NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utusan dari Seberang Lautan

Udara tiba-tiba terasa begitu padat. Pedang es sepanjang tiga meter itu meluncur turun membelah udara dengan suara siulan yang memekakkan telinga. Angin beku menyayat pipi Zian, tapi pemuda itu bahkan tidak berkedip. Dia masih mencekik leher Lin Yue dengan tangan kanannya, mengangkat wanita itu di udara seperti boneka kain.

Zian menarik tangan kirinya ke belakang. Urat-urat di lengannya menonjol keluar, berubah warna menjadi merah gelap. Tulang Asuranya berderit nyaring, memadatkan tenaga murni yang melampaui akal sehat manusia.

"Hancur," bisik Zian pelan.

Dia melayangkan tinju kirinya tepat ke arah mata pedang es raksasa itu.

BOOM!

Bukan daging yang terbelah, melainkan pedang pusaka kebanggaan Lin Zong yang meledak berkeping-keping di udara. Benturan fisik murni Zian menghasilkan gelombang sonik yang menyapu balik badai salju. Pecahan es beterbangan seperti peluru tajam, menghancurkan tembok gerbang ibu kota di sekeliling mereka.

"Mustahil!" Lin Zong membelalakkan matanya lebar-lebar. Mulutnya memuntahkan seteguk darah segar. Senjata es itu terhubung dengan inti kultivasinya. Saat pedangnya hancur oleh tenaga kasar, organ dalamnya ikut terkoyak parah.

Lin Zong kehilangan keseimbangan di udara. Sayap esnya retak, dan pria paruh baya yang ditakuti seluruh ibu kota itu jatuh terjerembap ke atas jalan aspal yang dingin. Kesombongannya hancur tak berbekas.

Zian mendengus pelan. Dia melempar tubuh Lin Yue yang sudah setengah pingsan ke tumpukan salju di pinggir jalan. Wanita itu merintih kesakitan, tak mampu lagi berdiri menatap ayahnya yang baru saja dikalahkan dalam satu pukulan.

"Ini yang kau sebut Jenderal Tertinggi?" Zian melangkah santai mendekati Lin Zong yang sedang berusaha merangkak bangun. "Tulangmu bahkan lebih rapuh dari ranting kayu bakar kakek tadi."

"K-kau... kau bukan manusia! Monster macam apa kau ini?!" Lin Zong menatap Zian dengan mata penuh ketakutan. Nalurinya berteriak menyuruhnya lari, tapi kakinya tidak bisa digerakkan. Tekanan fisik dari tubuh Zian membuatnya sesak napas.

Zian berhenti tepat di depan Lin Zong. Dia mengangkat kaki kanannya, bersiap menginjak dan meremukkan kepala Pemimpin Sekte Bintang Es itu untuk mengakhiri segalanya.

"Waktu bermainnya sudah habis, Pak Tua," ucap Zian dingin.

Namun, tepat sebelum sepatu Zian menghantam tengkorak Lin Zong, langit ibu kota tiba-tiba berubah warna.

Awan mendung sisa badai es Lin Zong mendadak terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi, seolah baru saja disayat oleh pedang raksasa yang tak terlihat. Ruang udara di atas mereka bergetar hebat. Sebuah suara robekan yang sangat keras terdengar, merobek gendang telinga semua orang di alun-alun.

Celah dimensi berwarna hitam perlahan terbuka di langit.

Bersamaan dengan itu, sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa gila jatuh menimpa seluruh area gerbang ibu kota.

Brak! Brak! Brak!

Ratusan warga sipil, penjaga gerbang tingkat Perwira, hingga Lin Yue yang ada di pinggir jalan, langsung ambruk rata dengan tanah. Mereka tidak bisa bergerak satu inci pun. Beberapa penjaga langsung muntah darah karena organ dalam mereka terhimpit gravitasi ekstrem tersebut.

Lin Zong yang ada di depan kaki Zian juga langsung mencium aspal. Tulang rusuknya berderit retak menahan tekanan udara.

"T-tekanan apa ini... kultivasi tingkat Raja?!" Lin Zong bergumam ngeri dengan mulut penuh darah.

Di tengah lautan manusia yang bertumbangan, hanya Zian yang masih berdiri. Tapi kali ini, ekspresi santainya hilang.

Bahu Zian turun beberapa sentimeter. Otot kakinya langsung menegang keras seolah sedang memikul dua buah gunung besi sekaligus. Aspal di bawah sepatunya hancur dan amblas sedalam setengah meter. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Tulang Asuranya bergemeretak, merespons tekanan itu dengan memompa darahnya lebih cepat.

