Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: UJIAN TERTUTUP
Hujan turun deras malam itu.
Ha-neul berdiri di tengah arena Naga Emas yang kosong. Tidak ada tribun penuh sesak, tidak ada sorak-sorai. Hanya beberapa lampu minyak di sudut-sudut ruangan yang menerangi lantai batu yang lembap. Di tribun khusus, tiga orang duduk dengan ekspresi serius—para juri yang akan menilai kemampuannya. Di samping mereka, Jin Dae-hyun duduk dengan anggun, ditemani dua pengawal pribadinya.
Di hadapan Ha-neul, berdiri lawan ujinya.
Pria itu bernama Kwon Tae-sung. Tubuhnya tegap, tidak terlalu besar tapi padat berotot. Usianya sekitar empat puluh tahun, dengan sorot mata dingin seorang pembunuh bayaran. Di tangannya, sepasang pedang pendek—mungkin senjata favoritnya. Dari caranya berdiri, Ha-neul bisa melihat ia adalah petarung berpengalaman.
"Kwon Tae-sung adalah petarung terbaik kedua di arena ini," kata Jin Dae-hyun dari tribun. "Rekornya 87 menang, 12 kalah. Jika Anda bisa bertahan sepuluh menit melawannya, Anda lulus ujian."
Ha-neul mengangguk. Pedang kayunya terasa ringan di tangan. Ia sudah memeriksa arena, mencari kelebihan dan kekurangan. Lantai batu agak licin karena lembap—itu bisa jadi keuntungan atau bahaya.
Kwon Tae-sung menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Pedang kayu? Kau menghinaku?"
"Ini satu-satunya senjataku."
"Hmph." Kwon Tae-sung mencibir. "Jangan bilang kalau nanti kau kalah, aku curang karena pakai pedang sungguhan."
"Tidak akan."
Wasit—seorang pria tua dengan cambang tebal—berdiri di antara mereka. "Aturan: tidak boleh membunuh. Jika salah satu tidak bisa bangun atau menyerah, pertarungan berhenti. Mulai!"
Peluit berbunyi.
Kwon Tae-sung langsung bergerak. Tidak seperti Goo Do-shik yang mengandalkan kekuatan, ia mengandalkan kecepatan. Pedang pendeknya menusuk dari kiri dan kanan bergantian, menciptakan dinding baja yang sulit ditembus.
Ha-neul mundur, menghindar. Gerakan Kwon lebih cepat dari lawan-lawannya sebelumnya. Ia harus benar-benar fokus.
"Dia tidak main-main," suara Hyeol-geon. "Perhatikan kakinya. Ia cenderung melangkah ke kanan setelah serangan."
Ha-neul melihat. Benar. Setiap kali Kwon menyerang dengan pedang kiri, ia selalu melangkah ke kanan untuk menyeimbangkan tubuh. Itu kebiasaan kecil yang bisa dimanfaatkan.
Tapi Kwon tidak memberinya waktu. Serangan bertubi-tubi datang. Ha-neul terus mundur, hampir mencapai tepi arena. Penonton di tribun mulai berbisik—mungkin mengira ia akan kalah cepat.
"Menyerah saja, bocah!" teriak Kwon. "Kau tidak bisa mengalahkanku!"
Ha-neul tidak menjawab. Ia terus mengamati, menunggu saat yang tepat.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Kwon mulai sedikit terengah. Serangannya tidak secepat awal. Ha-neul masih bertahan, belum sekali pun menyerang balik.
"Kau lari terus!" Kwon kesal. "Berani lawan!"
"Sekarang."
Ha-neul melangkah maju saat Kwon menyerang dengan pedang kiri. Tubuhnya memiring, menghindari ujung pedang hanya dengan jarak sehelai rambut. Dalam gerakan yang sama, pedang kayunya menusuk ke siku kanan Kwon.
Tepat.
Kwon tersentak. Pedang kanannya hampir jatuh. Tapi ia cepat, langsung memutar tubuh dan menyerang dengan pedang kiri. Ha-neul sudah menduga. Ia melompat mundur, lalu menusuk lagi—ke pangkal paha.
Kwon menjerit. Kakinya lemas, ia jatuh berlutut.
Tapi ia tidak menyerah. Dengan mata merah karena marah, ia mengayunkan pedang kirinya liar. Ha-neul menghindar, lalu menusuk lagi—ke bahu kiri.
"Cukup." suara Hyeol-geon. "Jangan sampai dia mati."
