NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aroma mentega berkualitas tinggi yang berpadu dengan wangi selai nanas kayu manis mulai memenuhi seluruh penjuru dapur taman.

Udara siang yang terik seolah mendingin oleh wangi kue yang begitu menggoda selera.

Aisyah mengeluarkan loyang pertama dari oven besar yang dibelikan Rizal.

Kue-kue kecil berwarna kuning keemasan itu tampak sangat cantik dengan olesan telur yang mengkilap sempurna.

"Alhamdulillah, loyang pertama sudah jadi," ucap Aisyah sambil meletakkan loyang panas itu di atas rak pendingin.

Intan, yang jarinya sudah dibalut plester, berdiri di samping Bi Inah.

Matanya berbinar melihat hasil kerja keras mereka sejak subuh tadi.

Perutnya yang baru saja diisi sarapan sederhana kembali bergejolak mencium aroma surgawi itu.

"Ayo kita cicipi dulu," ajak Aisyah sambil mengambil satu butir nastar yang sudah agak hangat, lalu memberikannya kepada Intan dan Bi Inah.

Ia memasukkannya ke dalam mulut, dan seketika tekstur kue yang renyah namun lumer itu hancur di lidahnya, diikuti dengan ledakan rasa selai nanas yang manis dan segar.

"Ma, ini enak sekali!" seru Intan spontan, matanya membelalak tak percaya.

"Intan belum pernah makan nastar selembut ini. Rasa selainya benar-benar beda dari yang biasa dibeli di mal."

Bi Inah juga mengangguk setuju sambil mengunyah perlahan.

"Benar, Nyonya. Rasanya sangat premium. Saya yakin ini akan laku keras."

Aisyah tersenyum puas, sebuah beban tampak terangkat dari pundaknya.

"Kuncinya ada di nanas yang kamu parut tadi, Intan. Kesegarannya terjaga. Kalau begini, Mama makin yakin Aisyah Cookies bisa sukses."

Melihat senyum tulus mamanya, Intan merasakan kebahagiaan kecil yang sudah lama hilang dari hatinya.

Ia baru sadar bahwa menciptakan sesuatu dengan tangan sendiri memberikan kepuasan yang jauh lebih besar daripada sekadar menghabiskan uang untuk kemewahan semu.

"Ma, aku bantu promosikan ya?" tawar Intan dengan semangat yang baru.

Ada binar di matanya yang selama ini padam, sebuah keinginan tulus untuk memperbaiki keadaan dan membantu usaha ibunya.

Aisyah menatap putrinya sejenak, mencari kejujuran di sana.

Setelah melihat kesungguhan Intan, Aisyah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

"Boleh, Intan. Gunakan bakatmu untuk hal yang positif."

Aisyah kemudian mengambil laptopnya di meja sudut dapur untuk mulai mendata pesanan yang masuk secara manual dan mengatur sistem manajemen stok bahan baku.

Sementara itu, Intan mengambil ponselnya, satu-satunya barang berharga yang berhasil ia selamatkan dari Hadi.

Dengan teliti, Intan menata beberapa butir nastar di atas piring kayu kecil yang estetik, menambahkannya dengan sebatang kayu manis dan bunga cengkeh sebagai hiasan.

Ia memotret nastar yang sudah disiapkan itu dari berbagai sudut, memanfaatkan cahaya matahari siang yang masuk melalui celah dapur taman.

"Wah, fotonya bagus sekali, Intan," puji Aisyah saat melihat hasil jepretan di layar ponsel putrinya.

"Dulu aku sering memotret makanan di restoran mahal, Ma. Sekarang aku tahu kalau memotret kue buatan sendiri jauh lebih memuaskan," jawab Intan sambil mulai mengunggah foto tersebut ke media sosialnya dengan caption yang menyentuh tentang kehangatan kue buatan ibu.

Tanpa diduga, hanya dalam hitungan menit, notifikasi di ponsel Intan mulai berbunyi.

Teman-teman lamanya yang dulu mengira Intan sudah hancur, mulai bertanya-tanya tentang kue cantik itu.

"Ma! Lihat! Banyak yang bertanya harganya berapa!" seru Intan senang.

Aisyah tertawa kecil melihat kegembiraan putrinya.

"Sabar, Intan. Berikan mereka harga promosi untuk pembukaan. Katakan pada mereka, 'Aisyah Cookies' dibuat dengan cinta dan bahan terbaik."

Di tengah kesibukan itu, suasana rumah yang tadinya dingin dan kaku kini mulai terasa hangat seperti aroma kue yang baru keluar dari oven.

Sore hari itu, suasana kediaman Baskoro terasa jauh lebih hidup.

Harum mentega dan nanas masih tertinggal di udara, bercampur dengan tawa kecil dari arah dapur taman.

Saat mobil Mercedes-Benz hitam itu memasuki halaman, Rizal turun dengan wajah yang tampak lelah namun langsung cerah saat melihat kesibukan di rumahnya.

Rizal melangkah masuk dan terpaku di ambang pintu dapur.

Ia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya dimana Intan sedang duduk dengan tekun mengepak nastar ke dalam toples-toples kaca cantik, menempelkan stiker "Aisyah Cookies" dengan sangat rapi.

"Mas sudah pulang?" sapa Aisyah sambil menunjukkan layar laptopnya yang penuh dengan barisan nama pemesan.

"Lihat, Mas. Berkat promosi Intan di media sosial, pesanan kita membludak hanya dalam hitungan jam!"

Rizal mendekat, menatap daftar itu dengan takjub.

Ia mengambil satu butir nastar yang tersisa di piring cicip. Begitu kue itu lumer di mulutnya, matanya berbinar.

"Ini, benar-benar luar biasa, Sayang. Pantas saja orang-orang berebut memesannya."

