Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Mesiu dan Rencana Gila
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena sakit. Bukan karena racun. Tapi karena otakku bekerja terlalu cepat. Rencana-rencana berputar di kepala seperti roda gila, saling bertabrakan, berpisah, lalu membentuk pola baru.
Aku duduk di beranda kayu, menatap karung berisi bubuk hitam di sampingku. Mesiu primitif. Belum sempurna. Tapi cukup.
Di kehidupan sebelumnya, aku pernah membaca sejarah. Bagaimana mesiu mengubah dunia. Bagaimana senjata api membuat ksatria berbaju besi menjadi usang. Bagaimana meriam meruntuhkan tembok-tembok yang bertahan berabad-abad.
Tapi di sini? Di dunia Murim? Di mana manusia bisa mengeluarkan energi dari dalam tubuh dan memotong batu dengan pedang?
Akankah mesiu cukup?
Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencoba.
---
Pagi datang dengan kabut tipis menyelimuti halaman belakang. Hyun Moo sudah bangun lebih dulu, duduk bersila di dekat tungku yang masih hangat. Matanya tertutup, tapi aku tahu dia tidak tidur.
"Selamat pagi, Tuan," katanya tanpa membuka mata.
"Kau tidak tidur?"
"Pendekar level tinggi tidak butuh banyak tidur. Cukup meditasi."
Aku mendekat, duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat kami diam, menikmati pagi yang sunyi. Hanya suara burung dan gemerisik daun.
"Aku mau uji coba hari ini," kataku akhirnya.
Hyun Moo membuka mata. "Uji coba apa, Tuan?"
Aku menunjuk karung mesiu. "Ini. Tapi butuh tempat yang jauh dari rumah. Kalau meledak di sini, kita kehilangan tempat tinggal."
"Meledak?" Hyun Moo mengerutkan kening. "Tuan bilang ini seperti petasan, bukan?"
"Petasan kecil aman. Tapi kalau jumlahnya banyak..." Aku menghela napas. "Lebih baik aman daripada menyesal."
Kami berjalan sekitar satu li ke utara, meninggalkan rumah persembunyian, masuk ke area hutan yang lebih lebat. Hyun Moo menunjukkan sebuah tempat—clearing kecil di tengah hutan, dikelilingi pohon-pohon tua. Tanahnya berpasir, tidak ada dedaunan kering yang mudah terbakar.
"Ini tempat latihan para pendekar dulu," jelasnya. "Dulu, sebelum klan kita jatuh."
Aku melihat sekeliling. Ada bekas-bekas sasaran latihan—batang pohon yang dipotong, batu-batu besar yang pecah. Mungkin bekas latihan ilmu pedang atau tendangan.
"Cocok," kataku.
Aku meletakkan karung mesiu di tanah, mengambil sebagian dengan wadah bambu kecil. Sekitar setengah genggam. Lalu aku menusukkan sebatang sumbu—kain yang direndam minyak dan dikeringkan—ke dalam bubuk itu.
"Kau harus mundur," kataku pada Hyun Moo.
"Mundur sejauh apa?"
"Sejauh mungkin. Dan tutup telinga."
Hyun Moo menurut, meskipun raut wajahnya menunjukkan kebingungan. Dia mundur sampai ke pinggir clearing, sekitar lima puluh meter.
Aku mundur juga, tapi tidak sejauh itu. Aku ingin melihat efeknya dari dekat. Setelah sumbu menyala, aku berlari ke belakang pohon besar dan menutup telinga.
Ssst...
Api merambat di sumbu. Lambat. Terlalu lambat. Aku cemas sumbunya mati di tengah jalan.
Tapi tidak.
POP!
Ledakannya tidak sebesar yang kuharapkan. Hanya suara letupan keras, awan asap putih, dan bubuk mesiu yang berhamburan. Tapi saat asap hilang, kulihat wadah bambu itu hancur. Pecah berkeping-keping.
Hyun Moo berlari mendekat, mata membelalak.
"Apa... apa tadi itu, Tuan?"
Aku mendekati lokasi ledakan, mengambil salah satu pecahan bambu. Pinggirannya hangus. "Ini... ini baru permulaan."
"Tuan bilang ini seperti petasan. Tapi petasan tidak merusak wadahnya."
"Karena ini versi yang lebih kuat." Aku menatapnya. "Bayangkan kalau wadahnya bukan bambu, tapi besi. Dan isinya bukan setengah genggam, tapi segenggam penuh. Dan bukan satu, tapi sepuluh."
