SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 - Pertanyaan orangtua
Seorang pria berperawakan tinggi, putih, bertubuh kekar, memiliki mata hazel dengan alis hitam alami, hidung mancung bagaikan perosotan anak TK, rahang kokoh nan tampan rupawan tengah memperhatikan penampilannya di cermin.
Tangannya tengah menyisir rambut basahnya seraya bersiul riang gembira. Hatinya berbunga-bunga merasakan kembali jatuh cinta setelah 2 tahun batal perjodohan. Senyum manis terpancar jelas di bibir tebal sensualnya tak sabar lagi untuk bertemu sang wanita incaran.
"Perfect, kamu tampan Arya, kulitmu juga putih, tubuhmu kekar dan wangi, bahkan penampilanmu sangatlah rapi. Sekarang kita temui wanita incaran kamu di jalan."
Pria bernama lengkap Arya Pratama itu begitu percaya diri akan mampu menaklukan wanita yang sudah mengisi kekosongan hatinya. Wanita yang ia kenal di jalan saat anaknya mereka minta mama baru.
"Papa atu mau mama balu, kita cali di jalan yuk, papa."
Permintaan dari putranya membuat Arya pusing tujuh keliling, sang putra terus merengek memintanya mencarikan mama baru dan anehnya minta cari di jalan.
Mengingat hal itu Arya terkekeh masih tidak percaya bisa bertemu dengan perempuan yang bisa membuatnya berdebar dalam satu kali pertemuan.
Dia pun kembali memperhatikan penampilannya, merasa sudah rapi barulah Arya keluar kamar menemui orang-orang terkasihnya.
Di meja makan sudah kumpul orang-orang yang Arya sayangi, ada si comel Syakir putra yang ia adopsi, ada kedua orangtuanya dan ada sang adik yang baru saja pulang dari Kairo.
"Papa lama cekali datang na, Cakil udal lapal banget, Papa. Ngapain dulu cih di kamal? Lama cekali belaca nunggu catu tahun," ucap anak laki-laki tampan itu cemberut menggembungkan pipinya seraya melipat kedua tangannya.
"Iya ih, Kak Arya mah gitu, lama, mau kemana sih pakai dandan segala? Mau cari cewek ya?" celetuk sang adik perempuan bernama lengkap ZAHRATUNNISA PRATAMA, adik satu-satunya Arya yang paling disayang.
"Engg ..." Belum juga selesai bicara si kecil Syakir bersuara lantang.
"Papa mau cali cewek balu buat Cakil, Tante. Kita tan mau liyat mama balu, iya kan papa?" Mata jernihnya mengerjap lucu menatap polos pada Arya.
Yang ditanya terperangah sekaligus bingung harus jawab apa, ia tersenyum canggung menggaruk tengkuknya ketika 3 pasang mata menatapnya penuh tanda tanya.
"Kenapa jadi lihatin aku kayak gitu?"
"Kamu sudah punya cewek Ar? Siapa? Kenapa tidak dibawa kesini?" tanya Bunda Nurul.
"Kalau sudah ada yang cocok jangan ditunda-tunda lagi, Ar. Gak boleh pacaran mendingan langsung nikah aja. Mau janda ataupun gadis kita tidak akan melarangnya asalkan satu agama dan baik," timpal Appa Huda.
"Kak, wanita mana yang kamu sukai? Syakir gak mungkin bohong loh," sahut Nisa.
"Cakil tidak bohong kok, papa cendili yang biyang mau ketemu mama buat Cakil. Gini katanya, doakan papa ya cupaya puyang bawa mama bayu buat Cakil, gitu katanya." Nada polosnya menambah curiga orang-orang disana.
"Eh, enggak kok, Syakir salah denger kali, papa gak bilang gitu." Masa dia harus ngaku sedang tertarik sama orang yang dia tolong di jalan, yang ada ditertawakan dan di anggap gila sama keluarganya.
Hari itu Arya berencana mengajak Syakir bermain, di jalan sang anak merengek meminta mama baru.
"Papa Cakil mau mama, kita cali di jayan yuk? Ciapa tahu jodoh papa di jayan."