Rizal kemudian menoleh ke arah Intan. Ia melihat perubahan besar pada gadis itu yang tidak ada lagi guratan kemalasan, yang ada hanyalah fokus dan kerja keras.

Rizal merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang baru.

Ia melangkah mendekati Intan dan mengulurkan uang tersebut.

"Ini untukmu, Intan. Upah atas kerja kerasmu hari ini membantu promosi dan pengepakan."

Intan mendongak, matanya berkaca-kaca melihat pemberian itu.

Ia menerima uang itu dengan kedua tangannya, lalu mencium tangan Rizal dengan takzim.

"Terima kasih, Pa..." ucap Intan lirih namun jelas.

Suasana seketika hening. Aisyah terpaku mendengar sebutan itu. Intan, yang dulu menghina Rizal sebagai "lelaki miskin" dan "bejat", kini secara tulus memanggilnya dengan sebutan "Papa".

Rizal tersenyum tipis, merasa perjuangannya memaafkan Intan membuahkan hasil.

"Sama-sama. Teruslah bekerja dengan jujur."

Tak lupa, Rizal juga memanggil Bi Inah yang sedang mencuci peralatan di wastafel.

Ia menghampirinya dan memberikan jumlah yang sama.

"Ini untuk Bibi juga. Terima kasih sudah membantu Aisyah seharian ini."

Bi Inah menerima uang itu dengan wajah berseri-seri.

"Aduh, terima kasih banyak, Tuan. Semoga rezekinya makin lancar."

Malam itu, rumah tersebut tidak lagi terasa seperti medan perang, melainkan sebuah rumah tangga yang utuh, di mana setiap orang bekerja sama untuk masa depan yang lebih baik.

Aisyah menuntun Rizal perlahan menuju kamar utama mereka yang luas.

Ia dengan telaten menyiapkan pakaian ganti yang bersih dan handuk hangat untuk suaminya.

"Mandilah dulu, Mas. Biar badan kamu segar setelah seharian di kantor," ucap Aisyah sambil memberikan senyum paling menenangkan yang ia miliki.

Rizal mengangguk, ia tampak sangat tersentuh dengan perhatian kecil namun tulus dari istrinya.

"Terima kasih, Sayang. Mas tidak akan lama."

"Aku tunggu di ruang makan, ya. Kita makan malam bersama dengan yang lain," lanjut Aisyah sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan perlahan.

Aisyah turun ke lantai bawah dengan hati yang ringan.

Ia melihat ke arah ruang makan di mana meja sudah tertata rapi.

Di sana, Bi Inah dan Intan baru saja menyelesaikan tugas mereka menyiapkan hidangan malam.

Tidak ada lagi sekat yang kaku; rumah itu kini dipenuhi dengan kehangatan sebuah keluarga yang baru saja melewati badai besar.

Sambil menunggu Rizal, Aisyah duduk di kursi makan, sesekali melirik laptopnya yang masih terus berbunyi karena notifikasi pesanan Aisyah Cookies yang terus mengalir masuk.

Ia merasa sangat bersyukur, bukan hanya karena bisnisnya mulai menunjukkan tanda kesuksesan, tapi karena suaminya kini benar-benar diterima dan dihormati di rumah ini.

Makan malam itu berlangsung dalam suasana yang sangat tenang dan hangat.

Di atas meja tersaji sayur lodeh dan ikan goreng kesukaan Rizal.

Aisyah duduk di samping suaminya, sementara Intan dan Bi Inah baru saja selesai menata piring-piring tambahan.

Rizal meletakkan sendoknya, lalu menatap semua orang yang ada di sana. Wajahnya tampak lebih cerah dari biasanya.

"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ujar Rizal, memecah kesunyian.

"Tadi aku sudah menghubungi dokter spesialis orthopedi. Berdasarkan hasil rontgen terakhir yang dikirim secara digital, besok adalah jadwal untuk membuka gips di kakiku."

Seketika, mata Aisyah berbinar penuh rasa syukur.

"Alhamdulillah, Mas! Akhirnya saat yang kita tunggu-tunggu tiba."

Rizal tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.

"Iya, Sayang. Dokter bilang pemulihan tulangnya sangat bagus. Mungkin setelah ini aku masih butuh terapi jalan sebentar, tapi setidaknya gips ini akan dilepas."

"Aku yang akan mengantarmu ke rumah sakit besok, Mas," potong Aisyah dengan cepat.

"Aku tidak mau melewatkan momen saat kamu bisa menggerakkan kakimu kembali tanpa beban gips itu. Soal Aisyah Cookies, Bi Inah dan Intan bisa menghandle persiapan selai di rumah."

Intan, yang berdiri dari kejauhan di dekat meja bar dapur, mendengar pengumuman itu dengan perasaan campur aduk.

Ia tidak berani bergabung di meja utama, namun ia merasa lega.

Ada rasa haru yang menjalar di hatinya melihat lelaki yang dulu pernah ia celakai dan ia hina, kini akan segera sembuh.

Intan menunduk, meremas jemarinya yang masih berbalut plester.

Di dalam hati, ia berdoa agar Papa Rizal—sebutan yang kini ia sematkan dengan tulus—bisa kembali berjalan dengan normal.

Ia ingin melihat papanya itu berdiri tegak tanpa bantuan tongkat lagi, sebagai bukti bahwa ia telah benar-benar dimaafkan oleh waktu.

Rizal melirik ke arah Intan sejenak, seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.

"Intan, besok tolong bantu Mama kamu lebih ekstra ya, karena dia harus menemaniku setengah hari di rumah sakit."

"Baik, Pa. Pasti Intan lakukan," jawab Intan dengan suara serak menahan haru.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!