NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Hukuman Sang Bidadari Maut

Semburat jingga mulai menghiasi langit di atas Perguruan Awan Putih, namun halaman utama belum benar-benar sepi. Kemenangan mutlak Wang Long justru membuat suasana semakin riuh dengan bisikan-bisikan pemujaan.

Beberapa gadis dari berbagai perguruan tamu masih berdiri tak jauh dari sang pemuda. Ada yang pura-pura merapikan rambutnya yang tertiup angin, ada yang berlagak menanyakan kondisi

Ketua dengan suara yang dikeraskan, namun ada pula yang terang-terangan menatap Wang Long tanpa berkedip, seolah ingin merekam setiap gurat wajah sang naga dalam ingatan mereka.

Wang Long, yang lebih terbiasa menghadapi binatang buas di hutan atau serangan pedang, mulai merasa tidak nyaman. Ia merasa seperti mangsa yang sedang dikepung predator jenis baru.

“Apa ada sesuatu di wajahku? Kenapa mereka menatapku seperti itu?” bisiknya pada Yue Lan dengan nada bingung.

Yue Lan menahan tawa, bahunya berguncang kecil. “Tidak ada apa-apa. Hanya saja, kau baru saja menjadi legenda hidup, Wang Long. Dan legenda selalu menarik perhatian.”

Di belakang mereka, Sin Yin berdiri diam. Terlalu diam. Ketidakhadiran komentar pedas atau tatapan tajamnya justru membuat Wang Long merinding. Hawa dingin yang memancar dari tubuh Bidadari Maut itu terasa lebih menusuk daripada jurus pedang Yue Liang Shu.

Wang Long menoleh pelan, menelan ludah. “Sin Yin…?”

Bidadari Maut itu tiba-tiba tersenyum manis. Sebuah senyuman yang begitu indah, namun mengandung janji bahaya yang membuat beberapa murid lelaki di sekitar mereka langsung menunduk ketakutan.

“Kemari,” ucap Sin Yin. Nada suaranya lembut. Terlalu lembut, seperti sutra yang menyembunyikan sembilu.

Wang Long patuh melangkah mendekat. Belum sempat ia membuka mulut untuk bertanya, Sin Yin sudah menyambar lengan bajunya dan menyeretnya menjauh dari kerumunan gadis-gadis yang memuja itu dengan langkah cepat.

“Eh? Sin Yin, tunggu—pelan-pelan!”

Mereka berhenti di bawah pohon beringin tua di sudut halaman yang sunyi. Angin sore mengibaskan ujung pakaian hitam Sin Yin, kontras dengan kulitnya yang putih porselen. Ia berbalik dan menatap Wang Long tanpa berkedip, matanya berkilat.

“Kau senang?” tanya Sin Yin tiba-tiba.

“Hah? Senang soal apa?”

“Dikelilingi begitu banyak gadis cantik yang memujamu setinggi langit.”

Wang Long menggeleng cepat, kedua tangannya terangkat seolah menyerah.

“Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya lebih menyesakkan daripada dikepung musuh.”

Sin Yin menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit. “Oh? Tapi tadi kau tersenyum pada mereka.”

“Itu karena aku gugup, Sin Yin! Aku tidak tahu harus berekspresi bagaimana.”

“Gugup atau menikmati perhatian mereka?” cecar Sin Yin lagi.

Wang Long terdiam. Ia benar-benar berpikir sejenak sebelum menjawab dengan jujur. “Aku… lebih suka berdiri sendirian menghadapi jurus mematikan daripada harus menghadapi kerumunan itu.”

Melihat wajah polos Wang Long yang tampak frustrasi, Sin Yin hampir saja tertawa, namun ia segera menahan diri demi menjaga wibawanya. “Kenapa?”

“Karena jurus mematikan bisa kuhentikan dengan teknik. Tapi tatapan mereka… aku tidak tahu harus menggunakan jurus apa untuk mengatasinya.”

Mata Sin Yin melembut sedikit, rasa panas di dadanya agak mereda. Namun, ia belum puas. “Baik. Karena kau sudah membuatku cemburu dan merasa tidak nyaman sepanjang sore ini…”

Wang Long membelalak, wajahnya kaget. “Aku tidak bermaksud membuatmu—”

“…kau harus dihukum,” potong Sin Yin tegas.

“Hah? Dihukum apa lagi?”