Zian mendongak menatap celah hitam di langit. Matanya menyipit tajam. Antusiasme yang jauh lebih besar dari sebelumnya meledak di dadanya.

Dari dalam celah dimensi itu, seorang pemuda melangkah keluar. Dia mengenakan jubah perak berkilau yang terlihat sangat mewah dan asing. Rambutnya panjang diikat rapi, dan dia memegang sebuah kipas lipat di tangan kanannya. Pemuda itu berjalan turun di atas udara kosong seolah ada tangga tak terlihat di sana.

Mata pemuda perak itu menyapu ke bawah dengan tatapan bosan, melewati Lin Zong, melewati Lin Yue, dan akhirnya berhenti lurus pada sosok Zian yang masih kokoh berdiri.

"Menarik," suara pemuda itu terdengar santai, tapi menggema langsung di dalam kepala Zian. "Aku merasakan ada riak aneh di benua buangan ini. Ternyata ada semut kecil yang berhasil membangkitkan jalur tubuh murni. Tulangmu lumayan keras juga bisa menahan lima persen dari gravitasi Rajaku."

Zian menggertakkan giginya. Dia benci ditatap dari atas ke bawah seperti hewan sirkus.

"Kau mau terus melayang di sana seperti burung, atau kau mau turun agar aku bisa mematahkan sayapmu?" balas Zian lantang. Suaranya murni dari tenaga paru-paru, menerobos medan gravitasi itu tanpa ragu.

Pemuda berjubah perak itu terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar merdu namun sangat mematikan.

"Kesombongan yang luar biasa untuk ukuran makhluk rendahan," pemuda itu menutup kipas lipatnya dengan satu jentikan. "Mari kita lihat apakah mulutmu sekeras tulangmu!"

Mata pemuda itu berkilat emas. Seketika, tekanan gravitasi di sekitar Zian meningkat sepuluh kali lipat.

Buum!

Tanah kawah tempat Zian berdiri langsung ambruk lagi sedalam tiga meter. Udara di sekeliling Zian berubah menjadi padat seperti air raksa. Kulit lengan Zian mulai retak-retak memunculkan garis darah halus. Beban ini benar-benar tidak masuk akal. Ini murni kekuatan yang berada jauh di atas pemahaman kultivator di benua kecil ini.

"Berlututlah," perintah pemuda perak itu dengan nada absolut dari langit.

Lutut Zian sedikit menekuk. Rasa sakit yang mengerikan menjalar di seluruh persendiannya. Ini persis seperti saat dia menjalani Kebangkitan Brutal, tapi kali ini tekanannya datang dari luar.

Namun, alih-alih panik, ujung bibir Zian justru tertarik ke atas membentuk senyuman buas. Matanya perlahan berubah menjadi merah segelap darah.

"Berlutut? Kepada anjing terbang sepertimu?" Zian mendengus kasar. "Bermimpilah!"

Zian mengambil napas dalam-dalam hingga dadanya membusung. Dia memusatkan seluruh sisa ruang di persendiannya, melawan gravitasi yang meremukkan itu murni dengan kontraksi otot Asuranya.

"HANCUR!" teriak Zian menggelegar.

Zian melayangkan satu pukulan lurus ke arah langit. Bukan mengincar pemuda itu, melainkan meninju udara padat yang menekan tubuhnya.

Ledakan sonik yang paling besar hari itu tercipta. Kepalan tangan Zian merobek medan gravitasi tak kasat mata itu layaknya merobek selembar kain basah. Suara pecahan kaca bergema di udara saat tekanan gravitasi tingkat Raja itu hancur berantakan.

Angin berhembus kencang kembali. Penduduk dan penjaga gerbang yang tadi terhimpit kini bisa bernapas lega, meski mereka masih terlalu takut untuk bangun.

Di udara, pemuda berjubah perak itu mundur satu langkah. Kipas di tangannya sedikit bergetar. Matanya yang tadi meremehkan kini membelalak kaget.

"Kau... merobek medan energiku hanya dengan otot murni?" pemuda itu bergumam tak percaya. Sedetik kemudian, keterkejutannya berubah menjadi seringai penuh minat. "Hahaha! Luar biasa! Sangat liar dan kasar! Aku menyukainya!"

Pemuda itu perlahan turun dan mendarat di atas tembok gerbang ibu kota yang sudah setengah hancur. Dia menatap Zian yang masih terengah-engah mengatur napas di dalam kawah.

