NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran hebat

"SULTAN...!" teriak Bu Sasmi, suaranya menusuk memecah keheningan pagi.

Pipi Aluna terasa kebas, panas membakar. Ia masih mematung, pandangannya kabur karena air mata yang tiba-tiba menumpuk. Di sudut bibirnya, ada sedikit rasa asin dan perih, darah. Ini kali pertama Kakaknya yang dulu sangat ia sayangi, main tangan dengannya.

Sultan, napasnya tersengal, tak menunjukkan penyesalan. Justru amarahnya makin menjadi. "Lancang sekali kamu ngusir Kakak dari rumah Ibu. Kamu pikir kamu siapa, hah??? Memang kamu pantas ditampar biar mulutmu itu tahu aturan sedikit."

"Tega... tega sekali Kakak nampar aku." kata Aluna suaranya bergetar, lebih karena rasa dikhianati daripada rasa sakit.

"Memang kenapa? Kamu juga tega kasar sama Nisa istri kakak dan ngata-ngatain kakak kan." balas Sultan, menggunakan pembenaran Annisa.

Annisa berdiri di belakang Sultan, tersenyum sinis. Ia merasa di atas angin, terlindungi penuh oleh suaminya. Aluna sadar, Annisa bukan hanya jahat, tapi ia adalah manipulator ulung.

"Jadi Kakak mau balas dendam? Ini semua gara-gara Mbak. Pasti Mbak laporin yang nggak-nggak kan sama Kak Sultan?  Memang Mbak manipulatif."  Aluna menatap Annisa tajam, amarahnya meluap-luap.

"Cukup, Aluna! Cukup menyalahkan Annisa!" teriak Sultan, matanya memerah.

"Entah apa yang dikatakan Mbak Annisa pada Kak Sultan, tapi kemarin aku lakuin itu karena mbak Nisa nuduh aku nginap di rumah pacarku. Padahal aku sama sekali nggak punya pacar. Aku nggak terima, Mas, dia nuduh aku yang macam-macam!" teriak Aluna, mengungkapkan akar masalah yang sengaja disembunyikan Annisa.

Ekspresi Annisa langsung pias, wajahnya pucat. Bagian ini memang sengaja ia buang saat mengadu pada Sultan. Sultan menoleh cepat, tatapannya langsung menusuk istrinya.

"Apa maksud Aluna, Annisa?" tanya Sultan, suaranya dipenuhi tekanan.

Aluna tersenyum miring, senyum pahit yang melukai. "Apa Mbak Nisa nggak ceritain bagian itu dan cuma ngejelekkin aku Kak?"

"Aku nggak nuduh ya, Lun! Aku cuma nebak. Lagian kamu kenapa nginep segala???  Kamu ini perempuan, apa kata orang nanti kalau kamu pulang pagi-pagi? Kamu mau di judge perempuan malam? Kamu mau bikin malu keluarga kita?" Annisa langsung menyergah, mengubah serangan jadi kepedulian palsu.

"Mau nginep apa nggak itu urusan aku, Mbak.  Nggak usah sok peduli yang penting aku nggak macam-macam di luar sana. " balas Aluna tajam.

"Jaga ucapan kamu, Aluna. Nisa berkata begitu karena dia sayang sama kamu. " sergah Sultan lagi, tetap membela istrinya sambil menunjuk wajah Aluna dengan jari telunjuk.

"Sudahlah... berhenti.... Ibu sudah pusing dengar kalian.  kata Bu Sasmi, memegangi kepalanya yang mendadak terasa berat. Ia duduk perlahan di kursi ruang makan, sedih melihat anak-anaknya yang dulu saling menyayangi kini sering bertengkar.

Aluna menepis jari Sultan, blak-blakan. "Nggak usah nunjuk-nunjuk, Kak... nggak sopan." katanya, respect pada Kakaknya sudah hilang tak bersisa.

"Kamu bener-bener ya..." Annisa mulai gemas.

"Sudahi drama pagi ini. Aku capek. Dan kebetulan kalian di sini." Aluna mengulurkan tangan ke hadapan Sultan. "Aku tagih utang kalian awal. Besok aku mau bawa Ibu kontrol. " kata Aluna menuntut, pandangannya dingin.

"Nggak ada. " jawab Annisa cepat dan lantang.

"Jangan bo'ong! Udah cepetan, Kak... uang aku masih kurang buat pengobatan Ibu. " pinta Aluna.

"Kamu nggak dengar Mbakmu bilang kalau kami nggak ada uang?" kata Sultan.

"Nggak ada uang kok mau beli emas? Udah deh, nggak usah gaya-gayaan kalau nggak punya modal. Jadi ngutang sana-sini kan. " kata Aluna kesal, komentarnya menusuk tepat ke ulu hati Sultan.

PLAAAAK!!!

Aluna kembali mendapat tamparan, kali ini lebih keras lagi dari Kakaknya.

"SULTANNNNNNNNNN!"

Bu Sasmi berteriak histeris. Ia langsung memegangi dadanya yang terasa sesak. Pandangannya berputar, dan tubuhnya limbung. Tak lama kemudian, Bu Sasmi jatuh tergeletak di lantai.

"IBUUUUUUU!!!" teriak Aluna, seluruh rasa sakit di pipinya hilang digantikan panik. Ia langsung berlutut, memeluk Ibunya.

Sultan terpaku, memandang Ibunya. Ia baru tersadar ketika Aluna memanggil namanya sambil menangis tersedu-sedu. "Kak... Kak Sultan, panggil taksi! Kita bawa Ibu ke rumah sakit sekarang!"

