Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.
Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.
Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:
Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.
Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 :
Hujan mulai turun lebih deras, menetes dari atap seng tua yang berderak di atas kepala Lyra dan Damian. Aroma tanah basah bercampur aroma darah jalanan masih tercium samar—tapi kini suasana berubah total.
Gang sempit itu mendadak seperti arena kematian.
Lyra berdiri di sisi kanan Damian, kepalan tangannya mengeras. Damian berdiri tegak walaupun darah mengalir di sisi dadanya, membasahi kemeja putihnya yang mahal. Senjata di tangannya berkilat saat lampu neon memantul di permukaannya.
Pria itu seperti patung hidup yang dibuat dari es dan kehancuran.
Langkah-langkah berat mendekat. Suara logam beradu. Bahasa asing bercampur teriakan.
Tiga pria masuk dari ujung gang. Kemudian dua dari belakang. Terjebak.
Lyra menelan ludah. “Oke… ini agak nggak seimbang.”
“Kau boleh pergi sekarang,” ucap Damian datar tanpa menoleh. “Aku bisa bereskan sendiri.”
Lyra mendelik. “Mas, mereka bawa pisau dan tongkat besi. Aku cuma bawa tinju. Kita adil, kok.”
Damian menutup mata sepersekian detik—entah karena lelah atau frustasi.
Namun tak ada waktu lagi.
Pria pertama melompat maju, mengayunkan tongkat besi ke kepala Damian. Damian bergerak cepat, menunduk ke kiri, menangkap lengan musuh, dan memelintirnya ke belakang. Krek. Suara tulang patah terdengar jelas.
Lyra terpana. “Wah—itu… brutal dan keren.”
Belum sempat kagum lebih lama, dua orang menyerangnya dari sisi kanan. Pisau dan tongkat hampiremgenainya. Lyra mundur selangkah, memutar tubuh ke samping, lalu menyerang balik dengan siku yang menghantam hidung salah satu pria. Untuk dia memiliki reflek yang bagus.
Duk!
Pria itu jatuh terduduk, memegangi wajahnya sambil memaki.
Lyra memutar tubuh lagi, menendang tongkat besi dari tangan pria kedua. Tongkat itu mental, jatuh berputar di lantai basah. Lyra menangkapnya dengan satu tangan, gerakannya lincah seperti atlet yang sudah terlatih sejak kecil.
“Nice,” gumamnya, lalu whack!—tongkat itu menghantam perut pria bersenjata, membuatnya terlipat dan jatuh ke genangan.
Damian menoleh sedikit, hanya sekilas. Tapi cukup terlihat bahwa ia terkejut—atau kagum.
“Kau bertarung seperti orang yang tidak menghargai keselamatannya sendiri,” ucap Damian dingin.
Lyra menjawab dengan senyum nakal. “Dan Mas bertarung seperti orang yang kesetanan dan brutal sekali. Kaya iblis yang haus darah.”
Damian tidak membalas. Ia menembak dua pria yang menutup pintu keluar gang—tembakannya akurat, tidak meleset meski tubuhnya sudah goyah. Gerakan itu cepat dan mematikan. Lyra bisa melihat, meski ia tidak tahu dunia pria ini, bahwa Damian bukan sekadar penembak. Ia terlatih. Terlalu terlatih.
Namun darah yang mengalir dari sisi tubuh Damian semakin banyak. Napasnya terdengar berat.
Lyra menggeram kesal. “Kau harus diobati.”
“Aku tidak butuh—”
“Tutup mulut. Kau butuh.”
Damian ingin membalas, tetapi bernapas saja sudah membuatnya tampak kesakitan. Ia mencoba berdiri lebih tegak, tetapi lututnya goyah seolah tidak ingin bekerja sama. Lyra meraih lengan Damian, menstabilkan tubuh pria itu sebelum jatuh.
Damian menegang. “Lepaskan.”
“Kalau mau mati sebelum keluar dari gang ini, silakan,” sahut Lyra tanpa basa-basi. “Tapi aku nggak mau jalan pulang sambil nyeret mayat.”
Itu membuat Damian terdiam. Entah karena kata-kata Lyra kasar, atau karena ia tahu gadis itu benar.