Hyun Moo terdiam. Wajahnya pucat.
"Tuan... kau mau... kau mau membunuh mereka?"
Aku menggeleng. "Bukan membunuh. Membuat mereka takut."
Tapi jujur saja, aku sendiri tidak tahu. Mesiu ini, dalam wadah besi yang tertutup rapat, bisa menjadi bom fragmen yang mematikan. Apakah aku siap membunuh? Bahkan untuk menyelamatkan diriku sendiri?
Aku tidak punya jawaban.
---
Kami menghabiskan sisa hari itu untuk eksperimen.
Aku mencoba berbagai komposisi. 15:3:2 adalah rasio standar, tapi mungkin dunia ini punya karakteristik berbeda. Mungkin kelembaban udaranya berbeda. Mungkin belerang di sini tidak semurni di duniaku.
Percobaan pertama: 15:3:2. Hasilnya seperti tadi. Ledakan kecil, asap putih.
Percobaan kedua: 14:4:2. Lebih banyak belerang. Ledakannya lebih besar, tapi asapnya kuning dan berbau busuk.
Percobaan ketiga: 16:2:2. Lebih banyak arang. Ledakannya lebih lemah, tapi apinya lebih besar.
Aku mencatat semuanya di papan kayu dengan arang. Data. Insinyur butuh data.
Hyun Moo membantu dengan diam. Dia mengumpulkan pecahan wadah, membersihkan area, dan sekali-sekali bertanya.
"Tuan, dari mana Tuan tahu semua ini?"
"Aku pernah membaca buku kuno."
"Buku apa?"
Aku diam sejenak. Lalu berkata, "Buku dari negeri yang jauh. Negeri di mana mereka tidak punya Qi atau kultivasi. Tapi mereka bisa menghancurkan gunung hanya dengan ilmu ini."
Hyun Moo tidak bertanya lebih lanjut. Tapi aku tahu dia tidak sepenuhnya percaya.
---
Sore harinya, saat matahari mulai merah di ufuk barat, kami melakukan percobaan terakhir.
Aku menggunakan komposisi 15:3:2, tapi kali ini wadahnya bukan bambu. Aku membuat wadah dari tanah liat yang dibakar—seperti periuk kecil, dengan dinding tebal setengah sentimeter. Lubang kecil di atas untuk sumbu.
Isinya tiga genggam penuh.
"Kali ini mundur jauh," perintahku. "Seratus meter. Dan bersembunyi di balik pohon."
Hyun Moo menurut. Aku juga mundur, bersembunyi di balik batu besar. Lalu aku menyalakan sumbu dan berlari.
Detik-detik terasa lama.
Ssst... sst... sst...
Lalu—
LEDAKK!
Suaranya menggelegar, memekakkan telinga meskipun sudah kututup dengan telapak tangan. Awan asap membumbung tinggi, bercampur debu dan pecahan tanah liat. Getarannya terasa sampai ke tempatku berlindung.
Saat asap mulai hilang, aku melihat ke arah ledakan.
Ada lubang di tanah. Diameter sekitar satu meter, kedalaman setengah meter. Di sekelilingnya, pecahan tanah liat berserakan—beberapa menancap di batang pohon di sekitarnya.
Hyun Moo berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Wajahnya campuran antara takjub dan ngeri.
"Tuan..." suaranya bergetar. "Ini... ini kekuatan apa?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap lubang itu, merasakan campuran aneh antara kebanggaan dan ketakutan.
Dengan tiga genggam bubuk hitam, aku membuat lubang sebesar ini. Dengan tiga genggam, aku bisa melukai atau membunuh siapa pun yang berada dalam radius beberapa meter.
Ini senjata pembunuh.
Tapi di saat yang sama, ini juga satu-satunya harapanku.
"Hyun Moo," kataku pelan. "Kau masih mau ikut rencanaku?"
Pria tua itu menatapku lama. Lalu dia tertawa. Tawa yang aneh—campuran antara getir dan gembira.
"Tuan, empat puluh tahun aku jadi pendekar. Aku sudah melihat banyak hal. Tapi ini... ini pertama kalinya aku melihat kekuatan yang tidak berasal dari Qi." Dia menggeleng. "Aku tidak tahu apakah ini keajaiban atau kutukan. Tapi yang aku tahu... dengan ini, kita mungkin benar-benar bisa melawan."
Dia berlutut di hadapanku.
"Aku bersumpah, Tuan. Bukan hanya demi Patriark. Tapi demi Tuan. Demi visi gila Tuan. Aku akan mengikuti Tuan sampai mati."
