NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

Minggu pagi di apartemen itu seharusnya menjadi oase ketenangan di tengah badai persiapan fashion show. Namun, bagi Edgar Martinez, Minggu pagi berarti waktu yang tepat untuk menunjukkan sisi kekanakan yang selama ini terkubur di bawah setelan jas ribuan dolarnya.

Edgar melangkah keluar dari kamar mandi dengan santai. Ia hanya mengenakan celana pendek hitam, bertelanjang dada memperlihatkan otot perutnya yang atletis, dan rambut hitamnya masih basah kuyup. Melihat Leonor yang baru saja duduk di tepi ranjang sambil mengikat rambut, insting jahil Edgar langsung bangkit.

Ia mendekat, lalu dengan gerakan cepat menggelengkan kepalanya seperti anjing yang baru selesai mandi, memercikkan tetesan air dingin dari rambutnya tepat ke wajah dan leher Leonor.

"Edgar! Astaga! Kau sungguh kekanakan!" teriak Leonor, memekik manja sambil mencoba menutupi wajahnya dengan bantal. "Dingin, bodoh!"

Edgar tertawa lepas, tawa yang begitu renyah dan jujur. Tanpa memberi kesempatan Leonor untuk membalas, ia langsung menubruk gadis itu, memeluknya erat dan menyembunyikan wajahnya yang basah di ceruk leher Leonor.

"Ais... dingin sekali keramasan-nya pagi ini, Leonor," bisik Edgar dengan nada manja yang bisa membuat seluruh dewan direksi MTZ Group pingsan jika mendengarnya. "Apa anak-anak kita juga sekarang kedinginan di perut Mommy? Mereka pasti butuh pelukan Daddy agar hangat kembali."

Leonor menarik napas panjang. Ia sudah berada di tahap pasrah tingkat dewa dengan candaan gila ini.

Jika seminggu lalu ia akan marah besar, kini ia justru merasa candaan ini adalah bumbu yang membuatnya merasa hidup. Dengan tatapan setengah mengantuk dan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil yang entah muncul dari mana, Leonor menyahut,

"Iya, Daddy... aku sedikit hangat di perut Mommy sekarang. Daddy jangan cerewet ya, kasihan Mommy nanti stres kalau Daddy berisik terus."

Mendengar Leonor akhirnya ikut masuk ke dalam permainannya, Edgar seolah mendapat asupan energi kegilaan baru. Matanya berkilat nakal.

"Oh, jadi kau sudah bisa bicara ya di dalam sana?" seru Edgar dramatis.

Tanpa peringatan, ia sedikit mengangkat kaos tidur yang dipakai Leonor, memperlihatkan perut rata gadis itu yang halus. Edgar membungkuk, mencium perut rata itu berulang kali dengan bunyi cup yang keras, seolah benar-benar ada kehidupan di sana.

"Astaga, anak Daddy! Apa kamu mau makan? Mau Daddy jenguk nggak hari ini? Daddy kangen sekali," ucap Edgar sambil menempelkan telinganya di perut Leonor, berpura-pura mendengarkan tendangan bayi yang sebenarnya tidak ada.

Leonor tertawa geli, tangannya mendorong-dorong kepala Edgar yang basah.

"Aku ndak sudi dijengukin Daddy bau asem! Daddy mandi yang benar dulu!" sahut Leonor dengan tawa yang pecah, tangannya tanpa sadar mengusap rambut basah Edgar dengan sayang.

Ruangan itu dipenuhi tawa dan aroma cinta yang begitu kental. Mereka hanyut dalam dunia kecil mereka, tidak menyadari bahwa pintu apartemen yang tidak terkunci rapat itu telah terbuka sedikit.

Di ambang pintu, berdiri seorang wanita elegan dengan tas tangan mewah dan raut wajah yang kini tampak seperti baru saja melihat kiamat kecil. Isabella Martinez, Mommy Edgar, berdiri mematung.

Isabella awalnya datang karena merasa khawatir setelah telepon singkat kemarin pagi. Ia ingin memberikan kejutan dengan membawakan sarapan buatan rumah dan vitamin untuk putranya. Namun, kejutan itu justru berbalik menghantam dirinya.

Tubuh Isabella bergetar hebat. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di depan matanya, Putranya yang selalu ia banggakan, pewaris tunggal kerajaan bisnisnya, sedang bertelanjang dada, menciumi perut seorang gadis yang tampak sangat intim dengannya, sambil membicarakan "anak", "Daddy", dan "Mommy".

"Astaga Tuhan.." batin Isabella menjerit. Dosa apa yang dilakukan suamiku di masa lalu sampai anakku menghamili anak perempuan orang sebelum menikah?

Dalam pikiran Isabella yang sedang kacau, potongan-potongan pembicaraan tadi tersusun menjadi sebuah kesimpulan yang fatal.

"Anak-anak kita kedinginan di perut Mommy..."

"Daddy jangan cerewet..."

"Mau Daddy jenguk nggak?"

Isabella merasa dunianya berputar. Ia membayangkan skandal besar, kemarahan Julian, dan bagaimana ia harus menghadapi keluarga gadis ini. Ia berdiri kaku seperti patung garam, napasnya memburu, sementara pasangan yang sedang dimabuk asmara itu masih asyik berguling di atas ranjang tanpa menyadari kehadiran sang hakim di pintu.

"Edgar, hentikan! Itu geli!" Leonor masih tertawa, wajahnya bersemu merah.

"Tidak akan! Sebelum anak Daddy bilang 'I love you Daddy'!" balas Edgar sambil kembali membenamkan wajahnya di perut Leonor.

Isabella menutup mulutnya dengan tangan, air mata nyaris jatuh. Ia merasa gagal mendidik Edgar menjadi pria yang bertanggung jawab secara prosedural. Ia sudah membayangkan Leonor sebagai korban rayuan maut putranya yang kini tengah mengandung benih Martinez di luar ikatan resmi.

Satu detik... dua detik...

Suara gesekan tas tangan Isabella yang mengenai pintu akhirnya memecah keriuhan di dalam kamar. Edgar dan Leonor tersentak bersamaan. Mereka menoleh ke arah pintu secara serentak.

Wajah Edgar yang tadinya penuh tawa langsung membeku. "Mommy?"

Leonor? Ia merasa seluruh darahnya berhenti mengalir. Ia mengenali wajah itu dari majalah-majalah sosialita. Itu Isabella Martinez. Dan saat ini, Leonor sedang dalam posisi kaos terangkat separuh dengan Edgar yang kepalanya berada di atas perutnya.

"Mom... ini tidak seperti yang kau lihat," ucap Edgar dengan suara yang tiba-tiba menciut, ia segera meraih kaosnya di lantai dengan panik.

Isabella melangkah masuk dengan kaki yang masih lemas, matanya menatap tajam ke arah perut Leonor, lalu ke arah Edgar.

"Edgar Castiel Martinez... jelaskan pada Mommy sekarang juga. Sejak kapan... sejak kapan kau menjadi pria yang begitu tidak bertanggung jawab sampai membiarkan hal ini terjadi sebelum pernikahan?!"

Leonor ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Drama "Daddy dan Mommy" yang awalnya konyol, kini benar-benar menjadi malapetaka epik yang mengancam nyawa sosial mereka berdua.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
Nasi Goreng
Luar biasa
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!