⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 (Part 2)
Cafe Senopati.
Mobil Range Rover Revan berhenti di depan sebuah kafe estetik. Gia keluar dengan lesu. Dia pakai outfit paling bagus yang dia punya, tapi hatinya merasa sangat "gembel".
Revan terus-terusan berusaha menarik perhatian Gia. Dia cerita soal basket, soal liburannya ke Jepang, soal rencana dia kuliah di luar negeri. Tapi buat Gia, suara Revan itu kayak suara radio rusak yang nggak ada sinyalnya.
"Gia, lo tahu nggak? Gue sebenernya udah lama perhatiin lo. Cuma gue denger lo lagi deket sama... seseorang," kata Revan sambil menyesap kopinya.
Gia tersentak. "Seseorang siapa?"
"Ya, gosip-gosip di sekolah lah. Tapi gue nggak percaya. Masa lo mau sama guru kaku kayak Pak Radit? Lo tuh lebih cocok sama gue. Kita seumuran, dunia kita sama," lanjut Revan.
Gia mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia pengen banget teriak kalau Pak Radit itu nggak kaku, kalau Pak Radit itu jauh lebih keren daripada Revan yang cuma modal harta bapaknya. Tapi dia harus nahan diri.
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka. Gia hampir pingsan di tempat melihat siapa yang masuk.
Pak Radit.
Dia datang sendirian, hanya pakai kaos hitam polos dan celana chino. Dia nggak melihat ke arah Gia, dia langsung jalan ke kasir buat pesan kopi. Tapi Gia tahu, ini bukan kebetulan. Pak Radit pasti mengikuti mereka
.
"Van, gue mau ke toilet bentar ya," kata Gia buru-buru.
Gia bukannya ke toilet, dia malah mencegat Pak Radit di deket lorong menuju area belakang kafe yang sepi.
"Bapak ngapain di sini?! Bapak mau bikin saya susah lagi?!" bisik Gia setengah berteriak.
Pak Radit menoleh, ekspresinya tenang tapi matanya tajam. "Saya cuma mau beli kopi, Gia. Kenapa? Kamu takut pacar baru kamu cemburu?"
"Bapak... Bapak pulang aja deh! Kalau ada yang liat kita bareng lagi, karier Bapak tamat!"
Pak Radit melangkah mendekat, memojokkan Gia ke dinding kayu kafe itu. "Gia, berhenti akting. Saya tahu soal Sarah. Saya tahu soal foto itu."
Gia membelalakkan matanya. "Bapak... tahu?"
"Kamu pikir saya bodoh? Saya guru olahraga, tugas saya adalah membaca strategi lawan sebelum pertandingan dimulai," bisik Pak Radit tepat di telinga Gia. "Sarah itu cuma pion. Dan Revan... dia juga dimanfaatin. Kamu nggak perlu takut lagi. Saya sudah urus semuanya."
"Urus gimana, Pak? Fotonya—"
"Foto itu nggak akan pernah nyampe ke yayasan. Karena saya sudah pegang kartu mati Sarah," kata Pak Radit dengan nada dingin yang bikin Gia merinding, tapi kali ini merindingnya karena kagum.
"Sekarang, kamu balik ke meja itu. Selesaiin makan siang kamu sama Revan. Tapi jangan sekali-kali kamu biarin dia pegang tangan kamu, atau saya bakal bikin dia lari 50 putaran besok pagi."
Gia nggak tahu harus sedih atau bahagia. "Bapak cemburu ya?"
Pak Radit nggak menjawab. Dia cuma mengusap kepala Gia sebentar, lalu berjalan pergi membawa kopinya seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa.
...
Malam itu, Sarah sedang duduk di apartemennya sambil menunggu kabar dari Revan. Dia merasa sudah di atas angin. Dia sudah berhasil menjauhkan Gia, dan sebentar lagi dia akan menjadi "pahlawan" yang menenangkan Pak Radit.
Tiba-tiba, pintu apartemennya diketuk. Dia membukanya dan menemukan Pak Radit berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap.
"Radit? Kok kamu tahu rumah aku? Masuk yuk—"
"Nggak perlu," potong Pak Radit. Dia menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Ini dokumen asli dari universitas kamu. Ternyata kamu pernah kena kasus plagiarisme dan hampir dikeluarkan, kan? Dan kamu magang di sini pakai dokumen palsu?"
Wajah Sarah langsung pucat pasi. "Radit, itu... aku bisa jelasin..."
"Satu jam lagi, kamu kirim email pengunduran diri ke Bu Nur. Dan kamu hapus semua foto tentang Gia yang kamu punya. Kalau nggak, dokumen ini sampai ke polisi malam ini juga," kata Pak Radit tanpa ekspresi.
Sarah gemetar. Dia nggak nyangka Pak Radit bakal bertindak sejauh ini buat seorang siswi. "Kamu beneran cinta sama bocah itu? Kamu mau hancurin aku demi dia?"
Pak Radit menatap Sarah dengan pandangan yang sangat menusuk. "Dia bukan sekadar bocah buat saya, Sarah. Dia adalah tanggung jawab saya. Dan saya nggak pernah main-main sama apa yang sudah saya pilih."
Pak Radit berbalik dan pergi, meninggalkan Sarah yang ambruk di lantai.
...
Besoknya.
Jumat pagi di sekolah terasa berbeda. Bu Sarah dikabarkan mengundurkan diri secara mendadak karena "alasan keluarga". Kabar soal foto Gia dan Pak Radit pun perlahan meredup karena tidak ada bukti fisik yang keluar.
Gia duduk di kelas, merasa beban di pundaknya baru saja diangkat oleh mesin derek raksasa. Dia melihat Pak Radit lewat di koridor. Pak Radit tidak berhenti, dia hanya melirik ke arah Gia dan memberikan kode "ok" dengan jarinya yang sangat samar.
Gia tersenyum lebar. Dia tahu, pertempuran ini dimenangkan oleh "Daddy" kesayangannya.
Tapi, perjuangan mereka baru saja dimulai. Revan ternyata nggak gampang menyerah, dan Siska masih punya rencana cadangan yang lebih gila. Dan yang paling penting,Pak Radit belum secara resmi menyatakan perasaannya pada Gia.
"Gi, lo kenapa senyum-senyum sendiri? Tadi nangis, sekarang gila?" tanya Caca heran.
"Gue nggak gila, Ca. Gue cuma lagi nunggu emm ituy," jawab Gia sambil mengedipkan sebelah matanya.
.
.
.
[To be continued ke Episode Selanjutnya ]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..