Namun sebelum mereka sempat bergerak keluar, sebuah suara berat menggema dari ujung gang.
“Akhirnya ketemu juga… Alveros.”
Satu pria besar muncul, ditemani empat pengikut. Postur tubuhnya tinggi dan lebar, matanya merah karena amarah atau alkohol. Di tangannya ada parang yang lebih besar dari lengan Lyra.
Lyra menelan ludah. “Oke… ini bos-nya?”
Damian berdiri lebih tegak. Tangannya yang memegang pistol sedikit bergetar—bukan karena takut, tapi karena kehilangan terlalu banyak darah.
“Jika kau ingin hidup, lari sekarang,” ucap Damian pelan.
Lyra memutar bola mata. “Berapa kali aku harus bilang… aku nggak ninggalin orang yang aku bantu dan diambang kematian.”
Damian menatapnya—untuk pertama kalinya, bukan dengan dingin atau sinis. Ada sesuatu di sana yang berubah. Singkat. Halus. Tapi nyata.
Namun momen itu hilang ketika pria bertubuh besar mengayunkan parang ke arah mereka.
Lyra menarik Damian, mendorongnya ke samping. Bilah besar itu menghantam dinding, memecahkan batu bata, serpihannya bertebaran.
Damian mengangkat pistol, siap menembak—tapi Lyra lebih cepat.
Ia mengambil tongkat besi dan melompat maju, menghantam lengan pria itu dengan seluruh kekuatan.
BRANG!
Pria itu mengaum, kehilangan pegangan. Parangnya jatuh.
Lyra memiringkan tubuh dan berputar, menghantam kepala pria itu.
Damian, meski hampir roboh, mengangkat pistol dan menembak pengikut yang mencoba menyerang Lyra dari belakang. Tembakannya tepat mengenai bahu dan kaki, membuat musuh terjatuh.
Lyra berbalik, menatap Damian. “Kerja sama yang bagus, Mas.”
Damian tidak menjawab. Ia hanya melihat Lyra seolah ingin menilai ulang gadis itu dari awal.
Namun tiba-tiba pria besar itu bangkit lagi—kali ini lebih marah, lebih liar.
Ia menarik tongkat kayu besar dan mengayunkannya ke arah Lyra dengan kekuatan penuh. Lyra tersentak, tidak sempat menghindar—
—tapi Damian bergerak lebih cepat.
Ia mendorong Lyra ke belakang dan menerima ayunan itu di lengan kirinya.
BRAK!
Lyra menjerit. “DAMIAN!”
Damian jatuh satu lutut, wajahnya pucat, napasnya terputus-putus.
Pria besar itu siap mengayunkan tongkat lagi, kali ini ke kepala Damian.
Dan sesuatu dalam diri Lyra… terbakar.
Ia melompat maju, memutar tubuh, dan menghantam wajah pria besar itu dengan tongkat besi, sekali. Dua kali. Tiga kali.
Pria itu terhuyung.
Lalu Lyra menendangnya tepat di dada—keras. Pria itu terlempar ke belakang, menabrak tumpukan peti dan jatuh tak bergerak.
Hening.
Hanya suara hujan dan napas berat Damian.
Lyra menoleh cepat dan berlutut di depan Damian, wajahnya panik. “Hei—hei! Tetap sadar. Jangan pingsan!”
“Aku tidak… pingsan,” desis Damian.
“Boong. Matamu udah kayak mau mati.”
Damian memaksakan diri berdiri, tapi tubuhnya benar-benar melemah. Lyra mengaitkan lengan Damian di bahunya, menopangnya.
“Aku tahu tempat aman dekat sini. Kita harus pergi sebelum mereka datang lagi,” ucap Lyra cepat.
Damian menatapnya, mata gelapnya melemah namun tetap tajam. “Kau… gila.”
Lyra tersenyum tipis. “Iya. Tapi sepertinya malam ini, kau butuh orang gila.”
Dan dengan langkah pincang namun penuh tekad, Lyra membawa Damian keluar dari gang gelap itu—masuk ke dunia yang lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Namun satu hal pasti…
Tidak ada jalan kembali setelah malam itu.
---