Ha-neul mundur. Kwon Tae-sung terkulai di lantai, napas tersengal, kejang-kejang. Pedang-pedangnya tergeletak di sampingnya.
Hening.
Wasit mendekat, memeriksa Kwon. "Dia tidak bisa melanjutkan!" teriaknya. "Pemenang... Kang Ha-neul!"
Tepuk tangan terdengar dari tribun. Jin Dae-hyun berdiri, tersenyum lebar. Dua juri di sampingnya mengangguk-angguk, menulis sesuatu di kertas mereka.
Ha-neul menunduk, mengambil napas. Tubuhnya sedikit gemetar—bukan karena lelah, tapi karena adrenalin. Pertarungan ini lebih berat dari yang ia bayangkan.
Jin Dae-hyun turun ke arena, mendekatinya. "Luar biasa. Saya tidak salah pilih." Ia menepuk pundak Ha-neul. "Anda diterima. Kontrak enam bulan, mulai minggu depan. Hadiah pertama Anda sudah menanti."
Ha-neul mengangguk. "Terima kasih."
Tapi matanya tertuju pada Kwon Tae-sung yang sedang ditandu keluar. Pria itu menatapnya dengan ekspresi aneh—bukan marah, tapi penasaran.
"Mau bilang apa?" tanya Ha-neul.
Kwon tersenyum getir. "Kau... jurus apa itu? Aku sudah bertarung ribuan kali, belum pernah kena serangan kayak gitu."
Ha-neul diam.
"Sudahlah, rahasia." Kwon terbatuk. "Tapi hati-hati. Banyak orang akan penasaran. Dan di dunia ini, rasa penasaran bisa membunuh."
Ia dibawa pergi. Ha-neul merenung.
---
Di kantor Jin Dae-hyun, Ha-neul menandatangani kontrak. Kertas-kertas formal dengan materai dan stempel. Ia membaca setiap baris, meski tidak terlalu paham istilah-istilah hukum.
"Jangan khawatir," kata Jin Dae-hyun. "Ini kontrak standar. Yang penting, Anda setuju bertarung minimal dua kali sebulan. Sisanya, Anda bebas."
Ha-neul mengangguk. "Saya boleh pilih lawan?"
"Tentu. Dalam batas wajar. Tapi untuk debut Anda, saya yang akan menentukan." Jin Dae-hyun tersenyum. "Saya ingin pertarungan yang spektakuler. Biar nama Anda langsung dikenal."
Setelah selesai, Ha-neul keluar dari arena. Hujan sudah reda, menyisakan genangan air di jalanan. Lampu-lampu kota mulai meredup, menandakan malam semakin larut.
Ia berjalan cepat menuju losmen. Di tengah jalan, ia merasa diawasi.
Berhenti. Menoleh. Tidak ada siapa pun.
"Ada yang mengikuti?" tanya Hyeol-geon.
"Tidak tahu. Tapi rasanya aneh."
"Hati-hati. Mungkin mata-mata dari klan."
Ha-neul melanjutkan perjalanan, tapi kali lebih waspada. Ia mengambil jalan memutar, melewati gang-gang sempit, sesekali berhenti mendadak untuk mengecek apakah ada yang mengikuti.
Tidak ada.
Mungkin hanya perasaannya saja.
---
Di losmen, Soo-ah belum tidur. Ia sedang membaca buku ramuan pinjaman dari toko herbal, ditemani lampu minyak redup. Saat pintu terbuka, ia langsung bangkit.
"Oppa! Gimana?"
Ha-neul tersenyum. "Lulus. Mulai minggu depan."
Soo-ah bertepuk tangan. "Hebat! Oppa hebat!"
"Tapi belum tahu lawannya siapa." Ha-neul duduk di lantai, meregangkan tubuh. "Yang pasti, hadiahnya besar."
"Soo-ah bangga sama Oppa." Adiknya duduk di samping, menyandarkan kepala di bahu Ha-neul. "Oppa, suatu hari nanti... kita punya rumah sendiri, ya. Rumah kecil, yang tenang. Soo-ah bisa tanam tanaman obat, Oppa bisa istirahat."
Ha-neul tersenyum. "Iya. Suatu hari nanti."
Di jarinya, cincin giok hitam berkilat samar. Hyeol-geon ikut tersenyum dalam diam.
Impian sederhana. Tapi di dunia yang kejam ini, impian sederhana adalah hal termahal.