Aku menatapnya. Pria tua ini, dengan luka di pelipis dan tulang rusuk retak, berlutut di hadapanku seperti prajurit setia.
"Berdiri," kataku. "Kita belum menang. Kita baru mulai."
---
Malam harinya, kami duduk di beranda rumah, membahas rencana.
Upacara pengangkatan Hojun akan berlangsung lusa. Di Aula Leluhur, markas utama klan. Tempat yang aku kenal dari ingatan Jin Tae-Kyung—bangunan besar dengan halaman luas di depannya.
"Berapa banyak penjaga?" tanyaku.
"Biasanya, upacara seperti ini akan dijaga ketat. Mungkin dua puluh pendekar berjaga di luar, sisanya di dalam."
"Dan tamu dari klan lain?"
"Beberapa. Mungkin perwakilan Klan Gong, mungkin juga dari klan kecil lain yang bersekutu dengan Hojun."
Aku mengangguk, mencerna informasi.
"Kita tidak perlu masuk ke dalam. Cukup di luar. Cukup membuat kekacauan."
"Apa maksud Tuan?"
Aku mengambil arang dan menggambar di papan kayu.
"Ini Aula Leluhur. Halaman depan luas. Di sinilah para tamu berkumpul sebelum masuk. Di sinilah Hojun akan berdiri dan berpidato."
Hyun Moo mengangguk.
"Kita akan menempatkan... beberapa 'hadiah' di sekitar halaman. Di bawah panggung, di belakang kursi tamu, di dekat pintu masuk."
"Hadiah?"
Aku menunjuk karung mesiu di sudut ruangan. "Ini. Dalam wadah besi. Dengan sumbu panjang."
Hyun Moo terdiam. Lalu dia berkata, "Tuan... itu bisa membunuh banyak orang."
"Bisa. Tapi kita tidak akan menyalakan semua. Hanya beberapa. Cukup untuk membuat panik. Cukup untuk membuat mereka lari."
"Lalu?"
"Lalu kau masuk."
"Aku?"
"Kau pendekar level tinggi. Dalam kekacauan, kau bisa mendekati Hojun. Kau tidak perlu membunuhnya—cukup lukai. Cukup buat dia terlihat lemah di depan semua orang."
Hyun Moo mengerutkan kening. "Tapi Tuan, kalau aku masuk, bagaimana dengan Tuan?"
Aku tersenyum tipis. "Aku akan berada di tempat yang aman. Menonton."
"Tapi..."
"Aku bukan pendekar, Hyun Moo. Kalau aku ikut masuk, aku hanya akan jadi beban. Percayalah, aku lebih berguna di luar, mengatur waktu ledakan."
Pria tua itu diam sejenak, lalu mengangguk perlahan.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan sumbunya? Siapa yang menyalakan?"
Aku sudah memikirkan ini.
"Sumbu panjang. Kita pasang malam sebelumnya. Lalu... kita gunakan lilin. Lilin yang diletakkan di ujung sumbu. Tinggi lilin menentukan waktu ledakan."
Hyun Moo menatapku dengan takjub.
"Tuan... ini... ini seperti sihir."
"Ini bukan sihir. Ini fisika. Kimia. Matematika." Aku menatapnya. "Ini ilmu pengetahuan."
---
Malam semakin larut. Hyun Moo pergi ke kamarnya, meninggalkanku sendirian di beranda.
Aku menatap bintang-bintang. Di langit yang gelap, mereka berkelap-kelip seperti mata-mata yang mengawasi.
Besok, pikirku. Besok kita siapkan semuanya. Lusa, kita eksekusi.
Di kejauhan, dari arah markas klan, terdengar suara genderang samar-samar. Mungkin latihan. Mungkin pesta. Mungkin mereka sudah bersiap merayakan kemenangan Hojun.
Mereka tidak tahu.
Mereka tidak tahu bahwa di gubuk reyot ini, seorang insinyur gila sedang mempersiapkan kejutan.
Aku mengambil segenggam mesiu dari karung, membiarkannya mengalir di antara jari-jariku. Hitam. Halus. Berbahaya.
"Kau akan jadi senjataku," bisikku. "Kau akan jadi suara yang mengatakan pada mereka... bahwa Jin Tae-Kyung belum mati."
Angin malam berhembus, membawa bau asap dan mesiu.
Dan di kejauhan, genderang terus berbunyi.
---
[Bersambung ke Bab 5]