khawatir, "Apa maksudmu, Tabib Klier? Dia sudah diberi makan seperti biasa."

Tabib Klier menggelakkan kepalanya, "Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi tubuhnya menunjukkan gejala kekurangan nutrisi. Mungkin ada sesuatu yang salah dengan metabolismenya atau..."

Magnitius memotong, "Atau mungkin ada sesuatu yang lain yang tidak kita ketahui. Lakukan apa saja yang bisa kamu lakukan untuk membantunya, Tabib Klier."

 Tabib Klier mulai melakukan beberapa tes pada Aira, memeriksa kondisi tubuhnya dengan teliti. Setelah beberapa saat, dia berhenti dan memandang Magnitius dengan ekspresi yang serius.

"Yang Mulia, saya telah menemukan sesuatu yang aneh," kata Tabib Klier, suaranya serius. "Nona Aira memiliki aura yang tidak biasa. Saya tidak bisa menjelaskan secara detail, tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak wajar dengan energi yang mengalir dalam tubuhnya."

Magnitius mengangkat alisnya, "Apa maksudmu? Apakah dia terinfeksi oleh sesuatu?"

Tabib Klier menggelakkan kepalanya, "Saya tidak tahu, Yang Mulia. "Sepertinya kami membutuhkan tabib dari bangsa manusia untuk mengetahi kondisinya "

 Magnitius mengangguk, "Lakukan apa saja yang perlu dilakukan, Tabib Klier. Saya ingin tahu apa yang terjadi pada Aira."

"Apa kabar, Tabib Klier?" tanya Ryker, suaranya yang rendah.

Tabib Klier keluar dari kamar, ekspresinya masih serius. "Saya masih belum tahu apa yang terjadi pada Nona Aira. Tapi saya perlu tabib dari bangsa manusia untuk menjelaskan semuanya".

Ryker mengangguk, "Baik, saya akan pergi mencarinya".

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!