Arya mengernyit, menoleh kesamping heran anak seusia Syakir sudah mempunyai pikiran seperti itu. Padahal usianya baru 3,5 tahun, saat dia mengadopsinya ternyata usia Syakir baru 1,5 tahun.
Meski perkataan putranya belepotan kadang cadel, ia masih bisa mengerti keinginan sang putra. "Kenapa Syakir bisa punya pikiran seperti itu? Darimana kamu tahu tentang mama baru dan jodoh?"
"Dayi Tante, Papa. Kata Tante Cakil hayus punya mama balu teyus kata Tante juja Cakil hayus calikan papa jodoh biyal punya mama kayak temen-temen Cakil."
Rupanya sang adik tersangka utamanya, cukup kesal sama kelakuan adiknya yang udah meracuni otak anak kecil seperti Syakir.
Bukan tidak ingin mencari istri tapi dia berpikir dua kali dan itupun demi kebaikan Syakir sendiri. Arya mau istrinya nanti menerima Syakir juga sebagai anak mereka, makanya tidak mudah mencari wanita yang mau menerima keadaannya.
"Papa bingung jawabnya, soalnya jodoh gak bisa datang gitu aja. Syakir sabar dulu ya, mungkin belum saatnya Syakir punya mama baru."
"Yah, lama nungguin lagi dong." Raut wajah Syakir terlihat kecewa, Arya makin berasa bersalah karena dia tidak bisa memberikan hal itu.
Tepat lampu merah berhenti, mobil Arya pun berhenti, namun secara tiba-tiba ia melihat seorang wanita berlari ketakutan di kejar orang.
Entah dorongan dari mana dia membuka kaca mobilnya ketika wanita itu mendekatinya.
"Hei, kamu masuk mobil saya!"
Wanita berparas cantik mengenakan baju muslimah itu menoleh, wajahnya tegang sesekali melihat ke belakang.
"Maaf, saya numpang sembunyi." Dan terpaksa dia pun masuk kedalam mobil Arya.
Bersembunyi di dalam mobil, berjongkok agar tidak ketahuan orang-orang jahat yang mengejarnya.
Arya melirik ke kaca spion di atas kepalanya, membiarkan wanita itu bersembunyi sedangkan Syakir berdiri di jok depan menatap wanita di depannya.
"Papa, ini cayon jodoh papa udah ketemu."
Hah.
Mengingat kejadian itu Arya geleng kepala sama celotehan anaknya. Wanita yang dia tolong ternyata di kejar preman yang hendak memalaknya.
"Tuh kan senyum-senyum sendiri, berati beneran punya pacar," ucap Nisa.
"Enggak ya, kakak gak punya pacar. Udah ah, aku pergi dulu." Lalu Arya berdiri, mengecup kening Syakir. "Papa pergi dulu."
"Aku ikut Kak." Nisa juga berdiri sudah selesai dengan sarapannya. "Numpang mobil kakak, males naik motor."
********
Sementara di tempat lain.
"Kapan kalian punya anak? Nikah sudah 1 tahun masa belum hamil juga, temen kamu sudah punya anak Roki, sedangkan istri kamu? Tak kunjung hamil juga, kalian tidak menunda-nunda momongan kan?"
Lontaran pertanyaan yang diberikan wanita paruh baya bernama Desi itu seakan menusuk hati wanita bernama RATNA GALUH atau sering disapa Galuh.
Sedangkan laki-laki yang duduk disamping Galuh diam tak bersuara, dia suaminya Galuh bernama ROKI. Keduanya diam membisu bingung harus berkata apa.
"Anak teman mama baru nikah dua bulan sudah hamil, terus anaknya Bu kepala desa baru nikah empat bulan sudah hamil juga, masa kamu udah nikah satu tahun belum hamil sih, Galuh? Aneh kan?"
"Kami tidak menunda-nunda momongan Bu, doakan saja semoga kita segera punya anak," balas Galuh menoleh ke samping penuh harap.
"Sabar aja Bu, gak usah buru-buru, aku sama Galuh mau nikmati pacaran dulu yang penting Galuh tidak KB," sahut Roki bersikap santai.
"Sabar, gak usah buru-buru, ibu bosan dengar kalian bilang begitu atau sebenarnya Galuh mandul makanya gak punya anak sampai sekarang?"
Deg.