"Namaku Bai Chen," pemuda itu memperkenalkan diri, tidak lagi menatap Zian seperti semut. "Aku adalah Utusan dari Benua Tengah. Tugasku mencari bibit-bibit petarung gila sepertimu untuk sebuah pesta kecil di tempat kami."

"Aku tidak tertarik dengan pestamu," jawab Zian sambil mengusap darah di ujung bibirnya. "Aku masih punya urusan membersihkan sampah di sini." Zian melirik Lin Zong yang masih gemetar di tanah.

Bai Chen mengibaskan tangannya santai. "Orang tua itu? Dia sudah hancur mentalnya. Membunuhnya tidak akan memberimu kepuasan, apalagi perkembangan kekuatan. Tubuh fisik murnimu butuh dipukuli sampai hampir mati agar bisa berevolusi. Bermain di kolam kecil ini hanya akan membuat tulangmu membusuk."

Zian tidak langsung membantah. Apa yang dikatakan Bai Chen ada benarnya. Dia juga sudah merasakan bahwa setelah membantai elit Bintang Es tadi, tubuhnya tidak lagi merasakan tantangan. Kepadatan tulangnya hampir mencapai batas mentok di benua kecil ini.

Bai Chen merogoh balik jubahnya dan melempar sebuah benda hitam ke arah Zian.

Zian menangkapnya. Itu adalah sebuah medali besi hitam yang sangat berat. Permukaannya kasar, berukirkan gambar tengkorak yang tertusuk pedang patah.

"Itu adalah Medali Kematian," jelas Bai Chen sambil membuka kembali kipas lipatnya. "Tiga hari lagi, Kapal Penembus Awan akan mendarat di puncak Gunung Langit di utara ibu kota. Bawa medali itu kalau kau punya nyali untuk melihat dunia kultivasi yang sesungguhnya. Kalau kau menang di Turnamen Benua Tengah, kau bisa meminta harta, teknik dewa, atau bahkan membangkitkan orang mati."

Zian membolak-balik medali itu di telapak tangannya. Tidak ada hawa sihir di dalamnya, hanya besi murni yang sangat keras.

"Tiga hari," gumam Zian pelan.

"Benar. Tapi kuharap kau tidak bersantai dulu, Zian," Bai Chen tiba-tiba tersenyum penuh teka-teki. Dia mendongak menatap langit jauh di belakang Zian. "Ada alasan kenapa aku turun tangan memberikan undangan ini langsung padamu."

Zian mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Hancurnya pusaka es milik Lin Zong tadi melepaskan segel darurat yang terhubung dengan sekte induk mereka di benua lain," Bai Chen menunjuk dengan ujung kipasnya. "Orang tua ini hanyalah anjing penjaga cabang luar. Tuan aslinya baru saja mencium bau darahmu."

Zian langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Bai Chen.

Jauh di ufuk timur, langit yang tadinya terang kini tertutup oleh awan merah darah yang bergerak dengan kecepatan sangat mengerikan ke arah ibu kota. Hawa membunuh yang terpancar dari awan merah itu membuat hawa dingin Lin Zong tadi terasa seperti lelucon anak-anak.

"Itu adalah Tetua Pembantai dari Sekte Pusat," suara Bai Chen terdengar samar saat tubuhnya perlahan kembali naik ke arah celah dimensi. "Dia akan tiba di gerbang ini dalam waktu kurang dari satu jam. Tingkat kultivasinya berada di puncak Raja."

Celah dimensi di langit mulai menutup perlahan menelan tubuh Bai Chen.

"Kuharap kau tidak mati sebelum naik kapal pelabuhanku, Bocah Cacat! Karena kalau kau mati di sini, kau benar-benar akan sangat mengecewakanku!" Tawa Bai Chen menggema untuk terakhir kalinya sebelum celah itu tertutup sempurna, mengembalikan langit ibu kota menjadi tenang.

Namun, ketenangan itu hanyalah ilusi.

Zian berdiri di tengah reruntuhan gerbang. Matanya terkunci lurus pada gumpalan awan merah darah yang semakin membesar di cakrawala. Udara di sekitarnya mulai berbau anyir, padahal musuh itu masih berjarak puluhan kilometer jauhnya.

Alih-alih lari atau bersembunyi, senyum gila perlahan kembali menghiasi wajah Zian. Dia meremas Medali Kematian di tangannya dan mematahkan lehernya ke kiri dan ke kanan hingga berbunyi nyaring. Pertarungan mempertahankan nyawa yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!