Sin Yin melangkah lebih dekat. Begitu dekat hingga Wang Long bisa mencium wangi lembut bunga kamboja dari rambut hitam gadis itu. “Hukumanmu sederhana.”

“Apa itu?” tanya Wang Long waspada, setengah berharap ini bukan latihan fisik yang berat.

“Kau harus merayuku.”

Sunyi seketika. Hanya suara daun kering yang bergesekan ditiup angin.

“Hah?” Wang Long melongo.

“Jika kau memang benar-benar tidak tertarik pada mereka, buktikan padaku sekarang juga,” tantang Sin Yin sembari mengangkat dagunya sedikit.

Wang Long menelan ludah, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Aku… aku tidak pernah belajar cara merayu. Tidak ada buku kuno naga yang mengajarkan itu.”

“Itu bukan urusanku. Lakukan sesuatu.”

Wang Long menarik napas dalam-dalam. Baik, ia baru saja mengalahkan pendekar paling ditakuti di dunia persilatan. Tidak mungkin ia kalah oleh satu permintaan sederhana dari seorang gadis. Walau gadis itu adalah Bidadari Maut.

Ia memberanikan diri menatap dalam ke mata jernih Sin Yin. “Aku tidak pandai bicara manis atau merangkai kata-kata pujian.”

“Memang,” sahut Sin Yin pendek.

“Tapi… ketika aku bertarung mati-matian tadi, yang kupikirkan sama sekali bukan kemenangan atau nama besar.”

Sin Yin sedikit mengangkat alis, menunggu kelanjutannya. “Lalu?”

“Aku hanya terus berpikir… aku tidak ingin kau terluka oleh dampak ledakan itu. Aku hanya ingin memastikan kau tetap aman berdiri di sana.”

Hening. Wajah Sin Yin perlahan memerah tipis. “Itu bukan rayuan, itu hanya pernyataan taktis,” kilahnya, meski jantungnya mulai berdebar.

“Itu yang benar-benar kurasakan,” lanjut Wang Long tulus.

Sin Yin berusaha tetap tenang, meski pipinya makin panas. “Coba lagi yang lebih… meyakinkan.”

Wang Long berpikir keras, lalu menatap Sin Yin dengan pandangan yang sangat teduh. “Kau… bagiku kau sangat berbeda dari mereka semua.”

“Bagaimana bedanya?”

“Mereka semua menatapku seperti melihat naga agung di langit yang tak tersentuh. Mereka memuja kekuatanku.”

“Dan aku?”

“Kau menatapku seperti… manusia biasa. Kau melihatku sebagai diriku sendiri, bukan sebagai beban gelar yang kupikul.”

Sin Yin terdiam seribu bahasa. Jantungnya kini berdetak sedikit lebih cepat, menghantam rongga dadanya. Wang Long melanjutkan dengan kepolosan yang mematikan. “Dan saat melihat kau cemburu tadi… aku merasa aneh.”

“Aneh bagaimana?” bisik Sin Yin.

“Bahagia. Aku merasa bahagia karena tahu bahwa aku berarti bagimu.”

Sin Yin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar hingga ke telinga. “Kau benar-benar bodoh, Wang Long.”

“Tapi kau tersenyum sekarang,” goda Wang Long pelan.

“Aku tidak tersenyum!”

“Kau tersenyum, Sin Yin. Aku bisa melihatnya.”

Sin Yin menoleh tajam, bermaksud membalas, namun memang sudut bibirnya sudah terangkat tipis, tak mampu lagi menyembunyikan kegembiraannya. Wang Long memberanikan diri melangkah setengah langkah lebih dekat.

“Kalau puluhan gadis ingin menjadi sainganmu… biarlah. Aku akan tetap berdiri di sisi orang yang pertama kali memanggilku bukan sebagai Sang Naga… tapi sebagai Wang Long.”

Wajah Sin Yin kini benar-benar merah padam. Ia tidak menyangka pemuda polos yang biasanya kaku ini bisa mengucapkan kalimat yang begitu menggetarkan batin. “Kau… kau belajar kata-kata itu dari siapa? Yue Lan?”

“Aku tidak belajar dari siapa pun.”

“Lalu?”

“Aku hanya berkata jujur dari lubuk hatiku.”

Sin Yin menunduk sebentar, memainkan ujung lengan bajunya. Lalu tanpa diduga—ia menjentik kening Wang Long dengan jari lentiknya. Tek!

“Aduh! Kenapa?”

“Itu hukuman tambahanmu.”