"I-iya, Lun." Sultan tergagap, wajahnya pucat pasi. Ia berlari keluar rumah, panik mencari taksi yang melintas. Untung saja taksi cepat didapat, dan Bu Sasmi segera dibawa ke Rumah Sakit.

Seluruh gang rumah Bu Sasmi mendadak heboh. Para tetangga berkumpul di depan pagar, melihat Bu Sasmi dibopong Sultan dan Aluna menangis . Yang paling heboh adalah Bu Ajeng.

Bu Ajeng berdiri di tengah kerumunan ibu-ibu, suaranya lantang penuh intrik. "Tadi saya denger langsung lho.... Si Sultan itu nampar Aluna, bukan cuma sekali.  Dia nampar dua kali, bu. Gara-gara Aluna ngusir dia. "

"Ya ampun, tega sekali Sultan sama adiknya. " seru Bu Rahma.

"Bukan cuma itu.  Denger ya, Bu! Tadi si Aluna bilang ke Sultan dan Annisa: 'Nggak usah gaya-gayaan kalau nggak punya modal, nggak ada uang kok mau beli emas."  berarti mereka utang sana-sini buat gaya doang, Bu! Padahal Aluna butuh uang buat kontrol ibunya. " Bu Ajeng memelankan suara, menambahkan bumbu dramatis. "Terus si Annisa lho, dia itu manipulatif! Aluna bilang, si Annisa ini ngadu bohong ke Sultan."

"Ih....nggak nyangka ya, Sultan dan Annisa kayak gitu. " kata Bu Rahma, menggeleng-geleng prihatin.

"Saya juga nggak nyangka kalau nggak denger langsung. Ternyata si Annisa itu bermuka dua, Bu.  Kita harus hati-hati ibu-ibu."  Bu Ajeng memperingatkan, merasa sebagai pahlawan pembongkar aib.

"Iya bener, Bu Ajeng. Kita jangan langsung percaya sama orang yang cuma show off. " timpal Bu Muli.

"Kasian ya Aluna. Dia jadi tulang punggung satu-satunya, malah diperlakukan kayak gitu sama Kakak kandungnya." kata Bu Rahma, merasa iba. Semua ibu-ibu mengangguk setuju, pandangan mereka terhadap Sultan dan Annisa berubah total.

**

Setibanya di rumah sakit, area IGD berbau antiseptik yang menusuk hidung. Bu Sasmi langsung ditangani dokter. Aluna mondar-mandir di depan ruangan, air matanya sudah kering, diganti rasa khawatir yang menusuk. Sultan berdiri bersandar di dekat pintu, tampak menyesal, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mendekat.

"Ini semua gara-gara kamu, jadi Ibu kayak gitu. " kata Annisa tiba-tiba, menyalahkan Aluna.

"Berhenti ya, Mbak Annisa! Aku lagi malas bertengkar sama Mbak. " tegur Aluna kesal. Ia benar-benar tidak punya tenaga untuk meladeni Iparnya.

"Annisa, kamu duduk."  tegur Sultan tegas, akhirnya bersuara. Ia juga merasa sangat bersalah karena pertengkaran mereka memicu kondisi Ibunya.

Tak lama kemudian, dokter keluar. Wajahnya serius. "Kondisi Ibu Anda tekanan darahnya sangat tinggi. Saya minta, jangan sampai pasien stres dan banyak pikiran. Tolong jaga suasana hatinya."  jelas dokter.

"Apa Ibu saya harus rawat inap, Dok?" tanya Aluna.

"Tidak perlu. Jika infusnya sudah habis, Ibu Anda bisa langsung pulang."  jelas dokter.

"Baik, Dok. Makasih. " kata Aluna, bernapas lega.

Sepeninggalan dokter, Annisa langsung menarik lengan suaminya. "Mas, ayo pulang. Kamu kan harus kerja. Tadi cuma izin dua jam."

Mau tak mau Sultan menurut, apalagi ia memang harus kembali ke kantor. Ia mendekati Aluna yang berdiri di depan pintu IGD.

"Kakak pulang dulu ya, Lun. Ini uang taksi kalau Ibu sudah bisa pulang. " kata Sultan, mengeluarkan uang seratus ribuan.

Namun, sebelum uang itu sampai di tangan Aluna, Annisa sudah merebutnya. "Nggak usah kasih, Mas! Kan Aluna punya duit."

"Annisa, kamu apa-apaan sih??? Sini, balikin uangnya!" Sultan membentak istrinya, kali ini ia benar-benar marah.

Annisa dengan hati dongkol mengembalikan uang itu.

"Ini, Lun...." Sultan menyodorkan uang itu lagi.

Aluna menatap uang itu, lalu menatap Kakaknya. Senyum pahit itu kembali muncul di wajahnya yang kebas.

"Nggak usah, Kak. Istri Kakak nggak ridho. Kasih buat Mbak Nisa aja." tolak Aluna, lalu ia berbalik, meninggalkan Sultan dan Annisa yang mematung. Aluna masuk ke ruangan IGD, meninggalkan urusan utang dan drama palsu di belakangnya.

"Tuh, lihat sendiri kan Mas. Adik kamu jadi sombong banget. Sudah, ayo pulang!" Annisa menarik lengan suaminya, merasa terhina. Sultan hanya bisa menghela napas, rasa bersalah bercampur penyesalan menusuknya.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!