“Kenapa aku yang terus dihukum?” tanya Wang Long sambil memegang keningnya, namun bibirnya tersenyum bodoh.

“Karena kau sudah membuatku salah tingkah dan terlihat lemah,” jawab Sin Yin sembari berjalan membelakanginya, menyembunyikan senyum yang semakin lebar.

Di kejauhan, beberapa gadis yang memantau dari balik pilar memandang adegan itu dengan kesal dan iri.

“Bidadari Maut itu terlalu posesif…” bisik salah satu dari mereka. “Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja,” sahut yang lain.

Yue Lan yang melihat semua itu dari kejauhan hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Sepertinya akan ada perang dingin antar perguruan dalam waktu dekat… hanya demi memperebutkan satu naga bodoh.”

Sementara itu, di sisi lain halaman yang lebih tenang, Yue Liang Shu berdiri diam. Ia memandang interaksi antara Wang Long dan Sin Yin dengan sorot mata yang telah berubah. Tidak ada lagi kilat permusuhan atau dendam di sana.

Ia melangkah mendekat ketika suasana mulai mencair. “Wang Long.”

Wang Long menoleh, ekspresi jenakanya langsung berubah serius namun ramah. “Kau sudah pulih, Yue Liang Shu?”

“Tenaga dalamku mungkin butuh waktu lama untuk kembali, atau mungkin tidak akan pernah sama lagi. Tapi hidupku tersisa berkat kau,” ucap pria itu tulus. Tiba-tiba, ia berlutut dengan satu kaki di depan Wang Long.

Semua murid yang lewat terkejut melihat pendekar sekelas Yue Liang Shu melakukan penghormatan setinggi itu.

“Selama dua puluh tahun aku hidup sebagai bayangan dan alat orang lain. Jika kau tidak keberatan… izinkan aku mengikutimu dalam perjalananmu,” pintanya.

Wang Long mengerutkan kening, merasa tidak enak hati. “Mengikutiku? Ke mana pun?”

“Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri… apakah dunia persilatan ini masih punya harapan melalui tanganmu.”

Sunyi sesaat. Sin Yin menatap Yue Liang Shu dengan tatapan menyelidik yang tajam. “Kau yakin? Mengikuti Wang Long berarti kau secara resmi menyatakan perang melawan Partai Tengkorak Hitam.”

Yue Liang Shu tersenyum tipis, matanya memancarkan ketetapan hati. “Aku sudah merasa mati sekali hari ini. Tidak ada lagi yang lebih menakutkan daripada kehilangan kehormatan kedua kalinya.”

Wang Long mendekat dan memegang bahu pria itu, memintanya berdiri. “Aku tidak butuh bawahan atau pelayan, Yue Liang Shu.”

“Anggap saja aku sebagai kawan perjalanan… atau seseorang yang ingin menebus dosa masa lalunya.”

Wang Long menatap mata pria itu cukup lama, mencari kejujuran di sana, lalu akhirnya mengangguk. “Baik. Tapi dengan satu syarat.”

“Sebutkan, apa pun itu.”

“Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja namaku.”

Yue Liang Shu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. “Baiklah… Wang Long.”

Angin sore berembus lembut, membawa ketenangan sementara. Namun, jauh di luar jangkauan indra mereka, konspirasi besar Partai Tengkorak Hitam sudah mulai bergerak, menyusun rencana untuk menghancurkan sang naga sebelum ia benar-benar terbang tinggi.

Di satu sisi, Bidadari Maut kini memegang lengan sang Naga dengan erat, seolah memberikan tanda kepemilikan yang tak terbantahkan kepada dunia. Dan di sekeliling mereka, puluhan mata gadis masih berbinar, menyimpan niat kuat untuk menjadi saingan di masa depan.

Wang Long menatap langit senja yang mulai menggelap. Ia baru menyadari satu hal: Pertarungan berdarah di dunia persilatan mungkin sangat berat, namun pertarungan memenangkan hati dan menghadapi kecemburuan seorang gadis… ternyata jauh lebih rumit dan berbahaya.

Bersambung...

1
rozali rozali
👍👍👍👍
Idwan Syahdani: makasih... tongkrongin terus ya... lanjutannya.. 🤭🤭
total 1 replies
Idwan Syahdani
siap, malam ini akan ada 2 - 3 bab ya...
rozali rozali
laaanjut lg thor.
Idwan Syahdani: tunggu ya malam ini kita tambah 2 - 3 bab..
total 1 replies
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!